Jumat, 23 September 2011

Di Arung Jeram Cinta

Beberapa hari ini ada kekhawatiran melanda benak Nada. Ia merasa begitu sibuk dengan bayinya sampai-sampai tidak ada waktu untuk berdandan.
Berdandan? Nada terheran-heran sendiri. Sejak kapan ia merisaukan masalah penampilan? Toh, Tantra tidak pernah protes apalagi sampai menginap di tempat lain gara-gara istrinya tidak pernah dandan.
Tetapi, jujur, Nada mulai mencemaskan masalah itu. Setelah melahirkan, banyak yang berubah pada dirinya. Bagaimana kalau nanti suaminya tertarik kepada gadis atau perempuan lain? Sementara, perempuan mana yang tidak simpati melihat Tantra yang memang penuh pesona?
Nada menarik napas perlahan. Si kecil sudah terlelap di buaian.



Pukul lima sore. Feri menatap Tantra yang mengaduk-aduk es jermannya. Rasanya tak percaya Feri mendengar pengakuan teman sebangkunya semasa SMA.
"Jadi, kau sudah menikah?"
Tantra mengangguk.
"Berapa tahun?"
"Satu tahun setengah tahun."
Feri tersenyum lebar. "Ayolah, kau pasti bercanda, Sobat, "tukasnya. "Jangan katakan kalau kamu juga sudah punya anak."
Tantra tersenyum. "Memang sudah, laki-laki, lima belas hari."
Pemuda dua puluh empat tahun itu meneguk limun soda dinginnya dengan susah payah. "Apa? Padahal, dulu kamu terkenal dingin dan pendiam. Sampai-sampai ada beberapa teman yang mengira kamu...maaf, homo...."
"Aku tahu, "tukas Tantra tenang.

Tidak ada komentar: