Kamis, 30 Desember 2010

Di Arung Jeram Cinta (Bab IV)

Siang yang terik. Tidak mengherankan, kalau gadis berseragam SMA dengan model busana muslim itu mengeluh tiada hentinya. Ia menyalahkan motor kakaknya yang sampai detik itu belum keluar dari bengkel.
"Kapan motor Mas bisa dipakai?"tanya gadis itu sambil mengipas-ngipas dengan gulungan koran di tangannya.
"Sudah bisa."
"Hah?"Gadis remaja itu menoleh ke arah kakaknya. "Kok Mas tidak naik motor saja? Jadinya kita tidak kepanasan begini, mana ke terminal harus jalan kaki."
"Hitung-hitung olahraga, "sahut sang Kakak dengan santainya. "Kan sehat."
"Ah, yang benar saja, "sungut adiknya. "Panas-panas begini."
Sang Kakak yang juga berseragam SMA tersenyum geli melihat wajah adiknya yang masam itu. "Sabar, nanti kalau Mas sudah sembuh total, pasti boleh naik motor lagi."
"Iya, Mas, "si Adik tersenyum. Mendadak gadis itu menggamit lengan kakaknya. "Eh, Mas, ada apa ya? Kenapa orang itu? Kasar sekali dia, beraninya sama perempuan, aku harus ke sana!"
"Hati-hati, Dik!"seru si Kakak yang tidak sempat dijawab, karena adiknya sudah melesat meninggalkannya.

Buk! Tiba-tiba Danar merasa punggungnya terhantam batu karang yang sangat besar. Sambil meringis menahan sakit, ia menoleh.
Seorang gadis remaja sudah berdiri tegak di hadapannya. Jilbab putih yang menutupi rambutnya membuatnya begitu perkasa namun anggun.
"Dik Rafa?" Nada tampak lega.
"Mbak minggir saja, "sahut Rafa. "Akan kuurus pengecut yang satu ini."
Tetapi terlambat, Danar sudah lebih dulu berhasil menangkap tangan Nada. "Coba saja kalau bisa. Aku tidak akan menjamin keselamatan Mbak yang hitam manis ini."
Rafa tenang-tenang saja, ia bahkan tersenyum sinis.
"Dan aku akan mematahkan tanganmu." Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja Danar merasakan kedua tangannya sudah berpindah ke belakang dan ia berteriak kesakitan.
"Keparat!Siapa kau?!" maki pemuda itu sambil berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya setelah didorong sampai terhuyung-huyung. Dengan sangat penasaran, ia menoleh.
"Oh, ternyata cuma anak SMA, "Danar tersenyum meremehkan.
"Mas, kalau cuma bencong, buat aku saja!"seru gadis berseragam SMA membuat telinga Danar semakin mendidih.
"Ambil!"sahut kakak sambil menoleh ke arah Nada yang sudah bebas. "Kau tidak apa-apa, Mbak?"
"Tidak, terima kasih, Dik, "Nada berusaha tersenyum. "Aduh, tadi aku takut sekali."
"Tenanglah, kau selamat."
"Bantu adikmu, "Nada tampak ngeri menyaksikan pertandingan antara dua ukuran yang bertolak belakang dan spesies yang berbeda.
"Tenang saja, adikku bisa mengatasinya."
"Tapi..., "tiba-tiba Nada menutup mulut dengan kedua tangannya.

Sabtu, 25 Desember 2010

Kawan Maya Pelangi

Sebenarnya sudah lama aku ingin menulis tentang yang satu ini, tetapi baru kali ini dapat menemukan saat yang tepat untuk menguraikannya.
Aku mengenal sosok ini hanya lewat dunia maya. Ada beberapa hal yang membuat kami tertarik untuk berdiskusi atau bertukar pengalaman, (walaupun berbeda bangsa dan usia yang jauh terentang), salah satunya:kami lulusan dari universitas yang sama. Tentu saja waktu beliau lulus, aku masih bau kencur.
Beliau adalah Dr. Rahmat Haroun Hashim, seorang dokter sekaligus sastrawan terkenal dari negeri jiran. Seorang yang paling rajin mengunjungi blogku dan mengomentari karya-karyaku.
Suatu hari Dr. Rahmat menyatakan niat untuk mengirimkan novel karyanya kepadaku. Wah, sungguh aku tiada percaya mendapatkan akan kiriman novel langsung dari penulisnya sendiri. Aku bukanlah penyair, novelis, apalagi sastrawan terkenal. Betapa girang bukan kepalang hatiku.
Begitu novel itu tiba di tanganku, aku langsung membacanya, walaupun waktu mataku belum sembuh benar. Aku nekat saja sambil menahan pedih karena dikalahkan oleh rasa penasaran.
Novel PANGGIL AKU MELAJU karya Dr. Rahmat Haroun Hashim ini mengingatkan kita agar tetap mencintai bahasa bangsa sendiri. Boleh saja kita ahli berbilang-bilang bahasa, tetapi tetaplah kita bangga dengan bahasa sendiri, bukan sebaliknya malah malu alias tidak percaya diri.
Aku telah belajar banyak dari komentar maupun nasihat sastrawan yang satu ini.

Di Arung Jeram Cinta

Berbeda dengan istrinya, Tantra bukannya minder bin malu, ia malah tanpa ragu-ragu sedikit jua menggandeng Nada bahkan mendekap pinggang istrinya setiap kali mereka melewati ibu-ibu anggota IWAPI itu. Menurut pemuda itu, tidak sepantasnya malu sampai-sampai menyembunyikan kenyataan bahwa ia sudah menikah, dan Nada adalah istri pilihannya sendiri.
"Lepas, "bisik Nada kepada suaminya yang memeluk pundaknya, padahal beberapa meter lagi mereka akan melewati daerah IWAPI.
"Memang kenapa?"
"Malu, nanti dikira pacaran."
"Memang iya."
Nada terpaksa pasrah. Tidak mungkin ia berontak, bisa-bisa orang-orang menyangka ia dan suaminya sedang ribut-ribut. Nanti malah IWAPI dapat berita baru yang seru menurut mereka.
"Kok diam?"
Nada menghentikan langkah. "Kita lewat jalan lain saja, "ujarnya.
"Kenapa?" tiba-tiba Tantra tersenyum iseng. "Ah, pasti kamu cemburu ya, kalau ibu-ibu itu sampai melihatku?"
"Maunya, "Nada mencibir geli.
Tantra tersenyum. Ia melepaskan pelukannya.


Danar, laki-laki berambut ikal dan bertubuh kekar itu bukan saja menaruh dendam kepada Nada, tentu juga suaminya. Padahal peristiwa itu sudah berlalu lebih tiga tahun yang lalu, tetapi ia masih saja merasa sakit hati.
"Lepaskan!"desis Nada gusar.
Danar tetap menahan langkah gadis itu dengan menarik tas tangannya. "Tunggu, kita harus bicara!"
"Tidak ada yang harus dibicarakan lagi, "tegas Nada membalikkan tubuh sehingga mereka berhadap-hadapan. "Semua sudah selesai."
"Berani kau membantahku?"
"Tidak ada kewajiban untuk takut kepadamu. Dasar banci."
Mata Danar langsung menyipit. "Apa katamu? Coba ulangi."
"Dasar banci, jelas?" Nada malah menantang.
Sekarang mata Danar bukan lagi menyipit, tetapi menyorotkan nyala api. Ia tersenyum licik. "Aku bisa membuktikan kalau aku bukan banci, "ujarnya sambil mendekat.
Gugup Nada melangkah mundur. Ia tahu jalan yang dilaluinya begitu sepi, walaupun hari masih siang. Menyesal juga ia karena nekat melintasi jalan ini gara-gara ingin cepat sampai tujuan.

Sabtu, 18 Desember 2010

Di Arung Jeram Cinta

Jadi, ada gosip menyebar yang beredar dari ibu-ibu yang tergabung dalam organisasi IWAPI (Ikatan Wanita Penyebar Isu) di kompleks Tantra dan Nada berdiam. Kalau sekadar membicarakan keheranan karena suami lebih muda, Nada masih bisa bersikap tidak acuh, tetapi ibu-ibu bakat menggunjing itu mulai merambah daerah yang paling pribadi. Simak saja percakapan beberapa dari mereka saat Nada melintas pulang dari supermarket yang berada di seberang jalan.
"Heran lho, Jeng, kok yang laki-laki mau, ya?"
"Iya, cakep-cakep buta. Sayang, bagusnya juga sama anak saya."
"Setuju itu, Jeng. Tapi memang dasar buta, mana tahu perempuan yang dia pilih mukanya seperti apa."
"Sst, siapa tahu juga lampunya dimatikan sama suaminya."
"Ah, ada-ada Jeng ini!Dimatikan bagaimana?"
"Iya, nih, ada-ada saja. Nanti kan tambah gelap!"
"Ha ha ha!"
"Hi hi hi!"
"Ha ha hi hi!"

Semua itu semakin membuat Nada tidak pede dan akhirnya membatalkan rencananya pergi ke undangan pernikahan teman Tantra. Untunglah suaminya itu memilih untuk tidak bertanya lebih jauh. Apalagi setelah Nada mengetahui bahwa Danar, mantan tunangannya itu berada di balik semuanya.
Laki-laki itu sempat menghadang Nada di pintu gerbang rumah sakit. Dengan lagak memuakkan, ia menyapa wanita yang pernah nyaris menjadi pendamping hidupnya.
"Halo, apa kabar, Say?"ujarnya sambil melepas kacamata hitamnya. Heran, malam-malam pakai kacamata hitam, padahal kan gelap?
Nada membuang muka sembari mempercepat langkahnya. Ia berharap Tantra segera menjemput sehingga ia bisa segera terlepas dari cengkeraman makhluk yang teramat sangat menyebalkan sekali ini.
Tetapi langkah Danar lebih panjang. Dengan mudah ia berhasil menyusul wanita itu. "Bagaimana rasanya menikah dengan pemuda ingusan? Wah, pasti tetanggamu ramai membicarakan kalian. Bagi mereka itu pasti berita yang sangat menarik."
Nada menghentikan langkahnya. Ia menatap laki-laki di hadapannya dengan tatapan gusar. "Apa maksudmu membicarakan itu?"
Danar menyeringai licik. "Maksudku... ya, sekadar menyampaikan kabar unik itu kepada ibu-ibu yang suka berkumpul di bangku kompleksmu."
Merah padam seketika wajah Nada. Tanpa berkata-kata lagi, ia bergegas meninggalkan Danar yang tertawa mengejek.


Melihat suaminya diam saja sejak tadi, Nada khawatir juga. Selama ini Tantra begitu sabar dan penuh pengertian. Bukankah seharusnya ia juga dapat bersikap seperti itu.
"Mas, kamu marah?"
"Marah?"
"Selama ini aku sudah bersikap egois seenak perutku sendiri. Itu bukan sikap istri yang baik."
Tantra meraih tangan istrinya dan menggenggamnya. "Salah satu kesalahanmu adalah menganggap semua laki-laki seperti Danar."
"Aku tidak merasa seperti itu, "tukas Nada sambil melirik kedua tangannya.
"Secara tidak sadar."
Nada tertegun. "Mungkin juga, "gumamnya. Ditatapnya suaminya dengan perasaan penuh syukur. "Aku bersyukur kau bukan Danar, "ujarnya.
Tantra tersenyum penuh arti, "Aku memang bukan Danar dan juga tidak seperti dia, "tukasnya.

Minggu, 12 Desember 2010

Di Arung Jeram Cinta

Tia menatap putri sulungnya dengan wajah memelas. Begitu pula Arman, yang memasang tampang tidak kalah gelisah dengan istrinya. Sampai-sampai tak tahan Nada melihat kedua orang tuanya yang sebentar lagi pasti mengiba-iba supaya ia tidak memutuskan pertunangannya dengan Danar.
"Sudahlah, Nak, maafkan saja Danar, "ujar Tia melontarkan senyum lembutnya. "Mungkin dia cuma khilaf."
Hah? Nada melongo. Khilaf kok sampai dua belas kali? Khilaf apa ketagihan?
"Ibumu benar, Nada, "kali ini Arman menimpali. "Hitung-hitung latihan kalau nanti suamimu selingkuh, kamu sudah tahan banting..., "kata-kata pria empat puluh tujuh tahun itu terhenti demi melihat istrinya yang membelalak gusar ke arahnya.
"Eh, apa katamu, Pak? Ayo, ulangi!"
"Ah, Ibu, "Arman salah tingkah. "Bukan begitu maksud Bapak...."
"Bukan begitu apanya?"Tia melotot sewot. "Jadi Bapak senang ya kalau punya menantu hobi selingkuh?!"
Arman memandang anak gadisnya, minta pertolongan pertama pada kecelakaan! Gawat, gawat! Nada menggeleng. Arman pasrah menunggu nasib.
"Aaah, jangan-jangan Bapak sendiri yang suka selingkuh!" tiba-tiba saja Tia yang semula duduk manis di tempatnya kini telah berdiri di hadapan suaminya. Sambil bertolak pinggang.
"Lho, Bu, kok topiknya jadi ganti, sih?"Arman berusaha mengalihkan perhatian istrinya. "Kita tadi bicara soal apa?"
"Bapak juga yang mulai."
"Lho kok jadi Bapak yang disalahkan?"
Nada menghela napas panjang. "Sudahlah, Ibu, Bapak, "ujarnya. "Tidak usah ribut-ribut. Ini sudah jam delapan malam, nanti tetangga jadi terganggu. Pokoknya keputusan saya sudah mantap, bulat, dan tidak dapat diganggu gugat."
Tia cepat-cepat meraih tangan putrinya lembut. "Apa kamu tidak malu, Nak? Kalau kalian putus, apa kata tetangga nanti? Belum lagi mereka yang tukang gosip."
Nada balas menatap ibunya dalam-dalam. "Bu, "katanya lembut. "Jadi Ibu lebih memikirkan malu daripada kebahagiaan saya? Ibu lebih suka saya mendapat suami bekas piala bergilir daripada harus menanggung malu?"
Bukan hanya Tia yang tercengang mendengar uraian Nada, Arman juga. "Tunggu, "sela Arman. "Piala bergilir katamu? Apa maksudmu?"
Nada mengatur napas lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan ayahnya. "Selama ini saya sudah menghitung berapa kali Danar berkencan dengan banyak wanita lain di belakangku. Dikiranya aku ini bodoh, jadi gampang saja dibohongi."
"Mungkin cuma teman bisnis."
"Bapak masih saja membela dia?"dengan geram Nada mengeluarkan ponsel dari saku gaunnya. "Silakan Bapak lihat, "katanya setelah mengutak-atik ponselnya sejenak.
Dengan rasa penasaran Arman menerima ponsel yang disodorkan putrinya.


"Sejak itu aku trauma menjalin hubungan serius dengan laki-laki. Aku takut luka hatiku yang belum sembuh benar kembali berdarah."
Tantra belum menyahut sepatah kata pun.
"Aku menganggap mereka cuma cari enaknya saja sampai...."
"Sampai?"Tantra tampak tak sabar.
"Sampai aku bertemu denganmu dan akhirnya menyadari bahwa aku juga menaruh perasaan yang sama sepertimu...."
Tantra tertegun. Ia tidak habis mengerti kalau memang Nada memiliki perasaan yang sama, bahkan bersedia menjadi istrinya, seharusnya guling pembatas di tengah-tengah ranjang itu bisa berpindah tempat.

Kamis, 09 Desember 2010

Di Arung Jeram Cinta

Si Kukuk berdentang sebelas kali. Meskipun demikian, Tantra dan Nada belum juga sanggup memejamlan mata. Sedikitpun mereka tak merasa mengantuk.
Tatapan Tantra menghunjam ke arah guling yang sengaja dipajang Nada di tengah-tengah ranjang. Jadi, kalau salah satu sudah membaringkan tubuh, yang lain dilarang colak-colek.
Nada mengetahui arah tatapan suaminya, tetapi ia berlagak tidak melihat. Sebenarnya Nada tidak enak, tetapi ia masih belum dapat menyembuhkan dirinya dari trauma masa lalu.
"Kau masih marah?"Tantra memecah keheningan.
Nada buru-buru menggeleng. "Aku yang harus minta maaf, "tukasnya sambil melempar senyum. "Aku sudah membuat rencana kita berantakan."
Tantra menatap istrinya lembut. "Sudahlah, kan bisa lain kali."
Nada balas memandang suaminya dengan wajah serius. "Boleh aku menyampaikan sesuatu?"
"Tentu saja, "Tantra heran dengan sikap istrinya yang tidak seperti biasanya.


Cakra meletakkan secangkir teh hangat yang baru diteguknya di meja ruang keluarga. Ia baru saja sampai dari rumah sakit tempatnya bekerja. Kedudukan dirinya sebagai kepala bagian bedah membuatnya mau tak mau mengorbankan sebagian waktunya untuk keluarga.
"Bagaimana kerja hari ini, Yah?Sukses?"
"Alhamdulillah, berkat doa Ibu."
"Alhamdulillah, "Afna duduk di samping suaminya. "Tadi sore Tantra datang."
"Oh ya? Dengan Nada?"
"Sendiri. Nada dapat giliran siang, jadi belum pulang."
"Tantra cerita apa saja?"
"Cuma cerita kalau istrinya marah."
Cakra tertawa.
"Kok Ayah tertawa?"
"Pasti anak itu tidur di ruang tamu."
"Ah,Ayah tahu dari mana?"
"Tentu saja Ayah tahu, "tukas Cakra mengulum senyum. "Tantra kan persis ibundanya. Ingat tidak, waktu Ayah marah gara-gara cemburu sama Ibu karena dapat kiriman kartu Idul Fitri dari teman SMA yang pernah naksir Ibu? Ibu langsung tidur di ruang tamu, Ayah ajak pindah, malah Ayah dilempar bantal."
Afna tersenyum geli mengingat kejadian belasan tahun yang lalu itu. "Eh, Ayah masih ingat, ya?"
Cakra tersenyum. "Justru itu yang membuat Ayah sayang sekali sama Ibu."
"Apanya? Karena dilempar bantal?"
Cakra menangkap tawa dalam sorot mata istrinya. Ia pun tertawa.

Selasa, 07 Desember 2010

Di Arung Jeram Cinta

Banu tercengang melihat kakaknya yang berdiri tepat di hadapannya. Tidak seperti biasanya, kali ini wajah Nada terlihat murung. Pemuda itu langsung menebak ada sesuatu yang telah terjadi dalam rumah tangga sang Kakak yang baru berjalan kurang dari setengah tahun itu.
"Lho, kok datang sendiri? Mana suami tercinta?"
"Ibu mana?"Nada malah balik bertanya sambil mengempaskan tubuhnya ke sofa ruang tengah.
"Mau curhat nih ceritanya?"
Nada menghela napas kesal.
Banu simpati melihat kemurungan di wajah kakaknya. "Ibu pergi ke rumah Bu RT."
Nada mendesah kecewa. "Lama?"
"Mungkin sebentar lagi pulang. Mbak mau kuambilkan minum?"
Nada mengangguk pelan. "Terima kasih, "katanya tersenyum.
Banu membalikkan tubuh menuju ruang makan.


Hamil? pikir Tantra. Rasanya tidak mungkin kecuali kalau mereka ikut program bayi tabung.
"Ada apa, Tantra? Kamu kelihatan heran kalau istrimu hamil?"
Tantra tersentak. "Tidak, Bu, "sahutnya cepat. "Aku hanya heran rasanya kemungkinan itu kecil sekali."
Afna terbelalak. "Kenapa?"tanyanya cemas.
"Nada sedang datang bulan."
"Oooh..., "Afna menghela napas lega. "Ibu kira...."
Tantra tersenyum hambar. Cepat-cepat diliriknya arloji di pergelangan kirinya. "Sudah hampir magrib, Bu, saya pulang dulu."
"Tidak salat magrib dulu?"
"Terima kasih, Mbak Nada pasti sudah menunggu, "tukas Tantra mencoba mengajukan alasan yang masuk akal sebelum ibunya bertanya macam-macam. Bisa gawat kalau Ibu sampai tahu bahwa sebenarnya kehidupan rumah tangganya hanya berlaku di atas kertas.





Rabu, 01 Desember 2010

Di Arung Jeram Cinta

Afna memandang putra sulungnya yang acak-acakan. Wanita empat puluhan itu menahan senyum. Pasti tidak mudah menjalani status suami baru apalagi dalam usia muda. Tetapi, Afna tidak mau mengusik anaknya, ia membiarkan Tantra melemaskan otot-ototnya lebih dulu.
"Ternyata perempuan itu aneh, Bu, "ujar Tantra setelah menelan beberapa teguk teh hangat dari cangkir yang disodorkan ibunya.
Afna menatap si Sulung dengan lembut. "Kok heran? Ibu dan adikmu kan juga perempuan?"
"Iya juga, tapi, mungkin karena saya sudah mengenal Ibu dan Rafa sejak kecil. Tidak seperti Nada, saya baru mengenalnya beberapa bulan."
"Jadi, anehnya seperti apa?"
Tantra tidak segera menjawab. Tatapannnya menerawang ke arah halaman. Langit beranjak senja. Semburat limbur mewarnai angkasa.Semua terlihat jelas dari teras rumah yang menjadi saksi pertumbuhan dirinya dari bayi sampai menjelang pernikahan.Hal itu membuat ingatannya melayang pada kejadian semalam.

"Mbak, kamu belum ganti baju?" tegur Tantra saat melihat istrinya malah sibuk di kamar melipat baju-baju yang baru diangkat dari jemuran.
"Tidak perlu, pergi saja sendiri, "sahut Nada ketus.
"Tapi kenapa?"Tantra kebingungan.
Nada melengos tak perduli.
Tantra menghela napas berusaha menahan emosinya. Mencoba sabar, ia masih berusaha mengorek keterangan dari istrinya.
Sia-sia. Karena Nada pura-pura tidak mendengar.
Tantra menyerah dan memilih tidur di ruang tamu.

Afna tertawa terpingkal-pingkal. Tantra menatap ibunya sambil tersenyum masam.
"Maaf, maaf, "ujar Afna sambil memegangi perutnya. "Ibu cuma membayangkan kamu tergolek di ruang tamu yang banyak nyamuknya itu."
"Begitulah, Bu, sampai sekarang aku tidak habis pikir kenapa Mbak Nada tiba-tiba marah. Rencana ke resepsi nikah teman jadi berantakan."
"Coba ingat-ingat, barangkali sebelumnya kamu tidak sengaja sudah membuatnya tersinggung."
Tantra mencoba mengingat-ingat. "Rasanya tidak ada, Bu."
Afna mengangguk-angguk. Tiba-tiba raut mukanya berubah ceria. "Tantra, jangan-jangan...."
"Jangan-jangan apa, Bu?"
"Istrimu sedang mengandung!"
"Hah?"Tantra tercengang.

Selasa, 23 November 2010

Di Arung Jeram Cinta (Bab II)

Sungguh, Nada tak siap dengan yang satu ini. Ia merasa telapak tangannya berkeringat. Gugup, ia memandang suaminya. "Aa...apa yang diceritakan Banu?"
"Dia menceritakan semuanya, "jawab Tantra tenang, tidak tampak marah sedikit pun.
Nada semakin gelisah. "Se...semuanya?"
Tantra mengangguk.
Oh! Nada benar-benar semakin gelisah. Bagaimana kalau suaminya marah dan menuduhnya....
"Aku mengerti sekarang kenapa kau selalu...."
Ini dia!pikir Nada panik. Ini yang aku khawatirkan sejak dulu! Tapi bagaimana caranya aku menjelaskan masalah yang satu itu dan supaya dia mau mengerti dan memang benar-benar mengerti!

"Pantas saja kau selalu menyuruhku pulang malam, jangan-jangan kau masih berhubungan dengan mantan tunanganmu itu."
"Tidak, itu tidak benar!"
"Aku tahu semuanya. Aku tidak suka kaupermainkan, "tiba-tiba Tantra mendesis. Sungguh mengerikan, Nada sampai jatuh terduduk.

"Mbak, kau tidak apa-apa?"Tantra terkejut melihat istrinya terjatuh dari kursi yang didudukinya. "Kamu melamun?"
Nada menerima uluran tangan suaminya dengan wajah merah padam. Tantra menatapnya dengan pandangan cemas."Kau sakit?"
Nada cepat-cepat menggeleng. Setelah mengatur posisi duduknya, ia berkata, "Aku pernah hampir menikah...."
Tantra hanya diam mendengarkan.
"Selama bertunangan, aku berusaha menjaga diri, benar-benar menjaga diri. Tetapi ternyata Danar, tunanganku waktu itu berpikir lain. Tanpa tedeng aling-aling, ia meminta yang belum menjadi haknya. Padahal, sebelumnya bahkan menyentuhku saja ia tidak pernah....,"Nada menarik napas panjang. "Begitu aku menolak mentah-mentah dan memutuskan pertunangan sepihak, ia marah dan ...."
"Tidak usah kauteruskan, kalau tidak sanggup, "Tantra tampak cemas melihat wajah istrinya yang pucat.
"Tidak, "Nada berusaha tenang. "Biarkan aku meneruskan. Dia terus memaksaku...untung saja aku berhasil menyelamatkan diri. Syukurlah, bahkan ia belum sempat menyentuh ujung bajuku...."
Tantra masih mendengarkan.
"Sejak saat itu aku tidak percaya lagi dengan laki-laki. Bagiku mereka ingin memilki wanita untuk diperlakukan sesuka hati."
"Tapi kenapa kau mau menikah denganku?"
"Karena aku...."
"Karena apa?"
"Aku mencintaimu...."
Tidak terlintas sedikit pun di benak Tantra, bahwa itulah pengakuan istrinya. Ia tidak habis pikir mengapa Nada menerimanya sebagai suami, tetapi baru sekarang ia berterus terang tentang masa lalunya? Dan satu lagi....
Tantra beranjak menuju kamar untuk mengambil ponselnya yang bernyanyi.
Nada termenung dalam duduknya. Ia bersyukur mendapatkan suami yang penuh pengertian seperti Tantra. Ya, walaupun sebenarnya lebih pantas dijadikan adik.
"Telepon dari Ibu, "Tantra menghampiri.
"Ibu? Tumben, malam-malam telepon."
"Beliau titip salam."
"Waalaikumussalam. Ada kabar apa, Mas?"
Tantra tersenyum penuh arti. "Kata Ibu, sudah saatnya menggendong cucu, "katanya dengan nada iseng.
Mendadak Nada terbatuk-batuk.Salah tingkah.
Tantra mengulum senyum.

Senin, 22 November 2010

Di Arung Jeram Cinta

"Ibu benar, "ujar Nada tiba-tiba.
"Apanya yang benar?"kedua orang tua dan adiknya tanpa sadar bertanya serentak.
Nada memandang ketiga orang tersayangnya silih berganti. "Ya...aku harus memikirkan masalah pernikahan itu kembali. Aku jadi ragu-ragu jangan-jangan aku cuma mencari pelarian...."
"Aku tidak percaya, "tukas Banu cepat sehingga Nada menatapnya kaget.
"Maksudmu?"
"Mbak, jujurlah, kau benar-benar mencintai Tantra, "sahut Banu tegas. "Tetapi kau belum percaya sepenuhnya."
"Kalau begitu, batalkan saja, "sahut Tia tanpa pikir panjang.
"Bu, jangan asal bicara, "sela Arman terkejut.
"Ibu tidak asal bicara, "tukas Tia tersinggung. "Ibu hanya ingin anak gadis kita bahagia, bukannya jadi bahan mainan anak kemarin sore. Apa kalian tidak tahu kalau kenarin Ibu diam-diam memergokinya membonceng gadis cantik?"
"Gadis cantik?" kedua bersaudara itu berpandangan. "Jangan-jangan...."
"Belum jadi suami sudah main bonceng perempuan lain, "Tia meneruskan omelannya. "Sudah sejak awal Ibu tidak percaya mana mungkin anak ingusan nekat melamar gadis yang...."
"Ah, mungkin itu adiknya!"seru Banu tiba-tiba sebelum ibunya mengucap sesuatu di luar kendali, sampai ketiga manusia lainnya tersentak kaget.
"Adik?"
Banu mengiyakan ayah ibunya. "Tantra punya adik perempuan, "katanya.


Nada tersentak.
"Melamun?"sapa Tantra duduk di sampingnya.
Nada hanya menggeleng tak tahu yang harus dikatakan.
Tantra menarik napas panjang. Istrinya masih saja pendiam dan tertutup. Pemuda itu tidak habis mengerti mengapa Nada menerima lamarannya kalau memang tidak mencintai dirinya?
Hampir tiga bulan berlalu. Dan Nada tampak sering termenung membuat Tantra segan mengusik istrinya itu.
"Sudah malam, tidurlah, "Tantra beranjak hendak menutup pintu dan jendela rumah. "Besok kau tugas jam berapa?"
"Siang, jam satu."
"Aku akan mengantarmu, kebetulan jam dua belas waktu istirahat di kantor."
"Mas...."
Tantra menoleh. "Ya?"
"Terima kasih, "Nada tersenyum lembut.
"Tidak usah formal begitu, Mbak, kita suami istri."
Nada terdiam. Mana ada suami menyapa istrinya "Mbak" walaupun sang istri lebih tua?
"Aku suka memanggilmu Mbak, rasanya terdengar....," Tantra tidak menyelesaikan kalimatnya, ia tersenyum penuh arti.
"Terdengar apa?"Nada penasaran.
"Mesra...."membuat wajah Nada merah muda seketika.
Tantra tersenyum menatap istrinya. "Dengarkan aku, Mbak, "ujarnya serius. "Aku sudah tahu semuanya dari adikmu. Kenapa kau tidak pernah menceritakannya kepadaku?"
Nada terkejut. Jadi suaminya telah mengetahui semuanya? Tentang kejadian dua tahun yang lalu itu? Juga tentang dirinya yang sudah...?

Minggu, 21 November 2010

Di Arung Jeram Cinta

Tia menggeleng-gelengkan kepala. Wanita menjelang setengah abad itu menatap anak sulungnya dalam-dalam, seolah-olah tidak percaya bahwa anak gadisnya memilih pemuda ingusan untuk menjadi pendamping hidupnya. Anak gadisnya yang nyaris merayakan hari lahirnya yang ketiga puluh!
"Pernikahan bukan barang mainan, Nada, "ujar Tia sambil menoleh ke arah suaminya."Bukan waktunya bercanda."
"Ibumu benar, "sela Arman, sang ayah. "Anak itu pasti masih suka pacaran sana-sini, berapa umurnya tadi katamu?"
"Dua puluh dua, itu pun masih lima bulan lagi, "sahut Tia, "Masya Allah, bahkan dua puluh lima saja belum."
Nada diam saja. Ia sudah mengira bahwa seperti inilah reaksi ayah ibunya. Ia mengerti benar kekhawatiran keduanya, mereka tidak mau anak gadis mereka cuma menjadi bahan mainan pemuda yang belum becus mengusap ingusnya sendiri itu.
Tetapi, jujur, Nada sendiri tidak mengerti mengapa ia mengangguk saja ketika ayah Tantra menyampaikan lamaran atas nama putra sulungnya itu. Benarkah ia sungguh-sungguh mencintai pemuda yang lebih pantas menjadi adiknya itu? Apakah bukan karena mengejar umur, kemudian dirinya asal saja menerima pinangan yang datang lebih dulu?
"Ibu tahu, hatimu masih terluka atas kejadian dua tahun yang lalu itu, "ujar Tia lembut, "Tapi bukan begini caranya."
"Banyak gadis yang menikah di atas tiga puluh, "Arman menyambung, "Kamu tidak usah tergesa-gesa, Nada."
Nada menegakkan tubuhnya dan memandang ayah ibunya silih berganti. "Bu, saya menerima lamaran Tantra bukan karena mencari pelarian...."
"Lalu?"ayah dan ibunya bertanya serentak.
"Saya memang mencintainya. Dia memang jauh lebih muda, tetapi...."
"Tetapi apa, Nak?"Tia benar-benar penasaran. Ia tidak habis pikir bagaimana mungkin putri sematawayangnya berganti selera. Bukankah sebelumnya Nada lebih memilih pria dewasa yang sudah mapan?
"Saya melihat ada sesuatu yang lain di dalam dirinya. Mungkin itu yang membuatku yakin menikah dengannya."
Tetapi baik Tia maupun Arman belum putus asa. Mereka masih berusaha supaya Nada membatalkan penerimaan lamaran itu. Kali ini Arman yang maju lebih dulu. "Nada, bagaimana kalau Tantra hanya baik pada awal pernikahan kalian saja? Setelah ia menyadari kalau kau lebih pantas jadi kakaknya, dia akan mencari gadis yang lebih muda...."
"Atau kamu memang sudah siap dimadu?"Tia bertanya dengan nada tajam.
Tentu saja Nada tercengang. Kok jadi masalah madu?
"Ibu tidak sudi anak gadis Ibu disia-siakan, "Tia melanjutkan dengan suara berapi-api. Lalu menatap suaminya tajam, "Bapak juga jangan coba-coba bertingkah! Ingat umur, Pak!"
Arman sampai menggeser duduknya karena wajahnya ditunjuk-tunjuk sang istri dengan sengit. "Lho, Bu, kok marahnya pindah ke Bapak?"
Tia menurunkan tangannya. Meskipun tampak malu, ia masih berlagak marah, "Pokoknya jangan sampai ada madu-maduan dalam keluarga kita, titik!"
"Kalau madu asli, boleh?"
Ketiga manusia itu langsung menoleh ke sumber suara.
Banu meringis dan langsung mendapat kiriman rudal guling dari ibunya.Pemuda itu tersenyum menghampiri orang tua dan kakaknya. Sebenarnya sudah sepuluh menit ia berdiri di depan pintu kamar kakaknya yang terbuka.
Besok lusa, undangan akan dicetak. Banu melirik kakaknya yang tampak murung. Ada apa? Apakah Mbak Nada berubah pikiran? tanya hatinya.

Kamis, 18 November 2010

Di Arung Jeram Cinta

Nada meletakkan nampan berisi dua cangkir teh hangat dan sepiring roti lapis mentega yang ditaburi sedikit gula. Ia menyingkirkan tas kerja suaminya sebelum meletakkan nampan itu di atas meja kecil.
"Kapan deadlinenya?"tanya Nada berdiri di samping suaminya yang tengah mengutak-atik program di dalam laptopnya.
"Minggu depan, "Tantra menoleh memandang wanita yang dua bulan ini resmi menjadi pendamping hidupnya.Istrinya itu sedang melontarkan senyum lembutnya.
"Direktur pasti sangat menyukaimu, "ujar Nada. "Aku harus siap-siap cemburu."
Tantra memadamkan laptopnya. Ditatapnya istrinya yang mengenakan gaun tidur hijau pastel bermotif dedaunan merah kecoklatan. Pemuda itu mengulum senyum. "Cemburu kepada direkturku yang laki-laki itu?"tanyanya menggoda.
Nada tersenyum geli.
Tantra menarik tangan Nada dan menggeser duduknya. "Kita harus menjalankan pola hidup hemat, "ujarnya sambil meraih secangkir teh.
Nada mengerutkan kening tidak mengerti maksud suaminya. "Pola hidup hemat?"
"Ya, "sahut Tantra. Ia menyodorkan cangkir itu. "Minumlah."
Meskipun heran, Nada menurut juga. Ia meminum teh hangat itu beberapa teguk lalu menyerahkan cangkir itu kembali ke tangan suaminya.
Sekarang Tantra yang meneguk teh itu sampai licin tandas tanpa bekas. Tentu saja Nada tercengang bukan buatan.
"Itu tadi contoh hidup hemat, "ujarnya.
"Maksudmu?"
"Ya, secangkir berdua, sepiring berdua, dan ..., "Tantra melirik kursi yang tengah mereka tunggangi, eh, duduki, "Sekursi berdua...."
Merah padam seketika wajah Nada. Tetapi rupanya Tantra belum selesai, ia meraba pinggir cangkir itu sambil tersenyum.
"Kok senyum-senyum?"
"Hm...lumayan dapat ciuman tak langsung, "jawab Tantra kalem.
"Ciuman tak langsung?"
"Bekas bibirmu menempel di sini, tadi aku juga minum di sebelah sini...."
Gedubrak! Wajah Nada bukan cuma merah padam, tetapi persis trafic light : Merah, kuning, hijau, merah, kuning, .... Apa-apaan itu? Ciuman tak langsung? Ia baru mendengarnya. Dan meskipun sudah menikah, tetapi menurut Tantra, istrinya itu masih begitu tertutup.
Tantra tersenyum. "Lupakan ciuman tidak langsung, "ujarnya. "Aku cuma bercanda. Menurutku, masih ada sesuatu yang kausembunyikan, Mbak."
Mbak. Rupanya Tantra belum mengubah sapaannya. Nada tak tahu mengapa. Kalau sudah begini, Nada bingung bagaimana harus menyapa suaminya.
Nada terdiam. Bukan cuma masalah sapaan, tetapi juga karena kata-kata suaminya tentang ada sesuatu yang disembunyikan itu memang tidak salah. Ya, ada sesuatu yang masih ia sembunyikan.


Senin, 15 November 2010

Di Arung Jeram Cinta (BAB I)

Bagaimana rasanya menikah dengan orang yang lebih muda? Biasanya bukan masalah jika yang lebih muda adalah sang istri. Tetapi, bagaimana kalau yang lebih muda suami?
Nada mengalami hal itu. Sejak semula, bahkan sebelum pernikahan, ia mencoba untuk tidak menghiraukan masalah yang satu itu. Tetapi, betapa sulitnya.
Tantra memang bukan lagi murid SMA seperti empat tahun yang lalu. Ia sudah menjadi pemuda yang dewasa. Meskipun demikian, tetap saja pemuda itu lebih muda dibanding dirinya.
Sialnya, Nada harus mengakui bahwa dirinya benar-benar jatuh cinta kepada pemuda itu. Ia menyadari satu hal yang membuatnya terpikat karena Tantra begitu menyayangi ibu dan adiknya. Bahkan karena melindungi adiknya, ia nyaris menukar dengan nyawanya. Hei, wanita mana yang tidak tertarik?
“Aku jatuh hati kepadamu kali pertama melihatmu mencatat tekanan darahku, “ujar Tantra sore itu di teras rumah Nada. “Kau begitu lembut dan penuh perhatian.”
“Kau yakin? Apa kau lupa selisih umur kita….”
Tantra mengerutkan kening. “Kau sudah menerima lamaranku, tapi masih memikirkan soal yang satu itu? Aku tidak mengerti.”
“Maaf, “Nada menarik napas perlahan. “Aku tidak ingin kamu kecewa pada akhirnya.”
“Aku yang akan kecewa kalau kamu membatalkan menerima lamaranku.”
“Tidak, bukan begitu maksudku….”
“Jadi, “Tantra menatap gadis yang duduk di hadapannya dengan serius. “Kau mau menikah denganku atau tidak?”
Nada merasa kikuk. Kebiasaan Tantra belum hilang juga, suka menatap tajam lawan bicara. Ia mengalihkan pandangan ke lantai beranda, menghindari tatapan pemuda itu.
“Hayoo, yang lagi kasmaran, “tepukan iseng di pundak membuatnya nyaris menjerit.
“Banu!”
Pemuda yang dihardik itu malah menyeringai nakal. Nada melempar adiknya dengan bantal sofa.
Hup! Banu menangkap bantal segi tiga itu dengan mudah, “Kakakku tersayang pasti sedang merindukan suami tercinta. Sabar, masih dua jam lagi.”
Nada beranjak dari kursi sambil bertolak pinggang, “Sekali lagi kamu menggodaku, akan ku….”
“Laporkan suami tercinta, “Banu memotong ancaman kakaknya sambil terbahak-bahak.
Nada membelalak kesal.
Banu meletakkan bantal ke kursi tamu. “Aku senang Tantra yang jadi suamimu, “katanya serius, “Bukannya si Danar itu.”
“Kenapa?”Nada penasaran juga. “Bukankah dia dulu musuh bebuyutanmu?”
Banu tersenyum. “Itu dulu, Mbak, “tukasnya. “Aku yang salah, dia terlalu baik untuk dimusuhi.”
“Ya, kalian sudah jadi saudara, “sahut Nada mengambil ponsel yang berdering di meja ruang tengah.
Banu memperhatikan kakaknya yang sibuk berbicara dengan seseorang melalui ponsel. Melihat ekspresi Nada, pemuda itu langsung mengerti dengan siapa kakaknya bercakap-cakap. Pemuda itu berlalu dari ruang tengah.

Kamis, 11 November 2010

Precious zu meiner Großmutter

Pagi itu kulihat langit masih biru
dan surya pun tersenyum ceria

Lalu kutatap angkasa berganti sendu
meski mentari belum tampak berduka

Saat awan hitam datang tersedu
raja siang pun sembunyikan raut mukanya

Tiba-tiba aku pun tahu
tak kan pernah kulihat lagi senyum penuh cinta

Lalu aku pun tergugu
sebab tiada kan kudengar lagi sapa belaian angin surga

Kusadari hari itu
semesta meneteskan air mata

Aku diam termangu
mengenang indah saat bercanda


Catatan : Nenekku tersayang (ibu dari almarhum ibuku) telah memenuhi panggilan Allah Swt dengan tenang, Sabtu, 6 November 2010 dalam usia 93 tahun.
Eyang, begitu kami menyapa beliau adalah sosok yang sabar dan tidak pernah berhenti belajar. Eyang sangat suka membaca dan tidak menderita pikun.
Selamat jalan, Eyang. Aku telah belajar banyak darimu tentang berbagai hal. Terima kasih atas semuanya.Sekarang, berbaringlah dengan tenang dan mimpikan saja hal-hal yang indah dalam tidur panjangmu. Doaku menyertaimu.
Aku sayang Eyang.





Rabu, 29 September 2010

Selamat Pagi, Mentari


Selamat datang, mentari
kunanti senyum cerahmu setiap pagi
bersama cahya pijarmu
kupergi mencari ilmu

Datanglah kembali, mentari
kutunggu senyum ceriamu setiap hari
dalam hangat sinarmu
kulangkahkan kaki menuntut ilmu

Senin, 12 Juli 2010

Kepada Kilau Jiwaku

Aduhai, Sayang
lihatlah laut tlah pasang
belum puas engkau kutimang
kulihat bola melayang, kautendang

Oh, kekasihku sayang
saksikan ombak berdendang
iringi langkah-langkahmu riang
gembira kauterbangkan layang-layang

Laut tlah pasang, Sayang
rembulan pancarkan cahya benderang
datanglah ombak berkawan gelombang
tiap deburnya menghantam karang

Duniamu terlalu indah, Sayang
untuk begitu saja kau kaubuang
ciptakan segenggam mimpi indah melayang-layang
terbang, gapailah meraih bintang 


Sabtu, 26 Juni 2010

Dongeng Merpati

Aku melayang di udara, menembus selubung angkasa biru. Wauw, kutarik napas panjang dengan lega, kuhirup napas lega di kalbu. Kini daku bebas merdeka tanpa ada yang membelenggu.

Tidakkah kausadari betapa indahnya awan seputih kapas yang bertebaran di langit? Aku ingin menyentuhnya dengan jemariku agar bisa kugigit. Ah, aku jadi ingat kembang gula kapas yang legit. Kembang gula kapas yang bisa membuat tertawa walaupun semula menangis sampai menjerit-jerit.

Jadi aku hampiri saja awan putih itu. Hm, kelihatannya memang lezat luar biasa. Rasanya aku tak mau lagi menunggu. Cepat-cepat kukepakkan kedua sayapku.

Kedua sayap? Apakah kau heran atau terkejut jika kuberitahu siapa saya? Benar, tak usah mata kauusap-usap! Ya, ya, aku memang seekor burung...mm...maksudku aku sedang menikmati keajaiban yang pernah kubaca dari buku cerita.

Kau pasti tak akan percaya jika kuberitahu satu rahasia. Dulu aku bukanlah seekor burung. Aku dulu manusia. Manusia yang senang melihat burung-burung terbang di angkasa. Jelas manusia, saat itu...ah, kurasa sampai sekarang, aku suka sekali sup jagung buatan Ibu.

Aku menggelengkan kepala. Soal sup jagung bisa ditunda. Mumpung aku masih di angkasa. Kapan lagi aku bisa menikmati kembang gula yang menggoda selera? Eh, maksudku aku ingin menyentuh awan di sebelah sana.

Ups, apa ini?! Air, ada tetes-tetes air berjatuhan menimpa kepalaku! Aku menengadah ingin mengetahui yang terjadi. Oh, pantas langit jadi kelabu! Rupanya hujan datang menghampiri.

Sayang, aku tak membawa payung. Menyesal juga, tadi cepat-cepat pergi. Tetapi bagaimana lagi, Ibu tak mau memasakkan sup jagung. Aku kecewa sekali.

Sempat kudengar beliau memanggilku, "Raf, mau ke mana?!"
Aku tak menoleh sebab kecewa sekali.
"Salat dulu, magrib telah tiba!"
Tetapi aku tak perduli dan terus berlari.

Mana mungkin aku membawa payung! Aku kan seekor burung! Hujan semakin deras, aku harus mencari tempat berlindung! Gugup, kukepakkan kedua sayap dengan perasaan murung. Rasanya aku ingin pulang. Ingin kurasakan pelukan Ayah dan dekapan Ibu yang penuh sayang. Kurindu tawa kedua adikku yang selalu riang.

Oh, terima kasih, Tuhan! Hujan telah berhenti. Kulihat helai-helai daun yang berjatuhan. Basah masih mewarnai bumi. Aku bertengger di sebuah dahan. Ingin kukeringkan bulu-buluku yang basah ini.

Aww, apa ini?!"aku ingin menjerit. Tetapi bukan jerit kesakitan yang terlontar. Sayap kiriku terasa sakit. Kedua kakiku tak sanggup lagi berpijak dan aku terlempar. Sakit...sakit sekali... dan aku tak bisa lagi menjerit....

"Hei, apa yang kamu lakukan!" Kudengar suara seorang anak laki-laki. Ah, suara yang sangat kurindukan. Seperti suara adikku yang gemar lomba lari setiap pagi.
"Eh, mau tahu saja!" Kali ini kudengar suara anak laki-laki yang kutaksir sebaya adikku. "Aku tak suka ada burung di sana! Itu pohon jambu bangkok kesayanganku!"

"Tapi tidak usah pakai memanah! Kasihan, burung ini terluka!"
"Biar saja kena panah. Biar dia tahu rasa!"

Eeit, a...ada apa ini? Kurasakan kedua tangan mengangkat tubuh mungilku. Aku tak sanggup membuka mata, sakit benar sayapku. Aku tak ingat apa-apa lagi.

"Kau sudah bangun, Mungil?"suara gadis kecil yang ramah.
Aku mencoba menajamkan pandangku tetapi hanya samar-samar yang tak jelas
"Ah ya, kau pasti lapar, "lagi-lagi gadis kecil yang ramah.
Aku diam saja. Mana mungkin aku menjawab, lagi pula aku masih lemas.
"Kakak, bawa apa itu?!"
"Ini makanan burung, "ah, suara anak laki-laki yang menolongku.
"Jagung?"
"Iya, jagung."
"Kok jagung, kasihan kan?"
"Lho memangnya harus makan ikan?"
Terdengar suara jemari menggaruk-garuk kepala. "Iya ya, Kak. Kan bukan burung bangau."
Mendengar kata-kata jagung, aku jadi teringat sup jagung yang lezat buatan Ibu. Siapa tahu ini bukan jagung biasa. Maksudku sup jagung yang tersisa. Sup jagung kegemaranku.

"Kak, kok malah makan sendiri?"
"Kan sudah dibagi-bagi?"
"Si Mungil belum makan."
"Kamu suapkan."
"Ah, Kakak, bagaimana caranya?"

Mendadak aku merasa kepalaku sedikit terangkat. Rupanya gadis kecil yang baik hati itu mencoba menyuapiku. Sementara kakaknya memperhatikan dengan dua ibu jari terangkat. Aku harus bersiap-siap menikmati butir-butir sisa sup jagung kegemaranku.

Waa, apa ini?!aku nyaris tercekik. Kejam benar! Aku mengeluarkan suara sebisaku, maksudku memekik. Butiran jagung di tangan gadis kecil pun terlempar. Ah, kurasa ia juga terkejut karena jeritanku keras terdengar.

"Mungkin Mungil tidak suka jagung." Anak laki-laki itu tampak tercenung. Ah, aku terlalu lelah untuk menyimak pembicaraan selanjutnya. Biar, biarlah aku pejamkan mata.

Tidak tahu berapa lama aku tertidur. Jangan-jangan aku mendengkur? Mudah-mudahan aku tidak mengganggu ketentraman penghuni rumah ini. Kubuka mata, ternyata aku berada di dalam sangkar berwarna pelangi.

Sayup-sayup kudengar isak tangis seorang wanita. Ah, rasanya aku mengenalnya! Suara itu seperti suara ibuku! Aku yakin sebab suara beliau sangatlah merdu.

"Raf, aku rindu sekali...."
Aku memasang gendang pendengaranku sebaik-baiknya.
"Mengapa sampai sekarang dia belum pulang juga...."
Sedih aku mendengarnya, andai Ibu tahu aku tak jauh dari sisinya.
"Sudah dua puluh tahun...Raf tak terdengar lagi kabarnya...."
Hampir saja aku terpeleset untung saja aku berhasil mengendalikan diri.
Oh, apa kata ibuku baru saja?! Mungkin sudah saatnya seorang dokter hewan memeriksa kedua lubang telinga yang kupunya!

"Dua puluh tahun...sampai kedua adiknya telah berkeluarga dan Raf belum juga...."
"Sudahlah, Bu." Kali ini terdengar suara seorang pria. Hatiku semakin terluka. Aku mengenal pemilik suara itu.

"Kita harus merelakan Raf, Bu."
"Ibu tahu itu, Ayah, tapi rasanya rindu ini menggebu-gebu."
"Lihatlah kedua cucu kita itu."
"Iya, mereka manis dan lucu."
"Ada sifat Raf yang menurun pada mereka."
"Oh ya, apa itu?"
"Ibu ingat tidak kalau Raf itu penyayang binatang?"
Suara wanita tertawa lembut membuat dadaku berguncang-guncang."Oh, Ayah, tentu Ibu masih ingat dan bukankah ia suka sekali dengan lagu Burung Layang-Layang?"

Aku tertunduk pilu. Rasanya habis sudah riwayatku. Walaupun seandainya aku bisa berwujud kembali menjadi manusia pun, aku tak tahu berapa usiaku. Hitungan usia manusia dengan hewan sangatlah berbeda dalam hitungan waktu.

Aku harus pergi. Aku tak mau tinggal di rumah ini. Hatiku bagai tertusuk duri. Ini bukan judul lagu karena toh aku tak bisa lagi menyanyi, ini adalah ungkapan kesedihan diri.

Mujur benar nasibku. Gadis kecil yang memberiku makan lupa menutup pintu. Aku mencoba sabar sampai malam tiba. Aku tidur dulu untuk menambah stamina.

Kini aku kembali melayang di udara. Dengan sedih aku menatap rumah yang penuh nostalgia. Tetapi belum jauh aku kepakkan sayap, mendadak semuanya gelap. Aku terperangkap dalam gelap.

Aku terbangun. Samar-samar kudengar isak tangis. Aku tertegun. Kenapa aku mendengar lagi suara ibuku menangis? Bukankah aku sudah meninggalkan rumah ini? Lalu siapa yang membawaku kembali?

Kurasakan belaian lembut di keningku. "Kau harus makan dulu."
Makan? tanyaku dalam hati. Pasti butir-butir jagung yang mengerikan itu atau dedak katul yang membuatku serasa mati.

"Ayo, biar Ibu bantu kamu."
Apa maksudnya ini? Apakah Ibu juga berubah seperti diriku? Tetapi belum sempat aku menyadari semuanya, sesuatu kurasakan di lidahku.

Sup jagung! Aku bisa merasakan kembali lezatnya sup jagung! Sup jagung buatan Ibu. Ibuku yang selalu kurindu.

Aku bersyukur ternyata pengalaman ajaib yang buruk itu cuma mimpi. Mimpi selama aku tak sadarkan diri. Menurut cerita Ayah, aku jatuh pingsan di halaman. Aku tersenyum pasti gara-gara aku mogok makan.

"Kau sempat dirawat di rumah sakit."
"Berapa hari, Ayah?"
"Tiga hari."
"Tiga hari? Aku terbelalak. Tak percaya aku bisa pingsan selama itu.
"Tapi ibumu ngotot membawamu pulang, katanya kalau sudah di rumah, kamu pasti sadar...eh, ternyata benar."

Aku memandang seraut wajah yang tersenyum lembut. Maafkan aku, Ibu. Untung saja aku jadi burung cuma dalam mimpi. Kalau dalam nyata, pasti aku cuma makan butiran jagung atau dedak katul.

Aku berjanji tidak akan membantahmu lagi. Apalagi sampai nekad lari lalu jadi burung. Tidak!!! Aku nanti tidak bisa makan sup jagung lagi dan bersenda gurau bersama kedua adikku yang lucu.

Kutelan suapan terakhir dari semangkuk sup jagung. Baru kali ini aku dapat merasakan betapa beruntungnya dilahirkan sebagai manusia. Terima kasih, Allah. Engkau Maha Pemberi sebaik-baiknya pemberi.



Jumat, 25 Juni 2010

Tanaman yang Indah

Tanaman di depan rumah
kini tumbuh dengan indah

Wangi bunganya segarkan rasa
hijau daunnya tenangkan jiwa

Semak dan ilalang di sekitar
tak kan membuat warnanya pudar

Tumbuh, tumbuhlah dengan cinta
genggam semesta penuh asa

Hiasi taman bertabur bintang
tancapkan cita hingga terbentang

Keranda

Ada kereta keranda
berhenti di depan rumahku
sais bertudung hitam gagah berkuda
matanya sorotkan sinar kelabu

Tercium asap tak kasat mata
meliuk-liuk lewati celah dan lubang pintu
sais turun dari kuda tak berpelana
langkahnya tegap getarkan kalbu

Ada jam pasir di tangannya
tatapnya tajam menembus tiap sudut
telunjuk kanan menuding angkasa
lakunya timbulkan rasa takut

Ringkik sang kuda mendepak udara
terasa asap menebal bagai selimut
terlihat jelas kereta berkeranda
sais melambai tanda menjemput

Sekeping Emas dalam Pelita

Kala senja merengkuh hari kutelusuri kembali
jalan setapak liku berbatu yang dulu kulewati
bersama rembulan dan nyala pelita yang mampu berpijar
dalam remang malam yang mulai menyebar

Di manakah sekeping emas yang kucari
meski mungil namun cahayanya sanggup menjelajahi
gelap lorong yang tak pernah dilalui
mereka yang terpuruk amuk diri

Tatkala malam menyapa senja tuk menepi
menaburkan hiasan bintang di langit sepi
nyala pelita di genggaman tak lagi benderang
tapi di sana kulihat kemilau emas bersinar terang

Selasa, 22 Juni 2010

Hasil Percobaan Pelangi

Hasil percobaan? Terus terang saya bingung dengan judul yang tepat untuk tulisanku kali ini. Sebenarnya saya akan menulis tentang kemenakanku yang sulung. Ia merupakan hasil percobaanku yang pertama. Tampaknya kata percobaan kurang manusiawi, tetapi jika diganti penelitian apakah tepat? Penelitian apa? Saya bukan ilmuwan.
Saat kemenakan sulungku lahir, kakakku dan istrinya langsung mempercayakan si mungil kepada Ibu dan Ayah. Itu berarti mereka juga berharap bahwa aku akan menimang-nimang boneka hidup mereka. Kami sama sekali tidak keberatan, malah sebaliknya merasa gembira.
Bagiku seseorang yang mendapat kepercayaan mengasuh anak, tidak boleh sekadar membuat dia kenyang atau tidur nyenyak, tetapi lebih dari itu. Apalagi yang akan kuasuh bukan anak orang lain, tetapi putra kakakku sendiri. Jadi aku tidak mau main-main. Tidak lama setelah aku mendapatkan kepercayaan itu, mulailah aku mencari artikel mengasuh bayi.
Orang tua kemenakanku itu adalah sepasang suami istri yang sibuk bekerja. Bukankah lebih aman, jika nenek atau tante yang mengasuh boneka hidup mereka yang mungil? Gratis dan dapat dipertanggungjawabkan.
Otakku mulai bekerja. Sudah lama aku menunggu saat yang tepat untuk melakukannya. Rencana itu timbul saat aku membaca artikel tentang menjadikan anak cerdas, jauh sebelum kemenakanku lahir. Aku sangat menyukai isinya dan ingin segera menerapkannya.
“Tante, ayo makan.”
Ah, aku tersenyum melihat kemenakanku yang menyapa saat aku mengambil air putih. Rupanya aku sedang mengenang masa kecilnya yang lucu. Aku menatapnya penuh sayang. Betapa cepat waktu berlalu, ia telah tumbuh remaja dan menuntut ilmu di salah satu SMA Negeri kompleks di Surabaya.
Menggambar manga dan tentu saja membaca buku adalah hobinya yang tidak dapat diganggu gugat. Soal menggambar, mungkin menurun dari ayahnya yang pernah menjuarai lomba menggambar saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Nah, kalau membaca, sudah pasti akibat dari rencana yang kujalankan itu.
Bagaimana tidak kutu buku? Sejak bayi, aku sudah memberinya dongeng sebelum tidur dengan boneka-boneka binatang. Usia tiga tahun, aku mengajaknya berkenalan dengan buku cerita bergambar binatang. Bahkan untuk mengembangkan kecerdasannya, aku tidak pernah membelikannya mainan berupa mobil-mobilan. Sebagian besar mainannya berupa bongkar pasang, buku-buku cerita, pensil warna-warni, dan balok-balok bertuliskan angka dan abjad.
Umur lima tahun ia sudah lancar membaca dan berhitung. Memang bukan hal yang istimewa karena aku tidak mau memaksa dia untuk cepat bisa membaca. Usia balita adalah usia bermain. Aktivitas bermain sudah merupakan kegiatan belajar bagi anak seusia mereka. Belum waktunya menuntut balita untuk bisa membaca.
Kemenakanku bisa membaca karena ia sudah terlatih mengenal huruf dan angka sejak kecil. Ia menjadi suka membaca karena aku yang membiasakannya sejak kecil. Waktu itu aku bertekad membuktikan bahwa anak yang dikenalkan gemar membaca sejak dini akan jadi anak yang cerdas.
Aku sempat melihat daftar nilai UNAS SMP di meja belajarnya. Semuanya berkepala sembilan, hanya angka di belakang koma saja yang berbeda. Nilai terendah ternyata bahasa Indonesia. Pelajaran ini memang membuatnya mengeluh. Aku teringat sempat mengajarinya sehari sebelum ujian atas permintaan kakakku.
“Tante pulang, “ujarku sambil menghampiri keempat kemenakanku yang sedang belajar. Satu persatu mereka mencium tanganku dan kucium kedua pipi mereka bergantian.
“Antarkan Tante sampai ke depan, “kata kakakku kepada si Sulung.
“Iya, Pa, “jawab kemenakanku tanpa banyak bicara sambil mengambil kunci motor yang tergantung di dinding ruang tamu.
Jadi hasil percobaanku itu, eh salah, kemenakanku sekarang sudah bisa membonceng tantenya ini walaupun hanya sampai depan jalan raya (karena belum punya SIM C). Aku suka menggodanya saat turun dari motor. “Cium Tante dulu, “kataku iseng. Sambil tersenyum malu, ia pun mencium kedua pipiku. Biasanya remaja belasan tahun kan malu kalau disuruh mencium ibu atau tantenya di depan umum. He he he.

Rabu, 19 Mei 2010

Sisi Pelangi

Cerita ini kudapat dari almarhum ibuku beberapa tahun yang lalu. Saat itu beliau bercerita bahwa kakak iparku menginginkan anak kedua perempuan, dengan demikian lengkaplah sudah, karena si sulung laki-laki. Ternyata keinginannya bertentangan dengan harapan suaminya, yaitu kakakku. Diam-diam kakakku berdoa supaya anak yang kedua lahir laki-laki pula.

"Ma, aku minta maaf, "katanya beberapa hari setelah kelahiran kemenakanku yang kedua itu.
"Maaf untuk apa, Pa?"
"Aku tahu Mama ingin sekali anak perempuan...tapi aku memang berdoa supaya anak kita yang kedua ini, laki-laki juga."
"Kenapa begitu, Pa?"
"Aku tidak mau kedua anak kita saling tertutup padahal mereka bersaudara. Adikku sangat tertutup kepadaku, entahlah mungkin karena dia perempuan. Aku tidak mau hal itu terjadi pada anak-anak kita."
Kakak iparku terdiam. Entah apa yang berkecamuk di dalam benaknya.

Jumat, 23 April 2010

Tak Lagi Putik

Aku ingin seperti dulu

Kala bungaku masih putik

Gemulai menari ditiup sang bayu

Saat hujan mulai merintik


Seandainya aku bisa seperti dahulu

Masa wangiku masih menggelitik

Rimbun daunku melambai kupu-kupu

Ramai tangan pun memetik


Tetapi aku bukan lagi yang dulu

Sebab bungaku tak lagi putik

Rimbun daunku tak lagi sanggup membelai kupu-kupu

Tiada lagi ramai tangan yang memetik


Tak sempat mekar bungaku

Hanya sekejap putik menilik

Sebab badai duka mengempas jiwaku

Mengguncang diri hadirkan embun menitik


Kamis, 22 April 2010

Pada Sketsa Langit dan Siluet Diri

Aku tak lagi takut pada kegelapan
setelah kutemukan lentera di antara pekat
dan sketsa di langit yang membiru

Kini aku berani menyusuri bayangan
siluet diri yang setia melekat
sejak kutahu inilah sebenarnya daku

Pada kegelapan dan bayangan
dalam pekat dan lekat
kini aku berani karena mereka ada di diriku

Pada sketsa berteman awan
dan lentera di angkasa terasa dekat
aku telah berani sebab mereka bersamaku selalu



Senin, 12 April 2010

Jingga

Mencipta semesta luas membentang
Tegak tak berbatas langit menjulang

Memecah samudera tak terbilang
Bergeser gunung tanpa dirancang

Berderai angin berlari kencang
Berarak awan pelan bergoyang-goyang

Dikau raja segala kan kujelang
Merajut semesta tanpa pintalan benang

Kuraih kala surya menghilang
Kutunggu saat pagi menjelang

Ingin kuraih jingga yang membayang
Lalu kudekap dalam tidur yang panjang

Merengkuh jiwa berdendang tenang
Engkaulah jingga hidupku yang tersayang



Membunuh Sepi

Semalam kucabut pedang dari sarungnya
Kuterjang gelap bagai satria perkasa


Berdiri tegak menantang kelam
Sepinya malam membuat muram


Aku berteriak membelah angkasa
Kuhunus pedang, kutancapkan ke udara


Sayup-sayup terdengar kawanan katak bernyanyi
Orkestra jengkerik pun beraksi kembali


Aku berlalu tanpa menoleh lagi
Telah kubunuh sepi

Jumat, 12 Maret 2010

Kembara

Masih terus kita berjalan
sedang hari telah beranjak malam
di langit tebaran bintang bergantungan
menyiratkan sinar yang menggenggam

Belum juga kita tiba di perbatasan
sementara waktu tiada mau berdiam
rembulan mengitari bumi, berjalan
tampakkan diri kala surya terbenam

Kembara masih di perjalanan
mencari manik-manik yang dulu tersulam
dan terlepas dari kibar pakaian
menghias kembali dengan intan mutu manikam

Tak Pernah Kuhitung Masa

Telah kuhabiskan waktu sendiri
hingga meranggas pucuk-pucuk cemara
pasrah saat angin mengirimnya
rebah terempas ke bumi

Dulu pada suatu masa yang lama berlalu
pernah kulihat tari gemulai sang cemara
bersama angin melantunkan irama
lagu merdu mengalun indah di telingaku

Telah kuhabiskan waktu tanpa terasa
layu bunga-bunga sebab menua kini
menyatu bersama bumi
hampir tak pernah kuhitung masa

Helai-helai keperakan pun menghampiri
kulihat kelam menggantung di angkasa
gelap menutupi cahaya
hingga pekat tanpa sinar kembali

Catatan : Alhamdulillah, puisi tersebut menjadi berita aktual pada situs www. penulis muda.com minggu ini (Rabu, 12 Mei 2010).

Kutanya Sepi

Kutanya padamu, wahai sepi
mengapa kautikam daku dengan belatimu
semburat darah membekas di jejak kaki
lalu sisanya tercecer dalam setiap napasku

Aku bertanya padamu, wahai sunyi
mengapa kauhunus daku dengan pedangmu
gumpalan darah muncrat menempel di dinding bumi
dan sebagian melumuri wajahku

Kutanya padamu, wahai sepi
mengapa kautusuk daku dengan tombakmu
luka parah menganga di sekujur diri
sementara tetesan darah membasahi seiring waktu

Jumat, 05 Februari 2010

Seikat Bunga

Kaca berkabut berselimut embun
Pagi ini hujan baru saja turun
Aku masih duduk tertegun
Setangkai bunga meliuk mencium daun

Seikat bunga terayun-ayun ke arahku
Mekar, sewarna pelangi menghiasi sudut kalbu
Kuusap kaca agar dapat kupandang indahnya itu
Sedangkan benggala kaca menghalangi tatapku

Hei, mengapa engkau begitu jauh
Seikat bunga melambai tanpa dapat kusentuh
Dingin wajahku, jiwaku pun luruh
Sementara dedaunan berguguran jatuh

Seikat bunga tertunduk mengecup tangkainya
Aku beranjak menyibak jendela
Pagi masih setia menyapa
Kulihat bunga menebarkan harumnya

Rabu, 27 Januari 2010

Menjadi Pelupa

Gelisah hati pikirkan diri
ada bagian yang tiba-tiba pergi

Mengapa sederet kata yang baru terucap
lewat begitu saja bagai langkah berderap

Walau diri telah menua
tak seharusnya sangat pelupa

Ah, biarlah aku mengaca
pada cermin yang senantiasa kugenggam dalam jiwa

Teringatlah aku pada suatu masa
malaslah aku untuk belajar dan membaca

Nasihat ibu, jangan biarkan hari tanpa ilmu
nanti otakmu beku

Teguran ayah, rajinlah belajar
agar pengetahuanmu bagai bunga yang mekar

Sederet berita yang pernah kudapat
kini kembali berkelebat

Otak memang terdiri dari berjuta-juta sel
terlindung dalam tengkorak yang menempel

Tetapi saat masa remaja menghampiri
padamlah seratus ribu sel setiap hari

Tiada masalah yang datang
jika kita tekun menyambut pengetahuan yang menjelang

Sebaliknya jika kita enggan
semasa tua tinggallah menghitung uban

Wahai, generasi muda
tekunlah meraih cita

Agar otakmu tetap terjaga
dan kau tidak menjadi si Pelupa

Selasa, 26 Januari 2010

Masih Ada Pelita

Segenggam tanah yang terbentang
taburan debu yang terhampar
batu-batu dan kerikil yang tersebar
merebah di bumi yang tak lagi lapang

Membelah retak jeritkan lara
bumi yang berguncang menahan tangis
menyimak desah alam meratap duka
namun pilu tak jua terkikis

Barangkali ada selaksa tanya
yang bersemayam di kalbu menancap
tak dapatlah terlontar membentuk kata
ataupun terbentuk dalam seulas ucap

Segenggam tanah yang terhampar
merebah berserakan sebab tangis persada
Bebatuan dan kerikil yang tersebar
melayang-layang berjatuhan kabarkan duka

Mungkin masih ada selaksa harap
semoga tak kan padam pelita di hati kami
sebab Allah muara segala harap
tempat mengadu yang tak bertepi

Kamis, 07 Januari 2010

Seraut Silam Pelangi

Seorang gadis dengan skuter teletubies? Hm, kira-kira begitulah angan-anganku saat masih anak-anak: aku punya bayangan nanti ada kendaraan untuk anak-anak yang didesain seperti skuter teletubies itu. Sayangnya waktu itu belum ada yang model skuter semacam itu. Adanya skateboard, yang membuatku tidak habis pikir bagaimana mungkin orang dapat menancapkan kedua kakinya pada papan beroda tanpa berpegangan pada apapun dan meluncur bahkan sampai melayang-layang berakrobat di udara?
Aku lebih merasa aman dengan bersepatu roda atau mengayun sepeda roda dua. Walaupun keduanya sempat membuatku terjungkal di jalan beraspal lalu pulang dengan kedua siku dan kaki babak belur. Akibatnya selama dua minggu aku mandi sambil menggantung sebelah kaki yang terluka dari lutut sampai betis.
Kapok? Jera? Kapok lombok, kata orang Jawa. Mana anak kecil yang jera bermain biarpun pernah jatuh sampai berdarah bahkan bernanah?
Sekarang tentu saja aku tidak lagi bermain sepatu roda atau masih berangan-angan untuk memiliki skuter teletubies, meskipun aku masih saja lebih nyaman tampil tanpa tata rias yang berlebihan. Bedak yang sedikit tebal membuatku mengalami krisis percaya diri dan merasa menjadi boneka kabuki.

Seberkas Cambuk

Seberkas cambuk melayang
tak dapatlah itu kupandang
sebab hadir menerjang angan
menggugah diri dari lamunan

Sakit terasa bagai didera
luka hati panas telinga
menyentak angan dalam jiwa
yang diam terbungkus raga

Kini tersenyum diri mengingat semua
bersyukur hampir kucapai segala
seberkas cambuk berjasa masih kuingat
yang  menjadi pemacu semangat


Catatan : Dua hari yang lalu, tepatnya 5 Januari 2010, pamanku tersayang genap berusia 54 tahun. Beliau adalah adik almarhum ibundaku. Selain kedua orang tuaku, Paman adalah orang yang selalu memberiku semangat untuk meraih cita-cita. Dulu aku pernah tersinggung dengan kata-kata beliau yang membuatku tidak nyaman sampai akhirnya ada suatu kejadian yang membuat mata hatiku terbuka bahwa Paman melakukan itu karena sangat menyayangiku. Terima kasih, Paman. Semoga panjang umur, sehat, sukses, dan bahagia selalu. Amin ya Robal Alamin.