Selasa, 06 September 2011

Di Arung Jeram Cinta

Siapa yang dapat menghalangi niat seorang ibu? Apalagi demi buah hatinya? Begitu pula Herman dan Meyra, keduanya tak sanggup mencegah keinginan ibu mereka yang ingin menemui Danar untuk melabraknya, tentu saja. Ternyata Dewi tak mau tahu bahwa peristiwa itu sudah berlalu berbulan-bulan, baginya laki-laki semacam Danar harus diberi pelajaran. "Antarkan, Ibu, "ujar Dewi meraih tas tangannya dari sofa ruang tamu. "Bu, Meyra sudah tidak apa-apa, "sela Meyra mengikuti ibunya. "Meyra sudah melupakan peristiwa itu."
Dewi menatap putrinya tajam. "Kamu bukan melupakan, tapi berusaha melupakan, "tukasnya. "Dan Ibu tahu, kau belum berhasil."
Melihat adiknya tertunduk, Herman tak sampai hati. "Bu, tolong jangan ungkit peristiwa itu lagi."
Dewi melotot. "Kau belum punya anak perempuan, Herman! Kalau sudah, kau akan tahu bagaimana rasanya kalau anak perempuanmu...,"wanita empat puluh delapan tahun itu terdiam. "Maafkan Ibu, Herman, Meyra... tolong antarkan Ibu ke rumah laki-laki bejat itu."
Herman mengerti bahwa ibunya tak mungkin dibantah lagi.


Perusahaan yang dikelola Rafa sejak awal kuliah hingga saat ini bergerak di bidang jasa. Gadis yang lincah itu sangat prihatin dengan kasus kekerasan terhadap wanita dan anak-anak. Dengan modal nekat, ia berusaha mencari psikolog dan psikiater yang bersedia membantunya.
"Ayah, Rafa tidak cari keuntungan, "ujarnya saat Cakra mengingatkan bahwa usaha semacam itu lebih banyak risikonya dibanding hasil yang diperoleh.
"Kau harus tetap waspada, Rafa,"sahut Cakra serius."Ayah tidak ingin kamu bertindak gegabah."
"Rafa mengerti, Ayah." Sekarang perusahaan milik Rafa telah memiliki tiga cabang yang didirikan di kota-kota kecil, hal itu untuk memudahkan para pelanggan yang bermukim di kota kecil jika ingin menggunakan jasa perusahaan tersebut.

"Silakan duduk, Pak, "Rafa menunjuk kursi di hadapannya yang dibatasi dengan meja presiden direktur. Pak Satpam menurut dengan laku yang kikuk. "Sepertinya Bapak belum lama bekerja di sini, "Rafa membuka percakapan. "Berapa lama?"
"Satu bulan, Bu...."
Rafa mengangguk-angguk. Pantas, pikirnya. Sebulan memang aku tidak sempat ke sini karena mengurus tetek bengek kelulusan.

Tidak ada komentar: