Selasa, 31 Mei 2011

Di Arung Jeram Cinta

Meyra tidak sanggup berkata-kata. Ia hanya menatap laki-laki di hadapannya dengan perasaan berkecamuk. Terus terang tidak ada rasa bangga apalagi bahagia saat medengar pernyataan Danar itu. Malah sebaliknya, ia semakin merasa yakin bahwa selama ini dirinya telah salah menilai.
Melihat Meyra diam saja, Danar memberanikan diri bersuara. "Aku tidak akan memaksamu kalau kau tidak mau." Selesai mengucapkan kalimat itu, alangkah terkejutnya ia melihat gadis itu balas menatapnya dengan tajam.
"Benar, kau tidak akan memaksaku? Lalu apa yang kaulakukan dulu itu? Apa namanya?"
"Ma...maafkan aku, Meyra. Aku mengaku salah, aku berdosa padamu."
"Apa dengan mengaku dosa, kamu bisa mengembalikan semuanya seperti semula?"tukas gadis itu seraya bangkit dari duduknya.
"Kau ingin aku menyerahkan diri ke polisi?"
"Danar, "Meyra menatap Danar dengan mata berapi-api. "Satu hal yang kuinginkan sejak peristiwa itu adalah tak akan pernah lagi mendengar suara atau melihat wajahmu."
"Tapi...."
"Jadi, tolong jangan ganggu aku lagi."
"Meyra...."
Jangan kaukira aku gembira dengan niat baikmu itu. Lebih baik, berikan saja pada gadis yang mau."
Sebenarnya Danar tidak ingin memaksa, tetapi dia sendiri tak mengerti mengapa tiba-tiba saja ia mencoba meraih tangan Meyra. Tentu saja gadis itu cepat menghindar sambil berteriak kaget.
Herman dan Asri yang mendengar jeritan adiknya segera muncul di tempat kejadian. Meyra segera memeluk kakaknya.
"Cepat, pergi dari sini!"seru Herman gusar sambil memegangi adiknya. "Kenapa kausakiti adikku lagi?"
"Herman, aku hanya...."
"Dia mau memaksaku lagi, Mas...."
Mendengar itu, Herman semakin gusar. " Dengar, aku tidak mau lagi melihatmu! Pergilah!"
Asri meraih Meyra dari pelukan Herman. "Kamu minum dulu, Dik, "ujarnya lembut. Meyra menurut.
Sementara itu Herman melanjutkan urusannya dengan Danar. "Pertemanan kita berakhir sampai di sini."
"Herman, beri aku kesempatan...."
"Kalau adikku menginginkannya. Tapi lihat sendiri tadi, jelas-jelas dia menolakmu. Aku sangat menyayangi adikku dan aku tahu benar yang telah kaulakukan itu sangat mengoyak jiwanya. Perasaan itu bisa jadi akan menghantuinya seumur hidup."
Danar menunduk. "Adikmu sempat melakukan perlawanan...."
Herman tertawa sinis. "Kau memang laki-laki sejati. Selama ini lawanmu cuma perempuan. Istrimu yang sering kauperlakukan seperti maling tertangkap basah dan adikku yang terpaksa harus kehilangan miliknya yang paling berharga."
Danar menyadari meskipun Herman mengucapkan kalimat itu dengan tenang, tetapi ia tahu bahwa sebenarnya kemarahan temannya itu belumlah pudar.

Tidak ada komentar: