Kamis, 03 Februari 2011

Di Arung Jeram Cinta

Sayang sekali ayah dan ibu sedang menghadiri acara reuni alumni universitas, tetapi, tak mengapa kedatangan kakak dan istrinya membuat Rafa tidak lagi measakan jenuh serta kesepian. Apalagi keduanya berencana menemani dirinya sampai ayah ibu pulang.
Sementara Tantra pergi ke bengkel di seberang jalan, Rafa menyiapkan sarapan. Nada membantu.
"Masak apa, Dik?"
"Yang cepat saja, Mbak, "sahut Rafa membuka pintu lemari es. "Tumis kangkung sama perkedel tahu."
"Wah, Dik Rafa pintar masak ya, ternyata?"
"Cuma iseng, Mbak. Daripada beli, jadi lebih hemat."
Nada tersenyum memperhatikan adik iparnya yang mulai sibuk mengeluarkan bahan-bahan.
Ia menatap Rafa dan baru menyadari walaupun sekandung, Rafa berbeda dengan kakaknya. Tantra berkulit putih bersih dengan tatapan setajam elang. Sedangkan Rafa memiliki warna kulit coklat muda, tatap matanya tidaklah setajam elang, tetapi berkilat-kilat memancarkan kecerdasan.
Tiba-tiba Nada menutup hidungnya dan berlari menuju bak cuci di sudut dapur. Rafa segera meletakkan sesiung bawang putih yang baru saja dikupasnya, cepat-cepat dihampirinya si Kakak ipar.
"Mbak, Mbak Nada sakit?"
Nada menutup kran. "Biasa, tiap pagi selalu begini."
"Oh ya? Mas Tantra sudah tahu?"
Belum sempat Nada menjawab, sudah ada jawaban di belakang Rafa. "Sudah, kan Mas penyebabnya."
Rafa langsung menoleh, menatap kedua makhluk di hadapannya bergantian. "Jadi, Mbak Nada hamil?"
Nada mengangguk.
Rafa menatap kakaknya sambil membelalakkan mata. "Hamil? Kok sempat...eh, maksudku..., "gadis itu cepat menutup mulutnya.
Tantra tertawa. "Ya pasti sempat, adikku manis. Kan tiap hari kami ketemu dan sekamar lagi, "si Kakak mulai kambuh isengnya.
Nada merasa wajahnya merah padam. "Mbak juga sudah berhenti dari pekerjaan, "selanya berusaha mengalihkan pembicaraan.
Rafa melirik kakaknya, "Mas Tantra yang suruh?"
"Tidak, ini niat Mbak sendiri."
Melihat adiknya mengangguk-angguk, Tantra tersenyum geli. "Teruskan memasak, Mas mau mengantar Mbak Nada."
"Ke mana?"
Kali ini Nada yang menjawab, "Yang ngidam Mas Tantra kok, Dik."
Rafa menahan tawa melihat raut muka kakaknya yang mirip tomat matang.


Danar menghantam meja dengan geram. Lagi-lagi rencananya gagal. Sampai habis rasanya mulutnya memaki-maki Herman yang dianggapnya tidak becus. Tetapi, tentu saja ia tidak melampiaskan kekesalannya secara langsung di depan temannya itu. Sebab bagaimanapun juga Herman telah banyak membantunya dan bisa saja menghancurkan kariernya dengan sekali tepuk.
Sementara itu di wartel, Lisa memutar nomor dengan tangan gemetar. Ia berharap suaminya terlalu sibuk dengan diri sendiri sehingga tidak menyadari bahwa seharusnya istrinya sudah pulang sejak lima belas menit yang lalu.
"Asalamualaikum...Nada, ini aku, Lisa! Tolong aku, Nada! Aku...aaa!"

Tidak ada komentar: