Minggu, 20 Februari 2011

Di Arung Jeram Cinta

Ratih tercengang melihat sosok pemuda yang menjulang di hadapannya. Nyaris ia melayang ke negeri khayalan, tetapi untunglah wanita itu segera dapat menguasai diri.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?"
"Benar ini jalan Pagar nomor satu?"
"Iya, benar. Adik cari siapa?"
"Mbak Nada ada?"
"Oh, ada, silakan masuk, "sahut Ratih, dalam hati ia berpikir mengapa wajah adik Nada jadi berubah? Apa dia operasi plastik? "Sebentar, saya panggilkan."
"Terima kasih, Mbak."

Nada menatap Lisa penuh iba. "Kau harus kuat, Lisa."
"Terima kasih, Nada. Terus terang aku tak tahu berapa lama lagi aku mampu bertahan."
Nada menyodorkan sesuap nasi. Lisa menggeleng. "Aku sudah kenyang, "katanya.
"Kalau begitu, kau harus minum obat. Adik iparku sudah menebus resepnya di apotek."
Pintu terbuka. Ratih menjengukkan kepala. "Nada, adikmu."
Nada menoleh heran. "Banu? Kenapa dia yang datang?"
"Lho, memang kamu tadi telepon siapa?"Ratih ikut heran.
"Suamiku."
"Adikmu kok lain, ya? Tidak seperti dulu, sekarang jadi ganteng."
"Kalau dulu?"
"Ya, ganteng, sih,...tapi...,"Ratih tampak ragu-ragu, khawatir temannya ini tersinggung. "Maksudku, dulu ganteng, sekarang tambah ganteng."
"Ada-ada saja, "Nada tersenyum. "Oh, ya, ini obatnya."
Ratih menerima sekantung plastik berisi obat-obatan.


Hampir pukul tujuh malam. Ratih yang malu setelah mengetahui bahwa Tantra berstatus sebagai suami Nada, masih saja penasaran.
"Aku tidak tahu kalau dia suamimu, "ujar Ratih saat menemani Nada membuat teh hangat untuk suaminya."
"Kami sudah biasa, memang selalu begitu."
"Maksudmu?"
"Ya, mengira aku kakaknya, "Nada tersenyum. "Sebenarnya aku memang pantas jadi kakaknya."
"Yang penting, dia romantis, kan?"
Nada pura-pura memukul lengan Ratih.
"Eh, kok, aku dipukul?"protes Ratih. "Benar, suamimu itu romantis kan? Buktinya kamu kelihatan semakin cantik."
Dasar Ratih, dari dulu sama saja, gerutu Nada dalam hati sambil menutup termos. Suka komentar iseng.


Nada tampak bimbang. Ia tidak sampai hati meninggalkan Lisa seorang diri. Ia khawatir kalau tiba-tiba Danar pulang dan berlaku kasar kepada istrinya itu.
"Kalau Mas mau pulang, pulang saja, "ujarnya kepada Tantra yang tampak kurang setuju dengan sikap istrinya.
"Tidak bisa, Mbak, "tukas Tantra. "Kita pulang sama-sama."
"Tapi bagaimana dengan Lisa? Dia perlu bantuan."
"Aku tahu, "tukas Tantra dengan nada lelah. Hari ini sudah cukup bertumpuk masalah yang dihadapi. Dari komputer terserang virus, kena omel ibu mertua, dan sekarang istrinya malah ngotot menginap di rumah orang lain, yang notabene mantan tunangannya!
Ratih menatap suami istri itu silih berganti. Ia heran dengan sapaan yang digunakan Tantra kepada istrinya. Wanita itu jadi teringat suaminya. Irsan memang baik dan sangat mendukung kariernya, tapi masalah sapaan, pria itu suka seenaknya saja memanggil nama kecilnya di depan tetangga, bahkan di depan Minah, pembantu mereka.

Tidak ada komentar: