Kesibukan mengurus bayi dan rumah tangga membuat Nada nyaris tak sempat memperhatikan penampilannya lagi. Akhir-akhir ini wanita itu semakin tampak awut-awutan, setidak-tidaknya begitulah dalam pandangan Tantra.
Malam itu, dengan mata stengah terpejam, Nada mengambilkan segelas air putih dan sepiring kacang goreng yang diminta suaminya. Hari ini seharian Arsya rewel dan ia belum beristirahat sedetik pun.
"Arsya sudah tidur?"
Nada mengangguk. "Mas mau makan malam? Biar sayurnya aku panaskan dulu."
Tantra menggeleng. "Tidak, tapi aku ingin kita bicara, duduklah, "laki-laki muda itu menepuk sebelah tempat duduknya.
Meskipun heran, Nada menurut.
Afna menarik napas panjang mendengar cerita anak sulungnya. Wanita setengah baya itu sudah dapat menangkap kejenuhan dalam diri putranya. Dulu, beberapa hari sebelum pernikahan, Cakra pernah menyatakan keraguan itu.
"Bu, anak kita umurnya berapa dan calon istrinya berapa?"
Afna yang sedang memasang taplak meja ruang tamu menghentikan kegiatannya dan menoleh. "Kenapa, Yah? Apa karena calon menantu kita lebih tua usianya dibanding anak kita?"
Cakra mengangguk. "Tujuh tahun itu bukan selisih yang sedikit, Bu."
"Memang, Pak, tapi Ibu yakin kalau Tantra bisa jadi imam yang baik."
"Kalau istrinya tidak bisa jadi makmum yang baik?"
"Ah, Ayah terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti."
"Bu...."
Afna tersentak. Ah, rupanya ia melamun.
"Kalau aku perhatikan Nada tidak seperti dulu lagi."
"Tidak seperti dulu lagi bagaimana maksudmu, Nak?"
"Dia terlalu sibuk mengurus Arsya sampai-sampai waktu giliranku, dia tinggal mengantuknya saja."
"Lalu maumu apa, Tantra? Mengurus anak itu tidak mudah dan memang melelahkan. Belum lagi urusan pekerjaan rumah tangga yang seperti tidak habis-habisnya...atau jangan-jangan...."
"Jangan-jangan apa, Bu?"Tantra terkejut melihat tatapan ibunya yang penuh selidik.
"Jangan-jangan kamu menyesal sudah menikahinya."
"Menyesal?"
"Ya, sekarang baru kamu sadar kalau ternyata Nada terlalu tua untukmu. Mungkin kamu merasa kalian tidak sezaman karena itu Nada berubah. Tapi itu hanya perasaanmu."
"Perasaanku? Ibu, aku tidak mengerti."
"Nada tidak berubah, ia statis. Kamulah yang berubah apalagi kamu banyak menghabiskan waktu di luar rumah."
Mendengar penuturan ibunya yang panjang lebar itu, Tantra terpekur.
Minggu, 04 Desember 2011
Di Arung Jeram Cinta
Ternyata Rafa, gadis yang nekat dan suka mencampuri urusan dapur orang lain itu kembali datang. Tetapi, kali ini ia tidak sendiri. Ada yang menemaninya dan hal itu membuat Danar semakin gusar.
Bagaimana mungkin ia bisa melupakan kakak beradik pembawa naas bagi hidupnya ini? Sampai saat ini ia masih memendam kesumat karena Rafa pernah menendang bisulnya sampai pecah dan Tantra yang menendang dadanya sampai dua hari dua malam sesak napasnya. Tetapi kesumat itu lebih-lebih terhadap Tantra yang nyata-nyata telah memperistri mantan tunangannya.
"Ada apa lagi?"Danar berdiri di depan rumah sambil bertolak pinggang. "Kalian ini mengganggu jam istirahat orang. Apa, kalian tidak tahu sekarang jam berapa?"
"Mana ada orang tidur jam tujuh malam, kalau bukan bayi, "sahut Rafa sinis. "Memangnya kamu bayi, bayi raksasa?"
Bagi Tantra, ucapan adiknya sungguh lucu dan ia pun tertawa. Rafa mencubit lengan kakaknya perlahan memberi kode.
Tantra mengentikan tawanya dan segera memasang tampang serius. "Danar, kalau kau belum becus jadi suami, sebaiknya ikut pelatihan dulu."
"Sialan! Jangan menghinaku! Kamu cuma anak bau kencur yang sok tua!" Danar tampak sangat geram.
Tantra mengangkat bahu. "Terserah, "katanya, "tapi yang jelas, sampai detik ini aku belum pernah menjadikan istriku sansak tinju."
"Istri harus menurut suami. Kalau tidak menurut atau bersalah, dia layak dapat hukuman."
"Sampai seperti itu?"Tantra menunjuk Lisa yang duduk didampingi Rafa. "Kami akan membawanya ke dokter sekarang juga."
"Aku tidak akan mengizinkan kalian. Dia istriku."
"Siapa yang minta izinmu?" selesai berkata, Tantra berpaling ke arah adiknya, "Antar Mbak Lisa naik ke taksi."
"Iya, Mas. Ayo, Mbak, pelan-pelan saja."
"Tapi...,"Lisa memandang takut ke arah suaminya yang jelas-jelas melontarkan tatapan penuh ancaman. "Aku tidak mau merepotkan. Lagipula lukaku ini tidak seberapa, cuma memar kecil."
Tantra menghampiri wanita sebaya istrinya itu. "Mbak, kau tidak boleh terus begini. Jangan menyerah pada keadaan. Sekarang, kau harus mau untuk sembuh."
Lisa tampak ragu-ragu.
"Jangan takut, percayalah pada kami."
Perlahan wanita itu pun mengangguk. "Terima kasih, Dik."
Tanpa berkata-kata lagi, Rafa memapah Lisa. Tantra pun mengikuti.
"Tunggu!" Danar hendak menarik tangan istrinya tetapi Tantra lebih cepat. Ia sudah lebih dulu mengait kaki Danar sehingga laki-laki itu jatuh dan terjengkang tepat di bantalan sofa yang belum dipasang.
Masih terngiang-ngiang diagnosis dokter Ratih. Diagnosis yang sangat mengerikan dan seolah-olah melempar Danar ke jurang yang curam, pekat, dan sepi.
" Mas, belum tidur?"
Danar tersentak. Ia pun menoleh."Kau sudah bangun? Mau minum?"
Lisa menggeleng sambil tak lupa menghidangkan seulas senyum. "Mas, maafkan aku, sudah membuatmu sedih dan kecewa."
Danar tercengang. Demi Allah! Bicara apa istrinya ini?! "Kenapa kauberkata seperti itu?"
"Sebenarnya sudah lama aku merasa kalau pada akhirnya dokter akan mengatakan hal itu. Tapi aku diam saja, aku tidak mau menyusahkan Mas."
Danar tertegun. Teringat hari-hari yang dilewatinya bersama Lisa. Seingatnya belum pernah sekalipun ia memperlakukan istrinya itu dengan tutur kata dan sikap lemah lembut.
Lisa terkejut. Tiba-tiba Danar menutupi wajahnya dengan bahu terguncang-guncang.
Bagaimana mungkin ia bisa melupakan kakak beradik pembawa naas bagi hidupnya ini? Sampai saat ini ia masih memendam kesumat karena Rafa pernah menendang bisulnya sampai pecah dan Tantra yang menendang dadanya sampai dua hari dua malam sesak napasnya. Tetapi kesumat itu lebih-lebih terhadap Tantra yang nyata-nyata telah memperistri mantan tunangannya.
"Ada apa lagi?"Danar berdiri di depan rumah sambil bertolak pinggang. "Kalian ini mengganggu jam istirahat orang. Apa, kalian tidak tahu sekarang jam berapa?"
"Mana ada orang tidur jam tujuh malam, kalau bukan bayi, "sahut Rafa sinis. "Memangnya kamu bayi, bayi raksasa?"
Bagi Tantra, ucapan adiknya sungguh lucu dan ia pun tertawa. Rafa mencubit lengan kakaknya perlahan memberi kode.
Tantra mengentikan tawanya dan segera memasang tampang serius. "Danar, kalau kau belum becus jadi suami, sebaiknya ikut pelatihan dulu."
"Sialan! Jangan menghinaku! Kamu cuma anak bau kencur yang sok tua!" Danar tampak sangat geram.
Tantra mengangkat bahu. "Terserah, "katanya, "tapi yang jelas, sampai detik ini aku belum pernah menjadikan istriku sansak tinju."
"Istri harus menurut suami. Kalau tidak menurut atau bersalah, dia layak dapat hukuman."
"Sampai seperti itu?"Tantra menunjuk Lisa yang duduk didampingi Rafa. "Kami akan membawanya ke dokter sekarang juga."
"Aku tidak akan mengizinkan kalian. Dia istriku."
"Siapa yang minta izinmu?" selesai berkata, Tantra berpaling ke arah adiknya, "Antar Mbak Lisa naik ke taksi."
"Iya, Mas. Ayo, Mbak, pelan-pelan saja."
"Tapi...,"Lisa memandang takut ke arah suaminya yang jelas-jelas melontarkan tatapan penuh ancaman. "Aku tidak mau merepotkan. Lagipula lukaku ini tidak seberapa, cuma memar kecil."
Tantra menghampiri wanita sebaya istrinya itu. "Mbak, kau tidak boleh terus begini. Jangan menyerah pada keadaan. Sekarang, kau harus mau untuk sembuh."
Lisa tampak ragu-ragu.
"Jangan takut, percayalah pada kami."
Perlahan wanita itu pun mengangguk. "Terima kasih, Dik."
Tanpa berkata-kata lagi, Rafa memapah Lisa. Tantra pun mengikuti.
"Tunggu!" Danar hendak menarik tangan istrinya tetapi Tantra lebih cepat. Ia sudah lebih dulu mengait kaki Danar sehingga laki-laki itu jatuh dan terjengkang tepat di bantalan sofa yang belum dipasang.
Masih terngiang-ngiang diagnosis dokter Ratih. Diagnosis yang sangat mengerikan dan seolah-olah melempar Danar ke jurang yang curam, pekat, dan sepi.
" Mas, belum tidur?"
Danar tersentak. Ia pun menoleh."Kau sudah bangun? Mau minum?"
Lisa menggeleng sambil tak lupa menghidangkan seulas senyum. "Mas, maafkan aku, sudah membuatmu sedih dan kecewa."
Danar tercengang. Demi Allah! Bicara apa istrinya ini?! "Kenapa kauberkata seperti itu?"
"Sebenarnya sudah lama aku merasa kalau pada akhirnya dokter akan mengatakan hal itu. Tapi aku diam saja, aku tidak mau menyusahkan Mas."
Danar tertegun. Teringat hari-hari yang dilewatinya bersama Lisa. Seingatnya belum pernah sekalipun ia memperlakukan istrinya itu dengan tutur kata dan sikap lemah lembut.
Lisa terkejut. Tiba-tiba Danar menutupi wajahnya dengan bahu terguncang-guncang.
Jumat, 02 Desember 2011
Noda
Jerat cinta menguak malu di remang sunyi
Kala kegelapan mengaitkan warnanya pada sepi
Hanya sekilas bimbang mendekati
Lalu semuanya hilang terbang bagai tak berarti
Cinta menjala kisi-kisi hati
Melumatnya habis menggelepar dalam diri
Ribuan bintang serentak bersembunyi
Sementara rembulan pun bergegas pergi
Malam percikkan noda di remang sunyi
Mencabik-cabik jiwa yang tiada lagi berseri
Tinggallah kegelapan berteman sepi
Memandangi sekeping hati menangis sesali diri
Kala kegelapan mengaitkan warnanya pada sepi
Hanya sekilas bimbang mendekati
Lalu semuanya hilang terbang bagai tak berarti
Cinta menjala kisi-kisi hati
Melumatnya habis menggelepar dalam diri
Ribuan bintang serentak bersembunyi
Sementara rembulan pun bergegas pergi
Malam percikkan noda di remang sunyi
Mencabik-cabik jiwa yang tiada lagi berseri
Tinggallah kegelapan berteman sepi
Memandangi sekeping hati menangis sesali diri
Minggu, 27 November 2011
Di Arung Jeram Cinta
Mimpi buruk. Itulah yang dirasakan Danar. Betapa mahal pelajaran yang harus dibayarnya akibat perbuatannya dulu. Yang paling menyakitkan adalah mengapa harus Lisa, istrinya yang menerima semua dampak dari kekejamannya pada masa lalu. Lisa, istrinya, wanita yang begitu lemah lembut dan penuh kasih sayang.
Pantas, pantas saja, Lisa sering mendesaknya untuk menikah lagi. Ternyata selama ini istrinya itu tak pernah berhenti memikirkan kebahagiaan suaminya.
"Pasti kaumenyakitinya lagi, "tuduh Randy emosi saat Danar menghubunginya lewat ponsel.
"Bukan itu yang terjadi. Tolong, jangan salah sangka."
"Lalu apa? Kenapa adikku harus masuk rumah sakit lagi?"
"Sebenarnya...."
"Sebenarnya apa?"Randy tak sabar.
"Semua itu akibat perbuatanku dulu...."
"Kau...."
"Maafkan aku, Randy. Aku sungguh-sungguh menyesal. Aku...," Danar tersentak. Di ujung sana kakak ipar mematikan ponsel dengan kasar.
"Dari siapa?"
Randy meletakkan ponsel di atas meja. Laki-laki itu tersenyum. "Adik iparku, "jawabnya.
Seorang wanita berusia sebaya dengannya meletakkan dua gelas jus melon di dekat ponsel. "Mas ada masalah dengan adik ipar?"
"Lain kali saja kuceritakan, "sahut Randy meraih jus melonnya.
Wanita itu mengangguk. Berusaha maklum."Permisi, saya setrika baju dulu."
Randy mengangguk. Dihelanya napas, teringat pertemuan singkatnya dengan Nila, wanita yang baru seminggu resmi menjadi istrinya.
Danar memandangi istrinya yang sudah terlelap. Tampaknya wanita itu sudah menata perasaannya jauh-jauh hari menghadapi masalah seberat ini.
Sedangkan Danar, ia masih sering terbayang-bayang perbuatannya sendiri yang baru disadari akhir-akhir ini, bahwa ternyata ia bisa sekejam itu.
"Kamu ini bisanya apa?!"hardik Danar menampar Lisa. "Lihat ini warna sepatuku jadi aneh!"
"Maaf, Mas, saya tidak sengaja...."
"Sudah seribu kali, kamu tidak sengaja! Semua barangku jadi rusak! Dasar tidak berguna!"
Danar memejamkan mata, berusaha mengusir bayang-bayang itu. Teringat saat itu, tanpa belas kasihan sedikitpun, tangan dan kakinya menghajar tubuh Lisa. Bahkan, tanpa segan-segan, ia melakukannya di beranda rumah. Beberapa orang melihat, tetapi mereka memilih untuk tidak ikut campur urusan rumah tangga orang lain.
Sementara itu Lisa berusaha untuk tidak menangis. Entah berapa kali tangan kekar Danar hinggap telak di wajah dan bagian tubuh yang lain. Sesekali tendangan kuat terasa di punggung. Sampai....
"Hentikan!"
Karena terkejut, Danar berhenti. Ia menoleh.
Seorang gadis belia, jauh belia dibanding istrinya, berdiri dengan sorot mata menyala-yala.
Danar langsung mengenali gadis itu. Rafa.
Bergegas Rafa menolong Lisa berdiri. "Duduklah, Mbak, "ujarnya menuntun wanita yang lemah karena kesakitan itu di kursi beranda.
"Terima kasih, Dik, "ujar Lisa lirih.
"Aku antar Mbak ke dokter."
"Terima kasih. Nanti juga sembuh sendiri."
Rafa mengerti Lisa tak akan bisa dibujuk. Gadis itu pun menoleh ke arah Danar.
"Aku punya kakak laki-laki dan ia jago berkelahi, "katanya. Tapi, belum pernah sekalipun kudengar ia menampar, memukul, apalagi menghajar istrinya sepertinya yang kaulakukan sekarang. Kau ini benar-benar pemberani." Tanpa menunggu jawaban, gadis itu pun berlalu.
Danar begitu terkejut sehingga tak sanggup berkata-kata. Tetapi, amarahnya kembali memuncak saat melihat istrinya belum beranjak dari duduknya.
"Bagus, kau punya pembela rupanya! Tidurlah di teras dan jangan coba-coba masuk kalau tidak kusuruh!"
Pantas, pantas saja, Lisa sering mendesaknya untuk menikah lagi. Ternyata selama ini istrinya itu tak pernah berhenti memikirkan kebahagiaan suaminya.
"Pasti kaumenyakitinya lagi, "tuduh Randy emosi saat Danar menghubunginya lewat ponsel.
"Bukan itu yang terjadi. Tolong, jangan salah sangka."
"Lalu apa? Kenapa adikku harus masuk rumah sakit lagi?"
"Sebenarnya...."
"Sebenarnya apa?"Randy tak sabar.
"Semua itu akibat perbuatanku dulu...."
"Kau...."
"Maafkan aku, Randy. Aku sungguh-sungguh menyesal. Aku...," Danar tersentak. Di ujung sana kakak ipar mematikan ponsel dengan kasar.
"Dari siapa?"
Randy meletakkan ponsel di atas meja. Laki-laki itu tersenyum. "Adik iparku, "jawabnya.
Seorang wanita berusia sebaya dengannya meletakkan dua gelas jus melon di dekat ponsel. "Mas ada masalah dengan adik ipar?"
"Lain kali saja kuceritakan, "sahut Randy meraih jus melonnya.
Wanita itu mengangguk. Berusaha maklum."Permisi, saya setrika baju dulu."
Randy mengangguk. Dihelanya napas, teringat pertemuan singkatnya dengan Nila, wanita yang baru seminggu resmi menjadi istrinya.
Danar memandangi istrinya yang sudah terlelap. Tampaknya wanita itu sudah menata perasaannya jauh-jauh hari menghadapi masalah seberat ini.
Sedangkan Danar, ia masih sering terbayang-bayang perbuatannya sendiri yang baru disadari akhir-akhir ini, bahwa ternyata ia bisa sekejam itu.
"Kamu ini bisanya apa?!"hardik Danar menampar Lisa. "Lihat ini warna sepatuku jadi aneh!"
"Maaf, Mas, saya tidak sengaja...."
"Sudah seribu kali, kamu tidak sengaja! Semua barangku jadi rusak! Dasar tidak berguna!"
Danar memejamkan mata, berusaha mengusir bayang-bayang itu. Teringat saat itu, tanpa belas kasihan sedikitpun, tangan dan kakinya menghajar tubuh Lisa. Bahkan, tanpa segan-segan, ia melakukannya di beranda rumah. Beberapa orang melihat, tetapi mereka memilih untuk tidak ikut campur urusan rumah tangga orang lain.
Sementara itu Lisa berusaha untuk tidak menangis. Entah berapa kali tangan kekar Danar hinggap telak di wajah dan bagian tubuh yang lain. Sesekali tendangan kuat terasa di punggung. Sampai....
"Hentikan!"
Karena terkejut, Danar berhenti. Ia menoleh.
Seorang gadis belia, jauh belia dibanding istrinya, berdiri dengan sorot mata menyala-yala.
Danar langsung mengenali gadis itu. Rafa.
Bergegas Rafa menolong Lisa berdiri. "Duduklah, Mbak, "ujarnya menuntun wanita yang lemah karena kesakitan itu di kursi beranda.
"Terima kasih, Dik, "ujar Lisa lirih.
"Aku antar Mbak ke dokter."
"Terima kasih. Nanti juga sembuh sendiri."
Rafa mengerti Lisa tak akan bisa dibujuk. Gadis itu pun menoleh ke arah Danar.
"Aku punya kakak laki-laki dan ia jago berkelahi, "katanya. Tapi, belum pernah sekalipun kudengar ia menampar, memukul, apalagi menghajar istrinya sepertinya yang kaulakukan sekarang. Kau ini benar-benar pemberani." Tanpa menunggu jawaban, gadis itu pun berlalu.
Danar begitu terkejut sehingga tak sanggup berkata-kata. Tetapi, amarahnya kembali memuncak saat melihat istrinya belum beranjak dari duduknya.
"Bagus, kau punya pembela rupanya! Tidurlah di teras dan jangan coba-coba masuk kalau tidak kusuruh!"
Kamis, 17 November 2011
Di Arung Jeram Cinta
Kalau saja tidak menyadari keadaan dirinya, mungkin Meyra sudah jatuh hati. Pemuda itu memang bertampang biasa saja tetapi keramahan dan sorot matanya yang berkilat jenaka sudah cukup membuat gadis-gadis terpesona. Termasuk Meyra.
"Kamu jatuh cinta, "begitu kata Dewi setelah mendengar penuturan putri bungsunya.
"Ya, Bunda..."
Dewi tersenyum, mengusap kepala gadis itu lembut. "Ternyata putriku ini tidak takut jatuh cinta, "sahutnya, "syukurlah, Bunda senang dan ikut bahagia."
"Bunda, aku bukannya tidak takut jatuh cinta, "tukas Meyra murung, "tapi...."
"Tapi apa, Nak?"
"Aku tidak bisa menghindari perasaan itu, "gadis itu tertunduk.
"Menurutmu, dia sendiri bagaimana? Maksud Bunda, apa kelihatannya dia juga punya perasaan yang sama denganmu?"
"Kelihatannya begitu...."
"Bagus itu."
"Ya, karena dia belum tahu tentang aku, Bunda. Kalau saja dia tahu, mana mungkin...."
Dewi memeluk pundak putrinya. Sebagai sesama kaum hawa, lebih-lebih lagi sebagai ibu, ia mampu merasakan betapa hancur perasaan Meyra. Kehilangan satu-satunya identitas penanda yang begitu berharga bagi makhluk berspesies perempuan sebelum waktunya. "Anakku sayang, percayalah Allah itu Maha Pengasih, Maha Penyayang, suatu saat Bunda yakin kamu akan meraih kebahagiaan."
"Mungkinkah, Bunda? Laki-laki mana yang mau jadi suamiku? Bahkan, yang paling bejat sekalipun mungkin tidak akan sudi menerima gadis seperti aku...gadis tapi bukan gadis lagi... I was a girl...."
"Hentikan itu, Meyra, "getas terdengar ucapan Dewi sehingga Meyra tersentak. Ia mengangkat wajah menatap ibunya. "Berhentilah merendahkan dirimu, Nak, "suara Dewi melembut. "Percayalah, semua ada hikmahnya."
"Maafkan Meyra, Bunda...maafkan...."
Dewi berusaha agar air mata yang sudah merebak di kedua kelopak matanya tidak jatuh. Tanpa sepatahpun ia mengusap air mata yang berderai menganak sungai di pipi putrinya.
Pukul sembilan malam. Meyra tertidur di pangkuan ibunya. Dewi membiarkan anaknya, ia tak ingin mengusik gadis yang belum sembuh dari luka jiwanya itu.
"Bunda...."
Dewi menoleh. Ia memberi isyarat agar sosok yang menghampirinya di kamar itu tidak mengeluarkan suara yang mampu membangunkan Meyra.
Herman mengangguk. Ia tersenyum dan berbalik meninggalkan keduanya.
"Kamu jatuh cinta, "begitu kata Dewi setelah mendengar penuturan putri bungsunya.
"Ya, Bunda..."
Dewi tersenyum, mengusap kepala gadis itu lembut. "Ternyata putriku ini tidak takut jatuh cinta, "sahutnya, "syukurlah, Bunda senang dan ikut bahagia."
"Bunda, aku bukannya tidak takut jatuh cinta, "tukas Meyra murung, "tapi...."
"Tapi apa, Nak?"
"Aku tidak bisa menghindari perasaan itu, "gadis itu tertunduk.
"Menurutmu, dia sendiri bagaimana? Maksud Bunda, apa kelihatannya dia juga punya perasaan yang sama denganmu?"
"Kelihatannya begitu...."
"Bagus itu."
"Ya, karena dia belum tahu tentang aku, Bunda. Kalau saja dia tahu, mana mungkin...."
Dewi memeluk pundak putrinya. Sebagai sesama kaum hawa, lebih-lebih lagi sebagai ibu, ia mampu merasakan betapa hancur perasaan Meyra. Kehilangan satu-satunya identitas penanda yang begitu berharga bagi makhluk berspesies perempuan sebelum waktunya. "Anakku sayang, percayalah Allah itu Maha Pengasih, Maha Penyayang, suatu saat Bunda yakin kamu akan meraih kebahagiaan."
"Mungkinkah, Bunda? Laki-laki mana yang mau jadi suamiku? Bahkan, yang paling bejat sekalipun mungkin tidak akan sudi menerima gadis seperti aku...gadis tapi bukan gadis lagi... I was a girl...."
"Hentikan itu, Meyra, "getas terdengar ucapan Dewi sehingga Meyra tersentak. Ia mengangkat wajah menatap ibunya. "Berhentilah merendahkan dirimu, Nak, "suara Dewi melembut. "Percayalah, semua ada hikmahnya."
"Maafkan Meyra, Bunda...maafkan...."
Dewi berusaha agar air mata yang sudah merebak di kedua kelopak matanya tidak jatuh. Tanpa sepatahpun ia mengusap air mata yang berderai menganak sungai di pipi putrinya.
Pukul sembilan malam. Meyra tertidur di pangkuan ibunya. Dewi membiarkan anaknya, ia tak ingin mengusik gadis yang belum sembuh dari luka jiwanya itu.
"Bunda...."
Dewi menoleh. Ia memberi isyarat agar sosok yang menghampirinya di kamar itu tidak mengeluarkan suara yang mampu membangunkan Meyra.
Herman mengangguk. Ia tersenyum dan berbalik meninggalkan keduanya.
Jumat, 11 November 2011
Di Arung Jeram Cinta
Tepat tengah malam. Tetapi, Nada masih terbelalak, berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Ia benar-benar terganggu dengan cerita-cerita yang disampaikan gadis yang mengaku mantan kekasih suaminya itu.
Pintu kamar terbuka. Tantra masuk. Nada hanya menoleh sejenak, tetapi kemudian kembali
tak mengacuhkan.
"Belum tidur, Mbak?"
"Hm."
"Tadi ada tamu?"
"Ada."
"Oh ya, siapa?"
"Mantanmu."
"Mantanku?"Tantra terperanjat.
Nada melengos. "Iya, yang katanya Mas sudah berkali-kali menginap di rumahnya."
"Itu katanya, kan?"
"Ya."
"Kamu percaya, Mbak?"
Cepat Nada mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk. "Bagaimana aku tidak percaya? Gadis itu cantik sekali, kulitnya putih bersih, langsing, tapi seksi sekali. Laki-laki mana yang tidak akan tertarik? Sedangkan aku? Kamu bisa lihat sendiri, bagaimana? Bahkan, cinta pertamaku dulu kandas gara-gara wajahku yang biasa saja dan warna kulitku yang gelap. Dan...aku, aku juga tidak seksi. Jadi, aku tidak akan heran kalau kamu sudah melakukannya dengan gadis cantik itu jauh sebelum kita menikah...,"tiba-tiba Nada merendahkan suaranya, menyadari bahwa ia terlalu emosi.
Tantra menghela napas perlahan. Ia duduk di samping istrinya. "Mbak, berapa kali aku harus meyakinkanmu kalau aku tidak pernah pacaran atau berhubungan dengan siapapun sebelum kita menikah?"
"Kalau memang benar, aku juga tidak apa-apa, "Nada sudah mulai mampu menguasai perasaannya. "Aku sudah bersyukur kau tidak menanyakan kegadisanku waktu kita menikah dulu."
"Kenapa harus meributkannya? Aku tahu kamu benar-benar menjaga diri."
Nada menoleh, memperhatikan suaminya dengan lebih saksama dibanding biasanya. Suaminya teramat tampan, berkulit putih bersih, dan ditunjang dengan postur tubuh yang begitu proposional. Memang rasanya tak ada pantas-pantasnya kalau aku ini istrinya, ujar Nada dalam hati. Mungkin pantasnya aku ini pramuwismanya....
Tantra tersenyum membalas tatapan istrinya. Malam ini Nada mengenakan gaun tidur hijau muda dengan aplikasi dedaunan di bagian dada. "Aku ingin kamu lebih percaya padaku dibanding orang yang baru saja kaukenal, "ujarnya.
Nada terdiam. Ia masih bimbang.
Pintu kamar terbuka. Tantra masuk. Nada hanya menoleh sejenak, tetapi kemudian kembali
tak mengacuhkan.
"Belum tidur, Mbak?"
"Hm."
"Tadi ada tamu?"
"Ada."
"Oh ya, siapa?"
"Mantanmu."
"Mantanku?"Tantra terperanjat.
Nada melengos. "Iya, yang katanya Mas sudah berkali-kali menginap di rumahnya."
"Itu katanya, kan?"
"Ya."
"Kamu percaya, Mbak?"
Cepat Nada mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk. "Bagaimana aku tidak percaya? Gadis itu cantik sekali, kulitnya putih bersih, langsing, tapi seksi sekali. Laki-laki mana yang tidak akan tertarik? Sedangkan aku? Kamu bisa lihat sendiri, bagaimana? Bahkan, cinta pertamaku dulu kandas gara-gara wajahku yang biasa saja dan warna kulitku yang gelap. Dan...aku, aku juga tidak seksi. Jadi, aku tidak akan heran kalau kamu sudah melakukannya dengan gadis cantik itu jauh sebelum kita menikah...,"tiba-tiba Nada merendahkan suaranya, menyadari bahwa ia terlalu emosi.
Tantra menghela napas perlahan. Ia duduk di samping istrinya. "Mbak, berapa kali aku harus meyakinkanmu kalau aku tidak pernah pacaran atau berhubungan dengan siapapun sebelum kita menikah?"
"Kalau memang benar, aku juga tidak apa-apa, "Nada sudah mulai mampu menguasai perasaannya. "Aku sudah bersyukur kau tidak menanyakan kegadisanku waktu kita menikah dulu."
"Kenapa harus meributkannya? Aku tahu kamu benar-benar menjaga diri."
Nada menoleh, memperhatikan suaminya dengan lebih saksama dibanding biasanya. Suaminya teramat tampan, berkulit putih bersih, dan ditunjang dengan postur tubuh yang begitu proposional. Memang rasanya tak ada pantas-pantasnya kalau aku ini istrinya, ujar Nada dalam hati. Mungkin pantasnya aku ini pramuwismanya....
Tantra tersenyum membalas tatapan istrinya. Malam ini Nada mengenakan gaun tidur hijau muda dengan aplikasi dedaunan di bagian dada. "Aku ingin kamu lebih percaya padaku dibanding orang yang baru saja kaukenal, "ujarnya.
Nada terdiam. Ia masih bimbang.
Kamis, 10 November 2011
Di Arung Jeram Cinta
Tidak sabar rasanya Banu menanti kedatangan gadis cantik yang lembut itu. Gadis yang begitu menawan sehingga membuat hatinya tertambat. Ia ingin berkenalan dan mengajaknya bercakap-cakap. Tetapi, alangkah sulitnya, karena gadis itu seolah-olah selalu menghindar bila pembicaraan mengarah pada hal-hal pribadi. Seperti ada yang ...tiba-tiba Banu melihat sosok yang dicarinya melintas. Bergegas ia beranjak dari duduknya dan berlari seraya berteriak, "Tunggu!"
"Tunggu!"nekad ia menghadang gadis itu.
Gadis yang dihadang langsung menghentikan langkah. Ia menatap si penghadang dengan sorot mata terganggu.
"Maaf, "Banu berusaha sopan. "Boleh kita bicara sebentar?"
"Untuk apa?"
Brr! Dingin sekali!rutuk Banu dalam hati. "Begini, bisa kita cari tempat duduk yang enak?"
Gadis itu tampak berpikir. "Baiklah, "katanya beberapa saat kemudian.
Banu menarik napas lega.
Beberapa hari yang lalu, Nada melihat Tantra menerima beberapa teman semasa kuliah. Dua di antaranya wanita. Kedua-duanya sama-sama cantik dan salah satunya berpakaian seksi. Nada sendiri sampai menahan napas melihatnya.
Pagi ini gadis itu baru saja datang, ingin bertemu Tantra tentunya. Entah apa maksudnya, tetapi yang jelas sikap dan kata-katanya membuat Nada gerah.
"Jadi situ istri Tantra?"tanyanya sambil memperhatikan Nada dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Iya."
"Ooh...,"gadis itu manggut-manggut. "Kok mau ya? Tantra kan ganteng abis, kok dapatnya cuma yang beginian...mana kelihatannya sudah tua? Berapa sih umur situ?"
"Saya? Sudah lewat tiga puluh."
"Ha?OMG!Kasihan amat nasib Tantra! Dapat perawan tua, cocoknya jadi tantenya kaleee!"
Untung saja Nada menyadari bahwa dirinya sedang berhadapan dengan gadis yang jauh lebih muda, jadi ia memilih untuk bersabar.
"Sayang, kami putus. Padahal sempat pacaran dua tahun,lho."
"Pacaran?"seingat Nada suaminya tidak pacaran dengan siapapun sebelum menikahinya.
"Iya, pacaran. Apa Tantra gak cerita sama situ? Padahal, kita dah jauh."
"Jauh? Apanya yang jauh?"
Apanya yang jauh?"gadis itu mengulang pertanyaan Nada dengan intonasi mengejek. "Eh, situ udah tua tapi kuper juga, ya? Ya, tahulah gaya pacaran anak muda sekarang? Beberapa kali, sih. Aku cari hari kapan kira-kira aku gak sampai kebobolan. Untungnya pas terus...."
Nada tercengang. Selanjutnya gadis yang mengaku mantan pacar Tantra itu terus saja berkicau. Pengakuannya sungguh membuat Nada terusik.
"Tunggu!"nekad ia menghadang gadis itu.
Gadis yang dihadang langsung menghentikan langkah. Ia menatap si penghadang dengan sorot mata terganggu.
"Maaf, "Banu berusaha sopan. "Boleh kita bicara sebentar?"
"Untuk apa?"
Brr! Dingin sekali!rutuk Banu dalam hati. "Begini, bisa kita cari tempat duduk yang enak?"
Gadis itu tampak berpikir. "Baiklah, "katanya beberapa saat kemudian.
Banu menarik napas lega.
Beberapa hari yang lalu, Nada melihat Tantra menerima beberapa teman semasa kuliah. Dua di antaranya wanita. Kedua-duanya sama-sama cantik dan salah satunya berpakaian seksi. Nada sendiri sampai menahan napas melihatnya.
Pagi ini gadis itu baru saja datang, ingin bertemu Tantra tentunya. Entah apa maksudnya, tetapi yang jelas sikap dan kata-katanya membuat Nada gerah.
"Jadi situ istri Tantra?"tanyanya sambil memperhatikan Nada dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Iya."
"Ooh...,"gadis itu manggut-manggut. "Kok mau ya? Tantra kan ganteng abis, kok dapatnya cuma yang beginian...mana kelihatannya sudah tua? Berapa sih umur situ?"
"Saya? Sudah lewat tiga puluh."
"Ha?OMG!Kasihan amat nasib Tantra! Dapat perawan tua, cocoknya jadi tantenya kaleee!"
Untung saja Nada menyadari bahwa dirinya sedang berhadapan dengan gadis yang jauh lebih muda, jadi ia memilih untuk bersabar.
"Sayang, kami putus. Padahal sempat pacaran dua tahun,lho."
"Pacaran?"seingat Nada suaminya tidak pacaran dengan siapapun sebelum menikahinya.
"Iya, pacaran. Apa Tantra gak cerita sama situ? Padahal, kita dah jauh."
"Jauh? Apanya yang jauh?"
Apanya yang jauh?"gadis itu mengulang pertanyaan Nada dengan intonasi mengejek. "Eh, situ udah tua tapi kuper juga, ya? Ya, tahulah gaya pacaran anak muda sekarang? Beberapa kali, sih. Aku cari hari kapan kira-kira aku gak sampai kebobolan. Untungnya pas terus...."
Nada tercengang. Selanjutnya gadis yang mengaku mantan pacar Tantra itu terus saja berkicau. Pengakuannya sungguh membuat Nada terusik.
Langganan:
Postingan (Atom)