Kamis, 24 Januari 2013

Di Arung Jeram Cinta




Nila tersenyum. Ia tahu suaminya hanya menggoda. "Kalau ditunda, nanti lupa makan, "tukasnya.
Randy tertawa.
"Mas tunggu sebentar, saya panaskan sayur dulu."
"Baik, istriku yang cantik."
Kembali wanita itu melempar senyum manisnya.

Pernah Randy menyesal telah menikahi Nila. Maklumlah, saat itu Randy sangat kesepian dan tak ingin lagi seorang diri. Ia begitu iri melihat keharmonisan rumah tangga Nada, adik kelasnya semasa SMA. Selang dua bulan kemudian, datanglah Nila, yang langsung menjadi kepala administrasi di kantornya bekerja. Tidak ada yang menarik dari gadis itu apalagi usianya sebaya dengan dirinya kecuali perilaku dan tutur katanya yang begitu santun.
Begitulah, dengan modal nekat (tanpa cinta) Randy melamar Nila. Tentu saja Nila dan juga kedua orang tuanya sangat gembira menerima lamaran itu. Rasanya seperti kejatuhan bintang. Hanya wanita aneh yang menolak pinangan dari pria setampan dan semapan Randy.
Sebenarnya Nila pun dapat merasakan bahwa Randy menikahinya hanya untuk pelarian. Tetapi ia tak mau mengambil risiko harus menunggu lebih lama lagi pria yang mau menjadi suaminya. Maka, dengan menahan kekecewaan di dadanya, ia menjalani semuanya.

Berkali-kali Randy merenung, salahkah keputusannya menikahi Nila? Gadis yang baru saja dikenalnya dan tampak pendiam. Nila bukan tipe istri yang pandai mengambil hati suami dengan berdandan atau berpakaian seksi. Tidak, ia selalu mengenakan gaun rumah yang bermodel sopan mirip orang kedinginan sehingga membuat Randy enggan untuk mendekati.

"Mas, makan malam sudah siap."
Randy tersentak dari masa lalunya. Ia tersenyum. "Cepat sekali, "sahutnya.



Selasa, 25 Desember 2012

Di Arung Jeram Cinta


  Bayi mungil terlelap dalam dekapan ibunya. Bayi perempuan yang begitu lembut dan tak berdaya tetapi itulah yang membuat setiap orang ingin membelai dan mengelus-elusnya. Bayi itu menggeliat sejenak saat ibunya membetulkan kancing bajunya.

 

Randy tersenyum geli. "Pulas sekali, "katanya.
Nila tersenyum.
"Kau harus istirahat, "ujar Randy kemudian, "tidurkan saja Wina di boks."
"Baik, Mas, "perlahan Nila bangkit dari duduknya agar bayinya tidak terbangun.
Randy memperhatikan istrinya yang membuka kamar bayi mereka. Pria itu teringat kejadian sebulan yang lalu saat istrinya hendak melahirkan. Baru ia melihat seperti itulah ibu yang akan melahirkan. Setidak-tidaknya ia mengetahui hal itu saat istrinya akan melahirkan.
"Pelan-pelan saja, "bisik Randy lembut. Tangannya melingkari bahu istrinya.
Nila mengernyit menahan sakit. "I...iya...."

Di ruang bersalin, Nila terbaring sambil menunggu kedatangan dokter. Randy menemani sambil berusaha menenangkan istrinya meskipun perasaannya pun dilanda kekhawatiran.
"Tenanglah, Nila, "bisiknya, "Kita berdoa saja semoga semua berakhir dengan membahagiakan."
"Terima kasih, Mas..., "jawab Nila lirih.


Nila menutup pintu perlahan. "Mas mau makan malam sekarang?"
Randy menatap istrinya serius, "Kau tidak lelah?"
"Hanya menyiapkan makan malam, Mas, bukan membajak sawah."
Randy tertawa. "Biar aku yang menyiapkan piringnya."
"Terima kasih, Mas."
"Nila...."
"Iya, Mas?"
"Terima kasih karena kau bersedia menjadi istriku. Selama ini kau begitu sabar dan setia walaupun tahu kalau dulu aku menikahimu karena...."
Nila menggeleng. "Justru saya yang bersyukur Mas mau menikahiku. Saya sangat menyadari kalau jarang laki-laki yang tertarik denganku. "Mungkin karena saya tidak cantik dan juga tidak pandai berdandan. Karena itu saya sangat bahagia saat Mas melamarku."
"Begitu, ya?"
"Saya tahu Mas idola waktu SMA dan kuliah."
"Dan kamu satu-satunya idolaku, "tukas Randy menarik tangan Nila lembut.
Pipi Nila bersemu merah,"Terima kasih, Mas." Oh ya, makan malamnya di ruang makan atau di ruang tengah?"
"Makan malam, ya?" Randy tersenyum nakal. "Bagaimana kalau makan malamnya kita tunda dulu?"




















Rabu, 03 Oktober 2012

Renungan Bayang Pelangi

 Hari ini adalah hari kelahiran kakakku semata wayang. Aku selalu teringat masa-masa kami tumbuh bersama. Mulai dari senyum, tawa, canda, pertengkaran, bahkan baku hantam ala kanak-kanak semuanya masih terbayang di pelupuk mataku. Kini semuanya menjelma menjadi kenangan indah.
Kami tak lagi bersama. Maklumlah kami sudah sama-sama dewasa dengan pilihan kehidupan yang berbeda.
Semoga kakakku selalu sehat, sukses, dan bahagia selalu. Semoga menjadi suami dan ayah yang penuh tanggung jawab, menyayangi dan disayangi keluarga. Amin.

Di Arung Jeram Cinta

Sekilas kepahitan yang terjadi pada masa lalu ternyata dapat membuat seseorang menjadi tertutup. Mungkin saja sekilas bagi orang lain, tetapi tidak bagi penderita. Tak perduli kejadian itu telah lama berlalu dan hampir semua orang melupakannya.
Banu berusaha memahami perasaan Meyra. Sudah hampir sebulan mereka resmi dalam ikatan pernikahan, tetapi istrinya itu cenderung diam. Diam dalam banyak arti. Meyra tidak akan tersenyum apalagi tertawa kalau Banu tidak mencandainya lebih dulu. Meyra tidak akan memulai percakapan sebelum suaminya itu mengajaknya berbicara lebih dulu. Meyra tidak akan....
Ah! Banu menghela napas panjang. Ia memperhatikan istrinya yang sedang memasang sprei. Meyra begitu cantik dalam balutan gaun tidur jingga berpita ungu bagian lengan. Rambutnya yang mencapai pundak dibiarkan tergerai.
"Meyra...."
Meyra menghentikan aktivitasnya dan menoleh.



Wanita itu tiba-tiba datang. Danar tak pernah melihatnya apalagi mengenalnya. Sungguh, ia tak menyangka kedatangan wanita itu akan membuatnya semakin terpuruk dalam penyesalan yang tak kunjung sirna. Betapa ia dulu sering menyakiti istrinya lahir batin.
Masih terbayang jelas di pelupuk matanya, ketika Lisa berusaha membuatnya tidak marah dengan memasak nasi goreng hongkong favoritnya. Tetapi tetap saja ia tidak mau tahu dan mencari-cari alasan agar dapat menyalahkan istrinya.
"Bagaimana rasanya, Mas?"tanya Lisa memandang suaminya harap-harap cemas.
Danar memasang tampang tak acuh. Ia kembali menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya.
Lisa menunggu dengan sabar. Wanita itu bersyukur dalam hati karena suaminya tampak sangat menikmati masakannya hari ini.
Praang!
Keduanya sama-sama terkejut. Lebih-lebih Lisa. Wajahnya memucat dan tubuhnya gemetar ketakutan. Gelas kristal yang baru dibeli  Danar telah berkeping-keping.
Danar langsung bangkit dari singgasana bagai harimau murka. Tanpa belas kasihan ia melayangkan tangan kekarnya ke wajah istrinya.
"Apa kamu mau ganti gelas ini, hah? Kamu tahu berapa harganya?!"
Lisa menunduk. "Maafkan saya, Mas...."
"Selalu cuma itu yang kamu bisa! Dasar tidak berguna!"
"Mungkin saya bisa ambil dari tabungan...."
Belum selesai Lisa berbicara, Danar sudah melotot. "Apa katamu? Tabungan?"
"Iya, Mas...."
"Jadi diam-diam kamu sudah bohong, ya?"Danar mencengkeram lengan istrinya kasar.
....
"Lisa menitipkan surat ini lewat saya, "wanita itu membuyarkan Danar dari lamunan masa lalu. 
"Apa ini?" tanya Danar sambil menerima bungkusan mungil hijau pastel berbentuk persegi.
Aaargh! Ingin rasanya Danar berteriak sekeras-kerasnya untuk dapat menghapus bayangan itu.