Minggu, 18 Maret 2012

Di Arung Jeram Cinta



Perubahan sikap Banu yang mendadak ternyata menarik perhatian Nada. Kakak Banu semata wayang itu heran melihat adiknya yang tampak murung beberapa hari terakhir. Memang pemuda itu sering mampir ke rumah untuk numpang salat asar atau magrib sepulang kerja.
Jadi, tidak aneh, kalau Nada mengetahui benar perubahan yang terjadi pada diri sang Adik.
"Mbak masak pepes ikan mas, mau?"tanya Nada sambil meletakkan segelas teh hangat di meja ruang tamu.
Banu menggeleng lesu. "Masih kenyang, "sahutnya.
Nada duduk di samping adiknya. "Kenapa? Masih bingung soal Meyra?"
"Sudahlah, Mbak, jangan sebut lagi nama itu di depanku."
Nada mengerutkan kening mendengar jawaban adiknya. "Eh, ada apa? Kalian bertengkar?"
"Mbak ini bagaimana? Bagaimana bisa bertengkar? Aku tidak ada hubungan apa-apa den gan dia."
"Ooh, "Nada mengangguk-angguk, "Tapi, kenapa pikiranmu bisa berubah begini?"
Banu menggeleng, ia tak ingin membahasnya.
"Terserah kamu, tapi sebentar lagi kakak iparmu pulang."
"Maksud Mbak?"
"Siapa tahu kamu bisa curhat lebih bebas."
Banu tersenyum tanda terima kasih.
"Oaaa! Oaaa.....!"
Nada melompat dari duduknya. "Arsya bangun, "katanya, "Sebentar, ya."
"Aku ingin lihat keponakanku, "tukas Banu mengikuti kakaknya.

Melihat ibunya datang, Arsya menghentikan tangisnya yang membahana dan menggantinya dengan isakan sedu sedan. Nada memeriksa celana bayinya. "Ganti dulu, ya, "ujarnya sambil melepas celana bayi sembilan bulan itu.
"Sudah bisa duduk, Mbak?" Banu memperhatikan wajah kemenakannya yang mirip ibunya.
"Bisa, malah sedang belajar jalan, "jawab Nada merapikan pakaian anaknya. "Eh, Oom mau lihat Arsya duduk."
"Na...na..., "ujar Arsya tertawa seraya bertepuk tangan. Banu tertawa geli karena kedua telapak tangan itu sama sekali tidak bertemu.
Nada memegang tangan anaknya. "Begini, lho caranya tepuk tangan...nah, bisa kan?"
"Naa..ta...ta...."
"Lucu sekali, Mbak."
"Iya, waktu lihat Arsya lahir, Mbak jadi lupa rasa sakitnya waktu melahirkan."
"Memang sakit sekali, ya?"
"Pokoknya belum pernah yang rasanya seperti itu."
"Padahal prosesnya nggak sakit, ya, Mbak?"
Nada membelalak pura-pura marah. Banu tertawa.
"Mbak. boleh aku tanya?" kali ini pemuda itu memasang tampang serius.
"Selama ini...maaf, apa pernah Tantra menyakitimu...misalnya, menampar atau memukul...?"
Nada menggeleng. "Tidak, kalau ia melakukannya, pasti Mbak langsung masuk rumah sakit. Kamu lihat badan Mbak kecil begini."
"Padahal dulu dia jago berkelahi."
"Mbak merasa suami Mbak itu lebih banyak mengalah. Ia sering minta maaf lebih dulu kalau kami bertengkar."
"Pasti dia juga suka memandikan Arsya, ya?"
"Iya, kalau pas libur."
Sebenarnya Banu ingin menanyakan yang satu lagi tetapi khawatir kakaknya tersinggung.



Semua jelas sudah. Ternyata itulah alasan Lisa rela bahkan mendesak suaminya untuk menikah lagi. Danar menutup wajah dengan kedua tangannya seraya menghela napas. Betapa tak dapat ia menghapus penyesalannya tak peduli bagaimanapun kerasnya ia berusaha. Sebab, memang terlalu banyak kesalahan yang kulakukan pada Lisa, keluhnya dalam hati.

"Jadi....?"
Lisa mengangguk pelan.
"Tapi... dokter Ratih...."
"Aku yang memintanya untuk tidak menyinggung hal ini. Dia samasekali tidak berbohong."
"Memang tidak. Tapi dia menyembunyikan kebenaran."
"Jangan salahkan dia, Mas, aku yang memaksanya."
"Dia jujur tentang satu hal."
"Apa itu?"
"Dia sedang melakukan terapi untuk memulihkan kondisimu."
Lisa tersenyum, "Dia benar, "tukasnya.
"Tapi, apa gunanya terapi itu kalau...."
"Sudahlah, "Lisa tersenyum lembut, "Kalau Mas menikah lagi dan kalian punya anak-anak, pasti aku juga akan menganggap mereka seperti anak kandung sendiri."

Danar menggeleng keras. Demi Tuhan! Ya, Allah! Apa yang telah ia lakukan?! Lisa, istrinya terpaksa menjalani operasi pengangkatan rahim akibat kebiadabannya. Wanita itu bahkan mengurus semuanya seorang diri tanpa sepengetahuan suaminya. Tunggu dulu, bukan tanpa sepengetahuan, tetapi karena memang ia tak peduli. Bukankah dulu tim dokter pernah menyodorkan tanda tangan persetujuan operasi? Operasi apa itu, ia tak mau tahu. Bahkan, seandainya nyawa istrinya melayang di tengah-tengah operasi sekalipun.
Pantas, pantas saja adik Tantra itu begitu membenciku, pikir laki-laki itu getir. Sampai saat ini jika mereka berpapasan, Rafa segera menunduk alias pura-pura tidak melihat. Kalaupun terpaksa, maka gadis itu akan bersikap kuda-kuda siaga seolah-olah akan melakukan penyerangan.

Apa ada operasi pencangkokan rahim? Kalaupun ada, adakah wanita yang sukarela menyerahkan milik yang begitu didambakan semua kaum hawa itu? Tiba-tiba saja Danar, laki-laki yang selama ini tak mau diributkan oleh tangisan bayi, merasa hidupnya begitu sepi. Seandainya dulu ia tidak....
"Mas...." Pagi itu Lisa tampak ceria menghampiri suaminya yang sedang merokok santai di beranda.
"Hm?"
"Aku positif, Mas."
Mendengar jawaban istrinya, Danar langsung bereaksi, mematikan rokoknya, "Apa?!"
"Aku hamil, Mas. Ini baru saja...."
"Sialan!"
Lisa tersentak.
"Siapa suruh kamu hamil, hah?!"
Lisa gemetar. Danar mencengkeram lengannya kasar.
"Aku tidak mau rumah ini jadi bau ompol!"
"Biar aku yang membersihkannya, Mas. Asalkan aku bisa jadi ibu....aaah!" tiba-tiba Lisa menjerit karena Danar menjambak rambutnya.
"Gugurkan! Atau kalau bayi itu lahir akan kubuang ke sungai!"

Berapa kali Lisa hamil? Mungkin tiga, empat, atau mungkin lebih. Selama itu pula Danar tak pernah mau menerima kenyataan. Bahkan dua diantaranya ia sendiri penyebab keguguran janin yang dikandung istrinya itu.

Menikah lagi? Tidak! Sudah cukup aku menyakiti istriku yang begitu baik. Mengapa aku harus bersenang-senang di atas penderitaannya? Lagipula kalau aku menikah lagi, belum tentu mendapatkan istri sebaik dan sesabar Lisa. Lisa bukan cuma sabar tetapi juga sangat tabah!
"Lisa...."
Lisa yang sedang mengupas mangga menoleh.
"Bagaimana kalau kita adopsi anak?"
Lisa tercengang.



Tidak ada komentar: