Selasa, 25 Desember 2012

Di Arung Jeram Cinta


  Bayi mungil terlelap dalam dekapan ibunya. Bayi perempuan yang begitu lembut dan tak berdaya tetapi itulah yang membuat setiap orang ingin membelai dan mengelus-elusnya. Bayi itu menggeliat sejenak saat ibunya membetulkan kancing bajunya.

 

Randy tersenyum geli. "Pulas sekali, "katanya.
Nila tersenyum.
"Kau harus istirahat, "ujar Randy kemudian, "tidurkan saja Wina di boks."
"Baik, Mas, "perlahan Nila bangkit dari duduknya agar bayinya tidak terbangun.
Randy memperhatikan istrinya yang membuka kamar bayi mereka. Pria itu teringat kejadian sebulan yang lalu saat istrinya hendak melahirkan. Baru ia melihat seperti itulah ibu yang akan melahirkan. Setidak-tidaknya ia mengetahui hal itu saat istrinya akan melahirkan.
"Pelan-pelan saja, "bisik Randy lembut. Tangannya melingkari bahu istrinya.
Nila mengernyit menahan sakit. "I...iya...."

Di ruang bersalin, Nila terbaring sambil menunggu kedatangan dokter. Randy menemani sambil berusaha menenangkan istrinya meskipun perasaannya pun dilanda kekhawatiran.
"Tenanglah, Nila, "bisiknya, "Kita berdoa saja semoga semua berakhir dengan membahagiakan."
"Terima kasih, Mas..., "jawab Nila lirih.


Nila menutup pintu perlahan. "Mas mau makan malam sekarang?"
Randy menatap istrinya serius, "Kau tidak lelah?"
"Hanya menyiapkan makan malam, Mas, bukan membajak sawah."
Randy tertawa. "Biar aku yang menyiapkan piringnya."
"Terima kasih, Mas."
"Nila...."
"Iya, Mas?"
"Terima kasih karena kau bersedia menjadi istriku. Selama ini kau begitu sabar dan setia walaupun tahu kalau dulu aku menikahimu karena...."
Nila menggeleng. "Justru saya yang bersyukur Mas mau menikahiku. Saya sangat menyadari kalau jarang laki-laki yang tertarik denganku. "Mungkin karena saya tidak cantik dan juga tidak pandai berdandan. Karena itu saya sangat bahagia saat Mas melamarku."
"Begitu, ya?"
"Saya tahu Mas idola waktu SMA dan kuliah."
"Dan kamu satu-satunya idolaku, "tukas Randy menarik tangan Nila lembut.
Pipi Nila bersemu merah,"Terima kasih, Mas." Oh ya, makan malamnya di ruang makan atau di ruang tengah?"
"Makan malam, ya?" Randy tersenyum nakal. "Bagaimana kalau makan malamnya kita tunda dulu?"




















Rabu, 03 Oktober 2012

Renungan Bayang Pelangi

 Hari ini adalah hari kelahiran kakakku semata wayang. Aku selalu teringat masa-masa kami tumbuh bersama. Mulai dari senyum, tawa, canda, pertengkaran, bahkan baku hantam ala kanak-kanak semuanya masih terbayang di pelupuk mataku. Kini semuanya menjelma menjadi kenangan indah.
Kami tak lagi bersama. Maklumlah kami sudah sama-sama dewasa dengan pilihan kehidupan yang berbeda.
Semoga kakakku selalu sehat, sukses, dan bahagia selalu. Semoga menjadi suami dan ayah yang penuh tanggung jawab, menyayangi dan disayangi keluarga. Amin.

Di Arung Jeram Cinta

Sekilas kepahitan yang terjadi pada masa lalu ternyata dapat membuat seseorang menjadi tertutup. Mungkin saja sekilas bagi orang lain, tetapi tidak bagi penderita. Tak perduli kejadian itu telah lama berlalu dan hampir semua orang melupakannya.
Banu berusaha memahami perasaan Meyra. Sudah hampir sebulan mereka resmi dalam ikatan pernikahan, tetapi istrinya itu cenderung diam. Diam dalam banyak arti. Meyra tidak akan tersenyum apalagi tertawa kalau Banu tidak mencandainya lebih dulu. Meyra tidak akan memulai percakapan sebelum suaminya itu mengajaknya berbicara lebih dulu. Meyra tidak akan....
Ah! Banu menghela napas panjang. Ia memperhatikan istrinya yang sedang memasang sprei. Meyra begitu cantik dalam balutan gaun tidur jingga berpita ungu bagian lengan. Rambutnya yang mencapai pundak dibiarkan tergerai.
"Meyra...."
Meyra menghentikan aktivitasnya dan menoleh.



Wanita itu tiba-tiba datang. Danar tak pernah melihatnya apalagi mengenalnya. Sungguh, ia tak menyangka kedatangan wanita itu akan membuatnya semakin terpuruk dalam penyesalan yang tak kunjung sirna. Betapa ia dulu sering menyakiti istrinya lahir batin.
Masih terbayang jelas di pelupuk matanya, ketika Lisa berusaha membuatnya tidak marah dengan memasak nasi goreng hongkong favoritnya. Tetapi tetap saja ia tidak mau tahu dan mencari-cari alasan agar dapat menyalahkan istrinya.
"Bagaimana rasanya, Mas?"tanya Lisa memandang suaminya harap-harap cemas.
Danar memasang tampang tak acuh. Ia kembali menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya.
Lisa menunggu dengan sabar. Wanita itu bersyukur dalam hati karena suaminya tampak sangat menikmati masakannya hari ini.
Praang!
Keduanya sama-sama terkejut. Lebih-lebih Lisa. Wajahnya memucat dan tubuhnya gemetar ketakutan. Gelas kristal yang baru dibeli  Danar telah berkeping-keping.
Danar langsung bangkit dari singgasana bagai harimau murka. Tanpa belas kasihan ia melayangkan tangan kekarnya ke wajah istrinya.
"Apa kamu mau ganti gelas ini, hah? Kamu tahu berapa harganya?!"
Lisa menunduk. "Maafkan saya, Mas...."
"Selalu cuma itu yang kamu bisa! Dasar tidak berguna!"
"Mungkin saya bisa ambil dari tabungan...."
Belum selesai Lisa berbicara, Danar sudah melotot. "Apa katamu? Tabungan?"
"Iya, Mas...."
"Jadi diam-diam kamu sudah bohong, ya?"Danar mencengkeram lengan istrinya kasar.
....
"Lisa menitipkan surat ini lewat saya, "wanita itu membuyarkan Danar dari lamunan masa lalu. 
"Apa ini?" tanya Danar sambil menerima bungkusan mungil hijau pastel berbentuk persegi.
Aaargh! Ingin rasanya Danar berteriak sekeras-kerasnya untuk dapat menghapus bayangan itu.

Sabtu, 22 September 2012

Cambuk Pelangi




 Alhamdulillah, rasa bahagia sekaligus bangga tengah melingkupi keluarga besar kami. Pagi ini, tepatnya pukul 07.00 Waktu Indonesia Barat, pamanku resmi menjadi guru besar di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya.

Pamanku adalah cambuk bagiku, cambuk yang menyiratkan berjuta warna pelangi yang penuh keindahan karena semangatnya yang tak pernah pudar. Mengingatkanku pada pepatah "tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan". Itulah pamanku, si Cambuk Pelangi.

Senin, 10 September 2012

Di Arung Jeram Cinta







Minggu pagi yang cerah. Tidak ada alasan untuk bermalas-malasan meringkuk di balik selimut. Nada mengajak Arsya berjalan-jalan menikmati udara sejuk. Anak yang berumur tiga belas bulan itu tidak menolak bahkan tampak kegirangan.
"Ayah?" tanya Arsya sambil menunjuk  Tantra yang masih terbuai mimpi. Ayahnya itu memang baru pulang dari luar kota menjelang dini hari.
"Ayah istirahat, "jawab Nada sambil merapikan kaos yang dikenakan anaknya.
"Capek?"
"Iya, "Nada tersenyum, "Kakak Arsya sama Ibu saja, ya?"
Arsya mengangguk.
Sementara itu Tantra terbangun. Ia memicingkan mata melihat istri dan anaknya bersiap-siap pergi. "Lho, mau ke mana? Kok Ayah tidak diajak?"
Nada tersenyum. "Ayah istirahat saja, "sahutnya.
Arsya memegang pergelangan tangan kanan ayahnya dan memijit dengan jari-jarinya yang mungil. "Capek, ya?"
Tantra tidak bisa menahan senyum. "Iya, " jawabnya.
"Pijit cama Kakak?"
"Nanti saja, Kakak temani Ibu jalan-jalan dulu, ya?" Tantra beranjak duduk.
"Ya."
"Ayo, pamit Ayah dulu."
"Ayah, Kakak alan-alan."
"Iya, Kakak, "Tantra tersenyum.
"Berangkat dulu, Mas, "Nada tersenyum lembut.
"Hati-hati, Mbak, "sahut Tantra sambil membalas senyum istrinya.
"Iya, Mas."
Tantra memperhatikan istrinya yang tampak anggun dengan busana muslim putih tulang berhias manik-manik keemasan pada kedua saku dan jilbab senada. Wanita itu memang lemah lembut luar biasa, tidak hanya kata-kata tetapi juga sikapnya. Ia begitu santun terhadap suaminya yang jauh lebih muda. Belum pernah sekalipun Nada bersikap kasar apalagi melawan suaminya itu.

Entah sudah berapa puluh kali, Tantra mendapatkan pertanyaan yang nyaris sama perihal istrinya. Kalau bukan pertanyaan mengapa mau sama yang lebih pantas jadi kakak atau bibi, ya, apa tidak takut kalau bosan nanti diam-diam malah selingkuh  (perasaan yang namanya selingkuh biasanya memang diam-diam...kecuali yang tidak biasa). Tetapi yang paling membuat dirinya gerah kalau pertanyaan itu sudah mengarah pada soal yang sangat pribadi, misalnya....

"Eh, istrimu selalu mau, ya?" tiba-tiba Feri berbisik.
"Mau apa?" Tantra yang sedang membaca berita lewat laptop, balik bertanya.
"Ah, pura-pura, ya...yang itu?"
Tantra mengalihkan pandangan dari laptopnya. "Aku tidak pura-pura, "tukasnya dengan tatapan serius.
Feri tertawa. Ia menoleh kepada Surya yang duduk bersandar di sudut kamar Feri. "Teman kita memang benar-benar lugu, Sur."
"Sur? Namaku bukan Kasur, "Surya malah menimpali dengan reaksi sesuai peribahasa "Jauh panggang dari api".
Feri gondok bukan kepalang.
Tantra mengulum senyum. Tentu saja ia tahu maksud Feri. Sejak zaman kuliah otak temannya yang satu ini memang dipenuhi dengan pikiran-pikiran vulgar kalau tidak mau disebut pornografi. Pantas saja hampir semua teman wanita terbirit-birit melihatnya. Mungkin kevulgaran Feri sudah terlihat dari sorot mata atau kata-katanya yang hampir selalu menjurus ke daerah terlarang.

Tantra melihat jam yang tergantung di dinding. Pukul setengah enam. Tiba-tiba ia merasa harus membantu istrinya membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan.