Jumat, 19 Agustus 2011

Di Arung Jeram Cinta

Rafa memang gadis energik. Ia tidak pernah bisa melewatkan waktu tanpa melakukan sesuatu yang bermanfaat. Ada saja yang dilakukannya untuk mengisi waktu. Ayah dan ibunya tentu saja sangat mendukung kebiasaan putri bungsunya itu. Bahkan Tantra pun tak segan-segan memberikan bantuan.
Hari ini adalah hari paling sial sedunia bagi satpam yang bertugas di perusahaan itu. Tetapi ia masih belum menyadarinya.
"Mau lapor siapa, Neng?" ia malah menggoda saat melihat Rafa menghubungi seseorang lewat ponsel.
Rafa memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Sebentar lagi Anda akan tahu, "tukasnya tenang.
"Lapor pacarnya, ya?"
Rafa tak mengacuhkan. Ia mengalihkan pandangannya ke arah seorang laki-laki bertubuh tinggi dan kekar.
"Ada tugas untuk kami, Mbak?"
"Sampaikan kepada Pak Satpam, bahwa dia harus menghadap saya di kantor. Sekarang juga."
"Baik, Mbak."
Sebelum membalikkan tubuh, gadis itu melempar senyum mengejek kepada satpam yang kini terbengong-bengong.
"Siapa perempuan itu?"
"Itu Mbak Rafa pemilik perusahaan ini."
Pucat seketika wajah laki-laki tiga puluhan itu. "Aduh, bagaimana ini, aku tadi sudah menggodanya."

Selasa, 05 Juli 2011

Celah Pelangi




Aku sengaja menghapus gambar-gambar avatar yang baru beberapa hari kutampilkan di situs ini. Bukan karena dikomentari zombie, tetapi karena aku baru tahu hukumnya.
Sesungguhnya ilmu Allah itu tiada terbatas. Dia memerintahkan hambaNya agar menuntut ilmu, bahkan mewajibkannya. Manusia tidak boleh puas dengan semua yang telah diketahuinya, tetapi ia harus selalu mencari, mencari, dan mencari serta belajar tentang segala hal yang harus diketahuinya.
Ini hanyalah celah ilmu yang sebenarnya pernah kubaca, tetapi aku sempat terlupa (bukan melupakan). Sekarang aku sudah ingat kembali.


Rabu, 29 Juni 2011

Di Arung Jeram Cinta

Dewi alias bunda, ibu Herman dan Meyra baru saja mengetahui peristiwa tragis yang menimpa putri bungsunya itu. Wanita lima puluh tahun itu menyesalkan sikap Herman yang tertutup.
"Jadi, kejadian itu sudah beberapa bulan yang lalu?"
Herman mengangguk. Ia merasa sangat bersalah. "Maafkan saya, Bunda. Saya pikir Ibu pasti tidak ingin mendengar berita buruk ini."
Dewi menarik napas panjang. "Herman, Bunda memang tidak ingin mendengar berita yang buruk, tapi bukan berarti Bunda tidak perduli."
Herman memandang ibunya yang duduk sambil memeluk pundak adiknya. Pagi itu Meyra tampak lebih ceria walaupun sedikit pucat. "Saya tidak ingin membuat Bunda sedih."
"Bunda mengerti, "Dewi tersenyum. Wanita menoleh ke arah putrinya. "Yang Bunda herankan kenapa tidak kalian jebloskan saja laki-laki bejat itu ke penjara?"
Herman menatap adiknya. "Meyra yang tidak mau, Bun."
"Kenapa, Nak?"
Meyra menggeleng. "Bunda, saya hanya ingin melupakan peristiwa itu. Tapi...rasanya sulit sekali."
"Kau tidak hamil kan?"
Lagi-lagi Meyra menggeleng.
"Kalau kamu sampai hamil, laki-laki itu harus bertanggung jawab, "geram Dewi.
"Dia sudah menikah, Bunda...."
Lirih memang ucapan Meyra, tetapi mampu membuat kedua mata ibunya terbelalak. "Apa?!"


Menunggu wisuda yang masih dua minggu lagi terlalu lama bagi Rafa. Gadis itu sudah tidak sabar lagi untuk terjun ke dunia kerja. Setelah mendapatkan surat keterangan lulus dari fakultas, ia bergegas menulis surat lamaran pekerjaan.
"Maaf, tidak ada lowongan, "sambut satpam saat Rafa hendak memasuki sebuah gedung perkantoran yang megah. Laki-laki berkumis tebal itu mengamati gadis di hadapannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sebenarnya Rafa gerah diperlakukan seperti itu, tetapi pura-pura tidak tahu. Saat itu mengenakan busana muslim lengkap dengan jilbabnya langsung mengerutkan kening. "Oh ya? Tapi, kenapa tulisan di karton manila...."
"Oh, "pak satpam membalik karton manila putih yang terpasang di atas meja. Karton yang bertuliskan 'MASIH ADA LOWONGAN' itu kini terbaca menjadi 'TIDAK ADA LOWONGAN'.
Tiba-tiba timbul pikiran iseng di benak Rafa. Kini ia balas memandang pak satpam tanpa berkedip. Gadis itu masih kesal karena diperlakukan sedemikian rupa oleh laki-laki yang baru dikenalnya. Rafa tidak akan puas kalau belum membalas.

Selasa, 28 Juni 2011

Di Arung Jeram Cinta (Bab XI)

Bayi itu begitu mungil dan menggemaskan. Tidak bosan-bosannya Tantra mengamati buah hatinya. Ia tidak habis pikir bagaimana caranya bayi itu bersemayam di rahim istrinya lalu sekarang....
Tantra menoleh. Nada mencolek lengannya. Ayah muda itu menghela napas perlahan saat istrinya memberi kode supaya keluar kamar.
"Mas...."
Tantra menoleh.
"Makan dulu saja, ajak Ibu dan Dik Rafa."
Tantra tersenyum.

"Tidak temani istrimu?"tanya Afna melihat si Sulung menghampiri.
"Sedang sensor, "sahut Tantra asal sambil menghempaskan tubuhnya ke kursi empuk di ruang tengah.
"Sensor apa, Mas?"Rafa mengerutkan kening.
"Iya, kamu ini ada-ada saja, Tantra."
"Arsya minum asi, Bu."
"Kamu tidak temani istrimu?"
Tantra menggeleng.
"Kenapa?"
Tantra menatap ibunya serius. "Bu, Nada sangat pemalu. Ganti baju saja, aku disuruh berbalik atau keluar kamar."
Rafa teringat peristiwa handuk itu. "Iya, Bu, "sela gadis itu. "Pernah Mas Tantra menitipkan handuk supaya aku berikan pada Mbak Nada yang sedang mandi."
Afna mengerutkan kening. "Kamu tidak mengasari istrimu, kan?"tanya wanita setengah baya itu dengan nada menyelidik.
"Ya Allah, Ibu, masa aku begitu?"
Wanita itu kembali mengerutkan kening. "Jadi benar, tidak ada apa-apa?"
"Tidak, Bu. Mbak Nada memang seperti itu."
Rafa mendehem. "Maksud Ibu, kok bisa Mbak Nada hamil padahal dia pemalu seka...auuw!" belum selesai bicara, kakinya langsung diinjak kakaknya.
"Rafa, jangan goda kakakmu, "Afna tersenyum simpul.
Tantra berusaha bersikap biasa. "Kita makan dulu atau...."
"Kita tunggu Mbak Nada, "tukas Afna.


Bagai disambar petir Danar mendengarkan penuturan Ratih. Ternyata selama ini Lisa telah begitu banyak menderita, menderita jiwa dan raga. Tetapi, tidak sedikitpun istrinya itu mengeluh. Ia selalu sabar menghadapi perlakuan kejam suaminya.

"Kamu ini bisa masak apa tidak?!" bentak Danar melempar sebasi sup makaroni.
Lisa memekik kaget campur takut. Ia lupa membeli kentang kesukaan suaminya dan baru teringat setelah sup itu dihidangkannya di meja makan.
"Ma..maaf, Mas, saya lupa...."
"Begitu, ya, "sahut Danar mencengkeram lengan istrinya. "Kalau dandan, kamu tidak lupa? Begitu?"
Padahal mana sempat Lisa mengurusi dirinya sendiri. Melihat istrinya diam saja, Danar semakin marah. Seperti biasa tangannya yang kekar terayun menebas tubuh istrinya yang tinggi dan besarnya tak sepadan dengan dirinya.

"Selama ini Mbak Lisa mengikuti terapi."
"Kenapa Dokter tidak menceritakannya kepada saya?"
"Maafkan saya, Pak Danar, "sahut Ratih dengan nada menyesal. "Mbak Lisa yang melarang saya. Ia tidak ingin Anda khawatir."
Danar terdiam. Ada rasa takut mengusik perasaannya. Tetapi, ia harus mengetahui penyebabnya. "Maaf, Dokter, sebenarnya apa penyebab penyakit yang diderita istri saya?"

Minggu, 26 Juni 2011

Di Arung Jeram Cinta

Kertas itu masih terletak di tempat semula. Meyra sengaja menempelkannya di album kenangan. Gadis itu termenung. Mengapa setelah ia menyadari betapa berharga dirinya, ia harus mengalami petaka itu?
Bukan Tantra yang melakukannya. Padahal, kalau ia mau, dengan mudah akan mendapatkan. Bukankah Meyra yang menawarkan hal itu lebih dulu? Meskipun tentu saja hanya main-main, tetapi seandainya bukan Tantra, mungkin akan lain ceritanya.
"Biar kakakmu yang sok alim itu tahu kalau dia bukan apa-apa, juga adiknya ini, "ujar Danar dengan tatapan merendahkan memandang Meyra yang berdiri menunduk. "Aku tahu selama ini kau suka merayu Tantra supaya dia tertarik padamu...."
Meyra mengangkat wajahnya. "Boleh aku pulang?"
"Pulang? Silakan, setelah ada ganti rugi."
Meyra menjerit. Pegangan laki-laki sebaya kakaknya itu bagaikan penjepit besi.


"Mau jenguk kemenakannya, ya Dik?"sapa perawat duplikat Paramitha Rusady saat berpapasan dengan Tantra dan Rafa.
"Iya, Suster, "sahut Tantra ramah.
"Oh ya, sebaiknya Adik segera menghubungi ayah kemenakanmu untuk mengurus surat keterangan lahir."
"Terima kasih, Suster, saya akan urus pagi ini."
"Harus ayah kandungnya, Dik, "tukas perawat itu sotoy.
"Saya ayah kandungnya."
Merah padam seketika wajah Paramitha Rusady gadungan itu. Meskipun demikian, dia berusaha supaya terlihat tenang. "Oh, kalau begitu, sekarang saja, Pak, "ujarnya jaim.
"Terima kasih, Suster."
Rafa tersenyum geli. "Mas Tantra memang cocok jadi mahasiswa, "komentar gadis itu.
"Dik, Mas sudah jadi ayah, "tukas Tantra tersenyum.
"Eh, kemarin ada yang mengira Mas pemuda yang menghamili kekasihnya."
"Memang."
"Di luar nikah."
"Mas juga tahu."
"Kenapa Mas diam saja?"
"Untuk apa? Yang penting sebenarnya tidak."
Rafa mengangkat bahu. Kakaknya ini memang terlalu baik hati. Dia tidak pernah mau ikut campur urusan pribadi atau komentar orang lain tentang dirinya.


Meyra menggeleng kuat-kuat berusaha mengusir bayangan yang sangat mengusik itu supaya pergi jauh-jauh.
Tok, tok, tok.
Meyra tersentak. "I...iya?"
"Ini Bunda, Sayang."
"Bunda?" bisik Meyra seolah-olah mengira pendengarannya salah. Sejak kapan Bunda datang? Apa dari tadi pagi? Mengapa ia baru tahu menjelang siang?
"Bukakan pintunya, Sayang. Bunda kangen."

Jumat, 24 Juni 2011

Jiwa Pelangi

"Lho, ke bank saja kok diantar ibunya?"begitu sapa petugas suatu bank saat melihatku berdiri di samping Ibu.
"Kan sekalian, Ibu juga mau ambil tabungan, "tukasku. "Biar hemat."
"Oh, begitu...."
Apa sih urusannya? Waktu itu aku masih duduk di bangku SMA. Terus terang aku tak habis pikir mengapa orang sering bertanya sesuatu yang bukan urusannya. Mungkin sekadar basa-basi, tetapi perlukah mengomentari sesuatu yang bisa menyinggung perasaan orang lain?
Kakak iparku menceritakan pengalamannya mengantar putra sulungnya mengurus KTP. Petugas kecamatan menegur kemenakanku itu. "Lho, kok masih diantar ibunya?"
"Ini baru pertama urus KTP, biar cepat ya saya bantu. Besok-besok ya harus urus sendiri, "begitu jawab kakak iparku.
"Besok ke sini sendiri bisa, kan?" tanya petugas itu kepada kemenakanku."
"Bisa, "jawab kemenakanku.

"Wah, memangnya yang punya anak siapa?"begitu komentarku setelah mendengar cerita kakak ipar. "Kan anak-anaknya sendiri. Mau diantar, mau disuruh naik taksi, naik angkot, memang apa urusannya?"
Maaf, maaf, mungkin aku bukan tipe orang yang perduli dengan urusan yang tidak ada sangkut pautnya dengan diriku. Apalagi menyangkut cara mendidik anak. Kalau para tetangga sering ikut memarahi anak tetangga yang tidak menurut orang tua, aku memilih diam saja. Menurutku mungkin saja orang tua anak itu tersinggung karena tetangganya ikut campur dalam mengurus anaknya, hanya saja ia tidak menyampaikan hal itu.

Antara Kita

Engkaukah itu yang mendekap tangisku
dengan segenap tawa dan rayuanmu
bintang-bintang di angkasa kemilau menari
temani lembutnya rembulan malam hari

Adakah engkau yang menyodorkan lusinan cangkir angan
luapan masa lalu penuh kegirangan
berdua kita melangkah meniti hari
dalam riang gembira yang menanti

Masihkah kau meraba mimpi-mimpi kita
yang dulu pernah terajut dalam dunia tak kenal duka
dan masihkah kau sudi mendekap tangisku
dengan bujuk dan senyummu