Jumat, 03 Oktober 2008

Puisi Cinta untuk Ayah Bunda

Bunda tercinta
Dengan jiwa yang kaupunya
Kau lahirkan kami ke dunia
Lewat kasih tak terhingga

Ayah tersayang
Berbekal senyum yang kausandang
Kau lindungi kami penuh sayang
dengan cinta saat kaumemandang

Seluas samudera kasihmu
Setinggi gunung cintamu
Setiap senyum dan tawa itu
Semua untuk kami, anak-anakmu

Tiada satu detik pun terlewat
Tanpa perjuanganmu yang tak kenal lelah
Hingga tiap tetes peluh yang melekat
Adalah mutiara doa yang tak kan pecah

Waktu berjalan tanpa terasa
Semua yang kauberikan
Tak pernah harapkan balas jasa
Karena kasihmu sepanjang jalan

Lima puluh tahun telah berlalu
Tiba waktunya kami membalas semua jasamu
Walau mungkin tak sebanding dengan pengorbananmu
Meski mungkin semua ini tiada arti bagimu

Ayah, bunda
Terimalah puisi sederhana
Sebagai tanda cinta
Semoga Allah senantiasa limpahkan kasih-Nya


Catatan : Puisi kilat pesanan tanteku atas permintaan temannya sebagai hadiah pesta nikah emas untuk orangtua tersayang.

Minggu, 17 Agustus 2008

Sebatang Pena

Dengan sebatang pena
kugoreskan sebaris kata
yang berasal dari lubuk jiwa

Bersenjatakan sebilah pena
kutumpahkan tetesan makna
yang terhimpun dari berbagai rasa

Senjataku hanyalah pena
bukan tombak yang tancapkan luka
atau senapan yang lenyapkan nyawa

Senjataku adalah pena
curahan rasa sebagai tinta
yang kutuang ke dalam cerita

Jumat, 01 Agustus 2008

Langkah Merak

Merak itu telah berjalan
dari taman ke taman
seraya melempar senyuman

Merak itu melangkah anggun
dengan kepala terayun-ayun
yakin semua kan tertegun

Dengan jalinan bulu penuh warna
ia tebarkan senyum pesona
agar semua kan terpana

Merasa diri yang terhebat
tak dibalasnya sapa katak yang meloncat
dan undangan iringan semut yang lewat

Kepala yang tengadah ke atas
membuat mata kurang awas
pujian datang, hati puas

Kaki tiada menapak tanah
duri-duri telah memanah
menghadirkan tetesan darah

Merak pun menangis pilu
angkuh diri membuatnya tak tahu malu
menganggap diri yang nomor satu

Untaian bulu warna-warni
tak ditunjukkannya lagi
sebab kini tiada seindah pelangi

Kamis, 31 Juli 2008

Tetes Embun

Embun pagi itu telah pergi
yang membasahi jiwaku
berkelana di kisi-kisi kalbu
menelusuri celah diri

Tetes embun penyejuk mata
telah menyirami diri
saat hati terasa hampa
membelai relung hati

Dalam jiwaku embun itu terpendam
sejuknya bagai pelita penerang jiwa
kenangan sejuta kasih yang tergenggam
temani diri lintasi masa




Kamis, 17 Juli 2008

Pesta Telah Usai

Tiada lagi keramaian di remang malam
yang berhias kerlap- kerlip sinar buatan
atau mereka yang berkumpul dan mendekam
mencari hangat dalam tiupan angan-angan

Kini, tak ada lagi botol-botol berserakan
dan musik mengiringi tarian maut
atau gelak canda topeng kemunafikan
menutupi kepalsuan yang lama terpagut

Pesta telah usai, kawan
kabar gembira pun tibalah
tiada lagi pesta arak, anggur, dan kemaksiatan
terkubur gema takbir menjemput hidayah

Selasa, 15 Juli 2008

Pesan Seorang Murid

Aku suka jika Bu Guru tersenyum
Senyumnya manis seperti bunga mawar yang cantik
Kubaca tulisan murid mungilku yang simpatik
Dengan lengkung bibir yang terkulum
Tetapi kalau sedang marah
Terlihat seperti mawar yang layu
Kutarik napas memandang luar cuaca cerah
Saat membaca goresan pena tunas bangsaku
Hanya satu keinginan saya
Aku ingin melihat Bu Guru senyum
Seberkas sinar menembus relung sukma
Berharap diri kan seindah mawar sekuntum

Tersenyumlah

Tersenyumlah kau
saat melihat dunia
sehingga diri dapat terpukau
mengagumi keindahannya

Tersenyumlah kau
meski dunia merana
sebab tak selamanya bintang berkilau
sehingga hati menyadari agungnya Sang Pencipta

Dan tersenyumlah kau
karena masih ada asa
yang dapat menyelami hati penuh galau
nyalakan bara harapmu di dada