Dengan sebatang pena
kugoreskan sebaris kata
yang berasal dari lubuk jiwa
Bersenjatakan sebilah pena
kutumpahkan tetesan makna
yang terhimpun dari berbagai rasa
Senjataku hanyalah pena
bukan tombak yang tancapkan luka
atau senapan yang lenyapkan nyawa
Senjataku adalah pena
curahan rasa sebagai tinta
yang kutuang ke dalam cerita
Minggu, 17 Agustus 2008
Jumat, 01 Agustus 2008
Langkah Merak
Merak itu telah berjalan
dari taman ke taman
seraya melempar senyuman
Merak itu melangkah anggun
dengan kepala terayun-ayun
yakin semua kan tertegun
Dengan jalinan bulu penuh warna
ia tebarkan senyum pesona
agar semua kan terpana
Merasa diri yang terhebat
tak dibalasnya sapa katak yang meloncat
dan undangan iringan semut yang lewat
Kepala yang tengadah ke atas
membuat mata kurang awas
pujian datang, hati puas
Kaki tiada menapak tanah
duri-duri telah memanah
menghadirkan tetesan darah
Merak pun menangis pilu
angkuh diri membuatnya tak tahu malu
menganggap diri yang nomor satu
Untaian bulu warna-warni
tak ditunjukkannya lagi
sebab kini tiada seindah pelangi
dari taman ke taman
seraya melempar senyuman
Merak itu melangkah anggun
dengan kepala terayun-ayun
yakin semua kan tertegun
Dengan jalinan bulu penuh warna
ia tebarkan senyum pesona
agar semua kan terpana
Merasa diri yang terhebat
tak dibalasnya sapa katak yang meloncat
dan undangan iringan semut yang lewat
Kepala yang tengadah ke atas
membuat mata kurang awas
pujian datang, hati puas
Kaki tiada menapak tanah
duri-duri telah memanah
menghadirkan tetesan darah
Merak pun menangis pilu
angkuh diri membuatnya tak tahu malu
menganggap diri yang nomor satu
Untaian bulu warna-warni
tak ditunjukkannya lagi
sebab kini tiada seindah pelangi
Kamis, 31 Juli 2008
Tetes Embun
Embun pagi itu telah pergi
yang membasahi jiwaku
berkelana di kisi-kisi kalbu
menelusuri celah diri
Tetes embun penyejuk mata
telah menyirami diri
saat hati terasa hampa
membelai relung hati
Dalam jiwaku embun itu terpendam
sejuknya bagai pelita penerang jiwa
kenangan sejuta kasih yang tergenggam
temani diri lintasi masa
yang membasahi jiwaku
berkelana di kisi-kisi kalbu
menelusuri celah diri
Tetes embun penyejuk mata
telah menyirami diri
saat hati terasa hampa
membelai relung hati
Dalam jiwaku embun itu terpendam
sejuknya bagai pelita penerang jiwa
kenangan sejuta kasih yang tergenggam
temani diri lintasi masa
Kamis, 17 Juli 2008
Pesta Telah Usai
Tiada lagi keramaian di remang malam
yang berhias kerlap- kerlip sinar buatan
atau mereka yang berkumpul dan mendekam
mencari hangat dalam tiupan angan-angan
Kini, tak ada lagi botol-botol berserakan
dan musik mengiringi tarian maut
atau gelak canda topeng kemunafikan
menutupi kepalsuan yang lama terpagut
Pesta telah usai, kawan
kabar gembira pun tibalah
tiada lagi pesta arak, anggur, dan kemaksiatan
terkubur gema takbir menjemput hidayah
yang berhias kerlap- kerlip sinar buatan
atau mereka yang berkumpul dan mendekam
mencari hangat dalam tiupan angan-angan
Kini, tak ada lagi botol-botol berserakan
dan musik mengiringi tarian maut
atau gelak canda topeng kemunafikan
menutupi kepalsuan yang lama terpagut
Pesta telah usai, kawan
kabar gembira pun tibalah
tiada lagi pesta arak, anggur, dan kemaksiatan
terkubur gema takbir menjemput hidayah
Selasa, 15 Juli 2008
Pesan Seorang Murid
Aku suka jika Bu Guru tersenyum
Senyumnya manis seperti bunga mawar yang cantik
Kubaca tulisan murid mungilku yang simpatik
Dengan lengkung bibir yang terkulum
Tetapi kalau sedang marah
Terlihat seperti mawar yang layu
Kutarik napas memandang luar cuaca cerah
Saat membaca goresan pena tunas bangsaku
Hanya satu keinginan saya
Aku ingin melihat Bu Guru senyum
Seberkas sinar menembus relung sukma
Berharap diri kan seindah mawar sekuntum
Senyumnya manis seperti bunga mawar yang cantik
Kubaca tulisan murid mungilku yang simpatik
Dengan lengkung bibir yang terkulum
Tetapi kalau sedang marah
Terlihat seperti mawar yang layu
Kutarik napas memandang luar cuaca cerah
Saat membaca goresan pena tunas bangsaku
Hanya satu keinginan saya
Aku ingin melihat Bu Guru senyum
Seberkas sinar menembus relung sukma
Berharap diri kan seindah mawar sekuntum
Tersenyumlah
Tersenyumlah kau
saat melihat dunia
sehingga diri dapat terpukau
mengagumi keindahannya
Tersenyumlah kau
meski dunia merana
sebab tak selamanya bintang berkilau
sehingga hati menyadari agungnya Sang Pencipta
Dan tersenyumlah kau
karena masih ada asa
yang dapat menyelami hati penuh galau
nyalakan bara harapmu di dada
saat melihat dunia
sehingga diri dapat terpukau
mengagumi keindahannya
Tersenyumlah kau
meski dunia merana
sebab tak selamanya bintang berkilau
sehingga hati menyadari agungnya Sang Pencipta
Dan tersenyumlah kau
karena masih ada asa
yang dapat menyelami hati penuh galau
nyalakan bara harapmu di dada
Mengais Seberkas Cahaya Diri
Kelam memecah kesunyian
Tangis menghunjam kepedihan
Sendiri merenungi kepahitan
Gelap membentengi pekat diri
Sesal menyelami lautan hati
Hanyalah mendung yang menemani
Dulu....
Saat masa ceria penuh bertalu
Terseret diri tanpa rasa malu
Ketika....
Saat masa sarat gembira bergema
Terbenam diri dalam alunan maya
Sekarang....
Menyesali nasib malang
Terbayang kelam membentang
Kini....
Menangis diri dalam sepi
Mengais kembali seberkas cahaya diri
Tangis menghunjam kepedihan
Sendiri merenungi kepahitan
Gelap membentengi pekat diri
Sesal menyelami lautan hati
Hanyalah mendung yang menemani
Dulu....
Saat masa ceria penuh bertalu
Terseret diri tanpa rasa malu
Ketika....
Saat masa sarat gembira bergema
Terbenam diri dalam alunan maya
Sekarang....
Menyesali nasib malang
Terbayang kelam membentang
Kini....
Menangis diri dalam sepi
Mengais kembali seberkas cahaya diri
Langganan:
Postingan (Atom)