Minggu, 03 Maret 2013

Di Arung Jeram Cinta

Tak ada yang mencoba berkata-kata lagi sehingga menambah sepinya malam yang semakin larut. Banu yang lelah karena bekerja seharian tidak memahami sikap Meyra. Sedangkan Meyra, sikapnya itu justru untuk menahan emosi yang berjolak di dadanya agar tidak meledak.
Banu menghela napas panjang membiarkan istrinya mengambilkan sehelai handuk untuknya dari dalam lemari. Kemudian laki-laki itu beranjak menuju kamar mandi.
Meyra terpaku ketika suaminya mengambil handuk dari tangannya tanpa sepatah katapun. Oh, tampaknya benar suaminya telah.... Ah! Kalau tidak, mana mungkin ia pulang terlambat. Biasanya, kalau pulang terlambat, ia selalu telepon atau sms, tetapi kali ini tidak, pasti lupa karena terjerat.... Tiba-tiba saja Meyra merasakan bahwa sakit hatinya ini melebihi kejadian tragis yang menimpanya hampir dua tahun yang lalu.

"Apa kamu sanggup hidup bersama dia?" begitu Tia tak dapat menyembunyikan kebimbangannya. Hal ini wajar karena tidak ada ibu yang merelakan anaknya tidak dapat menjalani kehidupan rumah tangga secara wajar.
"Maksud Ibu?"Banu tak memahami makna pertanyaan ibunya.
"Meyra sangat membenci laki-laki...bahkan bisa jadi semua laki-laki...."
"Ibu...,"Banu terkejut, "Itu tidak benar."
"Ya, itu benar, "tukas ibunya mantap, "Kita lihat saja nanti."
Banu tertegun. Jelas, ibu tidak merestui pernikahannya dengan gadis itu. Tetapi, pemuda itu pun tak dapat membohongi perasaannya sendiri bahwa ia benar-benar mencintai dan serius ingin menjadikan gadis itu sebagai istrinya.

Banu telah mengenakan baju rumahnya, kaos abu-abu polos dan trining berwarna senada namun bercorak dua garis memanjang dengan warna lebih cerah.

Ibu mungkin benar, mungkin benar Meyra sangat membenci laki-laki, ujar Banu dalam hatinya. Ia memperhatikan Meyra yang meletakkan semangkuk sayur kacang yang masih panas di atas meja makan. Ibu benar, tapi aku akan terus berjuang uintuk mendapatkan cintanya....

Minggu, 24 Februari 2013

Di Arung Jeram Cinta

Tiba-tiba saja ide gila itu muncul di benak Meyra. Pagi itu, tanpa sepengetahuan siapapun terutama Banu karena jangan sampai rencana ini diketahui suaminya itu, ia menemui seseorang.
"Aku bersedia membantumu, tapi..."
"Tapi apa? Cepat, katakan."
Wanita itu tampak berpikir keras, kemudian katanya, "Kamu yakin akan melaksanakan rencanamu itu?"
Meyra mengangguk tanpa ragu-ragu.
Wanita berambut ikal sebahu itu menatap Meyra dengan serius. "Kamu sangat cantik, "ujarnya, "Aku yakin suamimu pasti sangat mencintaimu."
"Kau benar...."
"Dia juga penuh perhatian?"
"Kau benar...."
"Dia lembut, penuh kasih sayang, dan belum pernah marah padamu?"
"Kau benar..."
"Oh, "wanita itu menepuk dahinya sendiri, "lalu, apa masalahmu sampai kau punya rencana segila ini?"
Meyra terdiam.

Malam ini hujan deras sekali. Meyra mondar-mandir di ruang tamu. Tidak seperti biasanya Banu pulang terlambat. Wanita itu mencoba menguatkan hati saat membayangkan apa yang tengah terjadi. Sejak lima bulan pernikahan mereka, Meyra merasa tidak bisa berbuat banyak untuk membahagiakan suaminya. Bukan apa-apa, ia hanya merasa tak pantas bersanding dengan laki-laki berhati lapang itu.
"Asalamualaikum."
Meyra tersentak, ia menoleh. "Wa..waalaikumsalam, "jawabnya tergeragap. Ternyata Banu sudah berdiri di sampingnya. Ah, mengapa ia tak mendengar apa-apa, suara motor atau pintu dibuka?
Banu tersenyum. Ada sisa tetes air hujan menempel di tangan dan lipatan celananya.
Tetapi Meyra terpaku. Pedih rasanya membayangkan yang baru saja dilakukan suaminya dengan wanita itu.
"Meyra...."
"Aku...aku ambilkan handuk dulu, "tukas Meyra hendak berbalik.
Banu menarik tangannya. Meyra terdiam.
"Aku mencintaimu, "bisik Banu.
Meyra menunduk.
"Aku tidak pernah melihat wanita lain yang layak kucintai selain kamu."
Meyra tak tahu harus berkata apa.

Kamis, 24 Januari 2013

Di Arung Jeram Cinta




Nila tersenyum. Ia tahu suaminya hanya menggoda. "Kalau ditunda, nanti lupa makan, "tukasnya.
Randy tertawa.
"Mas tunggu sebentar, saya panaskan sayur dulu."
"Baik, istriku yang cantik."
Kembali wanita itu melempar senyum manisnya.

Pernah Randy menyesal telah menikahi Nila. Maklumlah, saat itu Randy sangat kesepian dan tak ingin lagi seorang diri. Ia begitu iri melihat keharmonisan rumah tangga Nada, adik kelasnya semasa SMA. Selang dua bulan kemudian, datanglah Nila, yang langsung menjadi kepala administrasi di kantornya bekerja. Tidak ada yang menarik dari gadis itu apalagi usianya sebaya dengan dirinya kecuali perilaku dan tutur katanya yang begitu santun.
Begitulah, dengan modal nekat (tanpa cinta) Randy melamar Nila. Tentu saja Nila dan juga kedua orang tuanya sangat gembira menerima lamaran itu. Rasanya seperti kejatuhan bintang. Hanya wanita aneh yang menolak pinangan dari pria setampan dan semapan Randy.
Sebenarnya Nila pun dapat merasakan bahwa Randy menikahinya hanya untuk pelarian. Tetapi ia tak mau mengambil risiko harus menunggu lebih lama lagi pria yang mau menjadi suaminya. Maka, dengan menahan kekecewaan di dadanya, ia menjalani semuanya.

Berkali-kali Randy merenung, salahkah keputusannya menikahi Nila? Gadis yang baru saja dikenalnya dan tampak pendiam. Nila bukan tipe istri yang pandai mengambil hati suami dengan berdandan atau berpakaian seksi. Tidak, ia selalu mengenakan gaun rumah yang bermodel sopan mirip orang kedinginan sehingga membuat Randy enggan untuk mendekati.

"Mas, makan malam sudah siap."
Randy tersentak dari masa lalunya. Ia tersenyum. "Cepat sekali, "sahutnya.