Jumat, 11 Mei 2012

Di Arung Jeram Cinta

"Semua sudah berlalu, "begitu jawaban Meyra ketika Banu melamar dirinya.
"Pikirkan baik-baik, Nak, "Dewi menyela dengan sabar.
"Bunda, apa yang dia harapkan dariku?"tukas Meyra keras kepala, "Aku tidak bisa memberikan yang ia harapkan."
"Meyra, jangan begitu, "kali ini Herman yang menyambung, "Banu pemuda yang baik, ia mencintaimu dengan tulus. Mas yakin ia akan menjadi suami yang bisa membahagiakanmu."
Meyra menoleh, menatap kakaknya, "Lalu, lalu apa aku juga bisa membahagiakan dia, Mas?"
Sementara itu Tia mulai gerah. Tentu saja ia tidak terima jagoannya ditolak mentah-mentah oleh gadis yang tidak jelas statusnya.Masih untung ada yang mau sama perempuan macam dia, bekas dipakai orang. Bahkan dalam hati wanita itu menilai Meyra sebagai wanita penggoda. Pantas saja diperkosa! begitu pikirnya. 
"Meyra, maafkan kalau aku dulu...."
"Ya, aku memang bukan perawan lagi."
"Aku menghindar karena mengira kau memang melakukannya karena...."

"Karena suka, "sela Meyra memotong, 'begitu kan maksudmu?"
Banu mengangguk. "Sekali lagi maafkan aku. Ternyata aku salah menilaimu."
Meyra tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis.

Anwar memperhatikan calon menantunya. Meyra memang sangat cantik apalagi didukung dengan warna kulitnya yang kuning langsat. Tidak mengherankan kalau jagoannya ini ngotot ingin menikahi. Seperti tidak ada gadis lain saja!


Kondisi Lisa semakin kritis. Meskipun tidak mengalami koma, tetapi wanita itu merasa sangat kesakitan. Keringat dingin terus bercucuran seiring dengan rasa sakitnya.
"Kau sudah makan?"sapa Danar mencium kening istrinya.
"Belum. Rasanya badanku sakit semua.":
"Aku suapi, ya."
Lisa menggeleng. "Badanku sakit...,"keluhnya, "sakit sekali...."
"Lisa, kamu belum makan, mungkin badanmu sakit karena lemah...."
Lagi-lagi Lisa menggeleng.
Danar yang hendak mengambil piring berisi sarapan mengurungkan niatnya. Ia terkejut sekali melihat istrinya mengigil seperti demam. Buru-buru ia menekan bel di samping ranjang Lisa.


 





Kamis, 10 Mei 2012

Di Arung Jeram Cinta

Dalam hati Nada mengagumi ketenangan dan kedewasaan suaminya. Kembali ia teringat saat Tantra masih berseragam putih abu-abu. Tantra memang tergolong dewasa dibanding usianya. Meskipun, sekali waktu muncul pula sifat anak mudanya.
Nada memperhatikan suaminya yang sedang mengajak anak mereka bercanda. Tantra menggerak-gerakkan boneka ikan dan Arsya berusaha meraihnya sambil tertawa-tawa. Ah, rasanya mereka lebih pantas sebagai paman dan keponakan dibanding ayah dan anak.
Jujur, soal selisih usia ini masih menjadi ganjalan bagi Nada. Apalagi beberapa hari yang lalu, ia sempat disangka pengasuh Arsya oleh pelayan restoran. Pasti gara-gara kulit suami dan anaknya yang lebih bersinar daripada dirinya. Tetapi, ia tidak tersinggung bahkan maklum dengan tanggapan pelayan restoran itu. Justru Tantra yang hampir saja meledak karena tutur kata pelayan asal itu.
" Kasihan, ya, keponakan Mas, "ujar pelayan sambil menghidangkan pesanan. Saat itu Nada sedang mencuci tangan Arsya di wastafel.
"Dia anak saya, "tukas Tantra mengerutkan kening, kurang suka dengan komentar sang pelayan restoran alias pramusaji itu.
"Oh, maaf, saya kira keponakannya. Kok, ibunya si Kecil tidak ikut, Mas? Kasihan lho, masa sama jalan-jalan sama baby siternya...."
Merah padam seketika wajah Tantra. Apa maksud pramusaji genit ini?pikirnya. Baby siter? 
Untunglah Nada yang sempat mendengar vonis pramusaji, bergegas menghampiri suaminya.
"Maaf, Mbak, dia bukan baby sitter, "ujar Tantra dengan wajah merah padam, "dia istri saya."
Kini giliran si pramusaji yang merah padam karena malu. "Oh, ma...maaf, saya kira...."
"Lain kali kalau bicara, jaga mulutmu!"
"Mas, sudah, sudah, "Nada meraih tangan suaminya dan megajaknya duduk. Wanita itu berpaling memandang pramusaji yang salah tingkah. "Mbak, maafkan suami saya. Dia tidak bermaksud bicara seperti itu."
Tantra melotot. "Mbak, dia sudah tidak sopan."
"Mas, aku yakin pasti Mbak ini tidak bermaksud begitu, "tukas Nada sabar sambil mendudukkan Arsya di kereta, "memang kadang-kadang orang suka salah menyimpulkan yang dilihatnya, bukan begitu, Mbak?"
Mbak pramusaji mengangguk gugup bercampur malu."Maafkan saya, Ibu, Bapak."
"Iya, tidak apa-apa, "sahut Nada tersenyum sambil menoleh kepada suaminya yang tampak tak mengacuhkan permintaan maaf itu. Ia pun mencolek tangan suaminya.
"Ya."
"Terima kasih, selamat makan."
"Iya, sama-sama.:
"Hm."


Tanpa sadar, Nada tersenyum sendiri. Rasanya sampai detik ini pun, ia masih terheran-heran dengan keputusan Tantra yang memilihnya sebagai pendamping hidup. Tantra yang menjadi idola gadis-gadis semasa sekolah dan kuliah. Tantra yang lebih pantas menjadi adiknya.


"Eh, Ibu melamun, "ujar Tantra sambil menggendong anaknya menghampiri Nada.
"Ma...ma...ta...ta..ta, "sahut Arsya menunjuk ibunya sambil tertawa-tawa.
Nada tersentak dari lamunan. Ia pun menyambut uluran tangan si Kecil sambil tersenyum.
"Mbak...."
"Iya?" sahut Nada sambil menggendong Arsya.
Tantra tidak segera menjawab. Ia seperti kehabisan kata-kata.. Padahal hanya dua kata saja yang ingin ia ucapkan :'kamu cantik'.

Jumat, 04 Mei 2012

Di Arung Jeram Cinta

Sejak menikah, dua minggu yang lalu, Hasta meminta Ara untuk bekerja paruh waktu. Ia ingin istrinya itu selalu menyambutnya sepulang bekerja. Ara pun tidak keberatan bahkan langsung menyetujui keputusan suaminya.Bagi wanita itu, tugas suami adalah mencari nafkah dan istri menjaga rumah serta harta suami. Hasta sangat bersyukur mendapat istri yang penuh pengertian.
"Nanti pulang jam berapa?" tanya Ara sambil menyodorkan tas kerja suaminya.
"Insya Allah, hari ini aku lembur, "jawab Hasta menerima tas kerjanya.
"Ada pasien yang harus dioperasi?"
"Ya, doakan sukses, ya."

"Tentu," Ara tersenyum.
Hasta terpaku menatap istrinya. Ara begitu anggun dalam balutan busana muslimah coklat muda dan jilbab putih tulang. 
"Ada apa, Hasta?"
Hasta tersentak tetapi kemudian ia tersenyum. "Tidak, tidak ada apa-apa, "sahutnya.
"Lalu, kenapa kamu melihatku seperti baru saja?"
Hasta meraih tangan istrinya, "Aku baru sadar."
"Oh, ya? Tentang apa?"
"Kau cantik sekali."
Bukan sekali pujian semacam ini dilontarkan untuknya, tetapi baru sekali ini Ara merasa begitu bahagia. Inikah rasanya jatuh cinta?
"Terima kasih, "bisiknya.
Hasta tersenyum. "Kau sudah siap, Sayang? Ayo, kita berangkat."
Ara mengangguk.




Ini bukan sekali dua kali Arsya menaiki anak tangga. Meskipun masih merangkak, tetapi bayi sepuluh bulan itu memang memiliki rasa ingin tahu yang besar. Dan kali ini, ia lolos dari pengawasan orang tuanya yang sibuk menata kamar. Sambil terkekeh-kekeh, Arsya merangkak keluar kamar menuju ruang makan.
"Nah, kamar kita kelihatan lebar, "ujar Tantra mengamati posisi tempat tidur yang baru saja mereka ubah.
"Iya, jadi Arsya juga bisa..., " Nada tidak melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang tidak beres, dan jantungnya serasa melorot ke lututnya. "Anak kita!"
"Hah?!"Tantra tersentak.
"Dengan panik Nada mengguncang-guncang tangan suaminya. "Mana anak kita, Mas? Ayo, cepat cari!"
"Iya, iya, Mbak tenang dulu, "sahut Tantra menenangkan istrinya yang pucat pasi. Ia bergegas keluar kamar sambil memeluk bahu Nada.






SENANDUNG PELANGI ( MENTARI PAGI - LYDIA - IMANIAR )



SENANDUNG PELANGI ( MERANTAU - DINA MERANTAU )



KALBU PELANGI ( DOA SEORANG ANAK - DIANA PAPILAYA )



SENANDUNG PELANGI (THE POWER IS LOVE - DIANA KASHAVA)