Jumat, 07 Oktober 2011

Di Arung Jeram Cinta

Dewi tidak henti-hentinya mengagumi sosok Lisa yang bersahaja. Belum pernah ia melihat istri zaman sekarang yang begitu sabar atas sepak terjang suaminya yang tidak bermoral. Amarah wanita itu mendadak saja hilang ketika melihat Lisa muncul dan menyapa dengan santun dan ramah.
Lisa menyilakan tamu-tamunya menikmati hidangan yang tersedia di meja tamu.
Dewi mengambil biskuit dari toples. Herman dan Meyra mengikuti.
Dewi memperhatikan Lisa yang tampak kurus dan pucat. Tampaknya ia sedang sakit parah. Dalam hati menyesal juga Dewi telah membuat perasaan wanita muda ini bersedih. Tetapi....
"Maafkan suami saya, Bu."
Dewi tercengang. "Jadi...kau sudah tahu?"
"Iya, Bu, "jawab Lisa lembut. "Suami saya juga sudah menyesali perbuatannya."
"Ah, kau istri yang berhati mulia, "Dewi tak dapat menyembunyikan kekagumannya. "Kalau Ibu tidak mengenalmu, rasanya tega melemparkan suamimu ke dalam penjara."
Lisa memandang ke arah suaminya. "Suami saya siap menerima hukuman untuk menebus dosanya."
Danar tersenyum. "Ibu, istri saya benar. Saya bersedia...." Belum selesai Danar berbicara, mendadak Meyra bangkit dan melangkah ke luar.
"Meyra!"panggil Herman.
"Susul adikmu."
"Baik, Bu."

Tantra mengeluarkan ponsel dari saku celananya. "Sebentar, sepertinya aku punya nomor teman-teman yang kamu sebutkan tadi."
"Iya, syukurlah, soalnya aku mau adakan reuni."
"Oh ya? Kapan?"
"InsyaAllah, bulan depan. Sudah ada, sih, beberapa teman yang kuhubungi untuk membantuku, termasuk kamu."
"Mudah-mudahan aku bisa."
"Kurasa kau pasti bisa. Eh, mana istrimu?"
"Tadi masih menidurkan Arsya. Kulihat dulu."
Feri mengawasi teman semasa SMAnya yang berlalu. Ia berpikir seperti apa istri Tantra. Pemuda seperti Tantra pasti akan memilih gadis berkulit putih atau kuning langsat dan bertubuh seksi untuk menjadi istrinya. Mana mungkin ia memilih wanita yang menyuguhkan hidangan tadi itu ....
"Fer, kenalkan istriku."
Feri tercengang. Tantra menggandeng mesra seorang wanita. Wanita yang tadi menyuguhkan hidangan.






Rabu, 05 Oktober 2011

Di Arung Jeram Cinta

Memberi kesempatan sekali lagi, itulah keputusan Rafa. Menjadi pemimpin memang dituntut untuk berlapang dada dan memiliki jangkauan pandang-dengar yang luas. Tidak perduli, pemimpin itu masih belia bahkan kanak-kanak sekalipun.
Begitulah, Masto, satpam perusahaan yang dikelola Rafa selamat dari ancaman PHK. Bukan main bersyukur laki-laki itu. Ia bertekad bekerja dengan giat dan menghilangkan kebiasaan buruknya yang bersifat musiman, yaitu menggoda sambil bersuit-suit jika ada gadis atau wanita muda yang melintas di depannya.
Rafa menjalankan perusahaan yang bergerak di bidang jasa. Pelanggannya cukup banyak dan mereka sangat terkesan dengan pelayanan yang ada. Sudah hampir seratus kasus yang dapat diselesaikan dengan baik dan memuaskan kedua pihak yang bersengketa.

Feri mengamati Nada yang menghidangkan dua tangkup roti bakar dan dua cangkir teh hangat. Dalam hati pemuda itu bertanya-tanya siapa gerangan wanita berjilbab coklat muda dengan jubah senada bermotif kotak-kotak hijau ini.
"Silakan, "ujar Nada.
"Oh, terima kasih, "sahut Feri. "Maaf, Pak Tantra masih lama, ya, Mbak?"
Nada tersenyum. "InsyaAllah, sebentar lagi, Pak. Beliau masih mandi."
"Ya, aku tunggu. Tapi, jangan panggil aku 'pak', aku masih bujangan."
"Oh, kalau begitu, maafkan saya, Mas. Permisi, saya masuk dulu."
"Ya, silakan."

Jumat, 23 September 2011

Di Arung Jeram Cinta

Beberapa hari ini ada kekhawatiran melanda benak Nada. Ia merasa begitu sibuk dengan bayinya sampai-sampai tidak ada waktu untuk berdandan.
Berdandan? Nada terheran-heran sendiri. Sejak kapan ia merisaukan masalah penampilan? Toh, Tantra tidak pernah protes apalagi sampai menginap di tempat lain gara-gara istrinya tidak pernah dandan.
Tetapi, jujur, Nada mulai mencemaskan masalah itu. Setelah melahirkan, banyak yang berubah pada dirinya. Bagaimana kalau nanti suaminya tertarik kepada gadis atau perempuan lain? Sementara, perempuan mana yang tidak simpati melihat Tantra yang memang penuh pesona?
Nada menarik napas perlahan. Si kecil sudah terlelap di buaian.



Pukul lima sore. Feri menatap Tantra yang mengaduk-aduk es jermannya. Rasanya tak percaya Feri mendengar pengakuan teman sebangkunya semasa SMA.
"Jadi, kau sudah menikah?"
Tantra mengangguk.
"Berapa tahun?"
"Satu tahun setengah tahun."
Feri tersenyum lebar. "Ayolah, kau pasti bercanda, Sobat, "tukasnya. "Jangan katakan kalau kamu juga sudah punya anak."
Tantra tersenyum. "Memang sudah, laki-laki, lima belas hari."
Pemuda dua puluh empat tahun itu meneguk limun soda dinginnya dengan susah payah. "Apa? Padahal, dulu kamu terkenal dingin dan pendiam. Sampai-sampai ada beberapa teman yang mengira kamu...maaf, homo...."
"Aku tahu, "tukas Tantra tenang.

Kamis, 22 September 2011

Di Arung Jeram Cinta

Baik Herman maupun Meyra tak berdaya menghalang-halangi ibu mereka yang sedang murka. Begitu pintu terbuka dan melihat seorang laki-laki, Dewi langsung bertanya tanpa tedeng aling-aling, "Kamu yang bernama Danar?"
"Benar, Bu, ada...." Plak! Belum selesai Danar menjawab, tiba-tiba salah satu pipinya terasa pedih.
"Bunda!"seru Herman dan Meyra serentak.
"Maaf, ada apa?"Danar berusaha sabar sambil mengusap pipinya yang terkena sasaran.
"Haah, tidak usah pura-pura, anak muda!"seru Dewi sambil menuding laki-laki sebaya sulungnya itu. "Kaupikir, aku akan tinggal diam setelah tahu perbuatan bejatmu!"
Meyra cepat-cepat meraih tangan ibunya. "Bunda, sudahlah, "bisiknya.
Dewi melotot. "Apa katamu? Sudah? Tidak ada kata sudah untuk laki-laki mesum semacam dia!"
"Ibu, maafkan saya, "Danar menyela santun. Benar-benar bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dibanding Danar yang dulu, sampai-sampai Herman pun tercengang. "Silakan masuk dulu...."
Untuk kesekian kalinya wanita setengah baya itu melotot. Jadi, laki-laki bejat yang merusak masa depan anak gadisku ini tidak merasa berdosa sedikitpun? Ini tidak boleh dibiarkan!


Cakra tertawa mendengar penuturan istrinya. Afna melirik kesal. "Kok tertawa?"
"Kenapa heran, Bu? tukas suaminya. "Itu kan karena mereka tidak hanya berdua, coba kalau berdua...."
Afna mencibir melihat bola mata suaminya berputar nakal. "Sok tahu, memangnya kenapa kalau berdua?"
"Mereka masih terhitung pengantin baru, kan? Jadi...."
"Ayah jorok!"
"Lho, bukan jorok, tapi romantis..., "Cakra tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Afna sudah beranjak dari sofa ruang keluarga dengan sewot. "Bu, kok jadi marah?!"
Afna tak menjawab. Ia menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.

Rabu, 07 September 2011

Puisi Idul Fitri

Cahaya itu tak lagi sebersit
namun cerah membentang langit
menyambar habis setumpuk dosa
yang habis meranggas jiwa

Sinar itu tiada sekejap
yang datang lalu lenyap
tetapi hadirkan impian
menggenggam berjuta angan

Selaksa pelangi hiasi angkasa
walau tiada hujan yang menerpa
sebab pelangi itu bersemayam di hati
menyambut hari yang fitri



Catatan: Puisi kilat usang yang kuketik di depan layar komputer adik sepupu, di kota dingin Malang (1 Oktober, 2008).

Selasa, 06 September 2011

Di Arung Jeram Cinta

Siapa yang dapat menghalangi niat seorang ibu? Apalagi demi buah hatinya? Begitu pula Herman dan Meyra, keduanya tak sanggup mencegah keinginan ibu mereka yang ingin menemui Danar untuk melabraknya, tentu saja. Ternyata Dewi tak mau tahu bahwa peristiwa itu sudah berlalu berbulan-bulan, baginya laki-laki semacam Danar harus diberi pelajaran. "Antarkan, Ibu, "ujar Dewi meraih tas tangannya dari sofa ruang tamu. "Bu, Meyra sudah tidak apa-apa, "sela Meyra mengikuti ibunya. "Meyra sudah melupakan peristiwa itu."
Dewi menatap putrinya tajam. "Kamu bukan melupakan, tapi berusaha melupakan, "tukasnya. "Dan Ibu tahu, kau belum berhasil."
Melihat adiknya tertunduk, Herman tak sampai hati. "Bu, tolong jangan ungkit peristiwa itu lagi."
Dewi melotot. "Kau belum punya anak perempuan, Herman! Kalau sudah, kau akan tahu bagaimana rasanya kalau anak perempuanmu...,"wanita empat puluh delapan tahun itu terdiam. "Maafkan Ibu, Herman, Meyra... tolong antarkan Ibu ke rumah laki-laki bejat itu."
Herman mengerti bahwa ibunya tak mungkin dibantah lagi.


Perusahaan yang dikelola Rafa sejak awal kuliah hingga saat ini bergerak di bidang jasa. Gadis yang lincah itu sangat prihatin dengan kasus kekerasan terhadap wanita dan anak-anak. Dengan modal nekat, ia berusaha mencari psikolog dan psikiater yang bersedia membantunya.
"Ayah, Rafa tidak cari keuntungan, "ujarnya saat Cakra mengingatkan bahwa usaha semacam itu lebih banyak risikonya dibanding hasil yang diperoleh.
"Kau harus tetap waspada, Rafa,"sahut Cakra serius."Ayah tidak ingin kamu bertindak gegabah."
"Rafa mengerti, Ayah." Sekarang perusahaan milik Rafa telah memiliki tiga cabang yang didirikan di kota-kota kecil, hal itu untuk memudahkan para pelanggan yang bermukim di kota kecil jika ingin menggunakan jasa perusahaan tersebut.

"Silakan duduk, Pak, "Rafa menunjuk kursi di hadapannya yang dibatasi dengan meja presiden direktur. Pak Satpam menurut dengan laku yang kikuk. "Sepertinya Bapak belum lama bekerja di sini, "Rafa membuka percakapan. "Berapa lama?"
"Satu bulan, Bu...."
Rafa mengangguk-angguk. Pantas, pikirnya. Sebulan memang aku tidak sempat ke sini karena mengurus tetek bengek kelulusan.

Senin, 05 September 2011

Langit di Awal Syawal

Langit tak pernah sebiru ini
berselimut kemilau bak intan baiduri
Angkasa belum pernah cerah begini
berpendar cahaya berwarna-warni

Apakah kalbumu secerah langit biru
Adakah hatimu seluas angkasa tanpa awan kelabu
Sebab alam semesta tengah bersuka ria
menyambut tiba hari sang juara

Pasrahkan diri ke pangkuan Illahi
alunkan senandung dari bait kitab suci
Jagad raya kan iringi
luruh jiwamu dalam kasih tak bertepi