Sabtu, 09 April 2011

Melodi Rinduku

Masih lekat benar
bayang riang tergambar
menari-nari sampaikan rindu
akan hangat sentuhmu

Segores luka kecilku
torehkan pedih bagimu
sekilas senyum yang kuhadirkan
datanglah di hatimu kebahagiaan

Ingin kusinggah
di taman hatimu yang indah
berharap kan saksikan
semarak bunga bermekaran

Izinkan aku memetik
sekuntum yang masih putik
dari tangkai lembut melambai
berkisah kilau taburan damba gemulai

Kini, biarkan aku terbang
berkelana di negeri bayang-bayang
mencari harum semerbak mewangi
yang menghiasi ambang surgawi

Kamis, 07 April 2011

Di Arung Jeram Cinta

Sebenarnya sudah berminggu-minggu Meyra gelisah. Ada sesuatu yang dipendamnya. Tentu saja ia ingin sekali mengungkapkan kegalauannya itu kepada kakak atau kakak iparnya tetapi ia harus berpikir seribu kali untuk melakukannya. Gadis itu menyadari benar bahwa ia akan menyampaikan sesuatu yang dapat saja menimbulkan korban. Bagaimana kalau kakaknya mendapat serangan jantung mendadak? Ia tidak menginginkan kakak iparnya menjadi janda dan ketiga kemenakan menjadi yatim dengan tragis. Tidak, ia tidak mau membuat kakaknya bersedih. Biarlah, ia menanggung semuanya seorang diri. Tidak seorang pun boleh tahu yang telah menimpanya, apalagi kakaknya.
Gadis itu beranjak dari meja belajarnya dengan malas. Pukul 08.00, waktunya ia pergi ke kampus.


Herman mengerutkan kening. Jelas, pria itu tidak memercayai pengakuan dosa laki-laki yang duduk di hadapannya ini. Tetapi, tampaknya Danar tidak main-main, ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Ma...maksudmu kamu...."
"Maafkan aku, aku khilaf...."
Kedua tangan Herman mengepal gemetar menahan amarah yang membara.
"Aku tahu kau marah sekali kepadaku."
"Ya, aku bahkan ingin kau segera membusuk di neraka!"seru Herman menuding Danar dengan geram. "Aku tidak sangka sedikitpun kamu tega melakukannya!"
Danar tidak membalas tatapan tajam dan tudingan temannya. Ia memilih diam karena tahu bahwa ia memang bersalah.

Rabu, 06 April 2011

Di Arung Jeram Cinta

Mengingat awal masa pernikahan tentu mengesankan bagi setiap yang pernah mengalaminya. Dengan catatan, pernikahan itu berlangsung atas kemauan kedua belah pihak dan kehidupan mereka selanjutnya cukup atau bahkan sangat bahagia. Lihat saja, wajah orang-orang itu. Memang tidak jarang ada rona memerah terpancar di raut muka mereka tetapi sinar kebahagiaan pun tampak jelas dan tidak bisa ditutup-tutupi.

Tetapi tidak demikian halnya dengan Nada. Bukannya bahagia, dia malah malu bercampur jengkel setiap teringat peristiwa yang hanya sekali terjadi pada awal pernikahan itu.Wanita itu mengakui Tantra suami yang begitu penyabar. Bayangkan saja ia tidak pernah marah karena istrinya selalu menunda-nunda. Bukannya berpura-pura, Nada memang sangat trauma dengan sikap mantan tunangannya yang sering melecehkan dirinya.
Hanya saja wanita itu lupa dengan satu sifat menonjol suaminya yang lumayan menjengkelkan, yaitu gemar melakukan sesuatu tanpa permisi yang membuat sang Istri terkejut, lalu akhirnya gondok berat.

Nada teringat keesokan paginya ia menyiapkan sarapan pagi dengan wajah keruh. Ia benar-benar jengkel dengan yang dilakukan Tantra semalam.
"Kalau cemberut tambah cantik, kok, "Tantra malah cengar-cengir. Ia sudah duduk manis menghadapi nasi dan sayur lodeh di meja makan.
Pakai coba-coba merayu segala, gerutu Nada dalam hati. Ia meletakkan sepiring telur dadar dan teri putih goreng. Tak lupa semangkuk kecil sambal terasi telah menunggu untuk dijadikan teman bersantap.
"Mbak, masih marah, ya?" tanya Tantra menerima piring yang disodorkan istrinya.
Nada diam saja. Pakai tanya lagi. Sudah gak pakai permisi, eh lagaknya itu santai sekali. Tapi...kenapa aku jadi marah, ya? Kan aku juga diam saja? Ah, sudahlah, bingung.
Melihat istrinya diam saja, Tantra tersenyum. "Ya sudah, aku minta maaf. Aku janji yang berikutnya kita ada kesepakatan."
"Aku tidak percaya karena suamiku punya hobi slonong boy."
Tantra memasang tampang iseng. "Kalau begitu, nanti malam kita ulangi lagi. Aku janji pakai permisi dulu."
Nada mengerutkan kening. Ia mencoba mencerna ucapan suaminya barusan. Tunggu, apa yang mau diulangi? Rasanya kurang jelas. "Tunggu, apanya yang mau diulangi?"tanyanya mencari ketegasan.
"Yang tadi malam..., "Tantra tidak sempat menyelesaikan jawabannya karena Nada sudah mencubit lengannya tanpa ampun. Tetapi bibir istrinya menyembunyikan senyum tertahan.

Ah, Nada tersentak dari lamunan. Ia memperhatikan Tantra yang sibuk dengan laptopnya. Suaminya itu memang tipe pekerja yang workholic. Sudah sampai di rumah masih saja sibuk dengan pekerjaan di kantor.
"Kok, ditutup?" tanya Nada melihat suaminya mentup laptopnya.
"Aku baru ingat, "wajah Tantra tampak serius.
"Ingat apa?"
"Foto-foto itu."
"Foto-foto yang mana?"
"Foto-foto kita waktu mau pergi ke rumah Pak Wiryo?"
"Oh, "Nada baru teringat. "Iya, aku ingat sekarang, lalu?"
"Kita lanjutkan."
Nada tercengang. Suaminya ini memang ada-ada saja. Yang benar saja, masa malam-malam dia harus berdandan? Ini kan waktunya orang tidur? Ia menoleh ke arah suaminya hendak menyatakan penolakan, tetapi ia melihat dari sorot mata itu menandakan pantang ditolak.
Nada mengalah. Ia turun dari tempat tidur dan menuju lemari pakaian.


"Lisa, maafkan aku, "ujar Danar menggenggam tangan Lisa lembut. Ia sangat bersyukur keadaan istrinya membaik pagi itu.
"Aku senang Mas menjengukku."
"Iya, aku juga senang kau semakin sehat."
"Kau harus makan, "sela Randy mengangkat sesendok nasi sup makaroni.
"Biar aku saja, "ujar Danar menyambut sendok itu. "Biar aku yang menyuapi istriku."
"Baiklah, "Randy tersenyum.

Senin, 04 April 2011

Cahaya Pelangi

Ada ruang di jiwaku
Yang memancarkan cahaya pelangi
Meliuk-liuk menelusuri
Labirin lorong mentari berlagu

Dalam anganku setiap waktu
Pijaran tujuh rupa mewarnai
Menari-nari lincah namun gemulai
Mengintai asa yang menderu

Tarian jemari pelangiku
Lincah menyentuh jauh ke dasar hati
Mengusap-usapkannya di dinding nurani
Seribu lukisan mengembara di kalbu

Minggu, 03 April 2011

Di Arung Jeram Cinta

Operasi berhasil. Tetapi, Lisa belum dapat ditemui karena kondisinya masih belum stabil. Wanita itu masih belum melewati masa kritisnya.
Pagi itu Randy terduduk lemas di bangku tunggu. Tidak henti-hentinya ia menyesali diri. Bukankah lebih baik seandainya waktu itu dia lebih berusaha membujuk adiknya? Lisa memang keras kepala dan selalu saja membela suaminya meskipun jelas-jelas laki-laki itu telah membuatnya menderita.
"Tunggu, "Randy mengangkat dagu adiknya. Ia mengamati luka koyak di bibir wanita itu dengan pandangan menyelidik. "Kalau tidak ada apa-apa, lalu kenapa bibirmu sampai seperti ini?"
Nada mengalihkan bola matanya ke lantai beranda, berusaha menghindari pandangan kakaknya. "Tergigit, "jawabnya lirih.
"Hah, "Randy mendengus sinis. "Kaupikir aku percaya? Apa saja yang dilakukan Danar sehari-hari? Menghajarmu? Aku yakin sebentar lagi dia tidak akan ragu-ragu mencabik-cabik tubuhmu!"
"Tidak!"seru Lisa. "Mas Danar memang pemarah tapi sebenarnya dia baik!"
"Baik? Apanya yang baik, Lisa?! Menjadikan istri partner tinju, itu yang kamu sebut baik?!"
"Mas, suami istri bertengkar itu sudah biasa."
"Ya, tapi bukan berarti suami lantas jadi preman."
Pertengkaran itu terjadi seminggu sebelum Lisa memutuskan untuk bersembunyi. Randy tak kunjung mengerti jalan pikiran adiknya. Lisa lebih memilih risiko bagi diri sendiri daripada mencari jalan aman.

"Randy...."
Randy menoleh. Danar duduk di sampingnya.
"Maafkan aku, Ran....Aku benar-benar menyesal."
Randy tak menyahut. Ia masih malas berbicara dengan adik iparnya ini.
"Aku sering sekali menyakitinya, "ujar Danar lirih. "Padahal dia selalu berusaha menyenangkan hatiku."
Randy menatap adik iparnya tajam. "Dengarkan aku baik-baik, Danar, "desisnya. Aku tidak berani menjamin istrimu akan memaafkanmu. Dan satu hal lagi, selama ini dia memang tidak pernah membalas kekejaman yang telah kamu lakukan kepadanya. Bukan karena dia tidak bisa, tapi karena dia tidak mau. Kamu tahu sebabnya? Karena kau adalah suaminya, dan dia sangat mencintaimu."
Danar membuka mulut, hendak menjawab. Tetapi, kakak iparnya mengangkat sebelah tangan memberi tanda bahwa ia tidak mau melanjutkan pembicaraan. Danar terdiam.

Sabtu, 02 April 2011

Di Arung Jeram Cinta

Ara wanita anggun namun cekatan. Beberapa tahun lagi usianya genap empat puluh. Cakra benar-benar prihatin akan nasib adiknya yang satu ini. Bagaimana tidak, dari enam bersaudara, empat sudah menikah, tinggal Ara dan si Bungsu yang baru diwisuda dua bulan yang lalu. Sebagai kakak sulung, laki-laki pula, ia bertanggung jawab atas adik-adiknya, terutama yang perempuan dan belum berkeluarga.
Sudah dua hari Ara bermalam di rumah kakaknya. Maklum sudah hampir setahun tidak bertemu, tentu saja kakak beradik itu ingin melepas rindu.
"Mas, ini roti kukus buatanku, "ujar Ara meletakkan sepiring roti kukus yang masih hangat di meja ruang tengah.
"Dik Ara ternyata jago masak, "sela Afna yang mengikuti di belakangnya. Ia membawa nampan berisi tiga cangkir kopi susu panas.
"Wah, kemajuan kalau begitu. Dulu bisanya cuma buat telur mata sapi. Itu juga sering gosong, "Cakra menimpali dengan iseng.
Ara pura-pura membelalak marah. Afna tersenyum simpul.


Pagi, pukul 07.00 di depan kamar.
Tantra terdiam. Ia memaklumi istrinya yang sedang marah.
"Kau tidak pernah menceritakannya kepadaku."
"Apakah itu perlu?"
Nada menatap suaminya tajam. "Jadi kauanggap itu tidak perlu?"
"Apa yang harus kuceritakan? Tentang aku yang nyaris berciuman dengan seorang gadis, sementara istriku tercinta menunggu di rumah dengan setia? Begitu?"
"Maaf..., "suara Nada melunak.
"Mbak, aku tak ingin menyakiti hatimu."
Nada mendongak berusaha mengamati wajah suaminya dengan saksama. Sampai detik ini ia masih tak habis pikir mengapa Tantra lebih memilih dirinya dibanding puluhan gadis cantik dan seksi yang mengantri untuk mendapatkan cintanya. Jujur, tak jarang pula ada rasa takut menyelimuti hatinya.
"Meyra cantik."
Tantra terkejut. Apa maksud istrinya berkata seperti itu?
"Dia juga baik, "Nada melanjutkan ucapannya. "Aku tidak keberatan kalau dia jadi teman kita dan tinggal bersama ki...."
"Cukup!"
Nada terlonjak. Terkejut bukan kepalang dengan hardikan suaminya yang menggelegar. Tubuhnya yang mungil nyaris terlempar.
Tantra meraih istrinya dengan perasaan bersalah. "Maafkan aku, Mbak."
"Mas, kalau...."
Tantra meletakkan telunjuknya di bibir istrinya. Wanita itu mengurungkan niatnya untuk berkata-kata lagi.

Jumat, 01 April 2011

Di Arung Jeram Cinta

Kejutan. Herman datang bersama istri dan adiknya. Lebih mengejutkan lagi, Meyra membuat pengakuan. Pengakuan yang sangat mengejutkan Nada.
Wanita yang sedang mengandung tujuh bulan itu hanya bisa menahan napas saat gadis cantik berkulit kuning langsat menceritakan peristiwa malam itu. Ia bertanya-tanya dalam hati apakah suaminya telah melakukan hal yang begitu jauh? Seandainya benar, rasanya hal itu tidak terlalu mengherankan. Mana ada suami muda belia bisa bertahan setia kalau mendapat istri yang beberapa tahun lagi akan keriput, sementara sang suami masih tampan dan gagah?
"Mbak sungguh beruntung, "ujar Meyra setelah diam beberapa saat.
"Maksud Dik Meyra?"
"Suami Mbak begitu mencintaimu dan sangat setia."
Nada mengerutkan kening tak mengerti.
Herman mendehem. "Sebenarnya kedatangan kami memang ingin menjelaskan duduk perkara yang saya yakin pernah mengusik kalian, "laki-laki itu berpaling ke arah Asri, istrinya.
"Benar, Mbak Nada, "sahutnya. "Beberapa hari ini Dik Meyra sangat gelisah. Ia merasa bersalah telah ikut andil dalam masalah yang begitu memalukan."
Nada masih mendengarkan.


Tantra terpaku. Ia hanya balas menatap.
"Maukah kaumaafkan aku?"Danar mengulangi pertanyaannya. Kali ini dengan nada penuh permohonan.
"Danar, "Tantra menatap dalam-dalam pria yang berusia tiga belas tahun lebih tua daripadanya itu. "Sejak dulu aku tak pernah menaruh dendam kepadamu. Tapi...."
"Tapi apa?"
"Aku tak tahu bagaimana dengan istriku. Maaf, aku tak bisa menjamin kau akan mendapatkannya, "tanpa menunggu jawaban Danar, pemuda itu bergegas meninggalkan ruang tunggu keluarga pasien.
Danar terpaku. Ia menyadari bahwa sebenarnya pemuda itu sulit memaafkan dirinya.