Randy datang ke rumah sakit dengan langkah membabi buta. Kalau saja Tantra dan Banu tidak mencegah pasti akan terjadi keributan di sana dan Danar yang sudah babak belur itu akan semakin hancur.
"Duduklah, Mas, "ujar Banu sambil menunjuk bangku panjang. "Lebih baik kita berdoa sambil menunggu tim dokter yang sedang berusaha."
Tanpa berkata sepatah pun, Randy menurut. Tetapi, matanya masih menatap tajam ke arah Danar yang bersandar lunglai di dinding. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan adikku, aku bersumpah akan mencincangmu hidup-hidup!
Sementara itu Danar masih merasa gemetar. Sedikit pun ia tak menyangka sekarang ini Lisa sedang bertarung nyawa. Dan semua itu demi membela dirinya! Barulah laki-laki itu menyadari betapa mulia hati istrinya. Entah mengapa harus dengan cara seperti ini. Entah mengapa harus dengan cara seperti ini untuk mengetahui bahwa tidak ada dendam secuil pun di hati istrinya setelah perlakuan suaminya yang sangat sering menyakitinya.
Randy menerima sekotak nasi campur dan satu botol air mineral yang disodorkan Tantra. "Terima kasih, "katanya.
Tantra mengangguk.
"Tantra, sebaiknya kamu pulang, "Banu mengingatkan. "Sudah pagi, kasihan Mbak Nada. Kalau ada apa-apa, kau akan tidak sanggup memaafkan dirimu."
"Ya, kau benar. Baiklah, aku pulang, setelah berkata demikian, pemuda itu menoleh ke arah Randy yang tengah memandangi kotak nasinya. "Mas, aku pulang dulu."
Randy tersentak. Ia mendongak. "Ya, Tantra. Terima kasih."
"Sama-sama, "Tantra tersenyum. "Kau harus makan, Mas. Lisa pasti juga tidak senang melihatmu jadi kurus kering."
"Aku akan mencoba."
Ketika Tantra akan membalikkan tubuh, tiba-tiba seseorang mengiringi langkahnya.
"Tantra...."
Tantra menghentikan langkah seraya menoleh. Ternyata Danar.
"Tantra, maukah kamu maafkan aku?"
Selasa, 29 Maret 2011
Senin, 28 Maret 2011
Di Arung Jeram Cinta
Hidup ini penuh misteri. Begitulah pendapat Randy setelah mendengar keputusan Lisa. Betapa pemberani wanita selembut adiknya yang memutuskan untuk tetap bersama suaminya sampai batas yang tidak sanggup dihadapinya lagi. Meskipun tidak setuju, tetapi pria itu tetap menghargai keputusan si Adik.
Malam itu juga seusai melepas kepulangan kakaknya, Lisa bergegas menuju dapur.
"Mau ke mana kamu?"
"Aku mau menyiapkan makan malam, "Lisa membalikkan tubuh.
"Aku tidak lapar!"Danar yang tadi tampak bermanis-manis sekarang menjelma kembali menjadi Dasamuka. "Kaupikir semuanya akan selesai semudah ini?!"
Lisa terdiam.
"Kau harus menerima hukuman!"
Ternyata Danar hanya berpura-pura karena segan terhadap kakak iparnya. Sekarang ia sedang mengelus-elus ikat pinggangnya.
"Kopi buatan Ibu enak sekali, "puji Pak Wiryo sambil meletakkan cangkir yang telah kosong ke atas meja ruang tengah.
Istrinya tersenyum tanda berterima kasih. Baru sekali ini suami memujinya.
"Bapak belajar banyak dari pasangan muda itu, Bu."
"Ibu juga, Pak. Ibu malah malu sempat mengata-ngatai Jeng Nada. Waktu itu suaminya juga sempat mendengar dan kelihatan marah, tapi Jeng Nada membujuk, jadi tenang lagi."
"Mas Tantra memang kelihatan sangat menyayangi istrinya. Bapak jadi heran padahal Jeng Nada itu kan wajahnya biasa-biasa saja dan sepertinya cocok jadi kakaknya."
"Memang cocoknya jadi kakak, orang Jeng Nada lebih tua tujuh tahun."
"Oh ya? Pak Wiryo bengong. "Anak sekarang seleranya memang aneh-aneh, "Laki-laki setengah abad itu menggeleng-gelengkan kepala. Tapi, Bapak heran juga kenapa malah mereka dulu yang minta maaf, ya?"
"Sebenarnya Ibu juga malu, Pak."
"Syukurlah mereka lapang dada."
Suasana hening. Tetapi, dalam hati Pak Wiryo berjanji detik itu juga meninggalkan semua kebiasaan buruknya. Ada contoh di depan matanya. Apalagi saat melihat foto istrinya semasa gadis dan pernikahan mereka yang tergantung di dinding, barulah laki-laki itu menyadari betapa cantik wajah istrinya. Seharusnya ia bersyukur.
Jam berapa sekarang? Lisa terbangun dari tidurnya yang samasekali tidak nyenyak. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Ternyata ia kembali harus mengalami peristiwa-peristiwa yang dulu. Bilur-bilur di sekujur tubuhnya terasa amat nyeri.
Pukul dua dini hari. Biasanya Lisa terbangun setiap pukul tiga. Ada apa ini? Wanita mungil itu membuka pintu kamar.
Lisa terkejut sekaligus ketakutan. Dilihatnya tiga orang bertopeng sedang menghajar Danar sampai jungkir balik. Danar yang sebenarnya tidak pandai bela diri tentu saja tidak bisa membalas.
"Masih bungkam juga?!"
"Kita beri dia pelajaran, Bos!"
"Benar, Bos! Biar tahu rasa!"
"Kalian benar!"
Danar yang tertelungkup itu mendongak. Ia dapat melihat mata si kepala perampok berkilat-kilat penuh nafsu ingin mengulitinya hidup-hidup. Benar saja sebilah parang dari balik jaketnya tiba-tiba berkelebat.
"Jangaan...aaaaa!!!"
Kepala perampok terkejut. Begitu pula kedua anak buahnya. Danar apalagi. Kepala perampok melihat parangnya ternoda oleh darah. Terbelalak mereka melihat seorang wanita terkapar di lantai bersimbah darah.
"Lari!"
Danar menoleh kepada Lisa yang sedang melambai lemah ke arahnya. Bergegas ia mendekati istrinya sambil mengusap pipi. Ada air mata di sana.
Malam itu juga seusai melepas kepulangan kakaknya, Lisa bergegas menuju dapur.
"Mau ke mana kamu?"
"Aku mau menyiapkan makan malam, "Lisa membalikkan tubuh.
"Aku tidak lapar!"Danar yang tadi tampak bermanis-manis sekarang menjelma kembali menjadi Dasamuka. "Kaupikir semuanya akan selesai semudah ini?!"
Lisa terdiam.
"Kau harus menerima hukuman!"
Ternyata Danar hanya berpura-pura karena segan terhadap kakak iparnya. Sekarang ia sedang mengelus-elus ikat pinggangnya.
"Kopi buatan Ibu enak sekali, "puji Pak Wiryo sambil meletakkan cangkir yang telah kosong ke atas meja ruang tengah.
Istrinya tersenyum tanda berterima kasih. Baru sekali ini suami memujinya.
"Bapak belajar banyak dari pasangan muda itu, Bu."
"Ibu juga, Pak. Ibu malah malu sempat mengata-ngatai Jeng Nada. Waktu itu suaminya juga sempat mendengar dan kelihatan marah, tapi Jeng Nada membujuk, jadi tenang lagi."
"Mas Tantra memang kelihatan sangat menyayangi istrinya. Bapak jadi heran padahal Jeng Nada itu kan wajahnya biasa-biasa saja dan sepertinya cocok jadi kakaknya."
"Memang cocoknya jadi kakak, orang Jeng Nada lebih tua tujuh tahun."
"Oh ya? Pak Wiryo bengong. "Anak sekarang seleranya memang aneh-aneh, "Laki-laki setengah abad itu menggeleng-gelengkan kepala. Tapi, Bapak heran juga kenapa malah mereka dulu yang minta maaf, ya?"
"Sebenarnya Ibu juga malu, Pak."
"Syukurlah mereka lapang dada."
Suasana hening. Tetapi, dalam hati Pak Wiryo berjanji detik itu juga meninggalkan semua kebiasaan buruknya. Ada contoh di depan matanya. Apalagi saat melihat foto istrinya semasa gadis dan pernikahan mereka yang tergantung di dinding, barulah laki-laki itu menyadari betapa cantik wajah istrinya. Seharusnya ia bersyukur.
Jam berapa sekarang? Lisa terbangun dari tidurnya yang samasekali tidak nyenyak. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Ternyata ia kembali harus mengalami peristiwa-peristiwa yang dulu. Bilur-bilur di sekujur tubuhnya terasa amat nyeri.
Pukul dua dini hari. Biasanya Lisa terbangun setiap pukul tiga. Ada apa ini? Wanita mungil itu membuka pintu kamar.
Lisa terkejut sekaligus ketakutan. Dilihatnya tiga orang bertopeng sedang menghajar Danar sampai jungkir balik. Danar yang sebenarnya tidak pandai bela diri tentu saja tidak bisa membalas.
"Masih bungkam juga?!"
"Kita beri dia pelajaran, Bos!"
"Benar, Bos! Biar tahu rasa!"
"Kalian benar!"
Danar yang tertelungkup itu mendongak. Ia dapat melihat mata si kepala perampok berkilat-kilat penuh nafsu ingin mengulitinya hidup-hidup. Benar saja sebilah parang dari balik jaketnya tiba-tiba berkelebat.
"Jangaan...aaaaa!!!"
Kepala perampok terkejut. Begitu pula kedua anak buahnya. Danar apalagi. Kepala perampok melihat parangnya ternoda oleh darah. Terbelalak mereka melihat seorang wanita terkapar di lantai bersimbah darah.
"Lari!"
Danar menoleh kepada Lisa yang sedang melambai lemah ke arahnya. Bergegas ia mendekati istrinya sambil mengusap pipi. Ada air mata di sana.
Sabtu, 26 Maret 2011
Di Arung Jeram
Tetapi, bukan Danar namanya kalau tidak berani menerima tantangan. Menurutnya bukan laki-laki namanya kalau menolak tantangan, apalagi penantangnya cuma perempuan, dan perempuan yang hanya bisa menangis dan berteriak minta tolong kalau dipukul.
"Berani kau menantangku, hah?!"serunya dengan bengis. Tangannya terulur hendak menyeret Lisa. Tetapi, sebelum niatnya itu terlaksana....
"Tidak ada yang boleh menyakiti adikku!"
Bukan main terkejut Danar. Tangannya urung terulur. Begitu pula Lisa, ia pun tak kalah tercengang. "Mas Randy?"
Pria yang dipanggil Mas Randy itu tersenyum penuh kasih. "Iya, aku Randy, "katanya.
Tanpa memperdulikan suaminya, Lisa langsung memeluk pria gagah itu dengan perasaan rindu dan lega berbaur satu.
"Mas, kenapa baru pulang?"
"Maafkan, Mas terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak sempat memperhatikan adikku semata wayang ini, "Randy memeluk pundak adiknya. Kemudian ia menatap tajam ke arah Danar, adik iparnya.
Danar meneguk ludah yang tiba-tiba terasa pahit.
Tantra semakin mengagumi Nada. Pagi ini istrinya itu merencanakan untuk menemui Bu Wiryo, tetangga yang sudah mengata-ngatai dirinya tempo hari.
"Kamu yakin?"Tantra memperhatikan istrinya yang tengah memasang peniti hias pada jilbabnya.
Nada mengangguk. "Kenapa? Mas tidak setuju?"
"Bukan begitu, Mbak. Tapi aku tidak mau mendengarmu dihina seperti itu lagi."
Nada menatap suaminya sambil tersenyum lembut. "Sebenarnya bukan itu maksudnya. Tapi, dia tak tahu harus bereaksi bagaimana mendengar kata-kataku. Jadi, rasanya aku juga salah...walaupun tidak sengaja aku tetap menyinggung perasaannya."
Hening. Tantra hanya menatap istrinya lekat-lekat tanpa kata.
"Bisa kita berangkat sekarang?"
Tetanggaku itu memang buta. Istri secantik ini dia katakan jelek? Apanya yang jelek? Rasanya sudah waktunya ia memeriksakan matanya!
"Mas?"Nada melambaikan tangannya di wajah suaminya.
Tantra tersentak.
Nada tersenyum. "Pasti melamun."
"Tidak, "Tantra berusaha mengelak. "Aku cuma berpikir...."
"Berpikir? Tentang apa?"
"Pagi-pagi begini, melihatmu begini cantik, rasanya aku ingin...."
"Ingin apa?"Nada penasaran. Tiba-tiba ia teringat kalau belum membuatkan suaminya minum. Teh atau ...."
"Bukan minuman."
"Lalu?"
Tantra mengulum senyum. Melihat senyuman itu, Nada jadi curiga. Bisa-bisa rencana pagi ini tertunda. "Mas mau apa?"
Sehelai kertas itu masih disimpan baik-baik oleh Meyra. Isinya mengingatkan dirinya bagaimana seharusnya menjadi wanita yang dihormati pria. Betapa Meyra malu karena yang mengingatkan hal itu justru lawan jenisnya dan orang lain pula!
Gadis itu duduk di depan meja belajar sambil memegang kertas keramat itu. Alangkah beruntung wanita yang menjadi istrinya, siapa pun wanita itu.
Merah padam seketika wajah Nada. Sementara tanpa perduli Tantra menatapnya sambil tersenyum menggoda.
"Sudah, ah. Nanti kesiangan."
"Boleh, tapi bersambung, "sahut Tantra sambil melangkah keluar kamar.
Nada menahan senyum. Jadi yang tadi itu belum selesai? Ah, ada-ada saja! Tidak jarang Nada berpikir Tantra memang terlalu muda untuknya. Wanita itu mematut di depan cermin untuk memastikan dirinya telah rapi.
"Berani kau menantangku, hah?!"serunya dengan bengis. Tangannya terulur hendak menyeret Lisa. Tetapi, sebelum niatnya itu terlaksana....
"Tidak ada yang boleh menyakiti adikku!"
Bukan main terkejut Danar. Tangannya urung terulur. Begitu pula Lisa, ia pun tak kalah tercengang. "Mas Randy?"
Pria yang dipanggil Mas Randy itu tersenyum penuh kasih. "Iya, aku Randy, "katanya.
Tanpa memperdulikan suaminya, Lisa langsung memeluk pria gagah itu dengan perasaan rindu dan lega berbaur satu.
"Mas, kenapa baru pulang?"
"Maafkan, Mas terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak sempat memperhatikan adikku semata wayang ini, "Randy memeluk pundak adiknya. Kemudian ia menatap tajam ke arah Danar, adik iparnya.
Danar meneguk ludah yang tiba-tiba terasa pahit.
Tantra semakin mengagumi Nada. Pagi ini istrinya itu merencanakan untuk menemui Bu Wiryo, tetangga yang sudah mengata-ngatai dirinya tempo hari.
"Kamu yakin?"Tantra memperhatikan istrinya yang tengah memasang peniti hias pada jilbabnya.
Nada mengangguk. "Kenapa? Mas tidak setuju?"
"Bukan begitu, Mbak. Tapi aku tidak mau mendengarmu dihina seperti itu lagi."
Nada menatap suaminya sambil tersenyum lembut. "Sebenarnya bukan itu maksudnya. Tapi, dia tak tahu harus bereaksi bagaimana mendengar kata-kataku. Jadi, rasanya aku juga salah...walaupun tidak sengaja aku tetap menyinggung perasaannya."
Hening. Tantra hanya menatap istrinya lekat-lekat tanpa kata.
"Bisa kita berangkat sekarang?"
Tetanggaku itu memang buta. Istri secantik ini dia katakan jelek? Apanya yang jelek? Rasanya sudah waktunya ia memeriksakan matanya!
"Mas?"Nada melambaikan tangannya di wajah suaminya.
Tantra tersentak.
Nada tersenyum. "Pasti melamun."
"Tidak, "Tantra berusaha mengelak. "Aku cuma berpikir...."
"Berpikir? Tentang apa?"
"Pagi-pagi begini, melihatmu begini cantik, rasanya aku ingin...."
"Ingin apa?"Nada penasaran. Tiba-tiba ia teringat kalau belum membuatkan suaminya minum. Teh atau ...."
"Bukan minuman."
"Lalu?"
Tantra mengulum senyum. Melihat senyuman itu, Nada jadi curiga. Bisa-bisa rencana pagi ini tertunda. "Mas mau apa?"
Sehelai kertas itu masih disimpan baik-baik oleh Meyra. Isinya mengingatkan dirinya bagaimana seharusnya menjadi wanita yang dihormati pria. Betapa Meyra malu karena yang mengingatkan hal itu justru lawan jenisnya dan orang lain pula!
Gadis itu duduk di depan meja belajar sambil memegang kertas keramat itu. Alangkah beruntung wanita yang menjadi istrinya, siapa pun wanita itu.
Merah padam seketika wajah Nada. Sementara tanpa perduli Tantra menatapnya sambil tersenyum menggoda.
"Sudah, ah. Nanti kesiangan."
"Boleh, tapi bersambung, "sahut Tantra sambil melangkah keluar kamar.
Nada menahan senyum. Jadi yang tadi itu belum selesai? Ah, ada-ada saja! Tidak jarang Nada berpikir Tantra memang terlalu muda untuknya. Wanita itu mematut di depan cermin untuk memastikan dirinya telah rapi.
Kamis, 24 Maret 2011
Di Arung Jeram Cinta
Kalau disuruh memilih, tidak ada wanita yang ingin menjadi perawan tua. Tetapi, sering orang salah menduga dan mengira perawan tua karena suka memilih-milih pasangan. Banyak orang yang menjatuhkan vonis begitu saja tanpa bertanya lebih sebab-sebabnya. Bahkan bukan hanya orang lain, orang tua dan kerabat pun kadang-kadang berpendapat demikian.
Entah bagaimana, tiba-tiba Tantra memutuskan mampir ke tempat kos Tante Ara sepulang kerja. Tante Ara adalah adik kandung Ayah. Beliau ahli dekorasi rumah.
Tantra sangat menyayangi bibinya itu walaupun sejak pernikahannya belum berjumpa karena beliau sangat sibuk dan nomaden.
Sore itu Tante Ara tampak anggun dengan jilbab putih tulang, blouse bermotif bunga beraneka warna dan dipadu dengan rok hitam polos. Menurut Tantra, bibinya ini semakin cantik saja. Sering ia tidak habis pikir mengapa belum pernah sekali pun melihat Tante Ara dekat dengan pria.
Betapa senangnya Tante Ara melihat kedatangan kemenakan tercinta. Ia semakin terheran-heran setelah mengetahui bahwa pemuda itu beberapa bulan lagi akan menjadi ayah. "Wah, kalah Tante, "ucapnya sambil meletakkan secangkir teh hangat.
"Ah, biasa saja, Tante."
"Kok, sendirian? Istri tidak diajak?"
"Saya dari kantor, Tante, langsung ke sini."
"Oh, begitu. Eh, dari mana kamu tahu alamat Tante?"
"Dari ayah. Sebenarnya sudah lama, tapi baru sekarang sempat."
Setelah berpikir panjang, akhirnya Lisa memutuskan menampakkan diri. Ia keluar dari gua persembunyiannya. Tetapi, Lisa yang sekarang bukanlah Lisa yang dulu. Lisa yang sekarang sudah menjelma mandiri dan percaya diri.
Justru Danar yang shock, tidak siap dengan kenyataan yang terjadi. Ternyata Lisa tidak lagi gentar dengan kekasaran bahkan ancamannya.
"Jadi, ke mana saja kamu selama ini?"tanya Danar melayangkan tangannya ke wajah Lisa. Ia terkejut karena istrinya itu tidak menangis, bahkan tampak kesakitan pun tidak.
"Apakah kaumencariku? Sepertinya kamu malah kegirangan."
"Sialan! Apa kamu sudah lupa bagaimana aku menghajarmu dulu?!"
Lisa masih bergeming.
"Kamu akan merasakan sabetanku ini!"dengan kasar Danar melepas ikat pinggangnya.
Yang terjadi sungguh di luar dugaan, karena istrinya itu justru mendekat.
"Apa hanya seperti ini keberanianmu, Suamiku? Hanya berani memukuli istri sendiri, yang seharusnya kaulindungi. Tapi kalau itu maumu, silakan! Pukul saja aku! Toh, aku sudah terbiasa!"
Danar terpaku. Lidahnya tiba-tiba terasa kelu.
Entah bagaimana, tiba-tiba Tantra memutuskan mampir ke tempat kos Tante Ara sepulang kerja. Tante Ara adalah adik kandung Ayah. Beliau ahli dekorasi rumah.
Tantra sangat menyayangi bibinya itu walaupun sejak pernikahannya belum berjumpa karena beliau sangat sibuk dan nomaden.
Sore itu Tante Ara tampak anggun dengan jilbab putih tulang, blouse bermotif bunga beraneka warna dan dipadu dengan rok hitam polos. Menurut Tantra, bibinya ini semakin cantik saja. Sering ia tidak habis pikir mengapa belum pernah sekali pun melihat Tante Ara dekat dengan pria.
Betapa senangnya Tante Ara melihat kedatangan kemenakan tercinta. Ia semakin terheran-heran setelah mengetahui bahwa pemuda itu beberapa bulan lagi akan menjadi ayah. "Wah, kalah Tante, "ucapnya sambil meletakkan secangkir teh hangat.
"Ah, biasa saja, Tante."
"Kok, sendirian? Istri tidak diajak?"
"Saya dari kantor, Tante, langsung ke sini."
"Oh, begitu. Eh, dari mana kamu tahu alamat Tante?"
"Dari ayah. Sebenarnya sudah lama, tapi baru sekarang sempat."
Setelah berpikir panjang, akhirnya Lisa memutuskan menampakkan diri. Ia keluar dari gua persembunyiannya. Tetapi, Lisa yang sekarang bukanlah Lisa yang dulu. Lisa yang sekarang sudah menjelma mandiri dan percaya diri.
Justru Danar yang shock, tidak siap dengan kenyataan yang terjadi. Ternyata Lisa tidak lagi gentar dengan kekasaran bahkan ancamannya.
"Jadi, ke mana saja kamu selama ini?"tanya Danar melayangkan tangannya ke wajah Lisa. Ia terkejut karena istrinya itu tidak menangis, bahkan tampak kesakitan pun tidak.
"Apakah kaumencariku? Sepertinya kamu malah kegirangan."
"Sialan! Apa kamu sudah lupa bagaimana aku menghajarmu dulu?!"
Lisa masih bergeming.
"Kamu akan merasakan sabetanku ini!"dengan kasar Danar melepas ikat pinggangnya.
Yang terjadi sungguh di luar dugaan, karena istrinya itu justru mendekat.
"Apa hanya seperti ini keberanianmu, Suamiku? Hanya berani memukuli istri sendiri, yang seharusnya kaulindungi. Tapi kalau itu maumu, silakan! Pukul saja aku! Toh, aku sudah terbiasa!"
Danar terpaku. Lidahnya tiba-tiba terasa kelu.
Selasa, 22 Maret 2011
Di Arung Jeram Cinta
Kalau tidak memperhatikan dengan teliti, jarang orang tahu kalau Nada sedang mengandung. Selain, postur tubuhnya yang kecil dan ramping, wanita itu gemar mengenakan jaket.
Sore ini, Nada baru saja selesai mandi dan berpakaian. Satu jam lagi Tantra pulang. Sambil menunggu kedatangan suaminya, wanita itu mengambil majalah dari lemari buku dan duduk di beranda.
"Tunggu suami, Jeng?"sapa seorang ibu yang kebetulan lewat. Beliau tinggal di kompleks yang sama hanya berjarak empat rumah.
"Iya, Bu."
"Sudah berapa bulan, Jeng?" Ibu itu menghampiri.
Nada berdiri. "Oh, masih empat bulan lagi, Bu. Mari, silakan duduk."
"Nanti mengganggu?"
"Ah, tidak. Saya malah senang punya teman."
"Terima kasih, ya, Jeng."
"Sama-sama, Bu."
Herman mengerutkan kening membaca surat Tantra. Ia sangat menyayangkan keputusan yang diambil karyawan yang menjadi harapan perusahaan itu.
"Anda ingin mengundurkan diri."
"Ya, Pak."
"Apakah ini alasan pribadi?"
"Maafkan saya, sejujurnya memang alasan pribadi."
Herman terdiam. Ia dapat mengira-ngira alasan pemuda itu tidak lain adalah menghindari Meyra. Padahal, justru adiknya itu sedang terbuai cinta. Surat yang ditulis Tantra malah membuat gadis itu semakin kagum.
Nada tersenyum ketika ibu itu menyatakan keheranannya karena Tantra terlihat sangat muda.
"Saya memang lebih tua, Bu."
"Maksud Jeng, daripada suami Jeng?" si Ibu terbelalak. Sepertinya kejutan.
Nada mengangguk ramah.
"Berapa tahun?"
"Tujuh tahun."
Ibu itu semakin terbelalak. "Maaf, ya, kok Jeng mau sama anak kemarin sore? Kalau nanti dia selingkuh, Jeng sakit hati."
"Yang suaminya lebih tua juga ada yang selingkuh." Sebenarnya Nada tidak bermaksud menyindir, tetapi rupanya kata-kata itu tepat menampar wajah si Ibu. Lihat saja, wajahnya mendadak merah padam bercampur ungu. Ia pun berdiri.
"Jeng tidak usah menyindir saya, ya? Memang suami saya suka pulang malam dan selalu bersama perempuan yang berganti-ganti, tapi dia tetap setia!" omelnya sambil menuding-nuding Nada.
Nada merasa tidak perlu menjawab. Jadi, ia diam saja.
"Situ sendiri, apa tidak sadar kalau suka daun muda? Senang yang segar-segar, ya? Eh, kalau jadi suaminya situ pasti pikir-pikir kok mau nikah sama situ. Memangnya situ cantik? Ngaca!"
Nada hanya menatap tetangganya yang sedang berbuih-buih itu dengan tenang.
Sore ini, Nada baru saja selesai mandi dan berpakaian. Satu jam lagi Tantra pulang. Sambil menunggu kedatangan suaminya, wanita itu mengambil majalah dari lemari buku dan duduk di beranda.
"Tunggu suami, Jeng?"sapa seorang ibu yang kebetulan lewat. Beliau tinggal di kompleks yang sama hanya berjarak empat rumah.
"Iya, Bu."
"Sudah berapa bulan, Jeng?" Ibu itu menghampiri.
Nada berdiri. "Oh, masih empat bulan lagi, Bu. Mari, silakan duduk."
"Nanti mengganggu?"
"Ah, tidak. Saya malah senang punya teman."
"Terima kasih, ya, Jeng."
"Sama-sama, Bu."
Herman mengerutkan kening membaca surat Tantra. Ia sangat menyayangkan keputusan yang diambil karyawan yang menjadi harapan perusahaan itu.
"Anda ingin mengundurkan diri."
"Ya, Pak."
"Apakah ini alasan pribadi?"
"Maafkan saya, sejujurnya memang alasan pribadi."
Herman terdiam. Ia dapat mengira-ngira alasan pemuda itu tidak lain adalah menghindari Meyra. Padahal, justru adiknya itu sedang terbuai cinta. Surat yang ditulis Tantra malah membuat gadis itu semakin kagum.
Nada tersenyum ketika ibu itu menyatakan keheranannya karena Tantra terlihat sangat muda.
"Saya memang lebih tua, Bu."
"Maksud Jeng, daripada suami Jeng?" si Ibu terbelalak. Sepertinya kejutan.
Nada mengangguk ramah.
"Berapa tahun?"
"Tujuh tahun."
Ibu itu semakin terbelalak. "Maaf, ya, kok Jeng mau sama anak kemarin sore? Kalau nanti dia selingkuh, Jeng sakit hati."
"Yang suaminya lebih tua juga ada yang selingkuh." Sebenarnya Nada tidak bermaksud menyindir, tetapi rupanya kata-kata itu tepat menampar wajah si Ibu. Lihat saja, wajahnya mendadak merah padam bercampur ungu. Ia pun berdiri.
"Jeng tidak usah menyindir saya, ya? Memang suami saya suka pulang malam dan selalu bersama perempuan yang berganti-ganti, tapi dia tetap setia!" omelnya sambil menuding-nuding Nada.
Nada merasa tidak perlu menjawab. Jadi, ia diam saja.
"Situ sendiri, apa tidak sadar kalau suka daun muda? Senang yang segar-segar, ya? Eh, kalau jadi suaminya situ pasti pikir-pikir kok mau nikah sama situ. Memangnya situ cantik? Ngaca!"
Nada hanya menatap tetangganya yang sedang berbuih-buih itu dengan tenang.
Senin, 21 Maret 2011
Di Arung Jeram Cinta
Meskipun masih lima bulan lagi melahirkan, tetapi sepasang suami istri itu tidak dapat menahan keinginan mereka untuk membeli perlengkapan bayi. Pagi itu Tantra dan Nada sepakat mengunjungi hipermarket.
"Bagus, ya?" Nada menunjuk selimut merah muda.
Tantra mengerutkan kening. "Memangnya perempuan?"
"Ya, maunya begitu."
"Kalau lahirnya laki-laki, bagaimana?"
Nada mencibir. "Pokoknya yang ini bagus."
"Terserah. Oh, ya, sudah ambil anggur belum?"
"Eh, belum."
"Biar, aku yang ambil."
"Yang hijau, ya."
Tantra mengangguk. Ia sengaja meninggalkan troli dan menuju bagian buah-buahan.
"Uaah, keren abis...."
"Mana? Mana?"
"Itu...."
"Ha? Itu sih super kueereen!"
"Kita ikuti, yuk."
"Iya, sepertinya dia masih sendiri."
"Bagus, ya?" Nada menunjuk selimut merah muda.
Tantra mengerutkan kening. "Memangnya perempuan?"
"Ya, maunya begitu."
"Kalau lahirnya laki-laki, bagaimana?"
Nada mencibir. "Pokoknya yang ini bagus."
"Terserah. Oh, ya, sudah ambil anggur belum?"
"Eh, belum."
"Biar, aku yang ambil."
"Yang hijau, ya."
Tantra mengangguk. Ia sengaja meninggalkan troli dan menuju bagian buah-buahan.
"Uaah, keren abis...."
"Mana? Mana?"
"Itu...."
"Ha? Itu sih super kueereen!"
"Kita ikuti, yuk."
"Iya, sepertinya dia masih sendiri."
Jumat, 18 Maret 2011
Di Arung Jeram Cinta
Tantra hanya nyengir kuda dikeroyok orang tua dan adiknya. Nada mengulum senyum melihatnya. Dalam hati tak henti ia bersyukur mendapat suami sebaik Tantra. Bukan hanya baik, dia pun selalu bersikap dan bertutur lembut dan santun. Kelebihan lainnya, setia dan penuh perhatian. Semua itu semakin tampak sempurna karena ditunjang penampilan di atas rata-rata. Jadi, kurang apalagi?
"Kalian tidak lapor polisi?"tanya Afna yang benar-benar cemas keselamatan anak dan menantunya.
"Benar, Tantra, "sela Cakra. "Itu bukan perkara yang bisa kamu pandang sebelah mata. Kalau sekarang istrimu atau kau bisa selamat, tapi bagaimana kalau lain kali?"
Tantra dan Nada berpandangan.
Rupanya malam yang hampir menjadi petaka bagi Nada merupakan hikmah tersendiri bagi Meyra. Ia memutuskan untuk menyudahi semua kegilaan yang telah ia lakukan. Selembar kertas yang bertuliskan pesan dari Tantra di dinding kamar mandi kantor benar-benar telah menyentak akal sehatnya.
"Mas, jangan ganggu Meyra lagi, "begitu kata gadis itu saat kakaknya meminta untuk mencoba merayu Tantra lagi.
"Kenapa kamu menyerah?"tanya Herman terheran-heran melihat perubahan sikap adiknya yang begitu drastis.
"Aku ingin tenang, Mas. Itu saja."
Herman menghela napas berat. Urusan jadi semakin gawat. Tetapi mana mungkin ia menceritakan ancaman Danar?
"Kalau kau tak bisa membujuk adikmu, akan kusulap kalian supaya tidur di kolong jembatan, "ujar Danar dua minggu yang lalu. "Dan adikmu, terlalu cantik untuk dibiarkan...."
Ah! Herman menatap adik semata wayangnya penuh sayang. Siapa yang sanggup menghadapi kenyataan bahwa saudara tersayangnya berada dalam bahaya?
Sementara Meyra mendongak. Pemandangan langit malam itu hanya dihiasi bulan paruh.
"Kalian tidak lapor polisi?"tanya Afna yang benar-benar cemas keselamatan anak dan menantunya.
"Benar, Tantra, "sela Cakra. "Itu bukan perkara yang bisa kamu pandang sebelah mata. Kalau sekarang istrimu atau kau bisa selamat, tapi bagaimana kalau lain kali?"
Tantra dan Nada berpandangan.
Rupanya malam yang hampir menjadi petaka bagi Nada merupakan hikmah tersendiri bagi Meyra. Ia memutuskan untuk menyudahi semua kegilaan yang telah ia lakukan. Selembar kertas yang bertuliskan pesan dari Tantra di dinding kamar mandi kantor benar-benar telah menyentak akal sehatnya.
"Mas, jangan ganggu Meyra lagi, "begitu kata gadis itu saat kakaknya meminta untuk mencoba merayu Tantra lagi.
"Kenapa kamu menyerah?"tanya Herman terheran-heran melihat perubahan sikap adiknya yang begitu drastis.
"Aku ingin tenang, Mas. Itu saja."
Herman menghela napas berat. Urusan jadi semakin gawat. Tetapi mana mungkin ia menceritakan ancaman Danar?
"Kalau kau tak bisa membujuk adikmu, akan kusulap kalian supaya tidur di kolong jembatan, "ujar Danar dua minggu yang lalu. "Dan adikmu, terlalu cantik untuk dibiarkan...."
Ah! Herman menatap adik semata wayangnya penuh sayang. Siapa yang sanggup menghadapi kenyataan bahwa saudara tersayangnya berada dalam bahaya?
Sementara Meyra mendongak. Pemandangan langit malam itu hanya dihiasi bulan paruh.
Langganan:
Postingan (Atom)