Apakah kau yang terpilih untukku
itulah sapa kalbu seorang wanita bergaun biru
matanya berkilat sendu
Engkaukah calon pendampingku
tanya hatinya pada setiap lelaki yang berlalu
tatapnya lembut namun setajam sembilu
Konon, ia gadis yang sangat cantik
tak heran banyak pemuda yang tertarik
apalagi senyumnya manis simpatik
Tahun demi tahun berlalu
tiada sampai di depan penghulu
takdir Tuhan siapa yang tahu
Maaf, apakah engkau jodohku
wanita itu bertanya lewat kalbu
pada setiap laki-laki yang berlalu
Malam ini dia berdandan cantik sekali
gaun bersulam benang keemasan menemani
mimpi indahnya menjadi bidadari
Seorang pria tampan menghampiri
ikutlah bersamaku, permata hati
alangkah bahagia wanita itu tiada terperi
Suatu pagi di tepi jalan
ramai orang membentuk kerumunan
wanita itu terpejam dalam kedamaian
Kamis, 17 Maret 2011
Rabu, 16 Maret 2011
Di Arung Jeram Cinta
Kabar penyerangan yang dilakukan Danar terhadap Nada, sampai di telinga para orang tua. Sudah pasti mereka panik bukan main, takut terjadi sesuatu pada wanita yang sedang mengandung itu.
"Kalian tinggal di sini saja, "usul Afna ketika keduanya berkunjung sepulang dari dokter, malam itu.
"Nanti merepotkan, Bu, "tukas Tantra tersenyum. "Lagipula Mbak Nada tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa, bagaimana maksudmu, Tantra?"sela Cakra tidak sabar. "Ayah dengar dari Banu, pergelangan tangannya ada yang memar?"
"Sudah baikan, Ayah, "kali ini Nada yang menjawab.
Rafa diam saja sejak tadi. Ia benar-benar menyesal tidak bisa menemani kakak iparnya seperti permintaan Tantra. Hari itu ia harus menyelesaikan tugas kuliahnya yang harus segera dikumpulkan keesokan pagi.
"Maafkan Rafa, kalau saja waktu itu...."
Tantra mengusap kepala adiknya lembut. "Hei, kau tidak perlu minta maaf, Dik, "tukasnya. "Dengan kejadian itu kami belajar untuk lebih hati-hati."
"Mbak Nada sampai memar tangannya, memangnya tidak melawan waktu diserang? Memukul atau menendang, misalnya?"Rafa mengerutkan kening.
Keempat manusia yang berada di ruang keluarga itu saling melempar pandang sambil mengulum senyum. Dasar Rafa! Mana dia ingat kalau Nada sangat bertolak belakang dengan dirinya. Rafa memang bukan gadis tomboi, tetapi dengan dua ilmu bela diri yang dikuasainya sampai detik ini, ia bukan gadis yang lemah. Berbeda dengan Nada, yang sungguh-sungguh wanita sejati.
"Memangnya kamu?"Tantra menekan hidung adiknya.
Rafa menepis tangan kakaknya sambil melotot.
"Mbak melawan, kok, "sela Nada tersenyum. "Tapi, tidak bisa seperti Dik Rafa? Kalau tidak melawan, mana mungkin tangan Mbak sampai memar?"
Rafa mengangguk-angguk. Benar juga, pikirnya. "Tapi, enaknya Mbak belajar bela diri saja."
"Apa...masih bisa, Dik? Mbak kan sudah bukan gadis muda lagi."
"Lebih baik tidak usah, "sela Tantra membuat orang tua dan adiknya tercengang.
"Kenapa tidak boleh, Mas?"Rafa penasaran.
"Iya, kalau istrimu punya ilmu bela diri, kamu tidak akan terlalu cemas lagi, "ujar Cakra. Afna pun mengangguk.
"Buat apa punya suami jago bela diri, kalau masih ikut bela diri...."
Rafa langsung memukul lengan kakaknya sambil tersenyum geli.
"Oh, jadi maksudmu biar masih bisa jadi pahlawan, begitu?"tanya Afna.
"Begitulah...."
"Huu...."
"Kalian tinggal di sini saja, "usul Afna ketika keduanya berkunjung sepulang dari dokter, malam itu.
"Nanti merepotkan, Bu, "tukas Tantra tersenyum. "Lagipula Mbak Nada tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa, bagaimana maksudmu, Tantra?"sela Cakra tidak sabar. "Ayah dengar dari Banu, pergelangan tangannya ada yang memar?"
"Sudah baikan, Ayah, "kali ini Nada yang menjawab.
Rafa diam saja sejak tadi. Ia benar-benar menyesal tidak bisa menemani kakak iparnya seperti permintaan Tantra. Hari itu ia harus menyelesaikan tugas kuliahnya yang harus segera dikumpulkan keesokan pagi.
"Maafkan Rafa, kalau saja waktu itu...."
Tantra mengusap kepala adiknya lembut. "Hei, kau tidak perlu minta maaf, Dik, "tukasnya. "Dengan kejadian itu kami belajar untuk lebih hati-hati."
"Mbak Nada sampai memar tangannya, memangnya tidak melawan waktu diserang? Memukul atau menendang, misalnya?"Rafa mengerutkan kening.
Keempat manusia yang berada di ruang keluarga itu saling melempar pandang sambil mengulum senyum. Dasar Rafa! Mana dia ingat kalau Nada sangat bertolak belakang dengan dirinya. Rafa memang bukan gadis tomboi, tetapi dengan dua ilmu bela diri yang dikuasainya sampai detik ini, ia bukan gadis yang lemah. Berbeda dengan Nada, yang sungguh-sungguh wanita sejati.
"Memangnya kamu?"Tantra menekan hidung adiknya.
Rafa menepis tangan kakaknya sambil melotot.
"Mbak melawan, kok, "sela Nada tersenyum. "Tapi, tidak bisa seperti Dik Rafa? Kalau tidak melawan, mana mungkin tangan Mbak sampai memar?"
Rafa mengangguk-angguk. Benar juga, pikirnya. "Tapi, enaknya Mbak belajar bela diri saja."
"Apa...masih bisa, Dik? Mbak kan sudah bukan gadis muda lagi."
"Lebih baik tidak usah, "sela Tantra membuat orang tua dan adiknya tercengang.
"Kenapa tidak boleh, Mas?"Rafa penasaran.
"Iya, kalau istrimu punya ilmu bela diri, kamu tidak akan terlalu cemas lagi, "ujar Cakra. Afna pun mengangguk.
"Buat apa punya suami jago bela diri, kalau masih ikut bela diri...."
Rafa langsung memukul lengan kakaknya sambil tersenyum geli.
"Oh, jadi maksudmu biar masih bisa jadi pahlawan, begitu?"tanya Afna.
"Begitulah...."
"Huu...."
Kamis, 10 Maret 2011
Di Arung Jeram Cinta
Terlalu cepat Danar melajukan motornya. Dia tak terkejar. Orang-orang yang sedang tugas ronda menyatakan permintaan maaf mereka dengan tulus. Banu sangat berterima kasih atas bantuan mereka. Sebab meskipun gagal, mereka telah menjalankan tugas sebaik-baiknya.
Banu menutup pintu. Kemudian ia menoleh ke arah Nada yang masih terduduk di sudut dengan wajah pucat pasi.
"Kau tidak perlu takut lagi, Mbak, "ujarnya sambil memeluk pundak kakaknya. "Dia tidak akan mengganggumu lagi. Maafkan aku, seharusnya aku bisa datang lebih cepat, tapi, aku jadi ketua panitia, jadi tak mungkin meninggalkan tempat sebelum acara selesai."
"Tidak apa-apa, aku mengerti."
"Kenapa dia kembali lagi?"
"Dia ingin menghancurkan kami, aku dan Tantra...."
Banu sangat geram. "Benar-benar berhati iblis. Ditariknya tangan kakaknya supaya berdiri. "Kau tidak apa-apa, kan? Ada yang luka?"
"Sedikit, "Nada menunjuk pergelangan kanannya yang memar karena cengkeraman Danar.
Banu menuntun kakaknya ke kamar. "Sebaiknya kau istirahat, "ujarnya sambil tak habis pikir bahwa ada manusia sekeji Danar.
Satu jam terlalu lama untuk mandi, apalagi sekadar cuci muka. Tadi sebelum Meyra meraih tangan Tantra, laki-laki itu mendadak minta izin muka di kamar mandi karena wastafel tidak ada di ruangan itu.
Meyra mengira Tantra berubah pikiran dan ingin mandi supaya lebih segar, maka ia menunggu dengan sabar. Sementara itu ia pun bersiap-siap dengan penampilan yang lebih mengundang minat.
Tetapi satu jam telah berlalu. Kamar mandi itu belum juga terbuka. Meyra yang sudah menyiapkan diri sedemikian rupa mendadak merasa gerah. Ia pun memberanikan diri menggedor pintu.
"Sudah belum, Mas? Kok lama sekali?!"
Tidak ada jawaban. Yang ada suara air dari kran yang masuk ke dalam bak.
Meyra terkejut. Mendadak kakinya basah. Baru ia sadari bahwa air dari bak telah meluber.
Lewat tengah malam. Banu tercengang mendengar cerita yang dituturkan Tantra. Jadi semua telah dirancang manusia berhati iblis itu!
"Jadi, dia juga menggunakan perempuan untuk menjebakmu?"
"Ya."
"Cantik?"
"Sangat."
Banu memicingkan mata. "Jadi, maksudmu, kau juga tertarik?"
"Aku tahu yang namanya cantik atau tidak."
"Oh, Tantra, jangan katakan kalau kau sudah...."
Tantra mengibaskan tangannya. "Jujur...hampir saja aku percaya ocehan perempuan itu. Ia menunjukkan foto kakakmu dan mantan tunangannya berpose di kolam renang. Tahu kan, baju renang model bikini."
"Berpose seperti apa?"
"Macam-macam. Ada yang pose mereka berciuman."
"Dan kamu percaya? Tantra, Mbak Nada tidak seperti itu. Dia sangat pemalu dan begitu menjaga kehormatannya."
"Ya, "Tantra mengangguk. Aku hampir saja mengiyakan ajakan perempuan itu. Tapi...syukurlah pikiranku masih waras. Waktu itu aku sempat berpikir bagaimanapun Nada, akulah yang memutuskan menjadi pendamping hidupku dan seharusnnya aku menjadi yang terbaik baginya."
Banu tersenyum. "Mbak Nada adalah kakak yang sangat baik. Bagiku ia kakak terbaik di dunia. Ia telah melakukan segalanya untukku. Waktu kami masih kecil, ia sering melindungiku. Tak pernah ia menolak setiap aku minta tolong, dibuatkan kue, dibelikan mainan, walaupun dia sedang lelah, banyak tugas, PR, atau hujan deras sekalipun."
Tantra terdiam.
"Jadi, "Banu menatap kakak iparnya lekat-lekat. "Aku tak rela siapapun menyakitinya."
Tantra tersenyum. "Aku juga tidak, "tukasnya sambil beranjak. "Aku ingin tahu keadaannya."
"Dia tidur."
"Hatiku lebih tenang kalau sudah melihatnya."
Banu tak berkata-kata lagi.
Nada berbaring dengan mata terbelalak. Ia tersentak saat mendengar pintu dibuka.
"Tantra?"
Tantra tersenyum sambil menutup pintu.
"Kau belum tidur, Mbak?"
"Aku masih takut."
"Jangan takut, sudah aman."
"Tapi...dia bisa datang lagi."
"Akan kupastikan dia tidak berani berbuat hal yang sama kepada kita."
"Mudah-mudahan, "bisik Nada sambil meletakkan tangannya di atas perut. "Tapi...aku berharap anak kita baik-baik saja."
"Besok pagi kita periksakan kandunganmu ke dokter."
"Mas...."
"Ya?"
"Kalau tidak ada Banu dan orang-orang itu mungkin aku sudah...."
Tantra menggeleng dan memberi tanda supaya istrinya tidak lagi melanjutkan ucapannya. "Kau sudah makan?"
Nada menggeleng. "Aku menunggumu."
Banu menutup pintu. Kemudian ia menoleh ke arah Nada yang masih terduduk di sudut dengan wajah pucat pasi.
"Kau tidak perlu takut lagi, Mbak, "ujarnya sambil memeluk pundak kakaknya. "Dia tidak akan mengganggumu lagi. Maafkan aku, seharusnya aku bisa datang lebih cepat, tapi, aku jadi ketua panitia, jadi tak mungkin meninggalkan tempat sebelum acara selesai."
"Tidak apa-apa, aku mengerti."
"Kenapa dia kembali lagi?"
"Dia ingin menghancurkan kami, aku dan Tantra...."
Banu sangat geram. "Benar-benar berhati iblis. Ditariknya tangan kakaknya supaya berdiri. "Kau tidak apa-apa, kan? Ada yang luka?"
"Sedikit, "Nada menunjuk pergelangan kanannya yang memar karena cengkeraman Danar.
Banu menuntun kakaknya ke kamar. "Sebaiknya kau istirahat, "ujarnya sambil tak habis pikir bahwa ada manusia sekeji Danar.
Satu jam terlalu lama untuk mandi, apalagi sekadar cuci muka. Tadi sebelum Meyra meraih tangan Tantra, laki-laki itu mendadak minta izin muka di kamar mandi karena wastafel tidak ada di ruangan itu.
Meyra mengira Tantra berubah pikiran dan ingin mandi supaya lebih segar, maka ia menunggu dengan sabar. Sementara itu ia pun bersiap-siap dengan penampilan yang lebih mengundang minat.
Tetapi satu jam telah berlalu. Kamar mandi itu belum juga terbuka. Meyra yang sudah menyiapkan diri sedemikian rupa mendadak merasa gerah. Ia pun memberanikan diri menggedor pintu.
"Sudah belum, Mas? Kok lama sekali?!"
Tidak ada jawaban. Yang ada suara air dari kran yang masuk ke dalam bak.
Meyra terkejut. Mendadak kakinya basah. Baru ia sadari bahwa air dari bak telah meluber.
Lewat tengah malam. Banu tercengang mendengar cerita yang dituturkan Tantra. Jadi semua telah dirancang manusia berhati iblis itu!
"Jadi, dia juga menggunakan perempuan untuk menjebakmu?"
"Ya."
"Cantik?"
"Sangat."
Banu memicingkan mata. "Jadi, maksudmu, kau juga tertarik?"
"Aku tahu yang namanya cantik atau tidak."
"Oh, Tantra, jangan katakan kalau kau sudah...."
Tantra mengibaskan tangannya. "Jujur...hampir saja aku percaya ocehan perempuan itu. Ia menunjukkan foto kakakmu dan mantan tunangannya berpose di kolam renang. Tahu kan, baju renang model bikini."
"Berpose seperti apa?"
"Macam-macam. Ada yang pose mereka berciuman."
"Dan kamu percaya? Tantra, Mbak Nada tidak seperti itu. Dia sangat pemalu dan begitu menjaga kehormatannya."
"Ya, "Tantra mengangguk. Aku hampir saja mengiyakan ajakan perempuan itu. Tapi...syukurlah pikiranku masih waras. Waktu itu aku sempat berpikir bagaimanapun Nada, akulah yang memutuskan menjadi pendamping hidupku dan seharusnnya aku menjadi yang terbaik baginya."
Banu tersenyum. "Mbak Nada adalah kakak yang sangat baik. Bagiku ia kakak terbaik di dunia. Ia telah melakukan segalanya untukku. Waktu kami masih kecil, ia sering melindungiku. Tak pernah ia menolak setiap aku minta tolong, dibuatkan kue, dibelikan mainan, walaupun dia sedang lelah, banyak tugas, PR, atau hujan deras sekalipun."
Tantra terdiam.
"Jadi, "Banu menatap kakak iparnya lekat-lekat. "Aku tak rela siapapun menyakitinya."
Tantra tersenyum. "Aku juga tidak, "tukasnya sambil beranjak. "Aku ingin tahu keadaannya."
"Dia tidur."
"Hatiku lebih tenang kalau sudah melihatnya."
Banu tak berkata-kata lagi.
Nada berbaring dengan mata terbelalak. Ia tersentak saat mendengar pintu dibuka.
"Tantra?"
Tantra tersenyum sambil menutup pintu.
"Kau belum tidur, Mbak?"
"Aku masih takut."
"Jangan takut, sudah aman."
"Tapi...dia bisa datang lagi."
"Akan kupastikan dia tidak berani berbuat hal yang sama kepada kita."
"Mudah-mudahan, "bisik Nada sambil meletakkan tangannya di atas perut. "Tapi...aku berharap anak kita baik-baik saja."
"Besok pagi kita periksakan kandunganmu ke dokter."
"Mas...."
"Ya?"
"Kalau tidak ada Banu dan orang-orang itu mungkin aku sudah...."
Tantra menggeleng dan memberi tanda supaya istrinya tidak lagi melanjutkan ucapannya. "Kau sudah makan?"
Nada menggeleng. "Aku menunggumu."
Rabu, 09 Maret 2011
Tangga Menuju Surgawi
Tuhan, kalau ini bukan mimpi
semoga ini tangga menuju istana surgawi
Hanya semarak jingga kulihat di sana sini
beserta indahnya percikan api
Tadinya aku ingin berteriak ngeri
tapi kupikir lebih baik aku berdiam diri
Kuputuskan aku tak lagi berlari-lari
saat gelegar dan percikan menghantam silih berganti
Tuhan telah mengirimkan roket pribadi
menjemputku terbang ke langit firdausi
semoga ini tangga menuju istana surgawi
Hanya semarak jingga kulihat di sana sini
beserta indahnya percikan api
Tadinya aku ingin berteriak ngeri
tapi kupikir lebih baik aku berdiam diri
Kuputuskan aku tak lagi berlari-lari
saat gelegar dan percikan menghantam silih berganti
Tuhan telah mengirimkan roket pribadi
menjemputku terbang ke langit firdausi
Di Arung Jeram Cinta
Ingat kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha? Mungkin peristiwa yang dialami Tantra hampir mirip dengan kisah yang sangat terkenal dari masa ke masa itu. Meskipun, ujian yang didapat Nabi Yusuf jauh lebih berat.
Nabi Yusuf dengan ketampanannya yang luar biasa, tentu dengan mudah akan menggaet berapa pun wanita sesuka hatinya. Tetapi, dia tidak pernah melakukannya, bahkan memilih penjara daripada harus berbuat maksiat.
Melihat Tantra hendak membuka pintu, Meyra buru-buru mendekat.
"Kalau kamu berani membuka pintu, aku akan berteriak, "gadis itu mulai mengancam. Kemudian ia memutar bola matanya sambil tersenyum licik, "Orang-orang akan berdatangan dan bertanya apa yang terjadi? Dan aku akan menjawab kalau kamu mencoba mengambilku kehormatanku dengan paksa, bagaimana?"
Tantra menatap gadis di hadapannya dengan geram.
"Pastinya kamu tahu dalam soal seperti ini, umumnya wanita lebih dipercaya. Bagaimana, Mas Tantra?"
Laki-laki itu tidak menjawab. Ia berdiri terpaku. Dalam bayangannya terlintas wajah orang-orang yang ia sayangi. Kalau ia menuruti kemauan gadis ini, berarti ia akan menyakiti mereka. Tetapi, kalau...."
"Sebenarnya sudah lama aku jatuh hati kepadamu...."
Tantra mengerutkan kening. "Kau gila, aku sudah menikah."
"Itulah cinta, memang gila. Tapi, aku masih cukup waras untuk tidak menghancurkan rumah tangga orang lain."
"Apa maksudmu?"
"Silakan buka pintu...."
"Terima kasih...."
"Tunggu, aku belum selesai bicara. Silakan buka pintu...setelah kita ber..., "gadis itu memberikan kode yang membuat Tantra terbelalak.
"Kalau aku tidak mau?"
"Kalau kamu menolak? Ah, lebih baik jangan, karena kalau kamu tahu yang sudah dilakukan istri tercintamu selama suaminya tidak ada di rumah, kamu akan menyesal karena telah menolakku."
"Maksudmu?"
Sambil tersenyum misterius, gadis itu melangkah menuju lap top yang masih menyala. Meskipun bingung, Tantra hanya mengikuti.
Banu baru dapat memenuhi janjinya kepada Tantra untuk menemani Nada, pukul sepuluh malam. Maklumlah, ia harus menghadiri reuni SMP dan acara itu baru berakhir sekitar jam sembilan lebih.
Pemuda itu mengerutkan kening melihat motor asing yang diparkir di halaman. Perasaannya mendadak cemas.
"Sulit sekali menundukkan suamimu, "ujar Danar melangkah maju mendekat ke arah Nada yang terus mundur ketakutan. "Aku sampai sempat bertanya-tanya dia itu laki-laki asli atau imitasi? Bayangkan, Meyra yang begitu cantik dan seksi tidak sanggup membuatnya berkedip."
Nada menoleh ke belakang dengan cemas. Beberapa langkah lagi, dinding ruang tengah akan menghalangi maksudnya melepaskan diri dari makhluk buas dan mengerikan ini.
"Tapi, aku memang pandai, "Danar masih mengoceh. "Aku sudah merekayasa semua foto-foto saat kita masih bertunangan dan kalau ditambah yang satu ini...hm...aku jamin ia tidak akan sudi jadi suami idaman lagi...."
Nada menjerit.
Tiba-tiba... braak!!!
Meyra tersenyum puas melihat perubahan raut muka Tantra yang tampak sedih, kecewa, dan juga marah setelah menyaksikan foto-foto di email yang dibuka gadis itu. Sedikitpun ia tak menyangka bahwa Nada mampu melakukan semua itu.
"Jadi bagaimana? Masih menganggap istrimu juga setia?"
Tantra menarik napas panjang.
"Jangan takut, di sini cukup aman. Aku bisa memastikan tidak akan ada yang mengganggu kita."
Tantra menatap Meyra yang berdiri di hadapannya. Ia tidak pernah menampik kenyataan bahwa Meyra gadis yang sangat cantik. Apalagi kalau dibandingkan Nada, istrinya yang lebih cocok menjadi kakaknya. Hm....
"Bagaimana?"
Tantra mengangguk perlahan. "Baiklah...."
Nabi Yusuf dengan ketampanannya yang luar biasa, tentu dengan mudah akan menggaet berapa pun wanita sesuka hatinya. Tetapi, dia tidak pernah melakukannya, bahkan memilih penjara daripada harus berbuat maksiat.
Melihat Tantra hendak membuka pintu, Meyra buru-buru mendekat.
"Kalau kamu berani membuka pintu, aku akan berteriak, "gadis itu mulai mengancam. Kemudian ia memutar bola matanya sambil tersenyum licik, "Orang-orang akan berdatangan dan bertanya apa yang terjadi? Dan aku akan menjawab kalau kamu mencoba mengambilku kehormatanku dengan paksa, bagaimana?"
Tantra menatap gadis di hadapannya dengan geram.
"Pastinya kamu tahu dalam soal seperti ini, umumnya wanita lebih dipercaya. Bagaimana, Mas Tantra?"
Laki-laki itu tidak menjawab. Ia berdiri terpaku. Dalam bayangannya terlintas wajah orang-orang yang ia sayangi. Kalau ia menuruti kemauan gadis ini, berarti ia akan menyakiti mereka. Tetapi, kalau...."
"Sebenarnya sudah lama aku jatuh hati kepadamu...."
Tantra mengerutkan kening. "Kau gila, aku sudah menikah."
"Itulah cinta, memang gila. Tapi, aku masih cukup waras untuk tidak menghancurkan rumah tangga orang lain."
"Apa maksudmu?"
"Silakan buka pintu...."
"Terima kasih...."
"Tunggu, aku belum selesai bicara. Silakan buka pintu...setelah kita ber..., "gadis itu memberikan kode yang membuat Tantra terbelalak.
"Kalau aku tidak mau?"
"Kalau kamu menolak? Ah, lebih baik jangan, karena kalau kamu tahu yang sudah dilakukan istri tercintamu selama suaminya tidak ada di rumah, kamu akan menyesal karena telah menolakku."
"Maksudmu?"
Sambil tersenyum misterius, gadis itu melangkah menuju lap top yang masih menyala. Meskipun bingung, Tantra hanya mengikuti.
Banu baru dapat memenuhi janjinya kepada Tantra untuk menemani Nada, pukul sepuluh malam. Maklumlah, ia harus menghadiri reuni SMP dan acara itu baru berakhir sekitar jam sembilan lebih.
Pemuda itu mengerutkan kening melihat motor asing yang diparkir di halaman. Perasaannya mendadak cemas.
"Sulit sekali menundukkan suamimu, "ujar Danar melangkah maju mendekat ke arah Nada yang terus mundur ketakutan. "Aku sampai sempat bertanya-tanya dia itu laki-laki asli atau imitasi? Bayangkan, Meyra yang begitu cantik dan seksi tidak sanggup membuatnya berkedip."
Nada menoleh ke belakang dengan cemas. Beberapa langkah lagi, dinding ruang tengah akan menghalangi maksudnya melepaskan diri dari makhluk buas dan mengerikan ini.
"Tapi, aku memang pandai, "Danar masih mengoceh. "Aku sudah merekayasa semua foto-foto saat kita masih bertunangan dan kalau ditambah yang satu ini...hm...aku jamin ia tidak akan sudi jadi suami idaman lagi...."
Nada menjerit.
Tiba-tiba... braak!!!
Meyra tersenyum puas melihat perubahan raut muka Tantra yang tampak sedih, kecewa, dan juga marah setelah menyaksikan foto-foto di email yang dibuka gadis itu. Sedikitpun ia tak menyangka bahwa Nada mampu melakukan semua itu.
"Jadi bagaimana? Masih menganggap istrimu juga setia?"
Tantra menarik napas panjang.
"Jangan takut, di sini cukup aman. Aku bisa memastikan tidak akan ada yang mengganggu kita."
Tantra menatap Meyra yang berdiri di hadapannya. Ia tidak pernah menampik kenyataan bahwa Meyra gadis yang sangat cantik. Apalagi kalau dibandingkan Nada, istrinya yang lebih cocok menjadi kakaknya. Hm....
"Bagaimana?"
Tantra mengangguk perlahan. "Baiklah...."
Senin, 07 Maret 2011
Di Arung Jeram Cinta
Gadis manis berkulit kuning langsat itu meletakkan nampan dengan secangkir kopi panas dan beberapa potong pastel dan donat tabur gula putih di atas meja. Sambil melontarkan senyum manis, ia menoleh ke arah Tantra yang tampaknya tak terganggu sedikit pun dengan kehadirannya.
"Silakan."
"Ya, terima kasih."
Gadis itu kecewa karena Tantra hanya menoleh sebentar. Tetapi, ia belum putus asa dan duduk di kursi yang berada di samping Tantra.
"Harus selesai jam berapa, Pak?"
"Secepatnya, "sahut Tantra sambil membuka file.
"Jadinya menginap di kantor, ya? Istri Pak Tantra pasti kesepian."
Tantra merasa tak perlu menjawab, jadi dia diam saja.
"Oh ya, bagaimana kalau saya panggil Mas saja? Rasanya usia kita tidak terpaut terlalu jauh."
"Silakan."
Suasana kembali hening. Tantra mulai sibuk dengan tugasnya. Gadis yang duduk di sampingnya pun menahan napas kesal. Ingin rasanya ia beranjak meninggalkan laki-laki angkuh ini. Tetapi, tidak, jangan cepat menyerah, sebab kakaknya telah menjanjikan sesuatu yang menggiurkan.
"Saya pernah lihat istri Mas."
"Oh ya?"
"Iya, apa Mas bahagia punya istri dia?"
"Tentu saja."
Meyra, gadis itu merasa mendapat harapan. Meskipun tak acuh, Tantra masih mau menjawab pertanyaannya. Meskipun, meskipun lagi, hanya sepatah dua patah kata. Menurut Herman, sang Kakak, ini berarti lampu hijau. "Kau harus lebih berani, "begitu pesannya.
"Apa sih enaknya menikah muda?"
Tantra tersentak, ia pun bergegas berdiri. Bukan pertanyaan Meyra yang mengejutkannya, tetapi karena tangan gadis itu tiba-tiba saja sudah hinggap di pundaknya.
Malam menggelapkan angkasa. Taburan jutaan bintang belum mampu mencerahkan langit yang kelam.
Saat hendak menutup pintu, betapa terkejutnya Nada melihat Danar duduk dengan santai di ruang tengah.
"Hai, apa kabar?"sapanya sambil menyeringai. Kedua kakinya ditumpangkan di atas meja dan kepulan asap keluar dari bulatan mulutnya.
Pucat pasi seketika wajah Nada.
"Silakan."
"Ya, terima kasih."
Gadis itu kecewa karena Tantra hanya menoleh sebentar. Tetapi, ia belum putus asa dan duduk di kursi yang berada di samping Tantra.
"Harus selesai jam berapa, Pak?"
"Secepatnya, "sahut Tantra sambil membuka file.
"Jadinya menginap di kantor, ya? Istri Pak Tantra pasti kesepian."
Tantra merasa tak perlu menjawab, jadi dia diam saja.
"Oh ya, bagaimana kalau saya panggil Mas saja? Rasanya usia kita tidak terpaut terlalu jauh."
"Silakan."
Suasana kembali hening. Tantra mulai sibuk dengan tugasnya. Gadis yang duduk di sampingnya pun menahan napas kesal. Ingin rasanya ia beranjak meninggalkan laki-laki angkuh ini. Tetapi, tidak, jangan cepat menyerah, sebab kakaknya telah menjanjikan sesuatu yang menggiurkan.
"Saya pernah lihat istri Mas."
"Oh ya?"
"Iya, apa Mas bahagia punya istri dia?"
"Tentu saja."
Meyra, gadis itu merasa mendapat harapan. Meskipun tak acuh, Tantra masih mau menjawab pertanyaannya. Meskipun, meskipun lagi, hanya sepatah dua patah kata. Menurut Herman, sang Kakak, ini berarti lampu hijau. "Kau harus lebih berani, "begitu pesannya.
"Apa sih enaknya menikah muda?"
Tantra tersentak, ia pun bergegas berdiri. Bukan pertanyaan Meyra yang mengejutkannya, tetapi karena tangan gadis itu tiba-tiba saja sudah hinggap di pundaknya.
Malam menggelapkan angkasa. Taburan jutaan bintang belum mampu mencerahkan langit yang kelam.
Saat hendak menutup pintu, betapa terkejutnya Nada melihat Danar duduk dengan santai di ruang tengah.
"Hai, apa kabar?"sapanya sambil menyeringai. Kedua kakinya ditumpangkan di atas meja dan kepulan asap keluar dari bulatan mulutnya.
Pucat pasi seketika wajah Nada.
Jumat, 04 Maret 2011
Di Arung Jeram Cinta (Bab VII)
Serasa tak percaya Herman memperhatikan gadis berbusana muslim dengan jilbab biru laut itu. Ia sudah mengetahui bahwa Tantra salah satu orang kepercayaannya mempunyai seorang adik perempuan, tetapi sungguh jauh dari yang ia bayangkan. Selama ini ia mengira adik Tantra seorang gadis cantik jelita, berkulit putih, dan lemah lembut. Jadi, wajar saja, kalau atasan Tantra itu terheran-heran.
"Asalamualaikum, "sapa Rafa tanpa ragu saat melihat seseorang duduk di ruang tamu.
"Waalaikumussalam, "jawab Herman seraya beranjak dari duduknya. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Bisa saya bertemu dengan Pak Tantra?"
"Maaf, Adik siapa?"
"Saya, adiknya."
"Adiknya?"Herman mengerutkan kening. "Tapi...."
"Apa maksud Bapak dengan 'tapi'? Bapak tidak percaya kalau saya adik kandung Pak Tantra?"
Herman semakin tercengang. "Bukan begitu, Dik. Soalnya sering orang mengaku-aku saudaranya Pak A atau Bu B."
"Nah, kalau begitu kenapa tidak Bapak panggil saja Pak Tantra? Nanti kan tahu, saya bohong atau tidak."
Jujur, tak sanggup lagi Herman berkata-kata. Ia jadi teringat Meyra, adiknya. Gadis di hadapannya jelas memiliki sifat bertolak belakang dengan Meyra. Adiknya itu terlalu lembut dan sangat rendah diri. Tidak seperti gadis yang satu ini. Tegas, penuh keyakinan.
Herman tersenyum memandang gadis sebaya adiknya itu. "Baik, akan saya panggilkan Pak Tantra, "ujarnya sambil menekan sebuah tombol di meja resepsionis.
Hari ini Danar sengaja tidak masuk kerja. Ada rencana lain yang menurutnya jauh lebih penting. Bukan, bukan mencari istrinya yang mendadak raib ditelan bumi, melainkan..., laki-laki itu tersenyum sendiri.
Bersama Herman, ia telah mengatur semuanya dengan baik. Dengan kekuasaannya, ia menjadikan teman semasa remaja itu sebagai kerbau yang dicocok hidungnya. Herman pun menugaskan supaya Tantra pulang larut malam alias lembur.
Nada menutup ponsel dengan kecewa. Suaminya baru saja telepon bahwa hari ini akan pulang terlambat. Padahal, tidak enak rasanya makan sendiri. Ia sempat protes karena sudah menyiapkan makan malam lebih awal.
"Jadi, Mas pulang jam berapa?"
"Tergantung, kalau sudah selesai, insyaAllah, aku langsung pulang."
"Kira-kira jam berapa?"
Suasana hening. Tampaknya suaminya sedang berpikir.
"Jam berapa, Mas?"
"InsyaAllah, di atas jam sembilan."
"Aapaa?"
"Mbak...."
"Iya... tapi, benar, ya, langsung pulang."
"Ya, doakan sukses."
"Iya, amin, amin."
"Mbak...."
"Hm?"
"Aku sayang kamu."
Nada dapat merasakan semburat merah bersemu di pipinya. "Aku juga, "sahutnya lembut.
Danar tidak sabar lagi untuk melaksanakan rencananya. Sudah lama dendam ini berkobar seakan-akan menghanguskan jiwa dan seluruh tubuhnya. Sambil menyulut sebatang kretek, ia pun menyambar kunci kontak sedan dari meja makan.
"Asalamualaikum, "sapa Rafa tanpa ragu saat melihat seseorang duduk di ruang tamu.
"Waalaikumussalam, "jawab Herman seraya beranjak dari duduknya. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Bisa saya bertemu dengan Pak Tantra?"
"Maaf, Adik siapa?"
"Saya, adiknya."
"Adiknya?"Herman mengerutkan kening. "Tapi...."
"Apa maksud Bapak dengan 'tapi'? Bapak tidak percaya kalau saya adik kandung Pak Tantra?"
Herman semakin tercengang. "Bukan begitu, Dik. Soalnya sering orang mengaku-aku saudaranya Pak A atau Bu B."
"Nah, kalau begitu kenapa tidak Bapak panggil saja Pak Tantra? Nanti kan tahu, saya bohong atau tidak."
Jujur, tak sanggup lagi Herman berkata-kata. Ia jadi teringat Meyra, adiknya. Gadis di hadapannya jelas memiliki sifat bertolak belakang dengan Meyra. Adiknya itu terlalu lembut dan sangat rendah diri. Tidak seperti gadis yang satu ini. Tegas, penuh keyakinan.
Herman tersenyum memandang gadis sebaya adiknya itu. "Baik, akan saya panggilkan Pak Tantra, "ujarnya sambil menekan sebuah tombol di meja resepsionis.
Hari ini Danar sengaja tidak masuk kerja. Ada rencana lain yang menurutnya jauh lebih penting. Bukan, bukan mencari istrinya yang mendadak raib ditelan bumi, melainkan..., laki-laki itu tersenyum sendiri.
Bersama Herman, ia telah mengatur semuanya dengan baik. Dengan kekuasaannya, ia menjadikan teman semasa remaja itu sebagai kerbau yang dicocok hidungnya. Herman pun menugaskan supaya Tantra pulang larut malam alias lembur.
Nada menutup ponsel dengan kecewa. Suaminya baru saja telepon bahwa hari ini akan pulang terlambat. Padahal, tidak enak rasanya makan sendiri. Ia sempat protes karena sudah menyiapkan makan malam lebih awal.
"Jadi, Mas pulang jam berapa?"
"Tergantung, kalau sudah selesai, insyaAllah, aku langsung pulang."
"Kira-kira jam berapa?"
Suasana hening. Tampaknya suaminya sedang berpikir.
"Jam berapa, Mas?"
"InsyaAllah, di atas jam sembilan."
"Aapaa?"
"Mbak...."
"Iya... tapi, benar, ya, langsung pulang."
"Ya, doakan sukses."
"Iya, amin, amin."
"Mbak...."
"Hm?"
"Aku sayang kamu."
Nada dapat merasakan semburat merah bersemu di pipinya. "Aku juga, "sahutnya lembut.
Danar tidak sabar lagi untuk melaksanakan rencananya. Sudah lama dendam ini berkobar seakan-akan menghanguskan jiwa dan seluruh tubuhnya. Sambil menyulut sebatang kretek, ia pun menyambar kunci kontak sedan dari meja makan.
Langganan:
Postingan (Atom)