Sayang sekali ayah dan ibu sedang menghadiri acara reuni alumni universitas, tetapi, tak mengapa kedatangan kakak dan istrinya membuat Rafa tidak lagi measakan jenuh serta kesepian. Apalagi keduanya berencana menemani dirinya sampai ayah ibu pulang.
Sementara Tantra pergi ke bengkel di seberang jalan, Rafa menyiapkan sarapan. Nada membantu.
"Masak apa, Dik?"
"Yang cepat saja, Mbak, "sahut Rafa membuka pintu lemari es. "Tumis kangkung sama perkedel tahu."
"Wah, Dik Rafa pintar masak ya, ternyata?"
"Cuma iseng, Mbak. Daripada beli, jadi lebih hemat."
Nada tersenyum memperhatikan adik iparnya yang mulai sibuk mengeluarkan bahan-bahan.
Ia menatap Rafa dan baru menyadari walaupun sekandung, Rafa berbeda dengan kakaknya. Tantra berkulit putih bersih dengan tatapan setajam elang. Sedangkan Rafa memiliki warna kulit coklat muda, tatap matanya tidaklah setajam elang, tetapi berkilat-kilat memancarkan kecerdasan.
Tiba-tiba Nada menutup hidungnya dan berlari menuju bak cuci di sudut dapur. Rafa segera meletakkan sesiung bawang putih yang baru saja dikupasnya, cepat-cepat dihampirinya si Kakak ipar.
"Mbak, Mbak Nada sakit?"
Nada menutup kran. "Biasa, tiap pagi selalu begini."
"Oh ya? Mas Tantra sudah tahu?"
Belum sempat Nada menjawab, sudah ada jawaban di belakang Rafa. "Sudah, kan Mas penyebabnya."
Rafa langsung menoleh, menatap kedua makhluk di hadapannya bergantian. "Jadi, Mbak Nada hamil?"
Nada mengangguk.
Rafa menatap kakaknya sambil membelalakkan mata. "Hamil? Kok sempat...eh, maksudku..., "gadis itu cepat menutup mulutnya.
Tantra tertawa. "Ya pasti sempat, adikku manis. Kan tiap hari kami ketemu dan sekamar lagi, "si Kakak mulai kambuh isengnya.
Nada merasa wajahnya merah padam. "Mbak juga sudah berhenti dari pekerjaan, "selanya berusaha mengalihkan pembicaraan.
Rafa melirik kakaknya, "Mas Tantra yang suruh?"
"Tidak, ini niat Mbak sendiri."
Melihat adiknya mengangguk-angguk, Tantra tersenyum geli. "Teruskan memasak, Mas mau mengantar Mbak Nada."
"Ke mana?"
Kali ini Nada yang menjawab, "Yang ngidam Mas Tantra kok, Dik."
Rafa menahan tawa melihat raut muka kakaknya yang mirip tomat matang.
Danar menghantam meja dengan geram. Lagi-lagi rencananya gagal. Sampai habis rasanya mulutnya memaki-maki Herman yang dianggapnya tidak becus. Tetapi, tentu saja ia tidak melampiaskan kekesalannya secara langsung di depan temannya itu. Sebab bagaimanapun juga Herman telah banyak membantunya dan bisa saja menghancurkan kariernya dengan sekali tepuk.
Sementara itu di wartel, Lisa memutar nomor dengan tangan gemetar. Ia berharap suaminya terlalu sibuk dengan diri sendiri sehingga tidak menyadari bahwa seharusnya istrinya sudah pulang sejak lima belas menit yang lalu.
"Asalamualaikum...Nada, ini aku, Lisa! Tolong aku, Nada! Aku...aaa!"
Kamis, 03 Februari 2011
Senin, 31 Januari 2011
Di Arung Jeram Cinta
Film atau sinetron bertema KDRT adalah salah satu tayangan yang tidak disukai Rafa. Menduduki peringkat kedua, tayangan berbau pornografi. Merendahkan martabat kaum hawa, begitu alasan gadis manis yang lincah itu. Tentu saja kalau yang jadi model sesama wanita. Kalau yang jadi model, pria, gantian Tantra yang mencak-mencak.
Sebenarnya kakak beradik itu memiliki sifat dan karakter yang hampir sama. Sama-sama iseng dan baik hati, tidak tahan melihat penderitaan sesama makhluk hidup.
Cakra dan Afna lebih mengkhawatirkan putri mereka dibanding si Sulung. Lebih-lebih Afna sebagai ibu yang melahirkan dengan susah payah (kelahiran Rafa melalui operasi caesar).
Rafa menggeram. Adik Tantra satu-satunya ini memang aneh, membenci sinetron bertema KDRT, tetapi malah paling sering menontonnya. Alhasil, sepanjang cerita, dari awal hingga akhir, tak henti-hentinya menggerutu dan berdecak.
Plak! Adegan suami menampar istrinya. Sang Istri yang kurus kering itu langsung terlempar ke sudut kamar. Wanita itu menangis tersedu-sedu.
"Kenapa perempuan bisanya cuma menangis?"
"Tidak, kalau perempuan itu adikku."
Rafa menoleh. Ia bangkit dari sofa dengan wajah gembira. "Mas Tantra?"
Tantra tersenyum memeluk adiknya.
"Suka sinetron ya, Dik?"sapa Nada sambil mencium kedua pipi adik iparnya.
"Dia ini pembela kaum wanita dari penindasan laki-laki, "ujar Tantra kepada istrinya. "Makanya ia suka menonton film drama rumah tangga."
"Oh ya? Mau cepat-cepat menikah ya?" Nada duduk di samping suaminya.
"Ah, Mbak Nada, aku mau lulus kuliah dulu, "tukas Rafa tersipu. "Baru cari kerja."
"Paling-paling jadi tukang pukulnya para istri yang mengalami KDRT, "sela Tantra tanpa memedulikan adiknya yang melotot kesal.
"Ah, masa?"Nada tampak tak percaya.
"Dia sampai ikut dua latihan bela diri, judo dan taekwondo, "Tantra malah melanjutkan ceritanya. "Katanya, biar bisa melawan kalau punya suami hobinya pukul istri sama anak."
Rafa menatap Nada yang tampak terheran-heran. "Mas Tantra asal ngomong, Mbak, "tukasnya. "Oh ya, mau minum apa?"
"Apa saja, "sahut Tantra cepat.
"Air dari kran juga mau?" Sebuah bantal kursi langsung hinggap di wajahnya.
Sebenarnya kakak beradik itu memiliki sifat dan karakter yang hampir sama. Sama-sama iseng dan baik hati, tidak tahan melihat penderitaan sesama makhluk hidup.
Cakra dan Afna lebih mengkhawatirkan putri mereka dibanding si Sulung. Lebih-lebih Afna sebagai ibu yang melahirkan dengan susah payah (kelahiran Rafa melalui operasi caesar).
Rafa menggeram. Adik Tantra satu-satunya ini memang aneh, membenci sinetron bertema KDRT, tetapi malah paling sering menontonnya. Alhasil, sepanjang cerita, dari awal hingga akhir, tak henti-hentinya menggerutu dan berdecak.
Plak! Adegan suami menampar istrinya. Sang Istri yang kurus kering itu langsung terlempar ke sudut kamar. Wanita itu menangis tersedu-sedu.
"Kenapa perempuan bisanya cuma menangis?"
"Tidak, kalau perempuan itu adikku."
Rafa menoleh. Ia bangkit dari sofa dengan wajah gembira. "Mas Tantra?"
Tantra tersenyum memeluk adiknya.
"Suka sinetron ya, Dik?"sapa Nada sambil mencium kedua pipi adik iparnya.
"Dia ini pembela kaum wanita dari penindasan laki-laki, "ujar Tantra kepada istrinya. "Makanya ia suka menonton film drama rumah tangga."
"Oh ya? Mau cepat-cepat menikah ya?" Nada duduk di samping suaminya.
"Ah, Mbak Nada, aku mau lulus kuliah dulu, "tukas Rafa tersipu. "Baru cari kerja."
"Paling-paling jadi tukang pukulnya para istri yang mengalami KDRT, "sela Tantra tanpa memedulikan adiknya yang melotot kesal.
"Ah, masa?"Nada tampak tak percaya.
"Dia sampai ikut dua latihan bela diri, judo dan taekwondo, "Tantra malah melanjutkan ceritanya. "Katanya, biar bisa melawan kalau punya suami hobinya pukul istri sama anak."
Rafa menatap Nada yang tampak terheran-heran. "Mas Tantra asal ngomong, Mbak, "tukasnya. "Oh ya, mau minum apa?"
"Apa saja, "sahut Tantra cepat.
"Air dari kran juga mau?" Sebuah bantal kursi langsung hinggap di wajahnya.
Minggu, 30 Januari 2011
Ampuni Aku, Tuhan
Telah tiba waktu melepas selimut
lalu membasuh diri dengan air suci
tetapi pagi ini terasa dingin sekali
alam pun masih menyapa kabut
Sudah saatnya hentikan kegiatan
di seberang jalan panggilan menanti
namun setumpuk tugas harus selesai siang ini
terlambat semenit akan dipotong honor bulanan
Lagi-lagi ada yang mengganggu
tidak tahukah aku sibuk berkemas-kemas
mana mungkin aku ada waktu
masih harus kubeli sepuluh kilogram beras
Selalu ada saja yang mengusik gendang telingaku
tidak tahukah kalau aku sedang menonton sinetron impian
tampilan layar kaca pun bukan lagi artis idolaku
mengapa selalu saja ada yang merusak penglihatan
Panggilan itu berkumandang kembali
biarkan saja aku masih makan malam
toh sebentar lagi aku akan gosok gigi dan cuci kaki
masih tersisa banyak waktu apalagi langit pun dalam kelam
Nanti kalau aku sudah kaya
kelak aku akan jadi orang terkenal
benar-benar aku akan dirikan masjid semegah angkasa raya
di depannya akulah yang pertama titipkan sandal
Tetapi sayangnya hidupku masih kembang kempis
aku harus bekerja keras untuk mencukupi semua kebutuhan
maukah Engkau mengerti aku yang menangis
berilah aku ribuan lagi kesempatan
Jadi, maafkan aku
ampunilah, aku Tuhan
kalau aku belum sempat memenuhi panggilanMu
sebab aku belum punya berlimpah harta simpanan
lalu membasuh diri dengan air suci
tetapi pagi ini terasa dingin sekali
alam pun masih menyapa kabut
Sudah saatnya hentikan kegiatan
di seberang jalan panggilan menanti
namun setumpuk tugas harus selesai siang ini
terlambat semenit akan dipotong honor bulanan
Lagi-lagi ada yang mengganggu
tidak tahukah aku sibuk berkemas-kemas
mana mungkin aku ada waktu
masih harus kubeli sepuluh kilogram beras
Selalu ada saja yang mengusik gendang telingaku
tidak tahukah kalau aku sedang menonton sinetron impian
tampilan layar kaca pun bukan lagi artis idolaku
mengapa selalu saja ada yang merusak penglihatan
Panggilan itu berkumandang kembali
biarkan saja aku masih makan malam
toh sebentar lagi aku akan gosok gigi dan cuci kaki
masih tersisa banyak waktu apalagi langit pun dalam kelam
Nanti kalau aku sudah kaya
kelak aku akan jadi orang terkenal
benar-benar aku akan dirikan masjid semegah angkasa raya
di depannya akulah yang pertama titipkan sandal
Tetapi sayangnya hidupku masih kembang kempis
aku harus bekerja keras untuk mencukupi semua kebutuhan
maukah Engkau mengerti aku yang menangis
berilah aku ribuan lagi kesempatan
Jadi, maafkan aku
ampunilah, aku Tuhan
kalau aku belum sempat memenuhi panggilanMu
sebab aku belum punya berlimpah harta simpanan
Di Arung Jeram Cinta
Lisa meletakkan secangkir kopi di meja ruang tengah dengan gemetar. Ia takut sekali kalau suaminya mengamuk lagi seperti kemarin dan menghajarnya mirip pencopet yang tertangkap basah di tengah pasar.
"Ini minumnya, Mas, "ujar perempuan berkulit kuning langsat itu.
Danar tidak berkata apa-apa. Ia memegang telinga cangkir dan mengamati yang ada di dalamnya. "Pagi ini aku sedang tidak mau kopi, "katanya sambil menuang kopi di dalam cangkir itu ke lantai dengan gerakan perlahan.
Lisa tidak berani menarik napas sedikitpun melihatnya. Ia masih berdiri di tempat semula.
Danar beranjak dari sofa. "Kamu ini memang tidak becus jadi istri, masa tidak tahu selera suami? Cepat, bersihkan lantai!"
Cepat-cepat Lisa membalikkan tubuh hendak mengambil kain pel di lantai dapur. Tetapi.... "Mau ke mana?"
"Ke ke dapur, a...ambil pel...."
"Tidak perlu! Pel saja dengan gaun pestamu!"
Lisa tersentak. Itu gaun pesta satu-satunya! Ia tidak punya lagi selain itu dan hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun! Ia memandang suaminya dengan tatapan memohon agar mau mengganti perintahnya.
"Masih berdiri di situ?"Danar bertanya dengan nada mengancam. "Antarkan jus leci ke kamar. Malam ini udara panas sekali. Aku tunggu lima menit."
"I..iya, Mas...."
Danar belum berbalik. Ia hampir terlupa harus mengancam istrinya, "Oh ya, kalau kau coba-coba membuatku marah lagi, aku akan menghajarmu lebih daripada yang selama ini, mengerti?!"
"Me...mengerti, Mas...."
Pagi telah tiba. Tantra telah berpakaian rapi dan siap berangkat ke kantor. Kali ini ia melakukan tugas istrinya menanak nasi, memasak lauk, dan menjerang air. Sementara Nada masih terbuai mimpi setelah semalaman menangis dan tidak mau dibujuk. Daripada ribut, Tantra memilih untuk menghindar dan tidur di karpet ruang tengah.
Tantra membuka pintu kamar. Nada masih meringkuk di bawah selimut hijau lumut. Perlahan pemuda itu menyibak tirai yang menutupi kaca jendela kamar.
Nada membuka mata sambil meletakkan tangannya di dahi untuk melindungi matanya dari sergapan sinar mentari.
Ia melompat duduk ketika melihat suaminya sudah berpakaian rapi dan lengkap. Pakaian kerja. "Aku siapkan sarapan, "ujarnya hendak meluncur dari ranjang.
"Mbak istirahat saja, "Tantra duduk di samping istrinya. "Aku sudah nanak nasi dan goreng tempe."
"Kenapa tidak bangunkan aku?" Nada merasa tidak enak. "Maaf, tidak seharusnya aku bersikap seperti itu kemarin. Tidak sepantasnya aku menuduhmu sembarangan."
Tantra menggeleng. "Tidak apa-apa, Mbak. Aku mengerti, aku pasti akan juga akan bersikap sepertimu kalau kau dapat miss called dari penggemar gelapmu."
Nada tersenyum malu. "Ah, siapa yang mau jadi penggemar gelapku? Justru aku yang beruntung bisa mendapatkan suami sepertimu."
"Kenapa beruntung?"
"Karena kau sangat baik... kau mau menerimaku apa adanya...."
"Kau juga begitu baik, "tukas Tantra tersenyum. "Apa yang sudah kau lakukan kepadaku, rasanya tidak bisa kubalas sampai kapanpun."
"Jadi...kau merasa berutang budi kepadaku?"
"Hm...sebenarnya perasaan cinta jauh lebih dominan, "sahut Tantra. "Dan aku jatuh hati kepadamu karena ketulusan hatimu...."
Nada menoleh, balas menatap suaminya. "Padahal kau bisa mendapatkan yang jauh lebih cantik."
"Bagiku kau yang tercantik, "tukas suaminya lagi.
"Orang-orang sering mengira kita kakak adik. Kau yang adik, sedangkan aku kakak."
"Oh ya? Aku...."Tantra tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena tiba-tiba Nada melesat menuju kamar mandi.
Tantra mengikuti dengan khawatir. Tampak Nada bersandar lemas di dinding kamar mandi sambil membawa gayung berisi air.
"Mbak, kau sakit? Kita harus ke dokter."
Nada tidak bisa menjawab. Perutnya tidak mau diajak kompromi.
Melihat itu, Tantra ikut masuk dan menuntun istrinya kembali ke tempat tidur. "Biar aku yang membersihkan, "katanya ketika Nada menolak.
"Aku telepon dokter dulu."
"Mas...."
Tantra menoleh.
Nada merogoh saku gaunnya dan menyerahkan sepucuk amplop putih. "Bukalah."
Tantra menurut. Ia mengamati benda di tangannya dengan wajah penuh tanya. Benda ini memang masih asing baginya, maklumlah baru kali ini ia melihatnya.
"Itu tes pack."
"Tes pack?"Tantra mengerutkan kening. Lalu memandang istrinya tak percaya. "Maksudmu...kau hamil...?"
Nada mengangguk cepat. Ia tak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya.
Tetapi Tantra masih tampak terheran-heran. "Tapi...."
Nada tercekat. "A...apa kau tidak percaya kalau bayi di rahimku ini anakmu?"
"Bukan, "tukas Tantra. "Aku hanya heran bagaimana yang dianggap adik, bisa menghamili yang dikira kakak?" kali ini dengan wajah menahan tawa.
"Dasar iseng, "gerutu Nada menahan geli.
Tantra melihat arloji di pergelangan kirinya. "Sebaiknya aku mengantarmu kerja siang nanti."
"Aku tidak apa-apa."
"Jangan membantah. Kau harus menunggu sampai aku datang, "Tantra beranjak dari duduknya. Ia berniat mengambilkan sarapan untuk istrinya dan membersihkan kamar mandi.
"Ini minumnya, Mas, "ujar perempuan berkulit kuning langsat itu.
Danar tidak berkata apa-apa. Ia memegang telinga cangkir dan mengamati yang ada di dalamnya. "Pagi ini aku sedang tidak mau kopi, "katanya sambil menuang kopi di dalam cangkir itu ke lantai dengan gerakan perlahan.
Lisa tidak berani menarik napas sedikitpun melihatnya. Ia masih berdiri di tempat semula.
Danar beranjak dari sofa. "Kamu ini memang tidak becus jadi istri, masa tidak tahu selera suami? Cepat, bersihkan lantai!"
Cepat-cepat Lisa membalikkan tubuh hendak mengambil kain pel di lantai dapur. Tetapi.... "Mau ke mana?"
"Ke ke dapur, a...ambil pel...."
"Tidak perlu! Pel saja dengan gaun pestamu!"
Lisa tersentak. Itu gaun pesta satu-satunya! Ia tidak punya lagi selain itu dan hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun! Ia memandang suaminya dengan tatapan memohon agar mau mengganti perintahnya.
"Masih berdiri di situ?"Danar bertanya dengan nada mengancam. "Antarkan jus leci ke kamar. Malam ini udara panas sekali. Aku tunggu lima menit."
"I..iya, Mas...."
Danar belum berbalik. Ia hampir terlupa harus mengancam istrinya, "Oh ya, kalau kau coba-coba membuatku marah lagi, aku akan menghajarmu lebih daripada yang selama ini, mengerti?!"
"Me...mengerti, Mas...."
Pagi telah tiba. Tantra telah berpakaian rapi dan siap berangkat ke kantor. Kali ini ia melakukan tugas istrinya menanak nasi, memasak lauk, dan menjerang air. Sementara Nada masih terbuai mimpi setelah semalaman menangis dan tidak mau dibujuk. Daripada ribut, Tantra memilih untuk menghindar dan tidur di karpet ruang tengah.
Tantra membuka pintu kamar. Nada masih meringkuk di bawah selimut hijau lumut. Perlahan pemuda itu menyibak tirai yang menutupi kaca jendela kamar.
Nada membuka mata sambil meletakkan tangannya di dahi untuk melindungi matanya dari sergapan sinar mentari.
Ia melompat duduk ketika melihat suaminya sudah berpakaian rapi dan lengkap. Pakaian kerja. "Aku siapkan sarapan, "ujarnya hendak meluncur dari ranjang.
"Mbak istirahat saja, "Tantra duduk di samping istrinya. "Aku sudah nanak nasi dan goreng tempe."
"Kenapa tidak bangunkan aku?" Nada merasa tidak enak. "Maaf, tidak seharusnya aku bersikap seperti itu kemarin. Tidak sepantasnya aku menuduhmu sembarangan."
Tantra menggeleng. "Tidak apa-apa, Mbak. Aku mengerti, aku pasti akan juga akan bersikap sepertimu kalau kau dapat miss called dari penggemar gelapmu."
Nada tersenyum malu. "Ah, siapa yang mau jadi penggemar gelapku? Justru aku yang beruntung bisa mendapatkan suami sepertimu."
"Kenapa beruntung?"
"Karena kau sangat baik... kau mau menerimaku apa adanya...."
"Kau juga begitu baik, "tukas Tantra tersenyum. "Apa yang sudah kau lakukan kepadaku, rasanya tidak bisa kubalas sampai kapanpun."
"Jadi...kau merasa berutang budi kepadaku?"
"Hm...sebenarnya perasaan cinta jauh lebih dominan, "sahut Tantra. "Dan aku jatuh hati kepadamu karena ketulusan hatimu...."
Nada menoleh, balas menatap suaminya. "Padahal kau bisa mendapatkan yang jauh lebih cantik."
"Bagiku kau yang tercantik, "tukas suaminya lagi.
"Orang-orang sering mengira kita kakak adik. Kau yang adik, sedangkan aku kakak."
"Oh ya? Aku...."Tantra tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena tiba-tiba Nada melesat menuju kamar mandi.
Tantra mengikuti dengan khawatir. Tampak Nada bersandar lemas di dinding kamar mandi sambil membawa gayung berisi air.
"Mbak, kau sakit? Kita harus ke dokter."
Nada tidak bisa menjawab. Perutnya tidak mau diajak kompromi.
Melihat itu, Tantra ikut masuk dan menuntun istrinya kembali ke tempat tidur. "Biar aku yang membersihkan, "katanya ketika Nada menolak.
"Aku telepon dokter dulu."
"Mas...."
Tantra menoleh.
Nada merogoh saku gaunnya dan menyerahkan sepucuk amplop putih. "Bukalah."
Tantra menurut. Ia mengamati benda di tangannya dengan wajah penuh tanya. Benda ini memang masih asing baginya, maklumlah baru kali ini ia melihatnya.
"Itu tes pack."
"Tes pack?"Tantra mengerutkan kening. Lalu memandang istrinya tak percaya. "Maksudmu...kau hamil...?"
Nada mengangguk cepat. Ia tak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya.
Tetapi Tantra masih tampak terheran-heran. "Tapi...."
Nada tercekat. "A...apa kau tidak percaya kalau bayi di rahimku ini anakmu?"
"Bukan, "tukas Tantra. "Aku hanya heran bagaimana yang dianggap adik, bisa menghamili yang dikira kakak?" kali ini dengan wajah menahan tawa.
"Dasar iseng, "gerutu Nada menahan geli.
Tantra melihat arloji di pergelangan kirinya. "Sebaiknya aku mengantarmu kerja siang nanti."
"Aku tidak apa-apa."
"Jangan membantah. Kau harus menunggu sampai aku datang, "Tantra beranjak dari duduknya. Ia berniat mengambilkan sarapan untuk istrinya dan membersihkan kamar mandi.
Kamis, 27 Januari 2011
Di Arung Jeram Cinta
Tantra membuka pintu kamar. Nada tidak mengacuhkan, bahkan sedikitpun ia tak menoleh. Wanita itu masih bersandar di dinding.
"Mbak, katakan ada apa? Kau ini aneh sekali?"
Nada menoleh, menatap suaminya dengan marah, Kau yang aneh, suamiku tercinta! Jujur sajalah, kalau kamu menyesal punya istri setua aku!"
"Kau ini bicara apa?!"
Nada menunduk, menyembunyikan butir-butir air mata yang mulai menetes di pipi. "Bukankah sebelum kaumelamarku, sudah kutanyakan apa hal ini sudah kamu pikirkan masak-masak?"ujarnya dengan bibir gemetar.
"Kau yang memasalahkan hal itu, Nada. Aku tidak, "tukas Tantra dingin.
"Tidak, aku tahu kau mulai memikirkan perbedaan usia kita, "Nada tak mau kalah.
Tantra menatap istrinya, ia mencoba berpikir lebih jernih. "Katakan, ada apa sebenarnya?"
Nada balas menatap suaminya. Mencoba mencari kejujuran di sana. "Jadi, kau benar-benar tidak tahu?"
"Kalau aku tahu, aku tidak akan bertanya."
"Siapa Meyra?"
"Meyra?" Tantra mengerutkan kening. Ia mencoba membuka daftar nama dalam memori otaknya. Tetapi, ia tidak ingat sedikitpun nama Meyra, bahkan nama itu asing baginya.
"Tapi, ia meneleponmu, "ujar Nada ketika melihat suaminya menggeleng. "Dari mana ia tahu nomor ponselmu."
"Paling-paling salah sambung atau telepon iseng."
"Dia miss called sampai lima kali, Mas! Dan itu yang kamu kata iseng?"
Tantra tercengang.
"Mbak, katakan ada apa? Kau ini aneh sekali?"
Nada menoleh, menatap suaminya dengan marah, Kau yang aneh, suamiku tercinta! Jujur sajalah, kalau kamu menyesal punya istri setua aku!"
"Kau ini bicara apa?!"
Nada menunduk, menyembunyikan butir-butir air mata yang mulai menetes di pipi. "Bukankah sebelum kaumelamarku, sudah kutanyakan apa hal ini sudah kamu pikirkan masak-masak?"ujarnya dengan bibir gemetar.
"Kau yang memasalahkan hal itu, Nada. Aku tidak, "tukas Tantra dingin.
"Tidak, aku tahu kau mulai memikirkan perbedaan usia kita, "Nada tak mau kalah.
Tantra menatap istrinya, ia mencoba berpikir lebih jernih. "Katakan, ada apa sebenarnya?"
Nada balas menatap suaminya. Mencoba mencari kejujuran di sana. "Jadi, kau benar-benar tidak tahu?"
"Kalau aku tahu, aku tidak akan bertanya."
"Siapa Meyra?"
"Meyra?" Tantra mengerutkan kening. Ia mencoba membuka daftar nama dalam memori otaknya. Tetapi, ia tidak ingat sedikitpun nama Meyra, bahkan nama itu asing baginya.
"Tapi, ia meneleponmu, "ujar Nada ketika melihat suaminya menggeleng. "Dari mana ia tahu nomor ponselmu."
"Paling-paling salah sambung atau telepon iseng."
"Dia miss called sampai lima kali, Mas! Dan itu yang kamu kata iseng?"
Tantra tercengang.
Rabu, 26 Januari 2011
Di Arung Jeram Cinta (Bab V)
Ini benar-benar tak biasa. Tidak seperti biasanya, Tantra pulang dari kerja disambut dengan wajah keruh. Nada bukannya tidak mencoba tersenyum manis, tetapi sayangnya yang terlihat justru senyum masam. Ini pasti ada apa-apa.
Tantra mencoba bersikap wajar dan tidak terpancing emosi. Kedudukannya sebagai seorang kakak dalam keluarga melatihnya demikian. Tidak jarang adiknya si Rafa suka merajuk dan kalau sudah begitu Tantra harus dapat melakukan sesuatu untuk mengakhiri aksi demo adiknya.
Nada meletakkan secangkir teh hangat di meja ruang tengah tanpa berkata sepatah pun. Tantra memandang istrinya penuh tanya. "Mbak."
Nada kembali membalikkan tubuh.
"Tidak temani aku?"
"Aku belum menanak nasi."
Tantra tak bertanya lagi, ia membiarkan istrinya berlalu.
Sementara itu di teras sebuah rumah yang cukup mewah, Herman menepuk pundak Meyra sambil tersenyum puas. Ia sangat bangga memiliki adik yang tidak mudah putus asa.
"Mas Herman yakin?"
"Oh, tentu saja."
Meyra mengerutkan kening. Ia tampak belum mempercayai ucapan kakak semata wayangnya itu.
"Kenapa Mas begitu yakin?"
"Adikku manis, Mas sudah cari informasi tentang Tantra dan mendapatkan simpulan bahwa perlu waktu lama untuk menundukkan laki-laki itu. Padahal waktu kita tidak banyak."
Meyra mengangguk-angguk. "Jadi, karena itu, Mas menyuruhku memengaruhi istrinya?"
"Tepat! Mas tahu benar kalau istri Tantra takut sekali kehilangan suaminya. Hm, kalau kamu lihat fotonya pasti akan percaya kenapa bisa seperti itu."
"Jadi selama ini Tantra dikerangkeng istrinya?"
"Tidak, tentu tidak. Laki-laki kalau dikerangkeng malah kabur."
"Termasuk kakakku ini juga?"Meyra mengerling, menggoda kakaknya.
Herman terbahak. "Hush, itu rahasia, "tukasnya. "Oh ya, jangan sampai ada yang tahu rencana ini selain kita, jangan juga mbak iparmu."
Meyra mengangguk mantap.
Habis sudah kesabaran Tantra. Sejak sore tadi, Nada selalu menghindar. Sekarang, saat makan malam pun, ia malah beranjak menuju tempat cuci piring di sudut ruang makan. Cepat, Tantra mematikan kran yang baru dinyalakan istrinya.
Nada tersentak.
"Kita harus bicara."
Nada memalingkan wajahnya.
Tantra tidak perduli, ia menarik tangan istrinya dan mengajaknya duduk di kursi makan.
"Mbak, ada apa?"
Nada diam saja.
"Kamu marah?"
Bukannya menjawab, wanita itu malah melangkah cepat menuju kamar meninggalkan suaminya yang masih kebingungan.
Di kamar, Nada bersandar di dinding dengan lemas. Seharusnya ia tahu diri. Bodohnya ia berharap bahwa Tantra akan menjadi suami yang setia. Mana mungkin ada suami setia sampai mati kalau dapat istri perawan tua? Tadinya Nada berharap suami meniru Nabi Muhammad dalam hal kesetiaan. Ternyata, harapan tinggal harapan. Tantra tidak ada bedanya dengan laki-laki lain, menilai perselingkuhan sebagai hiburan sampingan.
Bisa jadi, justru dirinya hanya sampingan dan yang di luar, gadis bersuara merayu itulah yang lebih utama. Seberapa jauh hubungan keduanya?
Nada menggigit bibir menahan tangis yang akan pecah. Tiba-tiba ia teringat sudah dua minggu lebih ia tidak datang bulan.
Tantra mencoba bersikap wajar dan tidak terpancing emosi. Kedudukannya sebagai seorang kakak dalam keluarga melatihnya demikian. Tidak jarang adiknya si Rafa suka merajuk dan kalau sudah begitu Tantra harus dapat melakukan sesuatu untuk mengakhiri aksi demo adiknya.
Nada meletakkan secangkir teh hangat di meja ruang tengah tanpa berkata sepatah pun. Tantra memandang istrinya penuh tanya. "Mbak."
Nada kembali membalikkan tubuh.
"Tidak temani aku?"
"Aku belum menanak nasi."
Tantra tak bertanya lagi, ia membiarkan istrinya berlalu.
Sementara itu di teras sebuah rumah yang cukup mewah, Herman menepuk pundak Meyra sambil tersenyum puas. Ia sangat bangga memiliki adik yang tidak mudah putus asa.
"Mas Herman yakin?"
"Oh, tentu saja."
Meyra mengerutkan kening. Ia tampak belum mempercayai ucapan kakak semata wayangnya itu.
"Kenapa Mas begitu yakin?"
"Adikku manis, Mas sudah cari informasi tentang Tantra dan mendapatkan simpulan bahwa perlu waktu lama untuk menundukkan laki-laki itu. Padahal waktu kita tidak banyak."
Meyra mengangguk-angguk. "Jadi, karena itu, Mas menyuruhku memengaruhi istrinya?"
"Tepat! Mas tahu benar kalau istri Tantra takut sekali kehilangan suaminya. Hm, kalau kamu lihat fotonya pasti akan percaya kenapa bisa seperti itu."
"Jadi selama ini Tantra dikerangkeng istrinya?"
"Tidak, tentu tidak. Laki-laki kalau dikerangkeng malah kabur."
"Termasuk kakakku ini juga?"Meyra mengerling, menggoda kakaknya.
Herman terbahak. "Hush, itu rahasia, "tukasnya. "Oh ya, jangan sampai ada yang tahu rencana ini selain kita, jangan juga mbak iparmu."
Meyra mengangguk mantap.
Habis sudah kesabaran Tantra. Sejak sore tadi, Nada selalu menghindar. Sekarang, saat makan malam pun, ia malah beranjak menuju tempat cuci piring di sudut ruang makan. Cepat, Tantra mematikan kran yang baru dinyalakan istrinya.
Nada tersentak.
"Kita harus bicara."
Nada memalingkan wajahnya.
Tantra tidak perduli, ia menarik tangan istrinya dan mengajaknya duduk di kursi makan.
"Mbak, ada apa?"
Nada diam saja.
"Kamu marah?"
Bukannya menjawab, wanita itu malah melangkah cepat menuju kamar meninggalkan suaminya yang masih kebingungan.
Di kamar, Nada bersandar di dinding dengan lemas. Seharusnya ia tahu diri. Bodohnya ia berharap bahwa Tantra akan menjadi suami yang setia. Mana mungkin ada suami setia sampai mati kalau dapat istri perawan tua? Tadinya Nada berharap suami meniru Nabi Muhammad dalam hal kesetiaan. Ternyata, harapan tinggal harapan. Tantra tidak ada bedanya dengan laki-laki lain, menilai perselingkuhan sebagai hiburan sampingan.
Bisa jadi, justru dirinya hanya sampingan dan yang di luar, gadis bersuara merayu itulah yang lebih utama. Seberapa jauh hubungan keduanya?
Nada menggigit bibir menahan tangis yang akan pecah. Tiba-tiba ia teringat sudah dua minggu lebih ia tidak datang bulan.
Selasa, 25 Januari 2011
Bayang Pelangi
Setiap orang yang melihat aku dan kakakku, mereka selalu mengerutkan kening. Bukan masalah aku berjenis perempuan, sedangkan kakakku laki-laki, tetapi karena sifat kami yang benar-benar bertolak belakang. Kakakku lahir 4 tahun 3 bulan lebih dulu dariku memiliki sosok yang ceria dan supel dalam pergaulan. Usia bukan masalah baginya, ia bisa dengan cepat disukai siapa saja, dari bayi sampai kakek nenek. Sebaliknya diriku begitu pendiam dan baru berbicara jika diajak. Senyum? Wow, kata orang-orang mahal! Jadi siapa yang percaya kalau kami kakak adik?
Sekarang tentu saja, aku tidak lagi terkenal mahal senyum. Toh, aku bukan kanak-kanak atau remaja lagi. Walaupun ada satu hal yang sering menjengkelkan kakakku: aku mempunyai watak tidak acuh. Mungkin aku wanita, maka dinilai kurang pantas bersifat seperti itu. Bukankah seharusnya seorang wanita itu penuh perhatian termasuk berdandan dan menggunakan asesoris (sst, aku jarang berdandan dan asesoris lebih sering tersimpan di tempatnya daripada kupamerkan). Padahal, ada untungnya juga memiliki sifat tidak acuh, asalkan bisa menempatkannya pada porsi dan sikon yang tepat.
Bayang Pelangi, itulah kakakku. Kami lahir dari sepasang orang tua yang sama. Kakakku secara fisik maupun sifat lebih mirip Ibu, sebaliknya aku yang wanita mirip Ayah.
Kini kami telah sama-sama dewasa dan tinggal di tempat yang berbeda walaupun satu kota.
Sekarang tentu saja, aku tidak lagi terkenal mahal senyum. Toh, aku bukan kanak-kanak atau remaja lagi. Walaupun ada satu hal yang sering menjengkelkan kakakku: aku mempunyai watak tidak acuh. Mungkin aku wanita, maka dinilai kurang pantas bersifat seperti itu. Bukankah seharusnya seorang wanita itu penuh perhatian termasuk berdandan dan menggunakan asesoris (sst, aku jarang berdandan dan asesoris lebih sering tersimpan di tempatnya daripada kupamerkan). Padahal, ada untungnya juga memiliki sifat tidak acuh, asalkan bisa menempatkannya pada porsi dan sikon yang tepat.
Bayang Pelangi, itulah kakakku. Kami lahir dari sepasang orang tua yang sama. Kakakku secara fisik maupun sifat lebih mirip Ibu, sebaliknya aku yang wanita mirip Ayah.
Kini kami telah sama-sama dewasa dan tinggal di tempat yang berbeda walaupun satu kota.
Langganan:
Postingan (Atom)