Seorang anak kecil mengais-ngais tanah
dengan kedua tangannya mungil
segala yang ditemukan ia bedah
dimasukkan ke dalam saku bajunya yang kecil
Ia berjalan tertatih-tatih
tiada lagi tahu arti lapar dan dahaga
ah, mungkin dia terlalu letih
setelah berhari-hari hidup sebatang kara
Langit biru pilu merintih
menyaksikan derita si Kecil penuh iba
terisak-isak menangis sedih
membelai tubuh mungil yang hilang rasa
Selasa, 25 Januari 2011
Senin, 24 Januari 2011
Di Arung Jeram Cinta
Peristiwa malam itu, ternyata membawa dampak psikologis bagi gadis selugu Rafa. Disebut lugu, karena sampai sejauh ini, prestasi film terbaik yang pernah ditontonnya cuma film kartun Sponge Bob, agak lumayan Avatar. Belum pernah sekalipun film bertema drama percintaan ditontonnya. Itulah sebabnya ia sempat shock ketika memergoki kakaknya akan .... Rafa menggeleng kuat-kuat. Bukan main malunya saat itu.
Memang benar, itu bukan dosa, toh Nada istri Tantra, tetapi tetap saja Rafa jadi kalang kabut melihatnya. Ia benar-benar yakin tak akan sanggup melihat adegan itu secara mendetail.
"Kamu kan sering melihat Ayah mencium Ibu atau sebaliknya, "ujar Cakra, saat mereka berkumpul di ruang tengah seusai makan malam."Kenapa lihat begitu saja, jadi histeris?"
"Iya, sampai Ibu kira ada maling, "sela Afna.
"Kalau Ayah sama Ibu kan lain, "tukas Rafa.
"Lain apanya?"tanya Afna penasaran.
"Paling cuma cium pipi atau kening, tapi Mas Tantra...."
"Mas Tantra kenapa?"desak Cakra tak sabar.
"Mas Tantra mau cium ininya Mbak Nada...."
"Ini apa?"kali ini ibunya yang bertanya.
"Ah, Ibu, "Rafa tampak kesal. "Lihat jariku ada di mana...."
Pandangan Cakra dan Afna seketika beralih ke arah telunjuk kanan putri bungsu mereka. Dan hasilnya keduanya terpingkal-pingkal sampai memegangi perut.
Sementara itu Rafa menurunkan telunjuk dari bibirnya dengan malu bercampur kesal.
Di kafe Syahdu.
Meyra, gadis yang mengenakan blouse merah muda dengan rok bermotif bunga-bunga kecil berwarna-warni itu hanya bisa terpaku. Ia kehilangan semua yang sudah disiapkannya beberapa hari terakhir ini. Sungguh, hasil yang tidak sepadan kalau mengingat, ia berlenggak-lenggok, tersenyum, dan berbicara sendiri di depan cermin selama dua jam sampai mulutnya berbusa. Sudah mirip orang gila.
Agnes Monica mendendangkan Matahari. Meyra cepat-cepat membuka tas tangannya dan mengeluarkan ponsel.
"Bagaimana, sudah?"
"Sudah apanya?"Meyra malah balik bertanya.
"Ya, tugasmu."
"Mas, aku gagal, "ujar Meyra dengan suara memelas.
"Kenapa sampai gagal?Bukankah Mas sudah memberimu petunjuk yang lengkap? Belum lagi kamu sudah latihan sudah latihan setiap hari?"
"Mas Herman juga yang salah."
"Lho, kok Mas yang disalahkan?"
"Kenapa tidak kasih tahu aku, kalau yang namanya Tantra ganteng sekali!"
"Haaah?!"
Meyra tak mau berbicara lagi. Ia mematikan ponsel tanpa permisi. Alunan musik yang lembut mengalun dan warna-warni lampu tidak lagi menggodanya. Gadis itu benar-benar kecewa atas kegagalannya. Ia melambaikan tangan memanggil pelayan untuk membayar pesanannya.
Memang benar, itu bukan dosa, toh Nada istri Tantra, tetapi tetap saja Rafa jadi kalang kabut melihatnya. Ia benar-benar yakin tak akan sanggup melihat adegan itu secara mendetail.
"Kamu kan sering melihat Ayah mencium Ibu atau sebaliknya, "ujar Cakra, saat mereka berkumpul di ruang tengah seusai makan malam."Kenapa lihat begitu saja, jadi histeris?"
"Iya, sampai Ibu kira ada maling, "sela Afna.
"Kalau Ayah sama Ibu kan lain, "tukas Rafa.
"Lain apanya?"tanya Afna penasaran.
"Paling cuma cium pipi atau kening, tapi Mas Tantra...."
"Mas Tantra kenapa?"desak Cakra tak sabar.
"Mas Tantra mau cium ininya Mbak Nada...."
"Ini apa?"kali ini ibunya yang bertanya.
"Ah, Ibu, "Rafa tampak kesal. "Lihat jariku ada di mana...."
Pandangan Cakra dan Afna seketika beralih ke arah telunjuk kanan putri bungsu mereka. Dan hasilnya keduanya terpingkal-pingkal sampai memegangi perut.
Sementara itu Rafa menurunkan telunjuk dari bibirnya dengan malu bercampur kesal.
Di kafe Syahdu.
Meyra, gadis yang mengenakan blouse merah muda dengan rok bermotif bunga-bunga kecil berwarna-warni itu hanya bisa terpaku. Ia kehilangan semua yang sudah disiapkannya beberapa hari terakhir ini. Sungguh, hasil yang tidak sepadan kalau mengingat, ia berlenggak-lenggok, tersenyum, dan berbicara sendiri di depan cermin selama dua jam sampai mulutnya berbusa. Sudah mirip orang gila.
Agnes Monica mendendangkan Matahari. Meyra cepat-cepat membuka tas tangannya dan mengeluarkan ponsel.
"Bagaimana, sudah?"
"Sudah apanya?"Meyra malah balik bertanya.
"Ya, tugasmu."
"Mas, aku gagal, "ujar Meyra dengan suara memelas.
"Kenapa sampai gagal?Bukankah Mas sudah memberimu petunjuk yang lengkap? Belum lagi kamu sudah latihan sudah latihan setiap hari?"
"Mas Herman juga yang salah."
"Lho, kok Mas yang disalahkan?"
"Kenapa tidak kasih tahu aku, kalau yang namanya Tantra ganteng sekali!"
"Haaah?!"
Meyra tak mau berbicara lagi. Ia mematikan ponsel tanpa permisi. Alunan musik yang lembut mengalun dan warna-warni lampu tidak lagi menggodanya. Gadis itu benar-benar kecewa atas kegagalannya. Ia melambaikan tangan memanggil pelayan untuk membayar pesanannya.
Kamis, 20 Januari 2011
Di Arung Jeram Cinta
Mendengar jeritan anak gadisnya, Cakra dan Afna langsung terbang dari kamar tidur dan mendarat di ruang tengah. Bukan hanya itu, keduanya bahkan siap dengan senjata penggebuk ala kadarnya tetapi cukup untuk menjadikan korbannya gegar otak.
"Ada apa, ada apa?"tanya Cakra dengan langkah tergopoh-gopoh sambil memegang tongkat baseball. Afna mengikuti. Tangannya menggenggam payung.
Rafa salah tingkah. Ia menggaruk-garuk kepala. "Anu... ada tivi, ada kursi, ada roti, ada..., "sahutnya asal. Gadis ini kadang-kadang mendadak afasia kalau baru saja mengalami peristiwa yang mengguncang emosinya.
Afna mengalihkan pandangannya kepada si Sulung dan istrinya yang terpaku dengan wajah merah padam. "Mana malingnya?"
Herannya, tampang Rafa pun kelihatan bersemu merah. "Maaf, tadi Rafa kaget, "katanya.
"Kaget? Kenapa?" Cakra ikut penasaran.
Rafa tidak segera menjawab. Ia melirik kakaknya yang pura-pura mengarahkan pandangannya ke televisi yang masih menyala.
Tantra meraih ponsel dari atas meja dekat ranjang dengan malas. Siapa yang iseng mengirim sms pagi-pagi buta begini? Ini masih pukul tiga.
"Dari siapa, Mas?" tanya Nada ikut membaca sms itu.
Dasar, Tantra tersenyum geli. Adiknya itu memang suka iseng. Sempat-sempatnya tanya masalah semalam. Tidak tanggung-tanggung, bahasanya lumayan vulgar.
Sampai di rumah, acaranya pasti diteruskan, ya? Kelar jam brapa, Mas?
Memang, setelah nyaris tertangkap basah akan bersayang-sayangan, Tantra menuruti keinginan istrinya yang membatalkan rencana menginap di rumah mertua. Tanpa pikir panjang Tantra menyetujui, ia dapat memahami perasaan Nada yang sangat pemalu.
Anak kecil, minta dijitak. Begitu balasan Tantra.
Tak lama kemudian muncul balasan. Dilanjtin, ya?;D
"Aku baru tahu kalau adikmu suka iseng, "Nada ikut membaca sms yang tertera di ponsel suaminya.
"Rafa memang iseng, "sahut Tantra. Ditatapnya Nada sambil tersenyum, "Tapi, rasanya, aku cuma bakat menggodamu...."
"Mulai, "tukas Nada merah padam. "Waktunya salat tahajud, "katanya mengingatkan.
"Baik, kamu dulu."
"Iya, aku ke kamar mandi dulu, "Nada turun dari ranjang.
"Ada apa, ada apa?"tanya Cakra dengan langkah tergopoh-gopoh sambil memegang tongkat baseball. Afna mengikuti. Tangannya menggenggam payung.
Rafa salah tingkah. Ia menggaruk-garuk kepala. "Anu... ada tivi, ada kursi, ada roti, ada..., "sahutnya asal. Gadis ini kadang-kadang mendadak afasia kalau baru saja mengalami peristiwa yang mengguncang emosinya.
Afna mengalihkan pandangannya kepada si Sulung dan istrinya yang terpaku dengan wajah merah padam. "Mana malingnya?"
Herannya, tampang Rafa pun kelihatan bersemu merah. "Maaf, tadi Rafa kaget, "katanya.
"Kaget? Kenapa?" Cakra ikut penasaran.
Rafa tidak segera menjawab. Ia melirik kakaknya yang pura-pura mengarahkan pandangannya ke televisi yang masih menyala.
Tantra meraih ponsel dari atas meja dekat ranjang dengan malas. Siapa yang iseng mengirim sms pagi-pagi buta begini? Ini masih pukul tiga.
"Dari siapa, Mas?" tanya Nada ikut membaca sms itu.
Dasar, Tantra tersenyum geli. Adiknya itu memang suka iseng. Sempat-sempatnya tanya masalah semalam. Tidak tanggung-tanggung, bahasanya lumayan vulgar.
Sampai di rumah, acaranya pasti diteruskan, ya? Kelar jam brapa, Mas?
Memang, setelah nyaris tertangkap basah akan bersayang-sayangan, Tantra menuruti keinginan istrinya yang membatalkan rencana menginap di rumah mertua. Tanpa pikir panjang Tantra menyetujui, ia dapat memahami perasaan Nada yang sangat pemalu.
Anak kecil, minta dijitak. Begitu balasan Tantra.
Tak lama kemudian muncul balasan. Dilanjtin, ya?;D
"Aku baru tahu kalau adikmu suka iseng, "Nada ikut membaca sms yang tertera di ponsel suaminya.
"Rafa memang iseng, "sahut Tantra. Ditatapnya Nada sambil tersenyum, "Tapi, rasanya, aku cuma bakat menggodamu...."
"Mulai, "tukas Nada merah padam. "Waktunya salat tahajud, "katanya mengingatkan.
"Baik, kamu dulu."
"Iya, aku ke kamar mandi dulu, "Nada turun dari ranjang.
Selasa, 18 Januari 2011
Di Arung Jeram Cinta
Rafa nyaris menjerit kaget. Sepasang tangan menekan pundaknya lembut dan berbisik, "Anak kecil dilarang mengintip."
Rafa menoleh dan meringis nakal. "Ah, Ibu, "katanya. "Mas Tantra lagi uring-uringan."
"Biar saja, nanti kalau sudah dirayu Mbak Nada kan jadi senyum-senyum, "tukas Afna mengerling iseng.
"Ibu ternyata iseng juga."
"Lho, kamu sendiri suka iseng, memangnya kamu pikir turunan dari siapa?"Afna menatap putrinya, berlagak serius. Tetapi, sinar matanya menyiratkan tawa.
Rafa bengong. "Ayah yang pendiam itu kok bisa naksir Ibu yang suka iseng, ya?"
"Soalnya Ibu cantik, makanya ayahmu naksir mati-matian sama Ibu, "sahut Afna pede.
"Ih, Ibu ini, seperti gadis remaja saja."
Afna menggamit tangan anak gadisnya, "Ayo, bantu Ibu siapkan makan malam."
"Siap, Bos, "Rafa memberi hormat ala tentara.
Afna mengulum senyum.
Pukul sebelas malam, Nada terbaring di ranjang kamar dengan mata terbelalak. Belum sedikit pun kantuk menyerangnya. Entahlah, tiba-tiba saja ia ingin mengenang kembali perjalanan hidupnya selama hampir setahun ini. Apa saja yang telah ia lakukan? Yang jelas, ia tidak lagi berstatus single melainkan telah menjadi seorang istri.
Tantra, pemuda yang menjadi suaminya itu. Sejak kali pertama bertemu, tepatnya melihat, Nada merasa ia adalah orang yang sangat baik. Apalagi setelah mendengar peristiwa yang dialami Tantra saat itu. Remaja kelas XII itu terkapar berlumuran darah di pinggir jalan karena berkelahi membela adiknya. Betapa besar sayangnya terhadap adik satu-satunya, sampai-sampai tak memikirkan keselamatan diri sendiri. Mungkin sebenarnya, ketika itu sudah ada benih cinta di hati Nada. Hanya saja ia malu mengakuinya. Apa kata orang-orang, teman-teman, terutama keluarganya nanti kalau sampai tahu bahwa ia jatuh hati kepada remaja belasan tahun? Ingat umur, ingat umur!
Klik. Pintu terbuka. Nada menoleh. Suaminya berdiri di hadapannya sambil melempar senyum.
"Akhir-akhir ini kau suka begadang, "ujar Tantra sambil menutup pintu.
"Aku belum mengantuk, "sahut Nada beranjak duduk.
"Kalau begitu, kita menonton tivi saja, "usul Tantra. "Ada acara bagus."
"Oh ya, apa?"
"Sepak bola."
Hah? Nada tercengang. Sepak bola? Yang benar saja? Apanya yang menarik? Satu bola dikeroyok ramai-ramai, sampai tidak kelihatan bolanya.
"Ayo, "tanpa menunggu jawaban Nada, Tantra menarik tangan istrinya.
Kali ini Nada memutuskan untuk mencoba menyesuaikan diri, mengikuti hobi suaminya, yaitu menonton pertandingan sepak bola. Untung saja, Tantra tidak lagi memilih menonton langsung di stadion, setelah Nada ketakutan karena nyaris terkena lemparan batu suporter yang mengamuk gara-gara tim kesayangannya kalah.
"Gool!" seru Tantra tiba-tiba. Dan Nada merasa pundaknya remuk, tanpa basa-basi suaminya itu memeluk pundaknya dan mengguncangkannya kuat-kuat. "Hebat kan, Christian Gonzales?"
"I..iya..., "sahut Nada sambil mengusap-usap pundaknya. Ditatapnya suaminya yang masih belum sadar sudah 'menganiaya' istrinya, malah semakin fokus menonton bola.
Tiba-tiba sebersit pikiran iseng muncul di benak Nada. Ia ingin menggoda suaminya.
Tantra menoleh terkejut. Nada mengaduh sambil memegangi pundaknya.
"Mbak, kenapa?"
Nada tidak menjawab. Ia terus mengurut-urut pundaknya.
Tantra menjadi cemas. Seketika itu juga ia melupakan acara di televisi dan berusaha menolong istrinya. Tetapi, kok... Nada jadi lebih cantik dengan gaun putih tulang berenda kuning? Rambutnya yang hitam terurai sampai pundak, dan ternyata baru sekarang Tantra menyadari bahwa tiba-tiba ia ingin mencium....
"Stoop!"seru seseorang dengan histeris.
Tentu saja sepasang suami istri itu terlonjak kaget.
Rafa menoleh dan meringis nakal. "Ah, Ibu, "katanya. "Mas Tantra lagi uring-uringan."
"Biar saja, nanti kalau sudah dirayu Mbak Nada kan jadi senyum-senyum, "tukas Afna mengerling iseng.
"Ibu ternyata iseng juga."
"Lho, kamu sendiri suka iseng, memangnya kamu pikir turunan dari siapa?"Afna menatap putrinya, berlagak serius. Tetapi, sinar matanya menyiratkan tawa.
Rafa bengong. "Ayah yang pendiam itu kok bisa naksir Ibu yang suka iseng, ya?"
"Soalnya Ibu cantik, makanya ayahmu naksir mati-matian sama Ibu, "sahut Afna pede.
"Ih, Ibu ini, seperti gadis remaja saja."
Afna menggamit tangan anak gadisnya, "Ayo, bantu Ibu siapkan makan malam."
"Siap, Bos, "Rafa memberi hormat ala tentara.
Afna mengulum senyum.
Pukul sebelas malam, Nada terbaring di ranjang kamar dengan mata terbelalak. Belum sedikit pun kantuk menyerangnya. Entahlah, tiba-tiba saja ia ingin mengenang kembali perjalanan hidupnya selama hampir setahun ini. Apa saja yang telah ia lakukan? Yang jelas, ia tidak lagi berstatus single melainkan telah menjadi seorang istri.
Tantra, pemuda yang menjadi suaminya itu. Sejak kali pertama bertemu, tepatnya melihat, Nada merasa ia adalah orang yang sangat baik. Apalagi setelah mendengar peristiwa yang dialami Tantra saat itu. Remaja kelas XII itu terkapar berlumuran darah di pinggir jalan karena berkelahi membela adiknya. Betapa besar sayangnya terhadap adik satu-satunya, sampai-sampai tak memikirkan keselamatan diri sendiri. Mungkin sebenarnya, ketika itu sudah ada benih cinta di hati Nada. Hanya saja ia malu mengakuinya. Apa kata orang-orang, teman-teman, terutama keluarganya nanti kalau sampai tahu bahwa ia jatuh hati kepada remaja belasan tahun? Ingat umur, ingat umur!
Klik. Pintu terbuka. Nada menoleh. Suaminya berdiri di hadapannya sambil melempar senyum.
"Akhir-akhir ini kau suka begadang, "ujar Tantra sambil menutup pintu.
"Aku belum mengantuk, "sahut Nada beranjak duduk.
"Kalau begitu, kita menonton tivi saja, "usul Tantra. "Ada acara bagus."
"Oh ya, apa?"
"Sepak bola."
Hah? Nada tercengang. Sepak bola? Yang benar saja? Apanya yang menarik? Satu bola dikeroyok ramai-ramai, sampai tidak kelihatan bolanya.
"Ayo, "tanpa menunggu jawaban Nada, Tantra menarik tangan istrinya.
Kali ini Nada memutuskan untuk mencoba menyesuaikan diri, mengikuti hobi suaminya, yaitu menonton pertandingan sepak bola. Untung saja, Tantra tidak lagi memilih menonton langsung di stadion, setelah Nada ketakutan karena nyaris terkena lemparan batu suporter yang mengamuk gara-gara tim kesayangannya kalah.
"Gool!" seru Tantra tiba-tiba. Dan Nada merasa pundaknya remuk, tanpa basa-basi suaminya itu memeluk pundaknya dan mengguncangkannya kuat-kuat. "Hebat kan, Christian Gonzales?"
"I..iya..., "sahut Nada sambil mengusap-usap pundaknya. Ditatapnya suaminya yang masih belum sadar sudah 'menganiaya' istrinya, malah semakin fokus menonton bola.
Tiba-tiba sebersit pikiran iseng muncul di benak Nada. Ia ingin menggoda suaminya.
Tantra menoleh terkejut. Nada mengaduh sambil memegangi pundaknya.
"Mbak, kenapa?"
Nada tidak menjawab. Ia terus mengurut-urut pundaknya.
Tantra menjadi cemas. Seketika itu juga ia melupakan acara di televisi dan berusaha menolong istrinya. Tetapi, kok... Nada jadi lebih cantik dengan gaun putih tulang berenda kuning? Rambutnya yang hitam terurai sampai pundak, dan ternyata baru sekarang Tantra menyadari bahwa tiba-tiba ia ingin mencium....
"Stoop!"seru seseorang dengan histeris.
Tentu saja sepasang suami istri itu terlonjak kaget.
Jumat, 14 Januari 2011
Di Arung Jeram Cinta
Herman menggeleng. "Maaf, aku tak bisa membantumu, "ujar pria tiga puluh tujuh tahun itu. "Itu urusan pribadimu, aku tidak mau kena getahnya, lagipula katamu tadi, masalahnya sudah lama terjadi,"
Danar mengangguk. "Memang benar, "sahutnya, "Tetapi, perempuan itu berutang banyak kepadaku. Kamu pkir aku akan melepaskannya begitu saja?"
Herman, direktur perusahaan ternama itu semakin terlihat serius. "He, Bung, dewasalah sedikit, kita bertemu di sini untuk membicarakan soal pekerjaan."
Mendengar teguran Herman, Danar mengangkat bahu. "Baiklah, "katanya. "Tapi, aku tetap ingin membahas masalah itu denganmu, nanti."
Herman menghela napas. Danar masih belum berubah sebab itu ia memutuskan untuk mengikuti saja lebih dulu kemauan sahabat semasa remajanya ini.
Seorang pelayan muda datang membawa daftar menu.
"Kau mau pesan apa?"tanya Danar. "Jangan khawatir, aku yang traktir."
Herman tersenyum. "Trims, "katanya. "Kebetulan Asri sudah menyiapkan makan malam, jadi kupikir aku pesan sup jagung dan jus sirsat saja."
"Hm, suami teladan, "gumam Danar tanpa bermaksud mengejek. Ia mengalihkan pandangan kepada pelayan pria yang siap mencatat pesanan.
Rafa sungguh terheran-heran melihat sepasang pengantin baru itu. Sepanjang pengetahuannya belum ada dalam sejarah keluarganya (catat, dari kakek buyut sampai generasi orang tuanya), pemuda naksir tante-tante. Pak dhe Anfa kakak ibunya sebaya dengan Bu dhe Rana, istrinya, tetapi tetap saja Pak dhe lebih tua beberapa bulan. Ayah malah lebih tua tiga tahun daripada Ibu. Tetapi, mengapa kakaknya semata wayang malah memilih wanita yang lebih pantas menjadi kakak atau bahkan mungkin bibinya untuk menjadi istrinya?
Ah, dunia ini memang aneh, pikir gadis itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Sudah, ah, marahnya, "bisik Nada kepada suaminya yang duduk di sampingnya. "Sudah lima jam."
Raut muka Tantra bak sprei baru diangkat dari jemuran. Kusut sekali. Ia baru saja mengalami kejadian yang membuatnya malu setengah hidup. Kejadian itu berlangsung sore tadi di rumah mertuanya, di sofa ruang tengah.
Listrik mendadak padam. Tantra yang tidak tahu bahwa Nada baru saja beranjak untuk mencuci muka dengan santainya meraih tangan yang terdekat dengannya. Tepat saat itu, listrik menyala. Dan alangkah terkejutnya Tantra melihat istrinya menjelma dua puluh tahun lebih tua.
"Ma maaf, saya kira..., "merah padam wajah Tantra. Dengan gugup, ia melepaskan tangannya.
"Istrimu ada di kamar mandi, cuci muka, "ujar Tia, ibu mertua dengan datar.
"Siapa yang matikan listrik?"Tantra masih saja kesal mengingat kejadian tadi.
"Maafkan, Banu, "jawab Nada sabar. "Dia lupa kalau sudah jam lima sore tidak boleh setrika, "Wanita berjilbab hijau muda itu menyodorkan secangkir teh hangat.
Tantra menerimanya. Masih dengan tampang kusut.
Danar mengangguk. "Memang benar, "sahutnya, "Tetapi, perempuan itu berutang banyak kepadaku. Kamu pkir aku akan melepaskannya begitu saja?"
Herman, direktur perusahaan ternama itu semakin terlihat serius. "He, Bung, dewasalah sedikit, kita bertemu di sini untuk membicarakan soal pekerjaan."
Mendengar teguran Herman, Danar mengangkat bahu. "Baiklah, "katanya. "Tapi, aku tetap ingin membahas masalah itu denganmu, nanti."
Herman menghela napas. Danar masih belum berubah sebab itu ia memutuskan untuk mengikuti saja lebih dulu kemauan sahabat semasa remajanya ini.
Seorang pelayan muda datang membawa daftar menu.
"Kau mau pesan apa?"tanya Danar. "Jangan khawatir, aku yang traktir."
Herman tersenyum. "Trims, "katanya. "Kebetulan Asri sudah menyiapkan makan malam, jadi kupikir aku pesan sup jagung dan jus sirsat saja."
"Hm, suami teladan, "gumam Danar tanpa bermaksud mengejek. Ia mengalihkan pandangan kepada pelayan pria yang siap mencatat pesanan.
Rafa sungguh terheran-heran melihat sepasang pengantin baru itu. Sepanjang pengetahuannya belum ada dalam sejarah keluarganya (catat, dari kakek buyut sampai generasi orang tuanya), pemuda naksir tante-tante. Pak dhe Anfa kakak ibunya sebaya dengan Bu dhe Rana, istrinya, tetapi tetap saja Pak dhe lebih tua beberapa bulan. Ayah malah lebih tua tiga tahun daripada Ibu. Tetapi, mengapa kakaknya semata wayang malah memilih wanita yang lebih pantas menjadi kakak atau bahkan mungkin bibinya untuk menjadi istrinya?
Ah, dunia ini memang aneh, pikir gadis itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Sudah, ah, marahnya, "bisik Nada kepada suaminya yang duduk di sampingnya. "Sudah lima jam."
Raut muka Tantra bak sprei baru diangkat dari jemuran. Kusut sekali. Ia baru saja mengalami kejadian yang membuatnya malu setengah hidup. Kejadian itu berlangsung sore tadi di rumah mertuanya, di sofa ruang tengah.
Listrik mendadak padam. Tantra yang tidak tahu bahwa Nada baru saja beranjak untuk mencuci muka dengan santainya meraih tangan yang terdekat dengannya. Tepat saat itu, listrik menyala. Dan alangkah terkejutnya Tantra melihat istrinya menjelma dua puluh tahun lebih tua.
"Ma maaf, saya kira..., "merah padam wajah Tantra. Dengan gugup, ia melepaskan tangannya.
"Istrimu ada di kamar mandi, cuci muka, "ujar Tia, ibu mertua dengan datar.
"Siapa yang matikan listrik?"Tantra masih saja kesal mengingat kejadian tadi.
"Maafkan, Banu, "jawab Nada sabar. "Dia lupa kalau sudah jam lima sore tidak boleh setrika, "Wanita berjilbab hijau muda itu menyodorkan secangkir teh hangat.
Tantra menerimanya. Masih dengan tampang kusut.
Minggu, 02 Januari 2011
Kisah Kerajaan Pantang Mundur
Akhir-akhir ini banyak blog bermunculan bagaikan jamur di musim hujan. Orang-orang dari berbagai usia dan profesi pun tidak mau ketinggalan, berlomba-lomba membuat blog. Walaupun ada juga yang hanya pasang judul, sedangkan blognya tidak pernah diisi (yang merasa tersindir jangan marah, ya. Saya juga punya blog spesalis judul, kok).
Al kisah tersebutlah sebuah kerajaan bernama Pantang Mundur yang berdiri megah di wilayah mungil dengan penduduknya yang ramah tamah. Kerajaan ini sangat terkenal sampai ke pelosok dan sangat disegani oleh kerajaan-kerajaan lain.
Raja Kerajaan Pantang Mundur adalah seorang yang arif bijaksana. Kadang-kadang arif, lain waktu ia bijaksana (apa ya bedanya?) Yang jelas Yang Mulia Baginda tidak bernama Arif Bijaksana.
Baginda selalu menginginkan kemajuan bagi kerajaan dan rakyatnya, terutama dalam bidang teknologi spesialis internet. Maka ia menyediakan fasilitas internet gratis online 24 jam (kecuali kalau listrik padam, komputer ngadat, atau sebab-sebab yang lain). Ia sangat mengharap seluruh rakyatnya tidak lagi gaptek (gagap teknologi) . Malu kan, masa kerajaan terkenal, penduduknya buta teknologi? Tetapi sebelum memerintahkan rakyat mengakses internet, sang Raja pun belajar lebih dulu karena ingin memberi telatan eh salah, teladan.
Sang Raja yang terkenal dengan kegigihannya itu pun kini telah berhasil membuat nyaris 100 persen dari total jumlah rakyatnya terbebas dari buta internet. Suatu hasil yang fantastis karena dalam waktu relatif singkat, raja mampu mengentaskan 99,9% rakyatnya dari gaptek.
Keputusan raja yang membebaskan rakyat menggunakan fasilitas internet kerajaan 24 jam itu tentu saja disambut gegap gempita oleh rakyat. Mereka bersyukur memiliki pemimpin yang arif dan bijaksana. Mereka pun berlomba-lomba mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan teknologi khususnya internet.
Seiring dengan berjalannya waktu, Tuanku Yang Mulia Baginda tidak ingin rakyatnya sekadar mengetahui dunia maya tetapi lebih dari itu. Ya, beliau juga mengharapkan rakyatnya untuk berkarya. Pengumuman melalui dunia maya pun berkumandang.
Wahai rakyat Kerajaan Pantang Mundur yang tercinta, bacalah pengumuman ini!
Pengumuman!
Mulai saat ini kalian wajib membuat blog ! Perintah Baginda Raja tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat!
Tentu saja sang Baginda tidak asal memerintah, beliau juga mengadakan beberapa kali pembinaan dan pelatihan sampai rakyatnya menguasai ilmu blog-blogan.
Seperti biasa raja tersebut telah membuat blog lebih dulu sebelum membuat pengumuman itu. Satu hari sang Baginda mampu melakukan posting sampai 100 kali (kebanyakan nih, kurangi 0-nya satu boleh kan, daripada 1-nya yang dikurangi). Satu hari beliau menghasilkan 10 artikel maupun opini.
Tetapi sayang seribu sayang, belum 100% rakyatnya yang melaksanakan perintah rajanya. Alasan mereka beragam, ada yang mengatakan tidak punya waktu, fasilitas internet masih kurang sehingga harus bergiliran, dan beberapa alasan lainnya. Setelah menunggu dan berusaha bersabar beberapa waktu, Baginda pun memutuskan untuk memberikan ultimatum kepada rakyatnya yang belum juga membuat blog. Ia menentukan akan memberlakukan deportasi atau menghapus kewargakerajaan kepada rakyat yang membangkang itu. Deportasi diberlakukan bagi rakyat imigran, sedangkan menghapus kewargakerajaan diberlakukan bagi rakyat penduduk di sekitar kerajaan.
Baginda Kerajaan Pantang Mundur tampaknya terlupa satu hal. Rakyatnya memiliki kewajiban yang lebih utama dibanding membuat blog. Membuat blog hanya dapat dilakukan pada saat longgar dan harus diselesaikan dalam waktu berjam-jam. Padahal ada tanggung jawab lain yang tidak dapat ditunda atau ditinggalkan begitu saja.
Seandainya tidak satu pun rakyat yang dapat atau sempat membuat blog, maka pasti terjadilah korban-korban deportasi dan warga yang tidak punya status kewargakerajaan. Lha, kerajaannya bisa bubar. Padahal syarat-syarat berdirinya kerajaan kalau tidak salah : 1. memiliki wilayah, artinya ada kerajaan yang nyata, 2. sudah ada rajanya, dan 3. rakyat yang tinggal di wilayah itu. Kalau kerajaan bubar, berarti dinasti Pantang Mundur bisa-bisa hanya tinggal nama.
Sampai detik ini kerajaan tersebut masih berdiri dengan megahnya tetap dengan Sri Baginda yang arif bijaksana itu, walaupun kadang-kadang suka lupa dengan predikat tersebut (wajar kan, 'Raja juga manusiaaa'!).
Kisah Kerajaan Pantang Mundur
Catatan : Cerita ini khayalan belaka. Jika ada beberapa bagian yang sama, hal itu bukan merupakan kebetulan.
Al kisah tersebutlah sebuah kerajaan bernama Pantang Mundur yang berdiri megah di wilayah mungil dengan penduduknya yang ramah tamah. Kerajaan ini sangat terkenal sampai ke pelosok dan sangat disegani oleh kerajaan-kerajaan lain.
Raja Kerajaan Pantang Mundur adalah seorang yang arif bijaksana. Kadang-kadang arif, lain waktu ia bijaksana (apa ya bedanya?) Yang jelas Yang Mulia Baginda tidak bernama Arif Bijaksana.
Baginda selalu menginginkan kemajuan bagi kerajaan dan rakyatnya, terutama dalam bidang teknologi spesialis internet. Maka ia menyediakan fasilitas internet gratis online 24 jam (kecuali kalau listrik padam, komputer ngadat, atau sebab-sebab yang lain). Ia sangat mengharap seluruh rakyatnya tidak lagi gaptek (gagap teknologi) . Malu kan, masa kerajaan terkenal, penduduknya buta teknologi? Tetapi sebelum memerintahkan rakyat mengakses internet, sang Raja pun belajar lebih dulu karena ingin memberi telatan eh salah, teladan.
Sang Raja yang terkenal dengan kegigihannya itu pun kini telah berhasil membuat nyaris 100 persen dari total jumlah rakyatnya terbebas dari buta internet. Suatu hasil yang fantastis karena dalam waktu relatif singkat, raja mampu mengentaskan 99,9% rakyatnya dari gaptek.
Keputusan raja yang membebaskan rakyat menggunakan fasilitas internet kerajaan 24 jam itu tentu saja disambut gegap gempita oleh rakyat. Mereka bersyukur memiliki pemimpin yang arif dan bijaksana. Mereka pun berlomba-lomba mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan teknologi khususnya internet.
Seiring dengan berjalannya waktu, Tuanku Yang Mulia Baginda tidak ingin rakyatnya sekadar mengetahui dunia maya tetapi lebih dari itu. Ya, beliau juga mengharapkan rakyatnya untuk berkarya. Pengumuman melalui dunia maya pun berkumandang.
Wahai rakyat Kerajaan Pantang Mundur yang tercinta, bacalah pengumuman ini!
Pengumuman!
Mulai saat ini kalian wajib membuat blog ! Perintah Baginda Raja tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat!
Tentu saja sang Baginda tidak asal memerintah, beliau juga mengadakan beberapa kali pembinaan dan pelatihan sampai rakyatnya menguasai ilmu blog-blogan.
Seperti biasa raja tersebut telah membuat blog lebih dulu sebelum membuat pengumuman itu. Satu hari sang Baginda mampu melakukan posting sampai 100 kali (kebanyakan nih, kurangi 0-nya satu boleh kan, daripada 1-nya yang dikurangi). Satu hari beliau menghasilkan 10 artikel maupun opini.
Tetapi sayang seribu sayang, belum 100% rakyatnya yang melaksanakan perintah rajanya. Alasan mereka beragam, ada yang mengatakan tidak punya waktu, fasilitas internet masih kurang sehingga harus bergiliran, dan beberapa alasan lainnya. Setelah menunggu dan berusaha bersabar beberapa waktu, Baginda pun memutuskan untuk memberikan ultimatum kepada rakyatnya yang belum juga membuat blog. Ia menentukan akan memberlakukan deportasi atau menghapus kewargakerajaan kepada rakyat yang membangkang itu. Deportasi diberlakukan bagi rakyat imigran, sedangkan menghapus kewargakerajaan diberlakukan bagi rakyat penduduk di sekitar kerajaan.
Baginda Kerajaan Pantang Mundur tampaknya terlupa satu hal. Rakyatnya memiliki kewajiban yang lebih utama dibanding membuat blog. Membuat blog hanya dapat dilakukan pada saat longgar dan harus diselesaikan dalam waktu berjam-jam. Padahal ada tanggung jawab lain yang tidak dapat ditunda atau ditinggalkan begitu saja.
Seandainya tidak satu pun rakyat yang dapat atau sempat membuat blog, maka pasti terjadilah korban-korban deportasi dan warga yang tidak punya status kewargakerajaan. Lha, kerajaannya bisa bubar. Padahal syarat-syarat berdirinya kerajaan kalau tidak salah : 1. memiliki wilayah, artinya ada kerajaan yang nyata, 2. sudah ada rajanya, dan 3. rakyat yang tinggal di wilayah itu. Kalau kerajaan bubar, berarti dinasti Pantang Mundur bisa-bisa hanya tinggal nama.
Sampai detik ini kerajaan tersebut masih berdiri dengan megahnya tetap dengan Sri Baginda yang arif bijaksana itu, walaupun kadang-kadang suka lupa dengan predikat tersebut (wajar kan, 'Raja juga manusiaaa'!).
Kisah Kerajaan Pantang Mundur
Catatan : Cerita ini khayalan belaka. Jika ada beberapa bagian yang sama, hal itu bukan merupakan kebetulan.
Di Arung Jeram Cinta
Tantra menoleh mengikuti arah pandang gadis itu.
Tampak Danar menyeringai kesakitan. Entah apa yang dilakukan Rafa sehingga laki-laki itu terlihat begitu kesakitan.
Sementara itu gadis remaja yang menjadi lawannya sudah berlenggang kangkung meninggalkan arena pertandingan.
Tiba-tiba.... "Dik! Awaas!!"seru Tantra sambil melesat mengirimkan tendangan melingkar tepat mengenai dada Danar.
Danar terhuyung-huyung memegangi dadanya. Ia menatap remaja berseragam SMA dengan kemarahan luar biasa. "Kau, kau curang!"
"Apa bedanya dengan dirimu?"tukas Tantra tenang.
Danar membusungkan dada. "Belum pernah Danar dikalahkan perempuan, apalagi yang masih ingusan macam dia!"serunya menuding Rafa sengit.
Yang ditunjuk malah tersenyum-senyum tenang. Bukan main panas hati Danar melihat tingkah lawannya itu. "Untung kamu perempuan, kalau tidak sudah aku...!"
"Sudahlah, jelas-jelas adikku yang perempuan tidak mau berurusan dengan pecundang macam dirimu, jadi pergilah!"
Kali ini Danar tak lagi berusaha memancing keributan, ia hanya menuding sambil berseru dan tak lupa memegangi dadanya yang kesakitan. "Kk...kkau...awas!"ia pun terpincang-pincang meninggalkan jalan itu.
Tantra berpaling ke arah adiknya. "Kauapakan dia, jalannya sampai pincang begitu?"
Rafa, adik Tantra yang lincah itu tersenyum iseng. "Dia pakai celana koyak di bagian lutut kanan, "ujarnya lirih.
"Lho, apa hubungannya dengan jalan pincang?"Tantra penasaran.
"Sst, ada bisulnya...."
"Lalu?"
"Bisulnya aku tendang...."
Meledak tawa Tantra mendengar jawaban adiknya. Sementara Nada tersenyum geli.
Rafa pun tersipu-sipu.
Nada terkejut. Tiba-tiba Tantra berhenti mengupas jeruk bali di tangannya.
"Aku baru ingat, "katanya.
"Ingat apa?"
"Dia Danar, bukan?"
"Siapa?"Nada kebingungan.
"Laki-laki yang bisulnya ditendang Rafa. Dia Danar, bukan?"
Nada mengangguk perlahan.
"Sudah kuduga. Pantas saja ia terus mengikuti kita."
"Hah?"nyaris Nada berteriak kalau saja suaminya tidak memberi kode agar tenang. "Eh, tahu darimana?"
"Dia duduk searah jam duabelas siang, kira-kira dua meter dari kita duduk."
Nada mengangguk tanpa menoleh. Perasaannya menjadi gelisah. "Apa yang harus kita lakukan?"
"Biarkan saja."
"Tapi, aku tidak enak. Baiknya kita pergi saja."
Tantra menghela napas. "Mbak, toh, dia tidak mengganggu kita."
"Kau belum mengerti kebiasaannya."
"Maksudmu?"
"Dia pasti sedang merencanakan sesuatu."
Tantra beranjak dari duduk. "Baiklah, ayo, kita pergi." Ah, bahkan malam minggu pun kami tidak bisa bersantai-santai, pikirnya.
Nada menarik napas lega.
Sementara itu sosok yang sedang diperbincangkan hanya tersenyum sinis sembari menjentikkan abu rokok ke asbak yang tersedia di atas meja.
Tampak Danar menyeringai kesakitan. Entah apa yang dilakukan Rafa sehingga laki-laki itu terlihat begitu kesakitan.
Sementara itu gadis remaja yang menjadi lawannya sudah berlenggang kangkung meninggalkan arena pertandingan.
Tiba-tiba.... "Dik! Awaas!!"seru Tantra sambil melesat mengirimkan tendangan melingkar tepat mengenai dada Danar.
Danar terhuyung-huyung memegangi dadanya. Ia menatap remaja berseragam SMA dengan kemarahan luar biasa. "Kau, kau curang!"
"Apa bedanya dengan dirimu?"tukas Tantra tenang.
Danar membusungkan dada. "Belum pernah Danar dikalahkan perempuan, apalagi yang masih ingusan macam dia!"serunya menuding Rafa sengit.
Yang ditunjuk malah tersenyum-senyum tenang. Bukan main panas hati Danar melihat tingkah lawannya itu. "Untung kamu perempuan, kalau tidak sudah aku...!"
"Sudahlah, jelas-jelas adikku yang perempuan tidak mau berurusan dengan pecundang macam dirimu, jadi pergilah!"
Kali ini Danar tak lagi berusaha memancing keributan, ia hanya menuding sambil berseru dan tak lupa memegangi dadanya yang kesakitan. "Kk...kkau...awas!"ia pun terpincang-pincang meninggalkan jalan itu.
Tantra berpaling ke arah adiknya. "Kauapakan dia, jalannya sampai pincang begitu?"
Rafa, adik Tantra yang lincah itu tersenyum iseng. "Dia pakai celana koyak di bagian lutut kanan, "ujarnya lirih.
"Lho, apa hubungannya dengan jalan pincang?"Tantra penasaran.
"Sst, ada bisulnya...."
"Lalu?"
"Bisulnya aku tendang...."
Meledak tawa Tantra mendengar jawaban adiknya. Sementara Nada tersenyum geli.
Rafa pun tersipu-sipu.
Nada terkejut. Tiba-tiba Tantra berhenti mengupas jeruk bali di tangannya.
"Aku baru ingat, "katanya.
"Ingat apa?"
"Dia Danar, bukan?"
"Siapa?"Nada kebingungan.
"Laki-laki yang bisulnya ditendang Rafa. Dia Danar, bukan?"
Nada mengangguk perlahan.
"Sudah kuduga. Pantas saja ia terus mengikuti kita."
"Hah?"nyaris Nada berteriak kalau saja suaminya tidak memberi kode agar tenang. "Eh, tahu darimana?"
"Dia duduk searah jam duabelas siang, kira-kira dua meter dari kita duduk."
Nada mengangguk tanpa menoleh. Perasaannya menjadi gelisah. "Apa yang harus kita lakukan?"
"Biarkan saja."
"Tapi, aku tidak enak. Baiknya kita pergi saja."
Tantra menghela napas. "Mbak, toh, dia tidak mengganggu kita."
"Kau belum mengerti kebiasaannya."
"Maksudmu?"
"Dia pasti sedang merencanakan sesuatu."
Tantra beranjak dari duduk. "Baiklah, ayo, kita pergi." Ah, bahkan malam minggu pun kami tidak bisa bersantai-santai, pikirnya.
Nada menarik napas lega.
Sementara itu sosok yang sedang diperbincangkan hanya tersenyum sinis sembari menjentikkan abu rokok ke asbak yang tersedia di atas meja.
Langganan:
Postingan (Atom)