Selasa, 22 Juni 2010

Hasil Percobaan Pelangi

Hasil percobaan? Terus terang saya bingung dengan judul yang tepat untuk tulisanku kali ini. Sebenarnya saya akan menulis tentang kemenakanku yang sulung. Ia merupakan hasil percobaanku yang pertama. Tampaknya kata percobaan kurang manusiawi, tetapi jika diganti penelitian apakah tepat? Penelitian apa? Saya bukan ilmuwan.
Saat kemenakan sulungku lahir, kakakku dan istrinya langsung mempercayakan si mungil kepada Ibu dan Ayah. Itu berarti mereka juga berharap bahwa aku akan menimang-nimang boneka hidup mereka. Kami sama sekali tidak keberatan, malah sebaliknya merasa gembira.
Bagiku seseorang yang mendapat kepercayaan mengasuh anak, tidak boleh sekadar membuat dia kenyang atau tidur nyenyak, tetapi lebih dari itu. Apalagi yang akan kuasuh bukan anak orang lain, tetapi putra kakakku sendiri. Jadi aku tidak mau main-main. Tidak lama setelah aku mendapatkan kepercayaan itu, mulailah aku mencari artikel mengasuh bayi.
Orang tua kemenakanku itu adalah sepasang suami istri yang sibuk bekerja. Bukankah lebih aman, jika nenek atau tante yang mengasuh boneka hidup mereka yang mungil? Gratis dan dapat dipertanggungjawabkan.
Otakku mulai bekerja. Sudah lama aku menunggu saat yang tepat untuk melakukannya. Rencana itu timbul saat aku membaca artikel tentang menjadikan anak cerdas, jauh sebelum kemenakanku lahir. Aku sangat menyukai isinya dan ingin segera menerapkannya.
“Tante, ayo makan.”
Ah, aku tersenyum melihat kemenakanku yang menyapa saat aku mengambil air putih. Rupanya aku sedang mengenang masa kecilnya yang lucu. Aku menatapnya penuh sayang. Betapa cepat waktu berlalu, ia telah tumbuh remaja dan menuntut ilmu di salah satu SMA Negeri kompleks di Surabaya.
Menggambar manga dan tentu saja membaca buku adalah hobinya yang tidak dapat diganggu gugat. Soal menggambar, mungkin menurun dari ayahnya yang pernah menjuarai lomba menggambar saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Nah, kalau membaca, sudah pasti akibat dari rencana yang kujalankan itu.
Bagaimana tidak kutu buku? Sejak bayi, aku sudah memberinya dongeng sebelum tidur dengan boneka-boneka binatang. Usia tiga tahun, aku mengajaknya berkenalan dengan buku cerita bergambar binatang. Bahkan untuk mengembangkan kecerdasannya, aku tidak pernah membelikannya mainan berupa mobil-mobilan. Sebagian besar mainannya berupa bongkar pasang, buku-buku cerita, pensil warna-warni, dan balok-balok bertuliskan angka dan abjad.
Umur lima tahun ia sudah lancar membaca dan berhitung. Memang bukan hal yang istimewa karena aku tidak mau memaksa dia untuk cepat bisa membaca. Usia balita adalah usia bermain. Aktivitas bermain sudah merupakan kegiatan belajar bagi anak seusia mereka. Belum waktunya menuntut balita untuk bisa membaca.
Kemenakanku bisa membaca karena ia sudah terlatih mengenal huruf dan angka sejak kecil. Ia menjadi suka membaca karena aku yang membiasakannya sejak kecil. Waktu itu aku bertekad membuktikan bahwa anak yang dikenalkan gemar membaca sejak dini akan jadi anak yang cerdas.
Aku sempat melihat daftar nilai UNAS SMP di meja belajarnya. Semuanya berkepala sembilan, hanya angka di belakang koma saja yang berbeda. Nilai terendah ternyata bahasa Indonesia. Pelajaran ini memang membuatnya mengeluh. Aku teringat sempat mengajarinya sehari sebelum ujian atas permintaan kakakku.
“Tante pulang, “ujarku sambil menghampiri keempat kemenakanku yang sedang belajar. Satu persatu mereka mencium tanganku dan kucium kedua pipi mereka bergantian.
“Antarkan Tante sampai ke depan, “kata kakakku kepada si Sulung.
“Iya, Pa, “jawab kemenakanku tanpa banyak bicara sambil mengambil kunci motor yang tergantung di dinding ruang tamu.
Jadi hasil percobaanku itu, eh salah, kemenakanku sekarang sudah bisa membonceng tantenya ini walaupun hanya sampai depan jalan raya (karena belum punya SIM C). Aku suka menggodanya saat turun dari motor. “Cium Tante dulu, “kataku iseng. Sambil tersenyum malu, ia pun mencium kedua pipiku. Biasanya remaja belasan tahun kan malu kalau disuruh mencium ibu atau tantenya di depan umum. He he he.

Rabu, 19 Mei 2010

Sisi Pelangi

Cerita ini kudapat dari almarhum ibuku beberapa tahun yang lalu. Saat itu beliau bercerita bahwa kakak iparku menginginkan anak kedua perempuan, dengan demikian lengkaplah sudah, karena si sulung laki-laki. Ternyata keinginannya bertentangan dengan harapan suaminya, yaitu kakakku. Diam-diam kakakku berdoa supaya anak yang kedua lahir laki-laki pula.

"Ma, aku minta maaf, "katanya beberapa hari setelah kelahiran kemenakanku yang kedua itu.
"Maaf untuk apa, Pa?"
"Aku tahu Mama ingin sekali anak perempuan...tapi aku memang berdoa supaya anak kita yang kedua ini, laki-laki juga."
"Kenapa begitu, Pa?"
"Aku tidak mau kedua anak kita saling tertutup padahal mereka bersaudara. Adikku sangat tertutup kepadaku, entahlah mungkin karena dia perempuan. Aku tidak mau hal itu terjadi pada anak-anak kita."
Kakak iparku terdiam. Entah apa yang berkecamuk di dalam benaknya.

Jumat, 23 April 2010

Tak Lagi Putik

Aku ingin seperti dulu

Kala bungaku masih putik

Gemulai menari ditiup sang bayu

Saat hujan mulai merintik


Seandainya aku bisa seperti dahulu

Masa wangiku masih menggelitik

Rimbun daunku melambai kupu-kupu

Ramai tangan pun memetik


Tetapi aku bukan lagi yang dulu

Sebab bungaku tak lagi putik

Rimbun daunku tak lagi sanggup membelai kupu-kupu

Tiada lagi ramai tangan yang memetik


Tak sempat mekar bungaku

Hanya sekejap putik menilik

Sebab badai duka mengempas jiwaku

Mengguncang diri hadirkan embun menitik


Kamis, 22 April 2010

Pada Sketsa Langit dan Siluet Diri

Aku tak lagi takut pada kegelapan
setelah kutemukan lentera di antara pekat
dan sketsa di langit yang membiru

Kini aku berani menyusuri bayangan
siluet diri yang setia melekat
sejak kutahu inilah sebenarnya daku

Pada kegelapan dan bayangan
dalam pekat dan lekat
kini aku berani karena mereka ada di diriku

Pada sketsa berteman awan
dan lentera di angkasa terasa dekat
aku telah berani sebab mereka bersamaku selalu



Senin, 12 April 2010

Jingga

Mencipta semesta luas membentang
Tegak tak berbatas langit menjulang

Memecah samudera tak terbilang
Bergeser gunung tanpa dirancang

Berderai angin berlari kencang
Berarak awan pelan bergoyang-goyang

Dikau raja segala kan kujelang
Merajut semesta tanpa pintalan benang

Kuraih kala surya menghilang
Kutunggu saat pagi menjelang

Ingin kuraih jingga yang membayang
Lalu kudekap dalam tidur yang panjang

Merengkuh jiwa berdendang tenang
Engkaulah jingga hidupku yang tersayang



Membunuh Sepi

Semalam kucabut pedang dari sarungnya
Kuterjang gelap bagai satria perkasa


Berdiri tegak menantang kelam
Sepinya malam membuat muram


Aku berteriak membelah angkasa
Kuhunus pedang, kutancapkan ke udara


Sayup-sayup terdengar kawanan katak bernyanyi
Orkestra jengkerik pun beraksi kembali


Aku berlalu tanpa menoleh lagi
Telah kubunuh sepi

Jumat, 12 Maret 2010

Kembara

Masih terus kita berjalan
sedang hari telah beranjak malam
di langit tebaran bintang bergantungan
menyiratkan sinar yang menggenggam

Belum juga kita tiba di perbatasan
sementara waktu tiada mau berdiam
rembulan mengitari bumi, berjalan
tampakkan diri kala surya terbenam

Kembara masih di perjalanan
mencari manik-manik yang dulu tersulam
dan terlepas dari kibar pakaian
menghias kembali dengan intan mutu manikam