Jumat, 23 April 2010

Tak Lagi Putik

Aku ingin seperti dulu

Kala bungaku masih putik

Gemulai menari ditiup sang bayu

Saat hujan mulai merintik


Seandainya aku bisa seperti dahulu

Masa wangiku masih menggelitik

Rimbun daunku melambai kupu-kupu

Ramai tangan pun memetik


Tetapi aku bukan lagi yang dulu

Sebab bungaku tak lagi putik

Rimbun daunku tak lagi sanggup membelai kupu-kupu

Tiada lagi ramai tangan yang memetik


Tak sempat mekar bungaku

Hanya sekejap putik menilik

Sebab badai duka mengempas jiwaku

Mengguncang diri hadirkan embun menitik


Kamis, 22 April 2010

Pada Sketsa Langit dan Siluet Diri

Aku tak lagi takut pada kegelapan
setelah kutemukan lentera di antara pekat
dan sketsa di langit yang membiru

Kini aku berani menyusuri bayangan
siluet diri yang setia melekat
sejak kutahu inilah sebenarnya daku

Pada kegelapan dan bayangan
dalam pekat dan lekat
kini aku berani karena mereka ada di diriku

Pada sketsa berteman awan
dan lentera di angkasa terasa dekat
aku telah berani sebab mereka bersamaku selalu



Senin, 12 April 2010

Jingga

Mencipta semesta luas membentang
Tegak tak berbatas langit menjulang

Memecah samudera tak terbilang
Bergeser gunung tanpa dirancang

Berderai angin berlari kencang
Berarak awan pelan bergoyang-goyang

Dikau raja segala kan kujelang
Merajut semesta tanpa pintalan benang

Kuraih kala surya menghilang
Kutunggu saat pagi menjelang

Ingin kuraih jingga yang membayang
Lalu kudekap dalam tidur yang panjang

Merengkuh jiwa berdendang tenang
Engkaulah jingga hidupku yang tersayang



Membunuh Sepi

Semalam kucabut pedang dari sarungnya
Kuterjang gelap bagai satria perkasa


Berdiri tegak menantang kelam
Sepinya malam membuat muram


Aku berteriak membelah angkasa
Kuhunus pedang, kutancapkan ke udara


Sayup-sayup terdengar kawanan katak bernyanyi
Orkestra jengkerik pun beraksi kembali


Aku berlalu tanpa menoleh lagi
Telah kubunuh sepi

Jumat, 12 Maret 2010

Kembara

Masih terus kita berjalan
sedang hari telah beranjak malam
di langit tebaran bintang bergantungan
menyiratkan sinar yang menggenggam

Belum juga kita tiba di perbatasan
sementara waktu tiada mau berdiam
rembulan mengitari bumi, berjalan
tampakkan diri kala surya terbenam

Kembara masih di perjalanan
mencari manik-manik yang dulu tersulam
dan terlepas dari kibar pakaian
menghias kembali dengan intan mutu manikam

Tak Pernah Kuhitung Masa

Telah kuhabiskan waktu sendiri
hingga meranggas pucuk-pucuk cemara
pasrah saat angin mengirimnya
rebah terempas ke bumi

Dulu pada suatu masa yang lama berlalu
pernah kulihat tari gemulai sang cemara
bersama angin melantunkan irama
lagu merdu mengalun indah di telingaku

Telah kuhabiskan waktu tanpa terasa
layu bunga-bunga sebab menua kini
menyatu bersama bumi
hampir tak pernah kuhitung masa

Helai-helai keperakan pun menghampiri
kulihat kelam menggantung di angkasa
gelap menutupi cahaya
hingga pekat tanpa sinar kembali

Catatan : Alhamdulillah, puisi tersebut menjadi berita aktual pada situs www. penulis muda.com minggu ini (Rabu, 12 Mei 2010).

Kutanya Sepi

Kutanya padamu, wahai sepi
mengapa kautikam daku dengan belatimu
semburat darah membekas di jejak kaki
lalu sisanya tercecer dalam setiap napasku

Aku bertanya padamu, wahai sunyi
mengapa kauhunus daku dengan pedangmu
gumpalan darah muncrat menempel di dinding bumi
dan sebagian melumuri wajahku

Kutanya padamu, wahai sepi
mengapa kautusuk daku dengan tombakmu
luka parah menganga di sekujur diri
sementara tetesan darah membasahi seiring waktu