Acara memasak ditayangkan
si Kecil duduk manis di depan televisi
serius ia memerhatikan
menu yang disajikan hari ini
Mama siapkan sepiring nasi dan sepotong ikan
si Mungil tersenyum berseri
bahan dan cara memasak ia sebutkan
yang didapatkan dari tayangan media pagi tadi
Waktu terus berjalan
si Mungil beranjak remaja kini
ia berkata kepada Papa penuh keyakinan
aku ingin punya restoran sendiri
Catatan : Senin, 21 Desember 2009, tepat tiga belas tahun usia kemenakanku yang tersayang: Muhammad Rayhan Akbar. Meskipun anak laki-laki, tetapi sejak kecil Rayhan senang menyimak acara memasak. Sering ia menggoreng tahu atau tempe untuk mama dan papanya atau memasak mi goreng untuk kedua adiknya. Ia tidak terlalu suka membaca. Jangan coba-coba mengajaknya untuk menonton film sebelum ia membaca cerita aslinya. Dijamin ia tidak akan mau membaca buku itu. Alasan, "Kan sudah tahu ceritanya."
Selamat ulang tahun Aa Rayhan. Semoga panjang umur, taat beribadah, berbakti kepada Mama dan Papa, rajin belajar, dan sukses selalu. Amin ya Robbal Alamin.
Senin, 21 Desember 2009
Rabu, 02 Desember 2009
Sang Idola
Wanita itu berjalan tertatih-tatih
Meski tongkat tergenggam di tangannya
Namun lentik jemari berkuku jingga
Coba sibakkan helai rambut yang memutih
Tubuhnya yang bungkuk tampak letih
Walau keriput kulit membungkus raganya
Tetapi kerling mata menggoda, bibir merah menyala
Ingin tutupi suara yang bergetar lirih
Nenek yang renta dimakan usia
Namun senantiasa merasa belia
Sekujur tubuhnya penuh permata
Masih bergaya bak gadis remaja
Tetap berhasrat menjadi idola
Semakin ramai manusia memujanya
Meski tongkat tergenggam di tangannya
Namun lentik jemari berkuku jingga
Coba sibakkan helai rambut yang memutih
Tubuhnya yang bungkuk tampak letih
Walau keriput kulit membungkus raganya
Tetapi kerling mata menggoda, bibir merah menyala
Ingin tutupi suara yang bergetar lirih
Nenek yang renta dimakan usia
Namun senantiasa merasa belia
Sekujur tubuhnya penuh permata
Masih bergaya bak gadis remaja
Tetap berhasrat menjadi idola
Semakin ramai manusia memujanya
Rinduku Kian Berlapis
Bagaimana cara menahan gejolak rindu di hati
yang telah menyusup ke sudut-sudut sanubari
Cintaku begitu menggelora
hingga malam tiba daku pun terjaga
Kutahu tiada obat yang ampuh
agar rindu ini mampu kubunuh
Semakin lama malah bermekaran di kalbu
mendesak-desak rasa ingin bertemu
Kekasih, selalu kudamba masa bersama
menumpahkan keluh kesah, segala rasa
Bagaimana cara melepas rindu yang kian berlapis
sebab kutahu rinduku pada-Mu tak kan pernah habis
yang telah menyusup ke sudut-sudut sanubari
Cintaku begitu menggelora
hingga malam tiba daku pun terjaga
Kutahu tiada obat yang ampuh
agar rindu ini mampu kubunuh
Semakin lama malah bermekaran di kalbu
mendesak-desak rasa ingin bertemu
Kekasih, selalu kudamba masa bersama
menumpahkan keluh kesah, segala rasa
Bagaimana cara melepas rindu yang kian berlapis
sebab kutahu rinduku pada-Mu tak kan pernah habis
Bidadari Kalbu
Dahulu kala aku masih di surga
belajar dan bermain dengan segala riang yang ada
sampai suatu ketika Tuhan menurunkanku ke persada
dalam wujud bayi mungil tanpa dosa
Sejenak kebimbangan menyergapku
tak ingin kutinggalkan firdaus yang kurindu
belum siap jika tak lagi bertemu Tuhanku
sejuta tanya bermunculan di kalbu
Siapakah yang akan menjagaku nanti
Siapakah yang akan membimbingku seperti selama ini
Sungguh tak rela hati melupakan kehidupan surgawi
aku takut tak kan bisa kembali
Janganlah kau takut atau ragu
akan ada seseorang yang selalu menyayangimu
bahkan dia rela bertarung nyawa demi keselamatanmu
kudengar suara Yang Mahakuasa menghibur daku
Siapakah dia, Tuhan
aku bertanya tak kuat menyimpan penasaran
walau kutahu Tuhan dapat menemukan apa pun yang kusembunyikan
Dialah bidadari dalam kehidupan
di telapak kakinya terukir surga dambaan
Maka turunlah aku ke bumi
berwujud bayi mungil menyejukkan hati
kurasakan tangan lembut menyentuh jemari
kasihnya meresap ke dasar sanubari
Kuakui selama beberapa waktu
aku tak habis menggerutu
karena bidadari tak bersayap itu
hampir setiap hari memarahiku
Malam ini aku sendiri
tiada lagi bidadari itu di sisi
aku pun bertanya dalam sepi
Tuhan, dapatkah kuraih firdaus dambaan insani
Karena saat ini baru kusadari
mengapa Tuhan memilih seorang bidadari
untuk menemaniku dalam hidup tak abadi
sebab dialah pembuka pintu surgawi
belajar dan bermain dengan segala riang yang ada
sampai suatu ketika Tuhan menurunkanku ke persada
dalam wujud bayi mungil tanpa dosa
Sejenak kebimbangan menyergapku
tak ingin kutinggalkan firdaus yang kurindu
belum siap jika tak lagi bertemu Tuhanku
sejuta tanya bermunculan di kalbu
Siapakah yang akan menjagaku nanti
Siapakah yang akan membimbingku seperti selama ini
Sungguh tak rela hati melupakan kehidupan surgawi
aku takut tak kan bisa kembali
Janganlah kau takut atau ragu
akan ada seseorang yang selalu menyayangimu
bahkan dia rela bertarung nyawa demi keselamatanmu
kudengar suara Yang Mahakuasa menghibur daku
Siapakah dia, Tuhan
aku bertanya tak kuat menyimpan penasaran
walau kutahu Tuhan dapat menemukan apa pun yang kusembunyikan
Dialah bidadari dalam kehidupan
di telapak kakinya terukir surga dambaan
Maka turunlah aku ke bumi
berwujud bayi mungil menyejukkan hati
kurasakan tangan lembut menyentuh jemari
kasihnya meresap ke dasar sanubari
Kuakui selama beberapa waktu
aku tak habis menggerutu
karena bidadari tak bersayap itu
hampir setiap hari memarahiku
Malam ini aku sendiri
tiada lagi bidadari itu di sisi
aku pun bertanya dalam sepi
Tuhan, dapatkah kuraih firdaus dambaan insani
Karena saat ini baru kusadari
mengapa Tuhan memilih seorang bidadari
untuk menemaniku dalam hidup tak abadi
sebab dialah pembuka pintu surgawi
Senin, 09 November 2009
Duniamu, Gadis Kecil
Dunia dari sudut pandangmu
adalah warna-warni indah merayu
penuh kemilau sinar menari
yang kaudekap erat di hati
Semesta dalam bola matamu
bagai kilau intan berserakan
yang kaupungut sambil senyum kegirangan
dan tersisip di celah-celah kalbu
Lorong waktu laksana taman di surga
dalam jiwamu selalu lapang
menyanyi, menari engkau dengan riang
iringi simponi melaju masa
adalah warna-warni indah merayu
penuh kemilau sinar menari
yang kaudekap erat di hati
Semesta dalam bola matamu
bagai kilau intan berserakan
yang kaupungut sambil senyum kegirangan
dan tersisip di celah-celah kalbu
Lorong waktu laksana taman di surga
dalam jiwamu selalu lapang
menyanyi, menari engkau dengan riang
iringi simponi melaju masa
Sebuah Catatan
Lihatlah segenggam malam datang melibas
menguncang senja mengurai senyum sekilas
Seperti siang berbinar mentari
yang berlalu saat senja menghampiri
Dan juga fajar yang basah oleh tetesan embun
lalu mengering saat siang bersama panas menghimpun
Seperti kelam yang datang dalam diri
sedikit demi sedikit menghapus senja berseri
Dan sebelumnya surya pun berlalu
ketika sambur senja datang tersipu-sipu
Ingatlah pula dini yang menyentuh hari
lalu ia pun terbang berganti baskara yang berapi-api
Fajar, siang, senja, dan malam
semua ada di diri kita tergenggam
Embun, surya, limbur, dan kelam
FirmanNya terangkum dalam catatan kalam
menguncang senja mengurai senyum sekilas
Seperti siang berbinar mentari
yang berlalu saat senja menghampiri
Dan juga fajar yang basah oleh tetesan embun
lalu mengering saat siang bersama panas menghimpun
Seperti kelam yang datang dalam diri
sedikit demi sedikit menghapus senja berseri
Dan sebelumnya surya pun berlalu
ketika sambur senja datang tersipu-sipu
Ingatlah pula dini yang menyentuh hari
lalu ia pun terbang berganti baskara yang berapi-api
Fajar, siang, senja, dan malam
semua ada di diri kita tergenggam
Embun, surya, limbur, dan kelam
FirmanNya terangkum dalam catatan kalam
Ingin Kulukis
Hijau permadani yang terbentang
tak lagi pancarkan warna-warni kilaunya
rajutan gunung, sawah, dan lautan menghilang
berserak terempas seiring tangis duka
Selaksa dongeng masa silam
tinggal cerita lewat buah tutur
sementara dongeng kian terbenam
sisakan dedaunan melayang gugur
Untaian bunga yang semerbak
kini wanginya bak kamboja
meratap pilu di dada menyeruak
tiada lagi indah membuai mata
Ingin kulukis engkau
agar dapat anak cucuku terpana
cantik bagai nirwana dikau
kan menyulam kembali indahmu, tanah pusaka
tak lagi pancarkan warna-warni kilaunya
rajutan gunung, sawah, dan lautan menghilang
berserak terempas seiring tangis duka
Selaksa dongeng masa silam
tinggal cerita lewat buah tutur
sementara dongeng kian terbenam
sisakan dedaunan melayang gugur
Untaian bunga yang semerbak
kini wanginya bak kamboja
meratap pilu di dada menyeruak
tiada lagi indah membuai mata
Ingin kulukis engkau
agar dapat anak cucuku terpana
cantik bagai nirwana dikau
kan menyulam kembali indahmu, tanah pusaka
Langganan:
Postingan (Atom)