Kamis, 16 April 2009

Aku dan Orang-Orang Tercinta

Kehilangan orang tua atau anak adalah hal yang paling menyakitkan. Tidak jarang seseorang bisa menghujat Tuhan bahkan kehilangan iman karena masalah yang satu itu. Alhamdulilllah, Allah memberiku kekuatan dan tetap menjagaku. Walaupun bukan hal yang mudah untuk melewati masa-masa itu, tetapi syukurlah aku cukup tegar menghadapinya.
Putri tersenyum. Ditutupnya buku harian bersampul biru laut, warna kesayangannya. Buku harian yang menyimpan kenangan sarat warna.
Sekarang ia bukan Putri yang dulu lagi. Meskipun ia masih sering lupa tempat menyimpan barang, paling tidak dia tidak lupa kalau dirinya....
"Ibu...!"
Terdengar teriakan Intan, anaknya yang paling kecil. Tergopoh-gopoh Putri bangkit dari kamar menuju ruang tengah.
Alangkah terbelalaknya Putri melihat keadaan ruang tengah yang porak poranda bagai diserang badai. Bola-bola plastik menggelinding dari berbagai arah sehingga nyaris ia terpeleset. Boneka-boneka, mobil-mobilan berserakan di lantai. Sementara lantai yang semula bersih mengkilap kini berubah menjadi lautan pelangi. Barulah Putri menyadari ada beberapa botol pewarna kue di sana. Entah bagaimana caranya benda-benda itu berpindah dari lemari gantung di dapur ke ruang ini.
Kepala Putri berdenyut-denyut seketika.
Ketiga anaknya terpaku ketakutan melihat wajah ibunya yang tampak marah.
Putri menghela napas panjang. Sebenarnya ia ingin sekali mencubit anak-anaknya yang memang tidak bisa diam kecuali saat tidur. Heran juga padahal dia dulu tidak seperti ini. Pasti keturunan dari bapaknya.
"Aksan, "panggil Putri setelah berhasil menata emosinya.
"Iya, Bu, "sahut si Sulung kelas V SD itu.
"Ambil kain pel di samping kamar mandi."
"Baik, Bu."
"Damar, Intan, ayo bantu Ibu memasukkan mainan kalian ke kotak."
Tepat pukul dua siang.

==================================



"Intan! Ayo turun!" seru Putri panik melihat anaknya yang empat tahun itu berusaha mengambil spidol berwarna di atas meja. Meja itu cukup tinggi sehingga Intan harus naik kursi untuk mencapainya
"Ambil pidol, Bu!"sahut Intan.
Putri menghampiri anaknya. "Ayo turun, masa anak perempuan naik-naik begitu."
"Mirip ibunya," mendadak terdengar bisikan.
Putri menoleh. Ada Haydar, suaminya yang telah berdiri di sampingnya.
"Mana pernah Ibu naik-naik seperti ini?"tukas Putri tidak terima.
"Mungkin tidak, "Haydar tersenyum. "Tapi rasanya Ibu lebih parah. Siapa yang pernah nekat memanjat pintu gerbang sekolah gara-gara terlambat? Lalu siapa yang menendang pintu kantor sampai jebol gara-gara terkunci dari luar? Lalu siapa yang...."
"Ssst....,"potong Putri dengan wajah khawatir. Ia melihat sekeliling kamar.
"Rahasia Ibu aman, "bisik Haydar. "Aksan dan Damar main sepak bola di halaman."
Putri menarik napas lega. Syukurlah, bisa jatuh martabat keibuannnya kalau sampai kedua anaknya tahu yang satu ini. Kalau Intan, tak apalah. Masih kecil jadi pasti belum mengerti.
Tetapi....
"Jadi waktu kecil Ibu suka naik-naik pagal ya?"
Putri menatap suaminya kesal. "Ayaah..."ia nyaris menjerit.
Haydar buru-buru lari menyelamatkan diri sebelum istrinya sempat mencubit lengannya.
Sambil menahan kesal bercampur geli, Putri membantu anaknya turun dari kursi.
"Ayo bantu Ibu masak. Intan kan suka petik kecambah?"
"Iya, mau, mau!"

Tamat

Aku dan Orang-Orang Tercinta

Secara fisik, aku memang lebih mirip ayah dibanding ibu. Hanya saja untuk sifat aku dapatkan secara rata dari keduanya. Ya, walaupun sifat yang menurun itu menurut orang adalah sifat yang kurang baik (sifat-sifat yang baik itu menurun pada kakakku). Aku sendiri tidak pernah menampik apalagi menyesali kenyataan itu. Bagiku setiap manusia dikaruniai Allah dua sisi yang berbeda. Orang-orang hanya melihat tampak luar, kasat mata. Masih banyak dari kita yang menaruh prasangka hanya karena melihat seseorang yang tidak pernah tersenyum. Sebaliknya sering pula kita terjebak oleh senyum dan kata-kata manis dari orang yang baru kita kenal.
Justru, dalam kepribadianku yang sering mendapat cela dari para manusia di sekitarku inilah, aku mendapatkan pelajaran yang berharga. Pelajaran bahwa Allah tidak pernah berbuat tidak adil kepada hamba-Nya. Sebab ternyata teman-teman dekatku justru menyukai sifatku yang unik. Entahlah, aku juga tidak habis pikir, tetapi itulah pengakuan mereka.
Bicara soal kepribadian, dari sudut empat tipe kepribadian (menurut siapa, saya lupa) mungkin saya merupakan perpaduan tipe koleris melankolis (yang terakhir lebih menonjol). Tidak mau mengubah pendirian sampai menemukan sesuatu yang dapat mengubahnya dan selalu menanyakan sesuatu hal secara detail. Walaupun pembawaanku tidak terlalu feminin (terkesan semaunya), tetapi sebenarnya hatiku mudah tersentuh.
Sayangnya, aku sulit jatuh cinta.

=================

Aku takut durhaka kepada orang tua jauh sebelum mengetahui ada hadist Nabi Muhammad saw tentang surga di bawah telapak kaki ibu.
Aku mengetahui dari cerita ibu bahwa walaupun proses kelahiranku lancar tetapi ada kelainan dan ibuku merngalami pendarahan hebat (sampai-sampai dokter sendiri yang mendonorkan darahnya. Terima kasih, Oom dokter). Cerita itu selalu kuingat sampai sekarang. Bukan untuk membayangkan bagaimana nanti kalau aku melahirkan, bukan itu. Aku ingin mengingat bahwa ibuku (juga ibu kita semua) telah melahirkan anak-anaknya dengan taruhan nyawa. Memang benar, Allah memberikan keistimewaan pada kaum hawa untuk memiliki kekuatan menahan sakit saat melahirkan. Tetapi kalau taruhannya nyawa, dengan apa kita membalas jasa wanita yang telah mengeluarkan kita dari rahimnya dan membesarkan kita tanpa pamrih?

===============

Akhirnya aku berhasil juga meraih gelar sarjana. Semua itu karena jasa kedua orang tuaku. Ibuku tidak pernah berhenti mendorong semangat supaya aku tidak patah di tengah jalan. Ayah selalu membisikkan padaku bahwa beliau ingin aku menjadi seorang yang ahli dalam jurusan yang kuambil ini.
Sungguh perjalanan yang tidak mudah. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.
Kukira semua telah selesai dan tinggal melanjutkan kehidupan ini seperti air sungai yang mengalir dari hulu ke hilir. Arus sungai yang tenang. Tetapi aku salah, justru mulai saat itulah badai kehidupan seakan-akan menghempaskan diriku.

==================

Aku dan Orang-Orang Tercinta

Aku mewarisi sifat pelupa dan keras kepala dari ayahku, sementara sifat nekat dari ibu. Hanya saja bedanya aku lebih parah. Ya, lebih pelupa, lebih bandel, dan lebih nekat. Semua itu semakin lengkap karena kehadiran beberapa helai uban saat aku masih duduk di bangku SD. Persis nenek-nenek!
Bayangkan saja, jika father and his daughter ini bersatu. Selama beberapa tahun ternyata kami mengulangi adegan yang sama.
Semasa SMU (dulu SMA), aku selalu berangkat sekolah bersama ayah. Kebetulan jalan menuju kantor ayah melewati sekolahku, jadi sambil menyelam minum air.
Baru saja aku naik dan menutup pintu FIAT biru, ayah berkata, "Wah, Dik, kacamata Bapak ketinggalan, ambilkan."
"Di mana, Pak?"
"Di atas tivi."
Aku bergegas turun dan mencari di tempat tersebut tetapi tidak ada. Aku juga sempat berputar mencari kacamata ayahku di beberapa tempat tapi hasilnya nihil. Aku segera menemui ayah.
"Tidak ada, Pak."
Ayah berdecak kesal, "Ck, cari kacamata saja tidak bisa, biar Bapak cari sendiri!"ayah pun turun dari mobil.
Tidak lama kemudian, beliau datang sambil membawa kacamata kesayangannya.
"Ketemu di mana, Pak?"
Di meja makan."
Ayahku memang selalu ingat saat beliau meletakkan sebuah barang pertama kali. Jadi, kalau kemudian beliau memindahkan barang itu, beliau tidak akan mengingatnya malah mengira aku dan kakakku yang suka memindah-mindahkan barang.
Bagaimana halnya dengan diriku? Aku jauh lebih parah sebab kadang-kadang aku tidak dapat mengingat secuil pun tempat barang yang kucari, padahal jelas akulah yang menyimpannya.
Ini pengalaman konyol yang tidak pernah kulupa.
"Bu, tanda peserta ini tidak boleh hilang, "ujarku menjelang magrib sambil meletakkan kartu tanda peserta OSPEK di atas lemari es.
"Ya, kalau begitu simpan baik-baik, Mbak, "sahut Ibu tersenyum. Oh ya, ibuku kadng-kadang memang menyapa kami dengan sebutan 'mas' untuk kakakku dan 'mbak' untuk aku.
"Kalau hilang, tidak boleh beli lagi, "kataku lagi sambil meraba saku seragam. Tiba-tiba aku berteriak kaget, "Aduh, kartuku hilang, Bu!"
"Ah, masa? Coba kamu teliti dulu."
Dengan panik aku membongkar isi tasku. Aneh, benda mungil berlaminating dan berbentuk persegi panjang itu mendadak raib. Lemas rasanya sekujur tubuhku.
"Sudahlah, beli lagi saja, "hibur Ibu.
Aku menggeleng. "Mungkin jatuh di jalan, Bu."
"Kalau begitu, ayo kita cari, jangan lupa bawa senter."
Jadilah kami berdua, aku dan ibuku menyusuri jalan yang kulewati tadi. Aku menyalakan senter karena langit mulai gelap dan lampu-lampu kompleks belum menyala. Benar-benar seperti pemulung kehilangan barang yang sudah ia kumpulkan sepanjang hari.
"Lho, Dik Putri cari apa?"Leli, mahasiswi yang juga tetanggaku menyapa. Tampaknya ia baru saja pulang kuliah.
"Kartu tanda pesertaku hilang, Mbak, "jawabku.
"Aduh, mudah-mudahan ketemu, ya, "sahutnya prihatin. "Mari Bu, Dik Putri."
"Iya, Mbak, "jawab kami serempak.
Setengah jam mencari, akhirnya Ibu mengajakku pulang. Sepanjang jalan beliau mencoba menghiburku dan menyarankan sebaiknya aku membeli kartu tanda peserta itu.
Sesampai di rumah, tiba-tiba saja aku ingin menyentuh bagian atas lemari es...dan..."MasyaAllah!"seruku. "Bu, sudah ketemu!"
"Alhamdulillah, di mana?"beliau menghampiri.
"Di atas kulkas."
Perempuan anggun itu menggeleng-gelengkan kepala.

========================

Kupikir aku mulai terpengaruh kata-kata kakakku. Sehabis mandi dan berpakaian, aku selalu bercermin. Masa iya, aku hitam? Memang, kata siapa aku putih? Dari dulu juga tidak ada. Tapi... kalau hitam, ya tidak kok. Cuma, sawo matang begitu....
Tetapi...memang tidak ada salahnya sedikit berdandan. Tujuanku supaya tampak lebih segar dan bukankah saran kakakku memang baik?
Aku tersenyum. Baiklah, besok sepulang mengajar, aku akan mampir ke supermarket membeli bedak dan handbody.
Saran yang membawa kita kepada kebaikan, apa salahnya kita mencobanya? Walaupun cara menyampaikannya memang kadang-kadang menjengkelkan. Aku maklum kakakku merasa bertanggungjawab atas diriku. Sejak ia mempelajari ajaran agama lebih dalam, tampaknya ia menyadari bahwa selain istri dan anak-anaknya, aku juga menjadi tanggung jawabnya.
Pintu kamar diketuk.
"Tante...."
Ah, pasti kedua kemenakannku yang laki-laki itu. Mereka ingin menonton film kartu. Televisinya memang ada di kamarku.
Aku segera membukakan pintu.

Aku dan Orang-Orang Tercinta

Baru beberapa hari berada di kampung halaman, datanglah keluhan kakakku satu-satunya. Ia memandangku dengan prihatin dan berkata, "Ya Allah, Dik, kenapa kamu jadi hitam? Lihat itu kakak iparmu, kulitnya putih."
Aku tercengang. Apakah kakakku ini terjangkit penyakit iklan pemutih kulit yang akhir-akhir ini semarak? Lagipula kalau soal warna kulit, ya memang sudah dari lahir. Jangankan dibandingkan dengan kulit kakak ipar yang putih mulus, dibandingkan dengan my brother (kakakku laki-laki) saja, aku masih kalah.
Aku garuk-garuk kepala. Tidak tahu harus berkata apa.
"Coba pakai sabun merek anu, biar putih."
Iya, seperti tembok, sahutku dalam hati. Kalau sedang jengkel, aku memang memilih diam. Ya, daripada kalau bicara akhirnya semakin marah, lebih baik diam saja. Silent is gold.
"Jadi perempuan itu harusnya dandan, "lanjut kakakku lagi.
Soal berdandan, sejak lahir, orang tua dan kakakku selalu saja harus memaksa. Aku memang paling tidak suka berdandan, bersolek, atau apapun namanya.
"Pakai bedak, pakai lipstik...."
Masih lumayan adikmu bukan setengah laki-laki, sungutku dalam hati. Pakai bedak sama lipstik? Bukannya nanti malah seperti boneka kabuki?
Karena tidak mendapat tanggapan, kakakku berlalu dari kamarku.
Aku mengangkat bahu dan segera menutup kamar. Hampir jam sepuluh malam.

=========================

Entah sejak kapan, kakakku berubah posesif. Semua gerak-gerikku menjadi perhatian. Ia bahkan memiliki mata-mata, yaitu keempat anaknya alias kemenakanku. Aku sendiri berusaha berpikir positif menyikapi hal ini.Kuanggap saja ini sebagai ungkapan sayangnya kepadaku.
Lagipula, kakakku yang memang selalu menganggap orang yang lebih muda di atas tiga tahun darinya sebagai anak kecil. Kalau dulu, waktu aku SMP atau SMU masih wajarlah. Tapi sekarang? Aku sudah bekerja, sudah bertahun-tahun pula! Kemenakanku yang sulung tahun depan sudah lulus SMP! Kakakku ini memang ada-ada saja.
Tetapi aku tidak mau ambil pusing dengan keempat telik sandi pilihan kakakku itu. Memangnya siapa yang bisa memaksaku? Keras kepala?Ya, ini memang salah satu kelemahanku. Keras kepala! Walaupun kakakku pernah mengatakan bahwa aku ini bukan keras kepala tapi keras dalam pendirian.
Malam ini selepas makan malam, seperti biasa aku menuju kamar atas yang menjadi gua persembunyianku. Aku harus menyusun rencana untuk menyambut hari esok.

Debur Ombak Kehidupan

Dokter spesialis kandungan itu ternyata seorang wanita yang lembut dan anggun. Farah, namanya. Lima bulan yang lalu ia baru saja melahirkan seorang bayi perempuan. Netty langsung merasa dekat dengan perempuan yang dikenalnya lewat Linda itu.
Dokter Farah tertarik mendengar masalah Netty yang unik itu. Ia segera mengundang wanita itu untuk berbicara empat mata di ruang praktiknya.
"Jadi Ibu hanya pura-pura hamil?"
Netty mengangguk perlahan. "Benar, Dokter."
"Bukankah Ibu tidak perlu berpura-pura? Ibu tidak perlu berbuat begitu karena Ibu sudah bersuami."
"Saya...saya tidak ingin dia meninggalkan saya, Dokter."
Dokter Farah mengerutkan kening. "Ibu cantik, kenapa takut suami meninggalkan Ibu?"
Netty menunduk.
Dokter Farah meletakkan secangkir teh hangat untuk Netty. "Silakan, "katanya.
"Terima kasih, Dok."

==========***==========

"Kalian bertengkar lagi?"tegur Ibu memperhatikan Anfa yang meninggalkan Rana di kamar. "Anfa, kau harus memahami kondisi istrimu."
"Iya, Bu, "jawab Anfa singkat. Ia tidak ingin menceritakan masalah yang sedang berkecamuk dalam rumah tangganya. Laki-laki itu berusaha bersikap wajar padahal pagi tadi ia nyaris menghajar tamu tak diundang yang lagi-lagi datang itu. Ya, nyaris, kalau saja Arya dan Shafa tak segera datang.
"Istrimu sedang apa?"
"Mendengarkan siaran berita."
"Kau tidak temani?"
"Nanti saja, Bu. Saya harus membersihkan garasi."
Ibu menatap wajah putra sulungnya yang tampak kalut. Sejak pernikahannya dengan Netty, Anfa seperti tidak pernah lagi merasakan ketenangan dan kebahagiaan. Wanita itu tak habis pikir karena memang ia belum mengetahui alasan sebenarnya Anfa menikah lagi.
"Bapak ke mana, Bu?"
"Bapakmu sedang bersih-bersih rumah kita. Oh ya, jam sebelas nanti, Ibu pulang dulu. Kasihan bapakmu, tidak ada
yang membantu."
"Perlu Anfa panggilkan taksi?"
"Tidak usah, Ibu bisa naik mikrolet. Ayo, temui istrimu. Sudah dua hari ini Ibu Bapak melihat kamu dan Rana saling memasang tampang masam. Percuma kamu ambil cuti empat hari, kalau seperti ini. Dengan Netty pun, kamu tidak pernah perduli. Anfa, Ibu kecewa. Seharusnya kau jadi suami yang baik."
Anfa diam saja. Maafkan aku, Bu, ujarnya dalam hati. Aku tidak bisa. Aku marah karena menyadari bahwa sebenarnya Rana dan laki-laki itu memang saling mencintai. Sedangkan aku begitu mencintai Rana. Dan Netty, Ibu belum tahu kalau dia hanya menjebakku. Aku pun tidak tahu siapa laki-laki yang telah menghamilinya.
"Anfa..."
Anfa memandang ibunya. Ia tersenyum.
"Temui istrimu."
"Baik, Bu."

========********=========

Arya dan Shafa gembira karena Tante Afna datang ke rumah kakek. Sayangnya, tanpa suami. Kata Tante Afna, Oom harus bekerja.
"Wah, sudah berapa bulan, Nak?"sambut Bapak mencium kening putrinya.
"Enam bulan, Pak."
"Ayo masuk, "Bapak meraih tangannya. "Tadi Bapak coba masak nasi goreng, mudah-mudahan enak."
"Tante, biar Arya yang bawakan tasnya."
"Oh, ini oleh-oleh. Bawa saja, Arya."
Shafa memperhatikan perut tantenya. "Tante mau melahirkan?"
"Iya, tapi masih lama."
"Lho, kalian tidak sekolah?"
"Arya masuk siang, Tante. Kalau Dik Shafa memang libur."
Shafa mengangguk-angguk.
Bapak mengajak Afna ke ruang makan.
Arya dan Shafa mengikuti.

=========0000=========

Jam praktik sudah tutup sejak tadi. Farah pun bersiap-siap pulang.
Ia teringat Netty pasien yang unik itu. Ia bersedia membantu wanita itu dari kemelut yang sedang dihadapinya.
"Jadi saya harus jujur, Dok?"
"Benar, Ibu harus jujur."
"Suami saya pasti sangat marah."
"Itu resiko yang harus Ibu hadapi."
Netty terdiam. Ia tampak gelisah.
Farah menghela napas. Ia melangkah keluar ruangan dan mengunci pintu.

======00000000===========


Hani menyerahkan setumpuk berkas yang harus ditandatangani Anfa.
"Cepat sekali kamu masuk, Han? Cuti bulan madumu masih seminggu lagi kan?"
Hani tersenyum malu. "Faisal juga masuk, Pak, "jawabnya.
"Jadi ceritanya ikut suami?"
"Sebaiknya kan begitu, Pak."
Anfa tersenyum. "Baiklah, mana yang harus saya tandatangani?"
Hani membuka map berisi berkas-berkas itu.
Hani bergegas meninggalkan ruangan direktur setelah Anfa menandatangani berkas-berkas itu.
Anfa membuka laptop yang tersedia di meja kerjanya. Tetapi ia tidak segera membuka filenya melainkan melihat foto-foto kedua anaknya yang cerdas dan periang itu. Ia tersenyum memandang gambar-gambar yang bersejarah dalam hidupnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam, "Anfa menoleh. Ia terkejut.
"Boleh aku duduk?" tanya Netty menunjuk kursi.
"Ya, duduklah."
Netty memeluk erat tas tangan yang dibawanya. Ia memandang suaminya penuh arti.
"Ada yang ingin kaubicarakan?"
"Iya, Mas. Tapi Mas tidak sibuk kan?"
"Belum, tapi ceritakan saja."
"Aku tadi sempat bertemu Afna. Ia kaget sekali waktu tahu bahwa saya istrimu juga. Kami sempat ribut. Ia marah sekali. Untunglah Ibu berhasil memberinya pengertian."
"Maafkan adikku. Dia memang belum tahu kakaknya menikah lagi."
"Kenapa Mas tidak ceritakan saja?"
"Aku tidak mau mengecewakannya karena tahu ia sedang hamil. Ah, mudah-mudahan dia tidak apa-apa."
"Ya, mudah-mudahan. Sebenarnya sejak kemarin aku ingin menyampaikan satu hal kepadamu...tapi aku takut...."
"Takut?"
"Aku takut kau marah."

=======00000========

Farah meletakkan sepiring pisang goreng di ruang tamu.
"Mas, untuk apa menunggu sesuatu yang tidak pasti? Bukankah itu pekerjaan yang sia-sia."
"Entahlah, Farah. Mas benar-benar mengagumi wanita itu."
"Pasti dia sangat cantik."
"Samasekali tidak. Tapi entahlah, kenapa aku bisa begitu tergila-gila padanya."
"Mas harus ingat, ia sudah berkeluarga."
"Ya, aku tahu, Farah. Tapi Mas tidak bisa menahan diri untuk tidak menemuinya."
"Dan suami wanita itu hampir saja membuatmu babak belur?"tukas Farah menatap kakaknya tajam.
Sang Kakak terdiam.
"Masih banyak gadis atau wanita yang masih sendiri. Mas harus belajar melupakan wanita itu."
"Saat aku tahu dia lumpuh, aku malah gembira. Harapanku suaminya pasti akan menceraikannya. Sayangnya aku salah, ternyata suaminya begitu setia. Aku juga menyadari bahwa suaminya bukan hanya mencintainya tetapi juga sangat menyayanginya."
"Mas memang harus sadar. Jangan merusak rumah tangga orang."
Si Kakak mengangguk-angguk.
Terdengar suara tangis bayi dari kamar.
"Sebentar ya, Mas, "Farah beranjak dari duduknya.'
"Suamimu belum pulang?"
"Belum, dia lembur."

=========))))((((========


Netty duduk di samping Anfa.
"Kau marah, Mas? Maafkan aku."
"Jadi sebenarnya kau tidak hamil?"
Netty menggeleng.
"Kenapa kau lakukan ini?"
"Aku putus asa, aku ingin kau menikahiku."
"Aku tidak menghamilimu, Netty."
"Tapi aku sangat mencintaimu. Keinginan untuk memilikimu begitu besar."
"Sampai-sampai kau rela menyakiti sesama kaummu?"
"Cinta memang buta. Maafkan aku."
Anfa memandang Netty yang menunduk. Sebenarnya perempuan ini jauh lebih cantik dibanding Rana, tetapi tetap saja ia tak merasakan sesuatu yang lain itu. Cinta memang ajaib.
Suasana hening sejenak. Anfa mencium pipi Netty lembut.
Dada wanita itu berdebar keras. Ini kedua kali suami menciumnya, yang pertama setelah akad nikah.
Braaak!
Keduanya tersentak. Mereka langsung melompat menghampiri Rana yang terjatuh dari kursi roda. Anfa memapah istrinya duduk di sofa. Sementara Netty menyiapkan bantal dan segelas air hangat.
Rana tidak menolak saat Netty membantunya untuk meneguk air putih itu.
Anfa mencium keningnya.
"Bagaimana laki-laki bisa mencium dua wanita sekaligus dalam satu ruangan?"tanya Rana lirih tetapi Anfa dapat mendengarnya dengan jelas. Juga Netty.
"Rana...."
"Biarkan aku sendiri."
Anfa dan Netty terdiam.

=============((())))=============


Tujuh tahun kemudian.
"Oom dan Tante harus datang, "ujar Arya sore itu. Ia menyerahkan sepucuk amplop hijau muda.
"Lho, kamu mau menikah, Arya?"
Arya mengangguk "Benar, Tante."
Netty tersenyum. Ia menatap pemuda yang dulu pernah menjadi anak tirinya itu. Ia teringat Arya pernah protes dengan kehadiran dirinya yang tiba-tiba itu. Hanya saja Arya adalah anak yang sopan sehingga memutuskan untuk tidak ikut campur urusan orang tua.
"Kita ada acara apa tidak, Ma?"tanya pria yang duduk di samping Netty.
Arya memandang laki-laki itu. Ia adalah teman ibunya yang beberapa kali datang bertamu.
"Mudah-mudahan tidak, "jawab Netty.
"Kalau begitu, saya pulang, "Arya berdiri. "Permisi, Oom, Tante."
Sepasang suami istri itu mengiringi kepulangan Arya yang mengendarai Supra X dengan pandangan mata.
"Dia anak...."
Netty tertawa. "Ya, dia anak dari perempuan yang suaminya nyaris menghajar Papa, kan?"
Suaminya terbahak. "Papa perlu belajar banyak dari suami yang setia itu."
"Dia memang sangat setia."
"Bagaimana dengan Papa? Apa Papa kurang setia sampai anak kita tiga?"
"Ih, Papa asal, "Netty gemas. "Apa hubungannya?"
Si Suami tersenyum. "Lalu bagaimana dengan Rana, istrinya itu?"
"Kabarnya Mbak Rana sudah bisa berjalan lagi."
"Aku senang mendengarnya. Kapan?"
"Mama tidak tahu. Tapi Mama pernah melihat dia dan Mas Anfa belanja di supermarket bersama dua balita laki dan perempuan."
"Wah, pasti itu anak-anak mereka."

Benar. Pada saat yang sama Anfa dan Rana sedang kewalahan melerai si Kembar yang berebut mainan.



Tamat

Rabu, 15 April 2009

Debur Ombak Kehidupan (7)

"Ibu ada?" seorang pria berkacamata hitam menyapa Shafa ramah.
Gadis kecil yang sedang bermain lompat tali di halaman itu terdiam. Ia menatap orang asing itu penuh selidik.
"Oom siapa?"
"Oom ini teman ibumu waktu sekolah. Nama Oom, Surya."
"Oom Surya, "ulang gadis itu.
"Iya, anak cantik. Oh ya, siapa namamu?"
"Shafa, Oom."
Seorang remaja keluar. Ia mendekati keduanya.
"Maaf, Oom cari siapa?"
Laki-laki itu tersenyum menatap sang remaja. "Kamu pasti Arya."
"Benar, Oom."
"Ibu ada?"
"Ada, tapi...."
"Tapi apa?"
"Silakan masuk, Oom."

===========********=============

Sore itu Netty menemui teman semasa kuliah. Linda menyambutnya dengan gembira. Maklum sudah lima tahun mereka tidak berjumpa.
"Kau hamil?"Linda menatap perut Netty yang membuncit. "Sudah berapa bulan?"
"Itulah, aku mau minta tolong."
Linda menuangkan es jeruk dari poci ke dalam dua gelas. "Maksudmu?"
"Aku tidak hamil tapi aku sudah menikah."
"Aku bingung."
"Suamimu kan dokter, Lin."
"Apa hubungannya dengan suamiku?Lagipula suamiku psikiater bukan dokter kandungan."
"Iya, tapi dia pasti punya teman dokter kandungan kan?"
Linda mengangguk.
"Naah, aku ingin minta tolong."
Linda mengerutkan kening. Tangannya sibuk membuka kaleng biskuit yang tertutup rapat.
"Sebenarnya aku tidak hamil, Lin. Aku cuma pura-pura."
"Kenapa, Netty? Kenapa harus pura-pura, toh kamu sudah bersuami?"
"Aku terpaksa supaya dia mau menikahiku."
"Maksudmu supaya dia mau bertanggungjawab?"
Netty menggeleng. "Bukan, tetapi supaya dia mau menikahiku."
"Ah, pusing, "Linda menepuk dahinya. "Apa bedanya? Atau maksudmu, sebelum menikah kalian sudah pernah...?"
Netty menggeleng. "Tidak. Laki-laki itu ah, aku tidak tahu bagaimana cara menaklukkan dirinya. Ia memang laki-laki yang sangat setia."
"Lho...harusnya kamu bangga."
"Dia setia pada istrinya, istri pertamanya."
Linda memeluk kaleng yang belum berhasil dibukanya. Ia merasa telinganya salah mendengar. "Tunggu dulu, istri pertama katamu.Jadi maksudmu suamimu bukan lajang saat kalian menikah."
"Ya, aku istri kedua."
Linda langsung mencibir. "Begitu kok setia? Memangnya satu istri belum cukup, ya? Dasar laki-laki, di mana-mana sama. Pasti kamu kena rayuannya, makanya mau dimadu."
Senyum Netty langsung memudar. Ia berusaha menahan gejolak hatinya. Kau salah, sahutnya, tetapi dalam hati. Bahkan aku yang berusaha mendapatkan dirinya, sampai-sampai aku harus pura-pura bunuh diri.
Linda melihat Netty yang mendadak murung. Ia merasa bersalah.

-------------------------**********---------------------

Surya terkejut bukan kepalang melihat keadaan perempuan cinta pertamanya itu. Rana bukan lagi seperti yang dulu. Ia tidak bisa berjalan tanpa bantuan kursi roda.
"Kenapa kamu jadi seperti ini?'
"Aku mengalami kecelakaan."
"Kapan?"
"Lima tahun yang lalu."
"Kapan kau bisa berjalan lagi seperti dulu, Rana?"
"Aku tidak tahu. Kata Dokter, paling cepat dua tahun lagi."
"Apa?"Surya terbelalak.
"Silakan dicicipi kacang bogornya."
"Terima kasih, "Surya membuka stoples mungil di atas meja tamu. "Berapa lama kau di rumah sakit?"
"Lama juga. Setahun, selebihnya rawat jalan, sampai sekarang."
"Suamimu?"
"Dia baik-baik saja."
"Bukan itu maksudku, tapi...."
Tatapan Rana begitu nanar tetapi Surya yakin bahwa sebenarnya tatapan itu penuh arti.
"Aku belum menikah, Rana. Aku tetap setia...."
Rana menggeleng. "Ada anak-anakku."
"Mereka sedang belajar kan?"
Rana tidak menjawab.
"Kalau suamimu tidak sudi melihatmu lagi, aku siap menerima dirimu."
Suasana hening. Di luar sore begitu cerah. Tampaknya hujan tidak akan turun menyapa bumi hari ini.
"Asalamualaikum."
"Wa..waalaikumussalam..."serentak keduanya menoleh.
"Anfa, "sapa Surya berdiri. "Kau masih ingat aku?"
Anfa menatap Surya tajam. "Tentu saja aku ingat. Anda adalah laki-laki yang gemar mengganggu istri orang, "setelah berkata demikian, laki-laki itu berlalu ke dalam.
Rana ingin mengejar atau berteriak memanggil suaminya tetapi ia tidak berdaya.
"Maafkan aku, "Surya tampak bersalah. "Sebaiknya aku pulang saja. Sungguh, aku tidak bermaksud...."
Rana membisu.
Surya berlalu.

=============00000==============


Malam itu suasana agak sepi. Bapak dan Ibu mengajak kedua cucunya menonton film animasi di bioskop. Beliau ingin memberi kesempatan kepada Anfa supaya dapat bersantai dengan kedua istrinya.
Netty menghidangkan semangkuk mi goreng di atas meja makan. Malam ini ia bertekad akan menyenangkan hati suaminya.
Sementara itu di ruang tengah, Anfa berdiri di samping Rana dengan wajah dingin.
"Ayah masih marah?"
"Kenapa laki-laki itu selalu hadir saat aku tidak ada di rumah?"
"Aku tidak tahu."
"Tapi kau suka bukan?"
Rana nyaris menangis mendengar pertanyaan bernada menuduh itu.
Anfa tidak berkata-kata lagi. Ia duduk di sofa dan meraih surat kabar di atas meja.
Netty menghampiri suaminya dengan senyum ceria. "Mi gorengnya sudah siap, "ujarnya. "Mas mau makan sekarang?"
"Ajak Mbak Rana makan dulu, "jawab Anfa tanpa mengalihkan perhatiannya dari koran yang ada di tangannya.
Netty melengos kesal. "Dia tidak mau kalau aku yang mengajak."
Anfa meletakkan koran di atas meja. Ia beranjak mengampiri istrinya yang terdiam di sudut.
"Kita makan dulu, Bu, "ujarnya sambil mendorong kursi roda istrinya.
"Aku mau jalan saja."
Anfa membantu istrinya berdiri. Tetapi Rana menggeleng.
Netty tersenyum mengejek. Ia memeluk lengan Anfa dengan sengaja.
Rana yang marah berusaha untuk berdiri sambil berpegangan pada sisi kursi roda. Hampir saja ia terjatuh.
Anfa tampak cemas. "Hati-hati...."
"Lepaskan aku."
Rana berhasil beberapa langkah. Meskipun demikian, Anfa masih cemas karena Rana tampak masih lemah. Ia terus mengikuti langkah wanita itu dan sedikit pun tidak mengacuhkan Netty yang setia menggandeng lengannya.
Beberapa kali Rana hampir terjatuh. Tetapi ia tetap keras kepala dan menolak pertolongan suaminya.
Perempuan sombong, sembur Netty dalam hati. Sudah tahu pegang sendok saja tidak becus, mau makan sendiri. Ia melihat Rana menolak saat Anfa hendak menyuapinya.
Anfa meletakkan piring berisi mi goreng itu. Ia menatap wajah istrinya sambil tersenyum. Tetapi ia terkejut ketika melihat bola mata Rana yang berkaca-kaca.
"Eh, tadi aku masak bolu kukus, "Netty menarik tangan Anfa. "Ayo, ikut aku ke dapur."
Anfa terpaksa menurut.
Ternyata kau sama saja dengan yang lain, Anfa, desis hati Rana kecewa. Semua laki-laki memang sama saja. Katanya setia, nyatanya menikah lagi!

Debur Ombak Kehidupan (6)

Pagi itu ada keributan di halaman kantor. Orang-orang berkerumun bahkan beberapa wartawan dan repoter dari berbagai media massa dan elektronik juga datang. Mereka sudah bersiap-siap dengan kamera dan alat rekam.
Ada wanita cantik nekat akan terjun dari lantai tiga. Ia tampak putus asa dan tak memilliki lagi harapan untuk hidup lebih lama di dunia ini.
Faisal selaku kepala personalia tentu saja kalang kabut. Ia harus mengatasi masalah mendadak itu seorang diri. Direktur sedang menghadiri undangan di Jakarta sedangkan wakil direktur belum datang karena harus mengantar istrinya rawat jalan.
"Ada apa ini ribut-ribut?"
Faisal menoleh. Ia menarik napas lega.
"Syukurlah, Bapak sudah datang. Netty, Pak."
"Netty, ada apa dengan dia?"
"Coba Bapak lihat ke atas."
Anfa mengikuti arah telunjuk Faisal. Alangkah terkejut laki-laki itu. Ia melihat sekretaris direktur itu berdiri di jendela lantai tiga.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Faisal?"
"Saya tidak tahu, Pak. Kemarin dia biasa-biasa saja."
"Sudah ada tindakan?"
"Sudah. Tapi dia malah mengancam akan loncat."
Seorang wanita berjilbab coklat muda menghampiri keduanya. "Saya tadi juga sudah naik dan berusaha membujuk.Tapi saya hanya berhasil mengetahui sebab dia nekat seperti itu."
"Apa?"
"Maaf, katanya dia nekat karena Bapak telah melukai hatinya."
Anfa tersentak. "Saya?"
Wanita itu mengangguk.
Faisal menatap atasan sekaligus sahabatnya itu.

==================88888===============

Bapak mengupas rambutan dan memberikannya kepada Shafa. Gadis kelas II itu tampak gembira duduk di dekat kakeknya.
"Sudah makan belum?"
"Sudah, Kek."
"Oh ya, kemarin kan ulangan matematika, dapat nilai berapa?"
"Belum Shafa lihat."
"Lho, kenapa?''
"Takut kalau dapat jelek."
Kakek mengambil tas merah muda dari pangkuan cucunya. "Coba Kakek lihat."
Ibu mendorong kursi roda yang diduduki Rana, menantunya. "Kita berkumpul di ruang tengah saja, ya."
"Iya, Bu."
"Aduh, asyik sekali. Manis ya rambutan aceh dari Tante Afna?"
"Eh, Ibu, "Bapak tersenyum. "Iya, manis sekali. Kapan Afna dan suaminya mampir ke sini lagi, ya?''
"Bapak ini, "tukas Ibu. "Belum sehari berpisah, sudah mau ketemu lagi."
"Entahlah, Bu. Sejak Afna menggenapkan setengah dien setahun yang lalu, mendadak Bapak merasa kesepian.
Lebih-lebih setelah itu Bapak pensiun."
"Bapak, post power syndromenya jangan lama-lama, "Ibu duduk di kursi plastik dekat Bapak.
Bapak tersenyum. Ia membuka kertas di tangannya. "Lho, bagus kok."
"Berapa, Kek?"
"Seratus."
"Ah, yang benar, Kek?" Shafa terbelalak riang.
"Ini Shafa lihat sendiri."
Sementara itu Rana hanya memandang suasana riang itu dengan tatapan hampa. Tetapi bukan berarti ia tidak dapat memahami semua yang didengarnya.

==============*********===============

Akhirnya Anfa terpaksa menuju lantai tiga. Sementara itu Netty tetap bertengger di jendela.
Khawatir akan terjadi sesuatu pada keduanya, Faisal mengajak Hani wanita berjilbab itu menyusul.
"Jangan mendekat!"seru Netty saat melihat Anfa mendekatinya.
"Saya tidak akan mendekat, "Anfa langsung menghentikan langkahnya. "Tapi tolong, kau harus turun."
"Aku tidak mau!"
"Netty, jangan nekat, "ternyata Hani sudah tiba di lantai tiga bersama Faisal.
"Kau tidak usah ikut campur!"
"Tapi..." Hani berjalan mendekat.
"Jangan mendekat, atau aku akan loncat!"
"Baiklah, "sela Anfa dengan kepala pening. "Apa maumu?"
Tiba-tiba Netty tersenyum, ditatapnya pria tampan dan gagah itu penuh arti.
Anfa dan yang lain menunggu dengan tegang.
"Saya ingin Bapak menikahi saya."
"Itu tidak mungkin...."
"Atau Bapak lebih suka melihat saya terjun bebas?"
Anfa terdiam.
"Satu...," Netty bersiap-siap berdiri sambil berpegangan pada sisi jendela. "Dua..., " wanita itu sudah berdiri sambil bersandar. "Ti...."
"Baiklah, "jawab Anfa. "Sekarang turunlah."
Netty tersenyum simpul.
Hani bergegas menolong Netty.
Faisal menepuk pundak Anfa. "Bapak sungguh-sungguh akan menikahi dia?"
Anfa terdiam. Ia menyadari bahwa ia telah mengucapkan satu kata yang fatal akibatnya jika sampai mengingkari.

============****=============

Anfa terkejut. Ia memegang pipinya yang terasa panas. Laki-laki itu menunduk. Ia tak berani menatap ibunya yang tampak sangat marah.
"Terlalu kamu, Anfa, "suara wanita yang masih tampak cantik diusia senja itu terdengar geram. "Kenapa kau tega menyakiti istrimu?"
Anfa hanya menunduk.
"Jawab, Anfa! Kenapa kau menghamili gadis itu?!"
Kali ini Anfa terkejut luar biasa. Ia memandang ibunya.
"Ibu, saya tidak...."
"Tidak apa? Tidak menghamili gadis malang itu? Tetapi kamu telah merusak masa depannya, kau...,"Ibu tidak melanjutkan kata-katanya. Beliau menyadari bahwa Rana berada di ruang tengah itu.
Anfa cepat-cepat menghampiri istrinya.
"Rana...."
"Aku mau sendiri."
Anfa terpaku.

=============8888=================

Netty merasa sangat bahagia. Hari ini adalah adalah hari yang paling bersejarah baginya. Dengan hati berbunga- bunga ia duduk di ranjang pengantin bertabur bunga melati itu.
"Akhirnya aku berhasil mendapatkanmu, "bisik wanita kepada dirinya sendiri.
Pintu terbuka. Melihat Anfa masuk, Netty segera berdiri.
"Mau kuambilkan minum?"
"Saya harus pergi ke kantor, "sahut Anfa meraih kunci sedan di atas meja kecil di dekat ranjang.
Netty tampak kesal. Jadi kau mau menghindari aku, Anfa? Baiklah, tunggu saja nanti, siapa yang menang.

===========0000==========