Rabu, 15 April 2009

Debur Ombak Kehidupan (5)

Hari ini Anfa terpaksa pulang terlambat. Ia harus bekerja lembur untuk menyelesaikan tugasnya. Setelah menelepon ibunya, ia segera kembali menuju meja kerja.
Seluruh karyawan sudah pulang, hanya dua satpam dan tiga petugas kebersihan yang masih menjalankan tugasnya.Netty pun mengurungkan niatnya untuk pulang begitu mengetahui Anfa akan pulang terlambat.

Netty meletakkan secangkir teh hangat di meja kerja Anfa.
"Silakan, Pak. Mumpung masih hangat."
"Terima kasih."
"Bagaimana keadaan Bu Rana, Pak?"
"Alhamdulillah, baik."
Netty mulai mencari celah kelengahan wakil direktur yang menjadi idolanya itu.

================0000000000000000====================

Afna mengupas mangga gadung dan memotong-motongnya sehingga berbentuk dadu. Ibu yang sudah siap membawa garpu, mengambil sepotong, dan mengunyahnya.
"Manis, Bu?"tanya Afna memandang ibunya yang tampak menikmati potongan mangga itu.
"Manis sekali, seperti Ibu, "sahut Ibu tersenyum.
"Ah, Ibu, "Afna tertawa. "Afna tadi beli di toko buah seberang kampus."
"Bapakmu pasti suka. Mangga gadung kan buah favoritnya."
"Oh ya, jam berapa, Bapak datang, Bu?"
"Mungkin besok pagi. Mbak Rana sudah tidur?"
"Sudah, Bu. Matanya sudah terpejam, berarti sudah tidur."
Afna memasukkan kulit mangga ke keranjang sampah yang diletakkannya di dekat kaki meja.
"Bu, ini sudah tiga bulan, Mbak Rana baru bisa mengangguk dan menggelengkan kepala. Perlu waktu berapa lama ia bisa seperti dulu?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Nak?"
"Sejujurnya, Bu, Afna kaget waktu mengetahui gadis pilihan Mas Anfa. Rasanya aku tidak percaya kalau tambatan hatinya begitu sederhana. Dan sekarang...apa yang menarik dari seorang wanita yang hanya sanggup berbaring?
Bahkan untuk makan saja, ia harus disuapi."
Ibu menarik napas panjang mendengar penuturan putri semata wayangnya. Selama ini perempuan empatpuluhan itu tidak pernah menyangsikan kesetiaan si Sulung Anfa. Beliau mengetahui benar bahwa Rana dengan segala kesederhanaannya, ia mampu membuat suaminya menerima dirinya apa adanya.
Tetapi sekarang ? Sampai berapa lama Anfa mampu bertahan?
Si Kukuk berdendang sepuluh kali. Malam semakin larut.

==================0000000000000======================

Netty menyandarkan punggungnya di dinding. Ia marah dan merasa sangat terhina. Seumur-umur belum pernah ada laki-laki yang berani menolak keinginannya. Selama ini semua pria selalu bertekuk lutut di bawah telapak kakinya setelah terbuai oleh senyum dan kerlingan mautnya.
Tetapi ternyata Anfa adalah laki-laki pertama yang menolak dirinya dengan tegas. Ada satu kalimat yang dilontarkan laki-laki itu yang membuatnya marah bukan kepalang.
"Apakah kau ingin menari di atas penderitaan sesama kaummu, Netty?" ujar Anfa tajam saat wanita itu menawarkan diri untuk mengajak dirinya menikmati suasana di sebuah klub malam.
Bah, sok alim! Wanita meremas-remas saputangan yang digenggamnya dengan gemas.

Sementara itu Anfa sedang berkemas-kemas. Ia telah menyelesaikan pekerjaannya dan tidak mau menunda waktu untuk pulang. Keinginan itu semakin kuat setelah ia menerima ajakan Netty yang terlampau berani itu.
Bayangan Rana yang terbaring lemah tergambar di dalam benaknya. Ia tidak bisa mendustai diri sendiri kalau saat ini ia begitu kesepian. Kesepian itu mulai mendera ketika ia mengetahui bahwa istrinya tak memiliki perasaan apa-apa kepadanya. Sepi dan cemburu sesungguhnya masih membara di dalam dadanya. Cemburu saat melihat Rana bersama laki-laki itu.
"Hujan turun deras, Pak, "tiba-tiba Netty sudah berada di hadapan Anfa. "Tidak mungkin Bapak pulang sekarang. Banjir bisa membuat mesin sedan rusak. Oh ya, mau saya tutup tirai ruangan ini?"
"Tunggu sampai saya keluar dari ruangan ini, "sahut Anfa sambil melangkah menuju pintu.
Netty menghela napas kesal.

Senin, 13 April 2009

Debur Ombak Kehidupan (4)

Anfa tersentak. Ada tepukan lembut di pundaknya. Ia menoleh. "Afna, kau baru datang?"
"Iya, Mas, "Afna meletakkan tas berisi pakaian di dekat ranjang tempat Rana terbaring.
"Anak-anak?"
"Sama Ibu. Mbak Rana sudah sadar?"
Anfa menggeleng lemah.
"Tapi menurut dokter, bagaimana?"
"Kalau kondisinya stabil, mungkin tiga hari lagi Rana bisa sadar. Hanya saja...,"Anfa terdiam.
"Hanya saja apa, Mas?"
"Kata Dokter kemungkinan besar Mbak Rana akan mengalami kelumpuhan total."
Afna ternganga. "Ya Allah...,"desahnya lirih.
Anfa kembali memandang Rana yang terbaring lemah. Kepala perempuan itu terbalut perban. Laki-laki itu
menggenggam jemari istrinya yang bebas dari luka dan menempelkannya di pipi kanan.
"Makan dulu, Mas. Aku bawakan soto ayam."
"Mas belum lapar."
Afna duduk di samping kakaknya. Ia memperhatikan laki-laki yang masih setia menggenggam tangan istrinya. Gadis itu tidak habis pikir mengapa si kakak begitu mencintai Rana. Perempuan bernama Rana itu tidak memiliki keistimewaan apa-apa. Tetapi Anfa selalu memuji istrinya. "Rana itu seperti bidadari, "begitu katanya.
Mas Anfa ini benar-benar mabuk kepayang, pikir Rana saat itu. Apalagi setelah ia mengetahui ternyata kakak iparnya tidak bisa menjahit. Buru-buru menjahit, memasang kancing saja tidak becus. Menggoreng tahu pun sering hangus. Tetapi Anfa tidak pernah memandang semua itu sebagai kekurangan, ia tetap mencintai dan menerima istrinya apa adanya.
Azan magrib berkumandang.
"Mas salat dulu. Biar Afna yang temani Mbak Rana."
"Baik, "Anfa beranjak dari duduknya.

==================0000==================

Malam itu Anfa tidak dapat memejamkan mata. Sebenarnya ia ingin menginap di rumah sakit dan menjaga istrinya, tetapi ibu dan adiknya melarang.
"Biar adikmu saja, "ujar Ibu. "Kebetulan dia sedang libur semester."
"Iya, Mas, "sela Afna. "Mas urus anak-anak saja."
Jadilah malam itu Anfa menemani Shafa. Sementara Arya sudah terbiasa tidur di kamar terpisah.
"Ibu...,"Shafa mulai merengek-rengek mencari ibunya.
"Ssh...,"Anfa mengusap-usap kepala anaknya.
"Ibu...,"gadis cilik itu mulai membentuk garis bibirnya melengkung ke bawah. "Ibu...hua...hua...!'
Terpaksa sang Ayah menggendong bidadari mungilnya yang menangis dengan mata terpejam itu.

==============*******======================

Saat makan siang, Faisal memperhatikan Anfa yang tampak sangat lelah. Wajah pria itu pucat dan matanya sedikit merah karena kurang tidur.
"Kau tidur jam berapa?"
"Aku tidak bisa tidur. Si Kecil menangis terus, cari ibunya, " jawab Anfa mengaduk-aduk es jeruknya.
"Kau tahu apa yang harus kaulakukan?"
"Sebenarnya aku tahu, tapi aku tidak bisa."
"Memangnya Shafa minta apa?" Faisal mengambil sepotong tempe goreng.
"Ia suka sekali kalau ibunya memasang beberapa jepit aneka warnanya di rambutnya. Kemudian ia akan mengacak-acak rambut ibunya. Masa aku pakai jepit?"
Faisal terbahak. Anfa tersenyum simpul.
Netty melintas di depan mereka. Anfa menggamit lengan Faisal.
"Hei, sudah waktunya kau mengakhiri masa lajangmu, "ujarnya. "Di sini sudah ada yang cocok untukmu."
Faisal berdecak. "Ada-ada saja kau ini, "tukasnya. "Justru sebaliknya, para karyawati di sini banyak yang menaruh hati padamu. Kalau mau dijadikan yang kedua atau ketiga, kelihatannya mereka oke-oke saja."
Giliran Anfa yang terdiam. Ia tampak tidak senang dengan ucapan sahabatnya itu. Kalau bisa, ia lari saja dari gadis-gadis yang mengerikan itu.
"Kita kembali ke kantor, "ujarnya.
Faisal mengangguk.

Debur Ombak Kehidupan (3)

"Surya, kenalkan Anfa, suamiku, "ujar Rana setelah berhasil menguasai diri.
Surya segera berdiri. Ia ingin bersikap satria. Ia mengangguk ramah dan mengulurkan tangannya pada Anfa.
Tetapi Anfa hanya tersenyum hambar dan tidak membalas uluran tangan Surya. Ia berpaling kepada istrinya yang berdiri terpaku di sampingnya. "Agenda Ayah tertinggal di kamar, "katanya.
Rana bergegas mengikuti suaminya yang menuju kamar.
Tanpa berkata sepatah pun, Anfa membuka laci meja dan mengambil sebuah agenda berwarna biru tua. Ia tidak menghiraukan Rana yang memperhatikannya sejak tadi.
"Ayah, tunggu."
"Ayah harus kembali ke kantor."
Rana menghalangi jalan suaminya. "Tunggu sebentar, Ayah marah?"
Anfa menghentikan langkah. Laki-laki itu menatap istrinya tajam. "Ayah tidak marah, "katanya.
"Tidak seharusnya Ayah bersikap begitu pada teman Ibu."
"Oh ya? Jadi kau membela laki-laki yang bukan apa-apamu itu? Dengar Rana, bukankah tidak seharusnya seorang istri memasukkan laki-laki lain ke dalam rumah tanpa sepengetahuan suami?" setelah berkata Anfa melangkah cepat meninggalkan Rana yang tampak bersedih.
"Kau marah padaku, Anfa, "desah wanita itu resah.

Surya merasa ikut bertanggung jawab saat ia melihat wajah Anfa yang tampak tegang dan Rana yang hampir menangis. Cepat-cepat ia menghampiri pria yang tengah memakai sepatu itu.
"Anfa, jangan marahi istrimu. Dia tidak bersalah."
Anfa tersenyum tipis mendengar ucapan Surya. "Aku tidak mengenal Anda....dan tolong jangan mencampuri urusan rumah tangga orang lain."
"Tapi, Anfa, istrimu tidak seperti dugaanmu. Percayalah, kami hanya...."
Tetapi Anfa tidak mau mendengar apa-apa lagi. Ia bergegas menuju sedan yang telah menunggunya di depan.
Surya menoleh. Ia melihat air berlinang di pipi Rana.
"Jangan menangis, "Surya hendak menghapus air mata itu.
Rana melangkah mundur.
"Kenapa? Aku tidak bermaksud apa-apa."
Rana menggeleng. "Sebaiknya kau pulang, Surya."
Surya mengehela napas. "Baiklah, "katanya sesaat kemudian.

==========================00000000000000000============================

Anfa mengaduk-aduk segelas jus melon di hadapannya. Tidak sedikit pun ia berselera untuk menikmati sari buah berwarna hijau itu. Peristiwa di rumahnya masih sangat mengganggu pikirannya.
Ia cemburu. Belum pernah ia melihat sorot mata istrinya yang tampak berbinar-binar saat laki-laki itu memandangnya. Sungguh, belum pernah.
"Sudah waktunya kembali bekerja, "Faisal menggamit lengan sahabatnya.
"Kamu dulu, nanti aku menyusul."
"Kau kelihatan murung. Ada yang kaupikirkan?"
Anfa menggeleng.
"Ingat, jangan membawa masalah pribadi ke kantor."
Anfa tersenyum. Ia beranjak dari duduk. "Kau benar, "katanya.
Faisal tertawa. "Kau selalu menjawab setiap perkataan dengan singkat, padat, dan jelas."
"Ya, seperti iklan."
Meledak tertawa keduamya.
Anfa setuju dengan nasihat Faisal. Memang sebaiknya ia harus dapat menahan perasaan pribadinya saat bekerja. Apalagi ini jam kerja.
================0000000000================================
Pukul satu siang. Sebentar lagi Arya pulang. Rana harus menjemput anak sulungnya itu seperti biasa.
"Ibu...," tertatih-tatih si Kecil Shafa menghampiri ibunya yang sedang menuangkan susu ke dalam botol.
"Eh, sudah bangun, Sayang, "Rana berjongkok mencium anaknya. "Shafa ganti baju ya, nanti kita pergi ke rumah Tante Afna."
"Iya, Bu. Nanti Chapa bawa pelmen, boyeh?"
"Boleh, "ujar Rana. "Tapi bawa dua saja, ya. Biar Shafa tidak sakit ...."
"Didi..."Shafa meringis menampakkan deretan gigi geliginya.
Rana tersenyum geli. Kelucuan Shafa membuatnya lupa akan kesedihan dan kekalutan yang tengah melanda dirinya.
===============0000000000=========
Nada ponsel berbunyi. Anfa meraih hp dari atas meja.
"Assalamualaikum. Ya, saya sendiri."
Anfa tampak terkejut. "Apa? Kecelakaan? Di mana? Sebentar, "pria itu membuka agenda dan menulis sesuatu.
"Ya, saya akan segera ke sana. Terima kasih. Waalaikumussalam."
Anfa berusaha mengatur napasnya yang mendadak terasa sesak. Ia harus bergegas menuju rumah sakit
Hidup Sehat.

Debur Ombak Kehidupan (2)

Rana memasukkan kotak bekal ke dalam tas Arya. "Jangan lupa uang SPP berikan Bu Guru, "pesannya sambil
menutup tas anaknya.
"Iya, Bu. Arya berangkat, "jawab Arya mencium tangan kanan ibunya.
"Ayah berangkat, "ujar Anfa mencium kedua pipi istrinya. Kemudian pria tersenyum menatap Shafa yang duduk manis di meja makan. Balita dua tahun itu asyik menikmati sarapan paginya. "Ayah berangkat, Sayang, "katanya
mencium pipi si Kecil.
Shafa kecil mengusap-usap pipi bekas ciuman ayahnya dengan tangan yang masih memegang sendok. Akibatnya ada percikan kecap yang menempel di dasi Anfa.
"Dasi Ayah kan jadi kotor, Sayang, "ujar Rana lembut. "Makannya disuapi Ibu, ya?"
Shafa menggeleng kuat-kuat. "Ndak au! Chapa mau dicuapi cama Chapa!"
Sementara itu Anfa menuju wastafel dan membersihkan dasinya yang terkena percikan kecap.
"Bisa hilang nodanya, Yah?"tanya Rana menghampiri suaminya. "Kalau tidak bisa ganti yang baru saja."
"Bisa, Bu. Ayo, Mas, sudah siap belum?"
"Sudah, Yah."
Rana mengantar suami dan anaknya sampai ke halaman. Beginilah aktivitasnya sehari-hari. Tetapi ia tak pernah merasa menyesal melakukan semua ini. Kendatipun, sesungguhnya ia memang tak pernah mencintai suaminya, namun ia sangat menyayangi anak-anaknya.
Tak lama kemudian Anfa dan Arya telah berada di dalam sedan biru itu. Keduanya melambaikan tangan kepada Rana.
Tiba-tiba....
"Mat Aya!!!"
Anfa yang sudah menjalankan sedannya terpaksa mundur. "Tuh, adikmu, Mas."
"Iya, ada apa, Adik Sayang?" Arya mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil.
"Da da!!" Shafa melambaikan tangan dengan gembira.
"Da da juga!"sahut Arya membalas lambaian adiknya.
Anfa dan Rana tersenyum bahagia melihat kedua anaknya saling menyayangi.

==============================0000000000000=============================

Netty tidak putus asa. Meskipun Anfa sudah menjelaskan bahwa ia telah berkeluarga, tetapi ternyata wanita itu tidak mau tahu. Ia tidak menjadikan status wakil direktur tempatnya bekerja itu sebagai halangan untuk menarik simpati bahkan mungkin cinta. Setiap hari ada saja yang ia lakukan untuk menarik perhatian Anfa.

"Selamat pagi, Pak, "sapa Netty yang tengah merapikan meja kerja Anfa.
"Pagi, "jawab Anfa ramah. Ia meletakkan tasnya di atas meja.
"Maaf, apa benar Bapak sudah berkeluarga?"
"Ya. Kenapa?"
"Tapi Bapak seperti belum berkeluarga? Saya tidak percaya."
"Tidak percaya itu hakmu, Netty, "Anfa tersenyum. "Silakan lanjutkan pekerjaanmu yang lain."
"Baik, Pak, "Netty bergegas meninggalkan ruangan. Tetapi sampai di pintu, ia membalikkan tubuhnya. "Bapak mau saya buatkan secangkir teh hangat?"
"Terima kasih. Tidak usah."
Netty mengangkat bahu.
Anfa menarik napas panjang. Pria itu berusaha melawan gejolak perasaannya. Bagaimana pun juga sikap dan ucapan Netty memang sangat mengganggu dirinya. Benar, pakaian yang dikenakan wanita itu adalah busana muslim tetapi ternyata itu belum juga mengubah sikapnya.
Anfa membuka tas. Ia harus mulai menyelesaikan pekerjaan.

=================================0000000000000000000000====================

Kehadiran Surya, teman semasa SMU cukup mengejutkan Rana. Apalagi ia berterus terang bahwa sebenarnya ia dulu mencintai Rana.
"Bahkan sampai sekarang, aku masih memendam perasaan yang sama."
"Kau ini, Surya? Aku sudah punya suami."
"Iya, aku tahu, "tukas Surya memperhatikan Rana yang tengah meletakkan sepiring roti bakar. "Tapi aku tidak berani karena kamu sangat pendiam."
"Kau sendiri sudah berkeluarga?"
"Belum. Aku menunggumu."
Rana tersentak. Perasaannya jadi tidak enak. Ia memang tidak menaruh rasa apa-apa terhadap Anfa yang saat ini berstatus menjadi suaminya tetapi sungguh bukan alasan untuk mencari orang ketiga dalam kehidupannya. Walaupun sebenarnya ia pun menyimpan perasaan yang sama dengan Surya.

Keheningan yang tercipta melingkupi mereka. Beberapa saat lamanya kedua insan berlainan jenis itu tidak tahu apa yang harus dikatakan. Mereka hanya terdiam dan menunduk seraya menghitung petak lantai ruang tamu.

"Rana...aku...."
"Ya?"
"Aku ingin mengulang masa yang kubuang sia-sia itu. Aku sudah mendapatkan kesempatan itu dan aku tak mau melewatkannya begitu saja."
Rana terdiam. Diamatinya diri dan pakaian yang dikenakan. Ternyata dengan berpakaian serba tertutup seperti ini bukan berarti seseorang telah terjaga dari perasaan yang seharusnya tak boleh dihadirkan untuk orang lain. Perasaan cinta.
"Kau mau bukan?"Surya tampak tak sabar menunggu jawaban Rana. Ia menatap wanita di hadapannya dalam-dalam menelusuri setiap pahatan di wajah sederhana namun menarik itu.
"Aku...."
"Ayolah, aku yakin kau menaruh rasa cinta juga untukku."
Rana menatap Surya terkejut. "Kau...?"
"Aku tahu kau selalu memperhatikan aku. Walaupun diam-diam, aku tahu."
Merah bersemu menghias raut wajah wanita itu.

"Silakan minum tehnya, "ujar Rana berusaha menguasai perasaannya. "Kau bekerja di mana?"
"Aku seorang psikolog. Buka praktik pribadi."
"Sekarang?"
"Buka sore. Kalau pagi sampai siang aku jadi wartawan."
"Wah, dunia yang berbeda."
"Ya, begitulah, "Surya tertawa.
Rana tersenyum geli.
Mendadak keduanya terdiam. Ada sosok lain yang berdiri di tengah-tengah mereka. Anfa, suami Rana.

Debur Ombak Kehidupan (1)

Anfa menutup buku harian bersampul biru itu. Ah, debar sesal menghantam dadanya. Seharusnya ia tidak lancang membaca buku harian orang lain meskipun milik istrinya sendiri. Tetapi ia tidak dapat mencegah dirinya untuk tidak membaca sesuatu yang bukan haknya itu.
Dan ia harus menerima akibatnya. Coretan-coretan yang merangkai huruf demi huruf menjadi kata-kata yang menjalin kalimat itu kembali terbayang di benaknya. Kalimat-kalimat itu sangat mengganggu pikirannya. Bagaimana tidak, tak terlintas sedikitpun hal itu olehnya. Sedikitpun tidak, sampai akhirnya ia tanpa sengaja mendapati buku harian sang istri dan membacanya.

...Anfa suami yang baik, bahkan terlalu baik. Tapi, Diary...aku tak pernah bisa mencintainya. Aku telah berusaha tapi aku tetap tak bisa....

Anfa menghela napas. Jadi Rana tak pernah mencintainya. Itulah sesungguhnya yang terjadi. Wanita itu telah memendam perasaannya selama tujuh tahun dan itu bukan waktu yang pendek untuk perjalanan sebuah bahtera rumah tangga.

Padahal ada dua manusia mungil telah menghiasi kehidupan mereka. Arya dan Shafa, dua malaikat mungil tak bersayap yang menjadi cahaya mata dan pelipur lara.

Pintu kamar terbuka. Anfa cepat-cepat mengembalikan buku harian itu ke dalam laci dan berpura-pura merapikan
buku-buku yang berserakan.

"Makan malam sudah siap, Ayah, "Rana menyapa suaminya lembut. Seulas senyum manis menghiasi wajahnya yang bersahaja.
"Ya, terima kasih, "jawab Anfa menganggukkan kepala.
"Ayah mau makan malam Ibu antar ke sini? Tapi anak-anak sudah menunggu, mereka ingin makan bersama ayahnya."
"Tidak perlu,Bu. Lebih enak kita berkumpul di ruang makan."

Tetapi malam itu, Anfa tidak bisa menikmati tumis ikan peda kegemarannya. Ia hanya terdiam memandangi istri dan kedua anaknya yang tampak bahagia.

"Ayah tidak makan?" rupanya Arya si Sulung memperhatikan ayahnya yang tampak murung. "Tumis ikan peda masakan Ibu, enak lho."
"Iya, " si Kecil Shafa menyela. "Chapa cenang, coalnya enak. Ya, Mat?" ia menatap kakaknya minta persetujuan.
"Iya, Dik. Cicipi dulu, Pa."

"Ayah masih kenyang, "Anfa bangkit dari duduknya. "Ayah mau ke kamar dulu."
Arya tampak kecewa tetapi ia tidak berani bertanya-tanya, begitu juga dengan Shafa. Karena melihat kakaknya diam, ia pun ikut menunduk. Sementara Rana terdiam melihat sikap suaminya yang tidak seperti biasanya.

Ingin rasanya Anfa menyimpan gejolak hatinya rapat-rapat untuk selamanya. Ingin sekali ia pandai bersandiwara seperti istrinya itu. Tetapi sekali lagi, sejak rahasia hati Rana terkuak, ia tak lagi merasa tenang. Selintas curiga terbesit di hatinya.

"Siapa laki-laki itu?"entah apa yang mendorong dirinya mengucapkan pertanyaan itu.
Rana tercengang menatap suaminya."Maksud Ayah?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin bertanya."
Suasana kamar hening sejenak. Rana menengadah menatap langit-langit kamar lalu berganti memandang suaminya yang masih menunggu jawabannya.
"Tidak seharusnya Ayah bersikap seperti itu di depan anak-anak, "Rana mengalihkan perhatian. Ia mengancingkan sarung bantal yang terbuka.
"Tidak usah mengalihkan pembicaraan. Tolong jawab pertanyaanku, "tukas Anfa dengan nada sunggguh-sungguh.
"Kau mencurigaiku?"
"Apakah aku terlihat seperti itu?"
Rana, wanita itu tersenyum hambar. "Sejujurnya tidak ada laki-laki lain selain dirimu dalam kehidupanku."
Anfa tersenyum lega. Ia meraih tangan istrinya. "Aku percaya, "bisiknya.
"Kau harus percaya, "jawab Rana, "Karena aku juga selalu percaya padamu."

Anfa tetap tersenyum saat melihat istrinya mulai berbaring seraya menghamparkan selimut ke tubuhnya. Istrinya memang tampak lelah.

======0000======


Karyawati baru di perusahaan tempat Anfa bekerja itu memang cantik. Selain cantik, ia pun pandai berdandan.
Bukan hanya cantik dan pandai berdandan, ia juga mampu bekerja secara profesional. Baru seminggu bekerja, karyawati itu sudah berhasil membuat direktur memujinya berkali-kali.

Tetapi Anfa tidak terlalu menyukai wanita itu. Netty, begitu sapaannya tampak selalu kehabisan bahan pakaian. Rok bawah tidak pernah mencapai di bawah lutut. Ataupun jika rok itu panjang, selalu saja robek pada bagian
betis. Sebagai wakil direktur, Anfa pernah mengingatkan Netty supaya mengenakan pakaian kerja yang santun.
Netty hanya mengangguk-angguk dan kembali dengan model yang tak jauh berbeda pada keesokan harinya.

Tetapi tidak untuk hari ini. Rupanya Netty cemas juga dengan ultimatum wakil direktur itu. Meskipun wakil direktur, tetapi Anfa adalah orang terpercaya direktur. Maka jadilah hari itu, Netty datang dengan berpakaian ala busana muslim. Karena tidak terbiasa mengenakan busana muslim, beberapa kali ia nyaris terjungkal karena terinjak kain bagian bawah.

"Permisi, Pak, "Netty membawa setumpuk berkas untuk diperiksa Anfa. "Ini ada berkas yang harus Bapak teliti."
"Ya, terima kasih, "jawab Anfa menerima berkas itu.
Tetapi Netty masih berdiri di ruangan itu.
"Silakan, kau bisa meneruskan pekerjaanmu."
Tetapi Netty belum juga beranjak dari tempatnya. Bahkan ia tersenyum menatap Anfa penuh arti. Tentu saja Anfa jadi tidak enak.
"Masih ada yang harus saya baca, Netty?"
"TIdak, Pak...tapi...,"Netty tampak tersipu-sipu.
"Ya, ada apa?"
"Kau tampan sekali, Anfa, "bisik Netty membuat wajah Anfa merah padam seketika.
"Lebih baik kamu keluar dari ruangan ini sekarang juga."
"Bagaimana kalau nanti kita keluar makan malam?"
"Terima kasih, maaf, saya sudah punya istri."
Netty terkikik. "Oh, maaf, Pak, "katanya genit, "Saya salah alamat, permisi."
Anfa geleng-geleng kepala ketika Netty meninggalkan ruangan. Tampaknya ia harus ekstra hati-hati menghadapi sekretaris baru itu.

Ia mulai membuka berkas yang disodorkan Netty. Tetapi sungguh, ia tidak membaca sedikit pun huruf-huruf yang tertera di sana. Ia teringat Rana, istrinya. Alangkah jauh berbeda Netty dan Rana. Netty wanita yang selalu ceria dan senang menebar pesona. Sebaliknya Rana, seorang istri yang pendiam dan cenderung menerima apa adanya. Jujur, belum pernah Anfa berpikir seperti ini. Apalagi buku harian Rana masih mengusik hatinya meskipun ia percaya tak ada yang lain dalam kehidupan mereka.
Kenapa kau tak bisa mencintaiku, Rana? keluh pria itu dalam hati. Padahal kau tahu aku sangat mencintaimu. Apa yang harus kulakukan supaya aku bisa meraih cintamu?

Sabtu, 11 April 2009

Serat Biru Persahabatan

Malam ini, sahabat
biarkan bulan bintang melihat
aku terpekur di jendela kamar
ukir kenangan indah mulai samar

Betapa indah cerita tercipta
membuat iri seisi dunia
kau, aku simpul ikatan
kita tak kan terpisahkan

Adakah yang salah di antara kita
ataukah semua...hanya prasangka semata
kisah yang terjalin selama ini
tak membuat kita satu hati

Malam ini aku berkhayal
kan mengulang semua dari awal
persahabatan seindah ini
mungkinkah kutemukan kembali

Bidadari Mungil

Cahaya matamu bagai pendar bintang
menghiasi langit kalbuku
kedua tangan kau rentang
menyambut kedatanganku

Tante, mana buku ceritanya
begitulah sapamu saat kumasuki rumah
sesaat aku teringat janjiku yang tertunda
akan menuliskan sebuah cerita indah

Aduhai, senyummu laksana tetes embun
kurasa benar di sanubari
celoteh dan senandungmu yang beruntun
membuatku tak ingin beranjak pergi

Sebab bagiku kau adalah bidadari
walau kau tak pernah bersemayam di rahimku
namun di hati inilah kau terpatri
dan takkan pernah habis puisi tentangmu