Sabtu, 11 April 2009

Simbol Waktu

Berapa lama lagi waktu kita
seekor camar terbang di angkasa
seakan-akan memberi tanda
bahwa saat itu akan tiba

Jam di dinding tak lagi berputar
dilahap usia ia pun pudar
dentang loncengnya tiada pula terdengar

Berapa panjang lagi masa kita
melintas camar di langit raya
saat itu senja telah menyapa
pertanda waktu semakin dekat saja

Lihatlah boneka di dalam gudang
warna dan bajunya tampak usang
seharusnya ia sudah lama dibuang

Masih adakah kesempatan bagi kita
seekor camar kepakkan sayapnya
menyatu bersama senja
kelana sampai akhir masa


Kita Akan Pergi

Satu demi satu mereka pergi
dan tak pernah akan kembali
walaupun mereka ingin sekali
namun semua takdir Ilahi

Satu per satu mereka pun berlalu
menyandang amal perbuatan di bahu
alam kubur yang dituju
berbaring sembari menunggu waktu

Cepat atau lambat
detik-detik kehidupan akan tamat
alpa diri baiknya kita lihat
sebelum semua menjadi terlambat

Apalah jadinya nasib diri
jika keangkuhan meliputi matahati
tiada guna sesali lagi
sebab kita tak kan bisa kembali

Gadis dalam Cermin

Cermin, cermin di meja rias
Sudah cantikkah senyumku yang seulas
Kutatap bayangan diri dengan puas

Tak kulupa menyapa daku yang rapi
Pada sebuah cermin di kamar pribadi
Setiap aku selesai menghias diri

Cermin, kawanku yang setia
Kupasang wajah penuh ceria
Berharap bayangan kan membalas sapa

Tetapi entah mengapa
Bayanganku tampak berduka
Kulihat derai air matanya

Padahal aku sudah tertawa
Tapi semakin keras aku tertawa
Semakin deras pula derai air matanya

Tertawalah, tertawalah!
Jangan kau buat aku salah tingkah
Tertawalah, kau tak boleh kalah!

Malam itu aku merenung
Bayanganku tampak linglung
Sehingga aku menjadi bingung

Mengapa bayanganku tak mau menurut
Adakah yang dia tuntut
Atau dia tak suka cermin yang butut

Baiklah, besok akan kuganti
Sebab aku telah jatuh hati
Pada senyummu yang penuh arti

Dengan cermin baru di kamarku
Kulempar senyum pada sahabatku
Sebuah sapa dari tulus hatiku

Namun, tatapan itu penuh lara
Seperti menyimpan setumpuk luka
Yang sulit dicari obatnya

Aku pun meneteskan air mata
Turut berbagi duka
Sebagai tanda sobat yang setia

Tiba-tiba aku terpana
Kulihat bayanganku tertawa
Melambaikan tangan dengan gembira

Ah, ia mengajakku bersamanya
Mengelilingi dunia kaca
Tentu aku akan suka

Cermin itu pembawa petaka
Ia selalu membawa pergi pemiliknya
Dan mereka tak pernah lagi terlihat mata

Tetapi aku sedang bersuka cita
Bersama gadis yang tak kenal duka
Biarlah aku di sini saja

Arti Cinta

Ia bertanya kepadaku saat purnama
Tahukah kau arti cinta?
Kugelengkan kepala seraya menatapnya
Aku tak pernah memahami makna cinta sesungguhnya

Ia tersenyum menatap langit hitam
Kelam membentang di angkasa malam
Cinta itu bagaikan matahari
senantiasa tebarkan cahaya terangi bumi

Ia kembali menatapku
Walaupun ia tak terlihat olehmu
keikhlasannya tak pandang bulu
kesetiaannya tiada kenal batas waktu



Catatan: Mengenai ketulusan, aku bukan hanya belajar dari almarhum ibu dan ayahku, tetapi juga dari seorang bibi, adik bungsu ibuku. Bagiku beliau adalah orang yang sangat tulus dan selalu memperhatikan kebutuhan orang lain. Sikap dan tutur katanya mencerminkan ketenangan jiwa dan kebijaksanaan berpikir. Beliaulah yang dengan sabar membantuku merawat selama ibuku sakit hingga wafatnya.

Batu Si Malin KUndang

Saat kusiram halaman
datang seorang pemuda tampan
namun keadaannya sungguh menyedihkan
sebotol air tergenggam di tangan

Iba hati kusapa dia
Siapakah Ki Sanak kiranya
Adakah kau tersesat rupanya
Mengapa pula kau terlihat berduka

Air matanya berlinang-linang
Akulah si Malin Kundang
Akulah si Pecundang
anak durhaka yang telah lancang

Serasa bumi memaku
Bukankah kau telah menjadi batu
mengapa kau berdiri di halamanku
Pergilah, sebelum kupanggil semua tetanggaku

Janganlah kau mengusirku
aku berkelana mencari Ibu
ingin kubersujud penuh rindu
mohon maaf atas semua salahku

Kutatap wajahnya marah
tak perlu meratap di depanku
percuma kau berjalan tak tentu arah
bukankah semua tlah berlalu

Malin Kundang tertunduk lesu
tatapannya semakin sendu
apakah tiada maaf bagiku
andai aku tak durhaka pada Ibu

Ibumu telah lama tiada
terlalu berat memikul beban lara
hapuslah air matamu
selamanya kau tetaplah batu

Malin Kundang pun tersedu
kulihat ia tampak kaku
kini ia kembali jadi batu
aku pun hanya bisa terpaku

Sejenak aku kebingungan
jika nanti tetangga berdatangan
apa yang harus kuceritakan?
Malin Kundang datang dan menangis di halaman?

Pasti aku dikira sudah gila
Kalau begitu batu ini kuamankan saja
Ini batu bernilai seni luar biasa
Aku bisa menjadi kaya

Jumat, 10 April 2009

Sepenggal Masa Lalu

Kala kusibak tirai masa lalu
tak terhitung dosa membelenggu
menyesak dada dan ruang kalbu
hingga tiada lelap tidurku

Saat kututup kelambu hitam
tempat godaan bersemayam
merabunkan pandang yang tajam
kulihat iblis dan setan saling menggenggam

Mengapa kubiarkan saja
mereka berdendang sukacita
hampir saja kuterima undangan sejak dahulu kala
mengadakan reuni dalam kobaran api neraka

Kini telah kutinggalkan semua
Kini telah kutanggalkan dosa-dosa
Walau belum semua
Sebab aku hanyalah manusia biasa

Telah kulupakan masa kelabu
Telah kubuka lembaran baru
Telah tiba nuansa cerah di hadapanku
Siap temani setiap langkahku

Kamis, 09 April 2009

Tangisan Awan

Aku tak mengerti
mengapa awan tiada memahami
terkadang aku ingin sendiri
tanpa ada yang menemani

Seperti saat ini
diterpa terik mentari
sungguh aku menyendiri
tak ingin ada yang menghampiri

Tetapi awan bergumpal datang
bersama kesedihan yang tersandang
menebar kelam mendung menjelang
disertai jeritan panjang

Aku, langit tak ingin berdusta
kupandang awan menangis penuh luka
mungkin ia butuh pelipur lara
setelah lama menyimpan nestapa

Lihatlah mentari tak sembunyi
mungkin ia ingin berbagi
berharap awan tak menangis lagi
tersenyum cerah sepanjang hari