Sabtu, 11 April 2009

Arti Cinta

Ia bertanya kepadaku saat purnama
Tahukah kau arti cinta?
Kugelengkan kepala seraya menatapnya
Aku tak pernah memahami makna cinta sesungguhnya

Ia tersenyum menatap langit hitam
Kelam membentang di angkasa malam
Cinta itu bagaikan matahari
senantiasa tebarkan cahaya terangi bumi

Ia kembali menatapku
Walaupun ia tak terlihat olehmu
keikhlasannya tak pandang bulu
kesetiaannya tiada kenal batas waktu



Catatan: Mengenai ketulusan, aku bukan hanya belajar dari almarhum ibu dan ayahku, tetapi juga dari seorang bibi, adik bungsu ibuku. Bagiku beliau adalah orang yang sangat tulus dan selalu memperhatikan kebutuhan orang lain. Sikap dan tutur katanya mencerminkan ketenangan jiwa dan kebijaksanaan berpikir. Beliaulah yang dengan sabar membantuku merawat selama ibuku sakit hingga wafatnya.

Batu Si Malin KUndang

Saat kusiram halaman
datang seorang pemuda tampan
namun keadaannya sungguh menyedihkan
sebotol air tergenggam di tangan

Iba hati kusapa dia
Siapakah Ki Sanak kiranya
Adakah kau tersesat rupanya
Mengapa pula kau terlihat berduka

Air matanya berlinang-linang
Akulah si Malin Kundang
Akulah si Pecundang
anak durhaka yang telah lancang

Serasa bumi memaku
Bukankah kau telah menjadi batu
mengapa kau berdiri di halamanku
Pergilah, sebelum kupanggil semua tetanggaku

Janganlah kau mengusirku
aku berkelana mencari Ibu
ingin kubersujud penuh rindu
mohon maaf atas semua salahku

Kutatap wajahnya marah
tak perlu meratap di depanku
percuma kau berjalan tak tentu arah
bukankah semua tlah berlalu

Malin Kundang tertunduk lesu
tatapannya semakin sendu
apakah tiada maaf bagiku
andai aku tak durhaka pada Ibu

Ibumu telah lama tiada
terlalu berat memikul beban lara
hapuslah air matamu
selamanya kau tetaplah batu

Malin Kundang pun tersedu
kulihat ia tampak kaku
kini ia kembali jadi batu
aku pun hanya bisa terpaku

Sejenak aku kebingungan
jika nanti tetangga berdatangan
apa yang harus kuceritakan?
Malin Kundang datang dan menangis di halaman?

Pasti aku dikira sudah gila
Kalau begitu batu ini kuamankan saja
Ini batu bernilai seni luar biasa
Aku bisa menjadi kaya

Jumat, 10 April 2009

Sepenggal Masa Lalu

Kala kusibak tirai masa lalu
tak terhitung dosa membelenggu
menyesak dada dan ruang kalbu
hingga tiada lelap tidurku

Saat kututup kelambu hitam
tempat godaan bersemayam
merabunkan pandang yang tajam
kulihat iblis dan setan saling menggenggam

Mengapa kubiarkan saja
mereka berdendang sukacita
hampir saja kuterima undangan sejak dahulu kala
mengadakan reuni dalam kobaran api neraka

Kini telah kutinggalkan semua
Kini telah kutanggalkan dosa-dosa
Walau belum semua
Sebab aku hanyalah manusia biasa

Telah kulupakan masa kelabu
Telah kubuka lembaran baru
Telah tiba nuansa cerah di hadapanku
Siap temani setiap langkahku

Kamis, 09 April 2009

Tangisan Awan

Aku tak mengerti
mengapa awan tiada memahami
terkadang aku ingin sendiri
tanpa ada yang menemani

Seperti saat ini
diterpa terik mentari
sungguh aku menyendiri
tak ingin ada yang menghampiri

Tetapi awan bergumpal datang
bersama kesedihan yang tersandang
menebar kelam mendung menjelang
disertai jeritan panjang

Aku, langit tak ingin berdusta
kupandang awan menangis penuh luka
mungkin ia butuh pelipur lara
setelah lama menyimpan nestapa

Lihatlah mentari tak sembunyi
mungkin ia ingin berbagi
berharap awan tak menangis lagi
tersenyum cerah sepanjang hari

Senin, 30 Maret 2009

Sang Penyamar

Saya memiliki kebiasaan yang kurang baik yaitu memasuki sebuah situs dengan beberapa nama pengguna atau user. Hal itu bermula saat saya ingin menguji seberapa jauh kemampuanku menyelami jiwa para remaja yang menjadi anak didikku. Menurut saya, cara yang terbaik adalah seolah-olah menjadi mereka.
Ternyata beberapa puisiku yang bernada remaja atau anak SD dengan sukses berhasil menarik para komentator sastra untuk menilai hasil karyaku itu. Banyak yang mengira 'aku masih anak sekolah' (membaca dengan cara bersenandung ala lagu almarhum Chrisye). Padahal, padahal masa remaja bagiku tinggal masa lalu. Kadang-kadang aku tersenyum simpul membaca komentar itu.
Tetapi itu dulu. Sekarang aku tak pernah melakukannya lagi karena ternyata lebih nikmat memakai satu nama dan menjadi diri sendiri.

Pada Binar Matamu

Pada binar matamu
kulihat kerlip bintang
bersinar terang
menghias indah bening matamu

Pada cerah senyummu
kurasakan sejuknya pagi
menyelimuti bumi
melukis ceria raut wajahmu

Pada gerak dan ucapmu
hadirlah surya menyapa sukma
bias sinarnya hangatkan jiwa
membingkai kasih di langit hatimu

Sabtu, 28 Maret 2009

Menyongsong Harapan

Kini alam tak lagi hijau
walau kilaunya masih memukau
goresan pelangi warnai jiwa
menabur percik menghias cita

Saat persada berganti warna
meski senandung masih yang dulu
terlintas menari-nari di dalam kalbu
tertancap indah merasuk sukma

Dunia tak lagi sempit
berkawan akrab mega melangit
berlari-lari mengelilingi pusaran waktu
menyongsong harapan yang menunggu