Malam sunyi disekap hening
langit masih menatapku kelam
meski ia ditemani bintang-bintang
Kuambil roti di atas piring
bayangkan mimpi sambil mata terpejam
walau kantuk tak jua menyerang
Kupercik air dari gelas
berat gerakkan kaki
coba bebaskan belenggu tali mengikat
Malam tersenyum lepas
cerah berkawal gugusan bintang menemani
dan angkasa tak lagi pekat
Sahabatku malam selalu bertandang
seiring kerlap-kerlip jutaan bintang
ikut bersamaku ke istana-Mu, Tuan
sambutlah kami dalam erat dekapan
Rabu, 11 Maret 2009
Selasa, 10 Maret 2009
Tutur Arca
Pahatan yang membentuk lekuk tubuhku
bercerita tentang kisah merindu kalbu
melambungkan angan ke negeri impian
tentang istana di atas awan
Goresan tubuhku yang terlukis
bertutur tentang dongeng yang manis
melambungkan harap ke negeri angkasa
tentang istana bersinar purnama
Setiap pahatan, setiap goresan
yang terpatri pada detail anggota badan
adalah wujud kuasa si Pemahat
dan aku hanyalah arca yang dipahat
bercerita tentang kisah merindu kalbu
melambungkan angan ke negeri impian
tentang istana di atas awan
Goresan tubuhku yang terlukis
bertutur tentang dongeng yang manis
melambungkan harap ke negeri angkasa
tentang istana bersinar purnama
Setiap pahatan, setiap goresan
yang terpatri pada detail anggota badan
adalah wujud kuasa si Pemahat
dan aku hanyalah arca yang dipahat
Kan Kuserahkan
Sesuai janjiku aku datang malam ini
menyerahkan semua milik yang kupunya
dalam keping-keping harap berbungkus tanya
apalagi yang akan kuberikan nanti
Senyap kamar menemani daku
bersama tubuh yang mengigil menyapa dingin
ingin larut diri dalam luruh cinta yang lama kutunggu
merajut damba bagai diri terbungkus kain
Sesuai janjiku aku datang
kala malam di angkasa datang membentang
hanya kita berdua
kan kubiaskan segala asa
Kan kuserahkan diri malam ini
sebab kasih-Mu aku ada
ingin rasakan belaian-Mu
aku ingin bersama-Mu saja malam ini
menyerahkan semua milik yang kupunya
dalam keping-keping harap berbungkus tanya
apalagi yang akan kuberikan nanti
Senyap kamar menemani daku
bersama tubuh yang mengigil menyapa dingin
ingin larut diri dalam luruh cinta yang lama kutunggu
merajut damba bagai diri terbungkus kain
Sesuai janjiku aku datang
kala malam di angkasa datang membentang
hanya kita berdua
kan kubiaskan segala asa
Kan kuserahkan diri malam ini
sebab kasih-Mu aku ada
ingin rasakan belaian-Mu
aku ingin bersama-Mu saja malam ini
Minggu, 23 November 2008
Kala Senja
Hari masih senja
kala kautaburkan bunga cinta
di sudut hatiku yang telah hampa
karena sang bayu menerbangkannya
Hari belum juga beranjak malam
ketika kausemaikan bunga di tempatnya bersemayam
menyirami gersang cintaku yang terpendam
menyambut hadirnya dewi malam
Dan hari masih belum juga berganti
saat kaubisikkan seribu janji
kurangkai, kutancapkan ke dasar hati,
dan berharap dapat memulainya kembali
kala kautaburkan bunga cinta
di sudut hatiku yang telah hampa
karena sang bayu menerbangkannya
Hari belum juga beranjak malam
ketika kausemaikan bunga di tempatnya bersemayam
menyirami gersang cintaku yang terpendam
menyambut hadirnya dewi malam
Dan hari masih belum juga berganti
saat kaubisikkan seribu janji
kurangkai, kutancapkan ke dasar hati,
dan berharap dapat memulainya kembali
Jumat, 03 Oktober 2008
Puisi Cinta untuk Ayah Bunda
Bunda tercinta
Dengan jiwa yang kaupunya
Kau lahirkan kami ke dunia
Lewat kasih tak terhingga
Ayah tersayang
Berbekal senyum yang kausandang
Kau lindungi kami penuh sayang
dengan cinta saat kaumemandang
Seluas samudera kasihmu
Setinggi gunung cintamu
Setiap senyum dan tawa itu
Semua untuk kami, anak-anakmu
Tiada satu detik pun terlewat
Tanpa perjuanganmu yang tak kenal lelah
Hingga tiap tetes peluh yang melekat
Adalah mutiara doa yang tak kan pecah
Waktu berjalan tanpa terasa
Semua yang kauberikan
Tak pernah harapkan balas jasa
Karena kasihmu sepanjang jalan
Lima puluh tahun telah berlalu
Tiba waktunya kami membalas semua jasamu
Walau mungkin tak sebanding dengan pengorbananmu
Meski mungkin semua ini tiada arti bagimu
Ayah, bunda
Terimalah puisi sederhana
Sebagai tanda cinta
Semoga Allah senantiasa limpahkan kasih-Nya
Catatan : Puisi kilat pesanan tanteku atas permintaan temannya sebagai hadiah pesta nikah emas untuk orangtua tersayang.
Dengan jiwa yang kaupunya
Kau lahirkan kami ke dunia
Lewat kasih tak terhingga
Ayah tersayang
Berbekal senyum yang kausandang
Kau lindungi kami penuh sayang
dengan cinta saat kaumemandang
Seluas samudera kasihmu
Setinggi gunung cintamu
Setiap senyum dan tawa itu
Semua untuk kami, anak-anakmu
Tiada satu detik pun terlewat
Tanpa perjuanganmu yang tak kenal lelah
Hingga tiap tetes peluh yang melekat
Adalah mutiara doa yang tak kan pecah
Waktu berjalan tanpa terasa
Semua yang kauberikan
Tak pernah harapkan balas jasa
Karena kasihmu sepanjang jalan
Lima puluh tahun telah berlalu
Tiba waktunya kami membalas semua jasamu
Walau mungkin tak sebanding dengan pengorbananmu
Meski mungkin semua ini tiada arti bagimu
Ayah, bunda
Terimalah puisi sederhana
Sebagai tanda cinta
Semoga Allah senantiasa limpahkan kasih-Nya
Catatan : Puisi kilat pesanan tanteku atas permintaan temannya sebagai hadiah pesta nikah emas untuk orangtua tersayang.
Minggu, 17 Agustus 2008
Sebatang Pena
Dengan sebatang pena
kugoreskan sebaris kata
yang berasal dari lubuk jiwa
Bersenjatakan sebilah pena
kutumpahkan tetesan makna
yang terhimpun dari berbagai rasa
Senjataku hanyalah pena
bukan tombak yang tancapkan luka
atau senapan yang lenyapkan nyawa
Senjataku adalah pena
curahan rasa sebagai tinta
yang kutuang ke dalam cerita
kugoreskan sebaris kata
yang berasal dari lubuk jiwa
Bersenjatakan sebilah pena
kutumpahkan tetesan makna
yang terhimpun dari berbagai rasa
Senjataku hanyalah pena
bukan tombak yang tancapkan luka
atau senapan yang lenyapkan nyawa
Senjataku adalah pena
curahan rasa sebagai tinta
yang kutuang ke dalam cerita
Jumat, 01 Agustus 2008
Langkah Merak
Merak itu telah berjalan
dari taman ke taman
seraya melempar senyuman
Merak itu melangkah anggun
dengan kepala terayun-ayun
yakin semua kan tertegun
Dengan jalinan bulu penuh warna
ia tebarkan senyum pesona
agar semua kan terpana
Merasa diri yang terhebat
tak dibalasnya sapa katak yang meloncat
dan undangan iringan semut yang lewat
Kepala yang tengadah ke atas
membuat mata kurang awas
pujian datang, hati puas
Kaki tiada menapak tanah
duri-duri telah memanah
menghadirkan tetesan darah
Merak pun menangis pilu
angkuh diri membuatnya tak tahu malu
menganggap diri yang nomor satu
Untaian bulu warna-warni
tak ditunjukkannya lagi
sebab kini tiada seindah pelangi
dari taman ke taman
seraya melempar senyuman
Merak itu melangkah anggun
dengan kepala terayun-ayun
yakin semua kan tertegun
Dengan jalinan bulu penuh warna
ia tebarkan senyum pesona
agar semua kan terpana
Merasa diri yang terhebat
tak dibalasnya sapa katak yang meloncat
dan undangan iringan semut yang lewat
Kepala yang tengadah ke atas
membuat mata kurang awas
pujian datang, hati puas
Kaki tiada menapak tanah
duri-duri telah memanah
menghadirkan tetesan darah
Merak pun menangis pilu
angkuh diri membuatnya tak tahu malu
menganggap diri yang nomor satu
Untaian bulu warna-warni
tak ditunjukkannya lagi
sebab kini tiada seindah pelangi
Langganan:
Postingan (Atom)