Minggu, 20 Juli 2014

Di Arung Jeram Cinta








Lima belas menit lagi azan magrib berkumandang. Hidangan untuk berbuka puasa telah tersedia di meja makan. Tidak mewah, hanya beberapa butir kurma, empat pisang goreng, dan dua cangkir teh hangat. Berbuka puasa memang sebaiknya tidak berlebihan supaya kita dapat melaksanakan salat tarawih dengan tenang.
Banu menghampiri Meyra yang sedang menaburkan parutan keju di atas pisang goreng yang sudah ia lumuri dengan mentega cair. "Hm, kelihatannya lezat sekali, "ujar Banu mengulurkan tangan hendak mencomot pisang goreng.
"Eh, belum waktunya berbuka, "tukas Meyra pura-pura marah sambil menepis tangan suaminya.
"Aduh, hampir saja, aku lupa kalau hari ini kita puasa."
Meyra tersenyum, "Duduklah dulu, "katanya.
"Baiklah."
Keadaan rumah tangga Banu dan Meyra kembali harmonis. Syukurlah, keduanya dapat menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadan dengan perasaan damai. Tentu saja keluarga besar dari kedua pihak merasa lega dan berbahagia atas kejadian ini.
Terdengar suara azan dari masjid di tepi jalan raya.
"Waktunya berbuka, "ujar Banu.
"Kau mau air putih?"
"Boleh."

                          
                           ********


Aku jatuh hati kepadanya saat pertama melihatnya. Jatuh cinta pada pandangan pertama, begitu istilahnya. Gadis itu tampak berbeda dalam pandanganku. Dia memang bukan gadis yang lemah lembut sikap dan tutur katanya tetapi aku tahu perasaannya begitu mudah tersentuh.

Sebenarnya aku bimbang, sudikah ia menerima pinanganku menjadi istrinya. Tetapi aku yakinkan diriku bahwa Allah akan menolong hamba-Nya yang berniat tulus.

Allah mengabulkan harapanku. Gadis bersorot mata penuh cahaya itu menerima diriku apa adanya tanpa syarat. Akhirnya kami menikah hanya selang dua minggu setelah pinanganku resmi diterima. 

Aku teringat banyak yang ingin menghalangi saat kusampaikan niat baikku itu. Mereka berpendapat sayang sekali kalau aku sampai berjodoh dengannya. Kata mereka, aku terlalu tampan untuk gadis yang suka bersikap dan berkata semaunya itu. Lucu sekali mereka itu, tentu saja aku terlalu tampan untuk gadis itu, sebab aku laki-laki sedangkan dia perempuan.                                                                    

Ibuku juga ikutan demo waktu tahu gadis pilihan putra sulungnya pernah terlibat perkelahian semasa sekolah. 
"Masa anak perempuan berkelahi, "begitu katanya, "jangan-jangan nanti suaminya juga akan dia tantang berkelahi." 
"Ah, Ibu, ada-ada saja, "tukasku waktu itu, "mana mungkin suami sendiri ditantang berkelahi, lagipula itu kan sudah lama berlalu dan waktu itu dia kan masih remaja."
"Kamu ini kalau dinasihati orang tua, ada saja jawabannya."
Aku tersenyum dan mencium kedua pipi perempuan yang paling kusayangi itu.
Tahukah Ibu, mengapa aku begitu terpikat kepada gadis itu? Memang, dia bukan gadis yang lemah lembut apalagi keibuan seperti Elisa, Nindya, atau Rianti, teman sekantorku, tetapi hatinya begitu lembut dan tulus. Mas Banu, kakak tingkatku waktu kuliah cerita kalau gadis itu sangat membenci orang yang memperlakukan sesamanya dengan semena-menanya. Bukan sekali dua kali gadis itu terlibat perkelahian yang membahayakan dirinya karena membela kebenaran.
"Itu namanya cari mati, "komentar Ibu setelah aku selesai bercerita.
"Lalu kalau diganggu, harus bagaimana, Bu? Apa harus diam saja?"
"Ya, jangan tanya Ibu, kan Ibu bukan perempuan pilihanmu itu."
"Tentu saja bukan, Bu, Ibu kan ibuku."
Benar-benar aku kalang kabut berjuang untuk mendapatkan restu satu-satunya orang tuaku yang masih ada. Tetapi berbeda dengan gadis itu, ia menanggapi kepanikanku dengan sangat santai, tidak terlihat kecemas terpancar dari sorot matanya seandainya kami tidak berjodoh. Sampai-sampai aku sempat berpikir jangan-jangan dia tidak serius ingin menikah denganku.
"Tentu saja aku serius."
"Eh, jam berapa?"
Perempuan itu tersenyum.Waktunya makan sahur, "ujarnya.
"Apa katamu tadi?"
"Waktunya makan sahur."
"Bukan, yang sebelumnya."
"Oh, tentu saja aku serius."
"Hah?"Laki-laki itu langsung beranjak duduk. "Memangnya aku tadi...?"
"Iya, katamu tadi, 'kamu serius mau menjadi istri dan ibu untuk anak-anak kita?' Langsung saja aku jawab, 'tentu saja aku serius', begitu ceritanya."
Merah padam seketika wajah laki-laki itu. Istrinya memang suka jahil, masa menjawab orang mengigau.


 
 



Istrinya mengulum senyum dan berkata, "Ayo, keburu azan subuh. Aku buatkan tahu telur kesukaan suamiku."
"Memang siapa suamimu?"

"Menurutmu siapa?"
Laki-laki itu tertawa dan meraih tangan istrinya. Merekapun menuju ruang makan.






                                                   














Senin, 23 Juni 2014

Di Arung Jeram Cinta





Sementara itu tak henti-hentinya Danar menyalahkan dirinya. Ia merasa dirinya sangat tolol, mengapa sampai lupa kalau istri Banu itu adalah Meyra, wanita yang dulu pernah ia sakiti. Sekarang ia memang merasakan penyesalan yang seolah-olah tidak ada ujung pangkalnya. Penolakan maaf dari Meyra belum berhasil ia dapatkan, ditambah lagi dengan Randy, kakak Meyra yang selalu langsung mematikan ponsel setiap kali ia mencoba menghubungi. 
Ternyata dalam hidup ini, aku begitu sering menyakiti orang, Danar duduk merenungi semua kesalahan yang pernah ia lakukan. Setelah dipikir secara mendalam, memang semua karena ia selalu ingin menguasai orang lain. Karena sesama laki-laki tidak mudah untuk ditaklukkan, ia mencari korban yang lebih mudah, yaitu perempuan. Korban pertama adalah Nada, yang sekarang menjadi istri Tantra. Saat itu ia tidak dapat menerima kenyataan bahwa Nada sangat menjaga kehormatannya sebagai wanita. Ia merasa dihina dan diinjak-injak harga dirinya. Bagaimana tidak? Siapa gadis yang berani menolak keinginan Danar, sang penakluk wanita? Korban berikutnya, Lisa, istrinya sendiri. Lisa. meskipun wanita lemah lembut ternyata Danar tak berhasil memaksanya untuk terlibat dalam program balas dendamnya. Hal ini membuat Danar semakin berang. Korban berikutnya, Meyra, istri Banu. Sebenarnya Danar tidak ada perasaan sedikitpun terhadap gadis itu kecuali terhina karena gadis itu telah mengundurkan diri dari program balas dendamnya. Ia juga merasa rugi besar dan tentu saja jangan sampai rugi semuanya.
Ah, kalau saja bukan karena ingin menolong, ia tidak akan mau menikah lagi.
"Ini teh hangatnya, " seorang wanita bergaun batik ungu meletakkan cangkir di meja beranda.
Danar tersentak, ia pun menoleh, "Terima kasih, "katanya.
"Sore-sore kok melamun?"
"Oh, aku melamun, ya?"

                                                  
                                   ******

Banu menghadang Meyra di depan pintu kamar. Wanita itu sudah siap dengan tas besar di tangannya.
"Meyra...."
"Biarkan aku lewat."
"Jawab dulu pertanyaanku."
Meyra membuang muka.
"Kau mau ke mana?"
"Pulang."
"Pulang? Bukannya rumahmu di sini?" tukas Banu tersenyum.

Meyra masih membuang muka.
"Meyra, aku ingin menyampaikan sesuatu, setelah itu keputusan ada di tanganmu. Aku menurut saja."
"Baiklah."
"Terima kasih, "Banu menghela napas lega.
"Di mana?"
Banu mengambil tas dari tangan istrinya.



Selasa, 27 Mei 2014

Di Arung Jeram Cinta




Malam ini Tantra memenuhi permintaan Banu untuk menemuinya di sebuah restoran. Sebelumnya Tantra sudah menghubungi Nada untuk memberitahu bahwa akan pulang terlambat. Seperti biasa, wanita yang lemah lembut itu memahami perubahan jadwal suaminya yang mendadak.
Tantra menutup ponselnya.
"Bagaimana?"tanya Banu berbisik.
"Tenang, kakakmu istri yang penuh pengertian."
"Dalam segala hal?"
"Maksudmu?"Tantra balik bertanya.
"Ya, maksudku...semuanya."
Tantra tersenyum. "Meyra pasti juga seperti itu, "tukasnya.
Banu menghela napas membuat Tantra mengerutkan kening.
"Kamu baik-baik saja?"
Banu tak langsung menjawab, ia sibuk mengaduk-aduk jus mangga pesanannya.
"Tantra...."
"Ya?"
"Aku heran melihat kalian begitu akur."
"Kata siapa? Kami juga pernah bertengkar."
Banu tampak kaget. "Bertengkar? Aku tak bisa membayangkan bagaimana caranya kalian bertengkar."
Tantra tertawa. "Kalau begitu, tak usah dibayangkan."
"Lagipula apapun bentuknya, pertengkaran bukan hal yang menyenangkan apalagi menguntungkan, "sahut Banu serius, "Terus terang aku salut. Kamu berhasil jadi suami dan ayah yang baik, sedangkan aku...."
Tantra menggigit sepotong lumpia. Ia menunggu adik iparnya melanjutkan kata-kata.


Keputusan yang gila tapi mungkin ini lebih baik. Keadaan semakin panas dan sudah berlangsung dua minggu lebih. Semalam adalah puncaknya. Meyra tak tahan lagi. Banu telah menggunakan kedudukannya sebagai suami untuk menunjukkan bahwa dirinya berkuasa atas istrinya.
Di kamar Meyra sibuk berkemas-kemas. Ia memasukkan setumpuk pakaian ke dalam tas besar. Sementara itu air matanya terus menetes membasahi kedua pipinya yang kuning langsat.
Aku sudah tidak tahan lagi, keluhnya dalam hati, Dia sudah memperlakukan aku seenaknya sendiri. Aku tidak bisa terima! Meyra memasukkan dua botol air mineral berukuran tanggung. Dia benar-benar keterlaluan, bagaimana kalau aku....


"Jadi kalian sedang perang dingin?"
"Begitulah, Tantra."
"Lalu?"
"Apa maksudmu dengan pertanyaan lalu itu? Aku tidak habis pikir kelihatannya Meyra begitu membenci Danar."
"Itu wajar."
"Wajar?"
"Banu, sebelum kalian menikah, kau sudah tahu keadaan Meyra."
"Ya, dan aku bisa menerimanya."
"Masalahnya adalah dia tidak akan pernah bisa berdamai dengan masa lalunya itu dan orang yang telah merusak hal itu."
Banu tercengang. "Maksudmu....Danar yang telah...."
Tantra mengangguk.
Banu tertunduk lesu.
"Rupanya kehadiran Danar telah mengoyak kembali luka lama itu."
Banu terdiam. Ia merasa sangat bersalah telah bersikap kasar terhadap istrinya. Apalagi kejadian semalam itu... pasti Meyra menganggapnya suami yang tak punya perasaan.
Tiba-tiba saja terbayang betapa semalam Meyra terisak-isak menummpahkan segala sesak yang bertahun-tahun mengganjal hatinya.
 "Aku tahu karena Rafa adikku pernah menceritakannya, "ujar Tantra, "dia teman dekat Meyra."
"Rafa? Istriku juga pernah bercerita tentang adikmu itu. Katanya, ia gadis yang sangat pemberani tetapi begitu baik hati."
Tantra tersenyum. "Ya, Rafa paling benci kalau tahu ada orang yang menyakiti sesama. Oh ya, lalu apa rencanamu?"
"Entahlah, mungkin Meyra masih marah."
"Coba saja."
"Aku tidak yakin."
"Kenapa?"
"Karena...."
"Karena...?"
Lagi-lagi Banu terdiam. Hei, mana mungkin dia menceritakan kejadian semalam? Kejadian yang sebenarnya tak diinginkan Meyra dan akhirnya wanita itu menangis terisak-isak sepanjang malam.
"Baiklah, Meyra, aku juga tidak mau kau terus memusuhi Danar!" Banu mencengkeram lengan Meyra.
"Lepaskan, sakit...."
Banu tak perduli. "Danar telah banyak menolong kita! Apa salahnya sedikit bermanis-manis, apa itu terlalu sulit bagimu?!"
Meyra menggigit bibir menahan tangis.
"Jawab! Apa itu terlalu sulit bagimu?!"
"Iya...!Aku benci orang itu! Dia itu monster! Dia...!"Meyra menjerit kaget, Banu mematahkan kaki kursi.
"Sekali lagi kau maki-maki Danar, aku tak akan segan-segan mematahkan semua meja dan kursi di rumah ini!" ancam suaminya.
Meyra mengerut ketakutan. Banu tampak sangat menakutkan. Wanita itu cuma bisa terduduk di tepi tempat tidur sambil terisak-isak.
Banu tak perduli. Ia sangat lelah dan ingin segera tidur.

"Cobalah, aku yakin kau akan berhasil, "Tantra memecah lamunan Banu.
"Tapi..., "laki-laki muda itu tampak bimbang, "aku... merasa sangat bersalah...."
"Itu bagus, "tukas Tantra, " Kau mau kuberitahu satu rahasia?"
"Apa itu?"
"Kalau kakakmu marah, biasanya aku harus melakukan sesuatu supaya marahnya tidak bertahan lama."
"Oh ya, apa itu?"
"Tapi ini rahasia."
"Iya, aku janji."
"Nah, dengarkan baik-baik."






Selasa, 18 Maret 2014

Di Arung Jeram Cinta

Banu tampak kalut. Tidak ada yang dapat ia lakukan kecuali duduk termenung di ruang tengah tanpa Meyra. Ya, tanpa Meyra. Sebab, sejak pertengkaran enam jam yang lalu itu, istrinya belum menampakkan batang hidungnya. Banu juga tidak mau mengalah karena ia masih marah dengan sikap istrinya yang tidak menyenangkan kepada Danar. Malah ia masih teringat pertengkaran dengan istrinya beberapa jam yang lalu.
"Meyra, kau ini kenapa?"
"Tidak apa-apa."

"Tapi, sikapmu kepada tamu kita, kau tahu itu tidak pantas."
Meyra menatap Banu kesal.
"Apa alasanmu, Meyra?"
"Aku tidak punya alasan apa-apa."
"Kau pasti bohong!"
"Aku tidak bohong."
"Ya, kau bohong."
"Tidak!"
"Ya!"
"Tidak!"
"Ya!"
Banu terperangah. Belum pernah ia melihat Meyra begitu marah. Selama ini begitu lemah lembut bahkan cenderung rapuh. Sambil bertolak pinggang, wanita berdiri tegak, menatap suaminya tepat pada pupil matanya yang coklat muda.
"Baiklah, aku akan jujur. Aku benci orang itu! Benci sampai ke urat darah dan nadi, juga setiap detak jantungku! Puas?!"
Banu menahan diri untuk tidak menampar apalagi memukul istrinya. "Kau terlalu!"hardiknya, "Danar sudah banyak membantu kita."
"Kalau begitu kembalikan semuanya! Aku tidak pernah memintanya!"
"Kau sombong, Meyra!"
"Kenapa kau lebih membela orang itu daripada aku, istrimu sendiri, Banu? Lalu apa artinya aku untukmu?"
Banu menyipitkan matanya. "Kau tanyakan itu padaku? Kenapa tidak kamu jawab sendiri? Apa artinya aku bagi dirimu? Apa selama kauanggap aku ini suamimu? Atau cuma anak kos?"
"Kk...kau ti..tidak ta...tahu..., "terbata-bata Meyra tetapi Banu tak mau mendengar lagi, ia keluar kamar sambil membanting pintu.



Di Arung Jeram Cinta

Suasana pagi itu benar-benar menegangkan. Semula Banu berharap kedatangan Danar, rekan kerjanya akan membawa keberuntungan bagi usahanya tetapi hanya karena sikap Meyar yang ketus semuanya menjadi  sia-sia.
Banu benar-benar tidak dapat memahami sikap istrinya yang tidak seperti biasanya. Meyra melihat Danar seperti sedang menghadapi musuh nomor satu. Aneh sekali, padahal seingat Banu, Meyra belum pernah bertemu apalagi mengenal Danar.
Tentu saja Banu tidak tahu atau tepatnya belum tahu. Tidak ada yang menceritakan kejadian tragis yang menimpa Meyra beberapa tahun yang lalu itu karena gadis itu sendiri yang melarangnya. Banu tentu sudah tahu kejadian itu tetapi tidak tahu orang yang melakukannya.
"Meyra!"
Danar memberi isyarat agar Banu tidak mengejar istrinya yang berjalan cepat menuju kamar.
Banu terduduk. "Maaf, "katanya.
Danar tersenyum tipis.

Sementara itu Meyra duduk di tepi tempat tidur dengan pikiran kalut. Kenapa aku harus melihatnya lagi? Padahal aku sudah berusaha keras supaya bisa melupakan peristiwa itu. Bahkan karena peristiwa itu, aku takut menikah. Meskipun suamiku begitu baik dan mencintaiku, aku masih trauma. Wanita itu menekuri petak-petak lantai.


Meyra tersentak.Pintu kamar terbuka. Tidak seperti biasanya Banu, suaminya tampak menahan marah.



Minggu, 25 Agustus 2013

Di Arung Jeram Cinta (Bab XIV)

Tiga tahun kemudian.
Hujan membasahi bumi. Mentari malu-malu menampakkan wajahnya yang merona membiaskan warna-warni pelangi. 
Arsya menikmati sarapannya, nasi dengan sayur bayam dan telur dadar. Anak laki-laki yang bulan depan genap lima tahun itu tampak menyukai masakan ibunya.
Nada tersenyum memperhatikan anaknya makan dengan lahap. "Pelan-pelan makannya, Kakak, ''ujar perempuan itu lembut.
Arsya mengangguk.
"Wah, enak sekali, ''sapa Tantra menghampiri anak dan istrinya yang santai di ruang makan.
"Mas mau sarapan?"
Tantra mengangguk.
Nada mengambil piring dan menyendokkan nasi.
Tantra memperhatikan istrinya yang sibuk mengambilkan sarapan. Istrinya yang selalu mengalah setiap kali terjadi perdebatan.  Nada memilih untuk minta maaf lebih dulu. 
''Lauknya yang mana, Mas?"
''Telur dadar saja, terima kasih, "Tantra menerima piring dari istrinya.
Nada menuangkan air dari botol ke dalam gelas.
''Ibu tidak sarapan?"Tantra baru menyadari kalau istrinya hanya duduk.
"Nanti saja, masih kenyang.''
Sebenarnya Tantra merasa sangat bersalah membiarkan istrinya menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah seorang diri. Nada memang hampir-hampir lupa memikirkan diri sendiri padahal ia baru melahirkan seminggu yang lalu.
"Lagi, ''Arsya menyodorkan piring plastiknya.
''Tambah apa, Kak?"
"Sayur."

Tantra menahan tangan istrinya, ''Biar aku saja, ''bisiknya.
Nada tersenyum.


"Cantiknya putri Ibu, "ujar Nada seusai mengancingkan baju bayi perempuannya. Dengan gemas ia mencium makhluk mungil itu. Bayi itu menggeliat. Nada memandangnya penuh kekaguman.
Sementara itu Tantra terpaku. Apakah memang demikian seorang ibu? Ia langsung melupakan saat-saat menegangkan itu begitu melihat bayinya. 
Tahun-tahun yang berlalu semakin meyakinkan Tantra bahwa Nada memang pilihan yang tepat untuknya. Bukan sekali dua kali atau seorang dua orang yang menyangsikan kelanggengan rumah tangga mereka. Apalagi Tantra yang sering mendapat incaran gadis-gadis bahkan para wanita di tempat kerja atau lainnya. Tetapi, Tantra bukanlah tipe suami yang mudah tergoda.
"Eh, itu Ayah, "Nada menggendong bayinya.
"Ayo, jalan-jalan sama Ayah, "sambut Tantra menghampiri istri dan bayinya.
"Kakak mana, Mas?"
"Di teras, sedang main balok."



Rabu, 21 Agustus 2013

Di Arung Jeram Cinta

Banu tak tahu harus memulai dari mana. Ia tak habis pikir bagaimana mungkin Meyra mempunyai gagasan seperti itu. Apa kata Rima tadi? Benarkah wanita itu melakukannya atas permintaan Meyra? Banu mengakui betapa pandai istrinya mencari wanita cantik dan menarik. Tetapi, menurutnya, istrinya belum tahu bahwa ia menikah karena benar-benar cinta.
Meyra meletakkan secangkir teh hangat di meja tengah. Entah mengapa malam itu ia begitu gugup melihat tatapan suaminya yang tidak seperti biasanya. Dalam hati wanita itu menebak-nebak sejauh mana keberhasilan Rima melaksanakan tugasnya.

"Sirup jahe ini bisa menghangatkan tubuh, "ujar Rima meletakkan dua gelas sirup jahe di meja tepi ranjang. Banu masih duduk terpekur sambil merapatkan jaketnya. Rima tersenyum simpul. "Kenapa? Kau menyesal?"
Banu menggeleng, "Entahlah, "sahutnya lirih.
"Aku tidak tahu kau ini alim atau lugu, "tukas Rima menyodorkan segelas, "tapi kalau kau suka, kau boleh datang lagi. Kapan saja. Oh ya, omong-omong, menurutmu, aku cantik tidak dengan gaun malam ini?'

"Meyra...."
Meyra tersentak. Tanpa sadar ia menurut saja ketika suaminya menuntunnya duduk di sampingnya.
"Aku sudah tahu semuanya, "bisik Banu.
Meyra tercengang, "Maksudmu?"
"Rima, kau yang menyuruhnya?"
Meyra menunduk.
"Kenapa?"
"Aku ingin kau bahagia."

"Lalu bagaimana pendapatmu?"
Meyra tak langsung menjawab. Ia diam sejenak untuk mengendalikan perasaannya. "Aku terpaksa, Banu. Aku masih trauma, peristiwa itu seperti kiamat bagiku. Kalau saja kau tahu hancurnya perasaanku waktu itu. Aku tidak ingin hal itu terjadi padaku, sangat tidak ingin, tetapi itulah yang terjadi."
Banu tidak berani menyela.
Meyra menatap suaminya dengan perasaan berkecamuk. "Sebenarnya sejak peristiwa itu, aku tidak lagi percaya pada laki-laki. Kuanggap semuanya sama hanya menjadikan perempuan sebagai mainan. Tapi...kau berhasil membuatku berubah pikiran."
Banu tersenyum.
"Hampir setahun kita menikah, mungkin lebih baik kalau Mbak Rima jadi saudaraku....:
Kali ini Banu tersentak. "Tidak, "tegasnya.
"Kalau Mbak Rima melahirkan, aku akan menganggap bayi kalian seperti anak kandungku sendiri."
Banu tidak tahan lagi. "Tidak ada pernikahan, Meyra. Aku tidak mau menikahi Rima."
"Tapi...."
Banu menggeleng. Ia membisikkan sesuatu yang membuat Meyra tertegun.
"Benarkah?"
Banu mengangguk.
"Maafkan aku...."
"Terus terang aku terkejut sekaligus sedih mendengar pengakuan Rima. Aku merasa bersalah karena selama ini aku tidak tahu betapa dalam trauma yang kaurasakan. Maafkan aku."
Malam itu untuk kali pertama Meyra benar-benar bersyukur memiliki suami yang penuh pengertian. Ia tidak menyangka sedikitpun bahwa suaminya sangat menjaga diri dan tak mau menyakiti istrinya.

Selasa, 02 Juli 2013

Di Arung Jeram Cinta

Hari-hari berlalu seperti yang sudah-sudah. Meyra mencoba bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa. Tiba-tiba saja ia menyadari bahwa ia mencintai suaminya, laki-laki yang menerima dirinya apa adanya. Ia sangat ingin membahagiakan suaminya walaupun mungkin dengan cara yang salah.
Meyra nenarik napas panjang. Lagi-lagi Banu pulang terlambat. Agaknya wanita muda itu berhasil melaksanakan tugasnya.
Meya menyodorkan secangkir teh hangat. Banu menerimanya dengan senyuman tanda terima kasih. Ia memberi tanda agar istrinya itu duduk di sampingnya.
"Bagaimana hari ini? Pekerjaan lancar?"

"Alhamdulillah, berkat doa istriku yang cantik dan baik hati."
Mau tak mau Meyra tersenyum mendengar kata-kata itu. "Syukurlah, kalau begitu."
Banu meletakkan cangkir di atas meja. "Kau sendiri, bagaimana? Kalau mau jalan-jalan, tidak apa-apa."
Meyra menggeleng. "Aku masih takut, "tukasnya lirih, "nanti saja kalau kamu ada waktu luang dan ingin jalan-jalan, aku ikut."
"Tentu saja aku akan mengajakmu, "sahut Banu menggenggam tangan istrinya.

                                                                   ***

Sesungguhnya beberapa hari ini Banu sulit memejamkan mata. Pertemuannya dengan Rima, wanita yang dimintai tolong istrinya membuatnya tak bisa lelap. Awalnya, Rima berpura-pura mengalami kesulitan, motornya tertusuk paku. Tentu saja ia sudah mengatur supaya si target mau menolongnya. Begitulah, karena bengkel tak ada yang buka maka Banu mengantar wanita itu sampai rumah.
"Silakan diminum, mumpung masih hangat, "Rima meletakkan secangkir coklat hangat di meja tamu.
Banu mengangguk. Ia mengerutkan kening melihat wanita di hadapannya telah bertukar dengan gaun ketat sebatas lutut. Gaun itu sungguh pas dengan tubuhnya seakan-akan memang menyatu. 
"Terima kasih, "Banu menelan ludah. Teus terang saja ia merasa kikuk berdekatan dengan wanita ini. Mana pernah ibu, kakak, bahkan istrinya berpakaian seperti ini. Pakaian ini bisa membuat pemakainya sesak napas.
"Oh ya, kita belum berkenalan. Nama saya Rima."
"Banu."
"Mas Banu tidak usah buru-buru. Ayo, habiskan dulu minumnya."
"Maaf, istri saya pasti cemas menunggu."

"Tidak."
"Maksud Mbak Rima?"
"Saya tahu pasti, istri Mas akan tenang-tenang saja."
Banu kembali mengerutkan kening. "Saya tidak mengerti, "tukasnya.
"Karena dia ingin agar saya menyenangkanmu."
Merah padam seketika wajah Banu mendengar pengakuan wanita itu. Tanpa bertanya-tanya lagi, ia beranjak dari duduknya. "Sudah malam, saya harus segera pulang."
Rima tak sempat mencegah. Ia sadar bahwa dirinya sudah kelepasan. Seharusnya pantang ia menyampaikan bahwa istri Banulah yang mempunyai rencana ini.
Sementara itu sesampainya di halaman rumah, Banu tak langsung menekan bel. Ia berusaha menenangkan gejolak perasaannya yang berkecamuk.


 



Jumat, 05 April 2013

Di Arung Jeram Cinta


"Ayah, uka, " Arsya menyodorkan sebungkus roti selai kepada Tantra yang sedang memandangi layar laptopnya.
Tantra menoleh dan mendudukkan anaknya di pangkuannya. "Cium Ayah dulu, "ujarnya.
"Ayah cudah andi?"tanya batitia itu dengan tampang serius.
"Sudah, "sahut Tantra, "coba Kakak cium Ayah, kan wangi."
Arsya menurut, ia pun menempelkan hidungnya ke pipi ayahnya.
"Wangi, kan?"
"Angi, "Arsya mengangguk.
Tantra tersenyum. Ia memandangi wajah anaknya yang mungil. Perpaduan yang begitu serasi. Ayah berusia dua puluh empat tahun itu mengagumi mahakarya Yang Maha Pencipta yang saat ini berada di pangkuannya. Heran juga dia bisa punya anak. Tidak jarang sampai saat ini Tantra masih merasakan hal itu. 
"Kakak, ayo sama Ibu, "terdengar suara lembut Nada di depan kamar, "Ayah kan masih sibuk."
"Uka," Arsya kembali menyodorkan roti yang masih terbungkus.
"Biar Ibu yang buka, "sahut Nada, "ayo, sini."
"Kakak sama Ayah saja, "tukas Tantra, "kasihan Ibu masih masak."
"Besok laporan Mas kan sudah harus selesai."
"Tidak apa-apa, ini tinggal penutupnya saja."
"Kalau begitu, titip Kakak sebentar ya."
Tantra mengangguk sambil tersenyum.
Nada pun balas tersenyum sebelum berbalik.



Get graphics at Nackvision.com





Sabtu, 16 Maret 2013

Get graphics at Nackvision.com

Sabtu, 09 Maret 2013

Serenada Kehidupan


Inikah biru yang pernah kausebut dahulu
Bagimu biru adalah kelabu
Melenyapkan cerah bentang langit biru
Hingga buih putih membiru pada debur ombak menderu
Dalam anganmu adalah kesepian yang pilu
Bagimu biru bukan lagi kelabu
Tetapi panah sembilu mengoyak kalbu

Itukah putih yang bagimu sebuah luka
Mengucurkan darah dari borok yang menganga
Dan kauwarnai putih dengan hitam gulita
Awan putih yang mendatangi angkasa
Bagimu pertanda badai menerpa mayapada
Tak pernah kaulihat putih itu pendaran cahaya
Hanya nanah dari luka yang membusuk di jiwa

Sesungguhnya kitalah pelukis kehidupan
Yang dapat mewarnai hari-hari dengan impian
Suka duka di dunia laksana busur pelangi keindahan
Biru bukanlah lambang kesedihan
Pun putih tiada lagi pertanda kehancuran
Awan putih di angkasa bagai merancang angan
Dan ombak laut biru seakan-akan mewujudkan harapan

Minggu, 03 Maret 2013

Di Arung Jeram Cinta

Tak ada yang mencoba berkata-kata lagi sehingga menambah sepinya malam yang semakin larut. Banu yang lelah karena bekerja seharian tidak memahami sikap Meyra. Sedangkan Meyra, sikapnya itu justru untuk menahan emosi yang berjolak di dadanya agar tidak meledak.
Banu menghela napas panjang membiarkan istrinya mengambilkan sehelai handuk untuknya dari dalam lemari. Kemudian laki-laki itu beranjak menuju kamar mandi.
Meyra terpaku ketika suaminya mengambil handuk dari tangannya tanpa sepatah katapun. Oh, tampaknya benar suaminya telah.... Ah! Kalau tidak, mana mungkin ia pulang terlambat. Biasanya, kalau pulang terlambat, ia selalu telepon atau sms, tetapi kali ini tidak, pasti lupa karena terjerat.... Tiba-tiba saja Meyra merasakan bahwa sakit hatinya ini melebihi kejadian tragis yang menimpanya hampir dua tahun yang lalu.

"Apa kamu sanggup hidup bersama dia?" begitu Tia tak dapat menyembunyikan kebimbangannya. Hal ini wajar karena tidak ada ibu yang merelakan anaknya tidak dapat menjalani kehidupan rumah tangga secara wajar.
"Maksud Ibu?"Banu tak memahami makna pertanyaan ibunya.
"Meyra sangat membenci laki-laki...bahkan bisa jadi semua laki-laki...."
"Ibu...,"Banu terkejut, "Itu tidak benar."
"Ya, itu benar, "tukas ibunya mantap, "Kita lihat saja nanti."
Banu tertegun. Jelas, ibu tidak merestui pernikahannya dengan gadis itu. Tetapi, pemuda itu pun tak dapat membohongi perasaannya sendiri bahwa ia benar-benar mencintai dan serius ingin menjadikan gadis itu sebagai istrinya.

Banu telah mengenakan baju rumahnya, kaos abu-abu polos dan trining berwarna senada namun bercorak dua garis memanjang dengan warna lebih cerah.

Ibu mungkin benar, mungkin benar Meyra sangat membenci laki-laki, ujar Banu dalam hatinya. Ia memperhatikan Meyra yang meletakkan semangkuk sayur kacang yang masih panas di atas meja makan. Ibu benar, tapi aku akan terus berjuang uintuk mendapatkan cintanya....

Minggu, 24 Februari 2013

Di Arung Jeram Cinta

Tiba-tiba saja ide gila itu muncul di benak Meyra. Pagi itu, tanpa sepengetahuan siapapun terutama Banu karena jangan sampai rencana ini diketahui suaminya itu, ia menemui seseorang.
"Aku bersedia membantumu, tapi..."
"Tapi apa? Cepat, katakan."
Wanita itu tampak berpikir keras, kemudian katanya, "Kamu yakin akan melaksanakan rencanamu itu?"
Meyra mengangguk tanpa ragu-ragu.
Wanita berambut ikal sebahu itu menatap Meyra dengan serius. "Kamu sangat cantik, "ujarnya, "Aku yakin suamimu pasti sangat mencintaimu."
"Kau benar...."
"Dia juga penuh perhatian?"
"Kau benar...."
"Dia lembut, penuh kasih sayang, dan belum pernah marah padamu?"
"Kau benar..."
"Oh, "wanita itu menepuk dahinya sendiri, "lalu, apa masalahmu sampai kau punya rencana segila ini?"
Meyra terdiam.

Malam ini hujan deras sekali. Meyra mondar-mandir di ruang tamu. Tidak seperti biasanya Banu pulang terlambat. Wanita itu mencoba menguatkan hati saat membayangkan apa yang tengah terjadi. Sejak lima bulan pernikahan mereka, Meyra merasa tidak bisa berbuat banyak untuk membahagiakan suaminya. Bukan apa-apa, ia hanya merasa tak pantas bersanding dengan laki-laki berhati lapang itu.
"Asalamualaikum."
Meyra tersentak, ia menoleh. "Wa..waalaikumsalam, "jawabnya tergeragap. Ternyata Banu sudah berdiri di sampingnya. Ah, mengapa ia tak mendengar apa-apa, suara motor atau pintu dibuka?
Banu tersenyum. Ada sisa tetes air hujan menempel di tangan dan lipatan celananya.
Tetapi Meyra terpaku. Pedih rasanya membayangkan yang baru saja dilakukan suaminya dengan wanita itu.
"Meyra...."
"Aku...aku ambilkan handuk dulu, "tukas Meyra hendak berbalik.
Banu menarik tangannya. Meyra terdiam.
"Aku mencintaimu, "bisik Banu.
Meyra menunduk.
"Aku tidak pernah melihat wanita lain yang layak kucintai selain kamu."
Meyra tak tahu harus berkata apa.

Kamis, 24 Januari 2013

Di Arung Jeram Cinta




Nila tersenyum. Ia tahu suaminya hanya menggoda. "Kalau ditunda, nanti lupa makan, "tukasnya.
Randy tertawa.
"Mas tunggu sebentar, saya panaskan sayur dulu."
"Baik, istriku yang cantik."
Kembali wanita itu melempar senyum manisnya.

Pernah Randy menyesal telah menikahi Nila. Maklumlah, saat itu Randy sangat kesepian dan tak ingin lagi seorang diri. Ia begitu iri melihat keharmonisan rumah tangga Nada, adik kelasnya semasa SMA. Selang dua bulan kemudian, datanglah Nila, yang langsung menjadi kepala administrasi di kantornya bekerja. Tidak ada yang menarik dari gadis itu apalagi usianya sebaya dengan dirinya kecuali perilaku dan tutur katanya yang begitu santun.
Begitulah, dengan modal nekat (tanpa cinta) Randy melamar Nila. Tentu saja Nila dan juga kedua orang tuanya sangat gembira menerima lamaran itu. Rasanya seperti kejatuhan bintang. Hanya wanita aneh yang menolak pinangan dari pria setampan dan semapan Randy.
Sebenarnya Nila pun dapat merasakan bahwa Randy menikahinya hanya untuk pelarian. Tetapi ia tak mau mengambil risiko harus menunggu lebih lama lagi pria yang mau menjadi suaminya. Maka, dengan menahan kekecewaan di dadanya, ia menjalani semuanya.

Berkali-kali Randy merenung, salahkah keputusannya menikahi Nila? Gadis yang baru saja dikenalnya dan tampak pendiam. Nila bukan tipe istri yang pandai mengambil hati suami dengan berdandan atau berpakaian seksi. Tidak, ia selalu mengenakan gaun rumah yang bermodel sopan mirip orang kedinginan sehingga membuat Randy enggan untuk mendekati.

"Mas, makan malam sudah siap."
Randy tersentak dari masa lalunya. Ia tersenyum. "Cepat sekali, "sahutnya.



Selasa, 25 Desember 2012

Di Arung Jeram Cinta


  Bayi mungil terlelap dalam dekapan ibunya. Bayi perempuan yang begitu lembut dan tak berdaya tetapi itulah yang membuat setiap orang ingin membelai dan mengelus-elusnya. Bayi itu menggeliat sejenak saat ibunya membetulkan kancing bajunya.

 

Randy tersenyum geli. "Pulas sekali, "katanya.
Nila tersenyum.
"Kau harus istirahat, "ujar Randy kemudian, "tidurkan saja Wina di boks."
"Baik, Mas, "perlahan Nila bangkit dari duduknya agar bayinya tidak terbangun.
Randy memperhatikan istrinya yang membuka kamar bayi mereka. Pria itu teringat kejadian sebulan yang lalu saat istrinya hendak melahirkan. Baru ia melihat seperti itulah ibu yang akan melahirkan. Setidak-tidaknya ia mengetahui hal itu saat istrinya akan melahirkan.
"Pelan-pelan saja, "bisik Randy lembut. Tangannya melingkari bahu istrinya.
Nila mengernyit menahan sakit. "I...iya...."

Di ruang bersalin, Nila terbaring sambil menunggu kedatangan dokter. Randy menemani sambil berusaha menenangkan istrinya meskipun perasaannya pun dilanda kekhawatiran.
"Tenanglah, Nila, "bisiknya, "Kita berdoa saja semoga semua berakhir dengan membahagiakan."
"Terima kasih, Mas..., "jawab Nila lirih.


Nila menutup pintu perlahan. "Mas mau makan malam sekarang?"
Randy menatap istrinya serius, "Kau tidak lelah?"
"Hanya menyiapkan makan malam, Mas, bukan membajak sawah."
Randy tertawa. "Biar aku yang menyiapkan piringnya."
"Terima kasih, Mas."
"Nila...."
"Iya, Mas?"
"Terima kasih karena kau bersedia menjadi istriku. Selama ini kau begitu sabar dan setia walaupun tahu kalau dulu aku menikahimu karena...."
Nila menggeleng. "Justru saya yang bersyukur Mas mau menikahiku. Saya sangat menyadari kalau jarang laki-laki yang tertarik denganku. "Mungkin karena saya tidak cantik dan juga tidak pandai berdandan. Karena itu saya sangat bahagia saat Mas melamarku."
"Begitu, ya?"
"Saya tahu Mas idola waktu SMA dan kuliah."
"Dan kamu satu-satunya idolaku, "tukas Randy menarik tangan Nila lembut.
Pipi Nila bersemu merah,"Terima kasih, Mas." Oh ya, makan malamnya di ruang makan atau di ruang tengah?"
"Makan malam, ya?" Randy tersenyum nakal. "Bagaimana kalau makan malamnya kita tunda dulu?"




















Rabu, 03 Oktober 2012

Renungan Bayang Pelangi

 Hari ini adalah hari kelahiran kakakku semata wayang. Aku selalu teringat masa-masa kami tumbuh bersama. Mulai dari senyum, tawa, canda, pertengkaran, bahkan baku hantam ala kanak-kanak semuanya masih terbayang di pelupuk mataku. Kini semuanya menjelma menjadi kenangan indah.
Kami tak lagi bersama. Maklumlah kami sudah sama-sama dewasa dengan pilihan kehidupan yang berbeda.
Semoga kakakku selalu sehat, sukses, dan bahagia selalu. Semoga menjadi suami dan ayah yang penuh tanggung jawab, menyayangi dan disayangi keluarga. Amin.